
Istana itu sunyi, bagai tak ada kehidupan di sana. Padahal Zaruta duduk sepet biasa di atas singgasananya, para selir pun berada di kamarnya tengah menunggu kapan tuan mereka akan menampakkan diri.
Setelah perang itu padahal kemenangan berada di tangan Zaruta tapi kebahagiaan tidak ada dalam wajahnya, ia menjadi pangeran yang acuh.
Beberapa Raja yang menjadi bonekanya biasanya akan ia hukum jika tidak membayar upeti, tapi sudah beberapa kali Zaruta membebaskan mereka begitu saja.
Sebagai tangan kanan pangeran vampire Red tak bisa membiarkan hal itu terus berlarut, sudah dua bulan lamanya Tuannya bagai mayat hidup.
Mencoba berbagai cara agar semangat Tuannya kembali hidup Red berinisiatif mencari siluman lagi, ia berharap keberuntungan berada di pihaknya dengan menemukan siluman ular tapi jika tidak ada apa pun boleh asal siluman.
Akhirnya pencariannya membuahkan hasil, ia menerima laporan ada seekor siluman rubah yang bersemangat di kedalaman hutan kegelapan.
Red yang berani mengambil resiko memerintahkan anak buahnya untuk menangkap siluman itu, karena siluman rubah pintar ia membuat perangkap agar memudahkan penangkapan.
Tiga hari lamanya ia menunggu resah kabar dari anak buahnya, barulah kemudian ia mendapat berita siluman itu telah berhasil di tangkap.
Tanpa menunda lagi Red segera menuju ruang tahanan dimana anak buahnya mengurung siluman itu, Red memperhatikan wajah siluman itu cukup cantik ditambah darah rubah tidak beracun sehingga ia unggul.
"Tuan...tuan aku mohon lepaskan aku," pinta rubah cantik itu.
"Kau santapan yang lezat," ujar Red sambil menatap leher mulusnya.
Rubah itu meringkuk, tidak nyaman akan tatapan yang diberikan Red.
"Awasi dia! kita akan menyajikannya kepada Yang Mulia," perintahnya.
Para pengawal itu mengangguk, sementara Red bergegas menuju tempat pertemuan dimana Zaruta masih duduk di atas singgasananya.
"Yang Mulia, ada seekor siluman yang telah menghina kaum vampire. Saya melaporkan untuk bertanya hukuman apa yang pantas untuknya?" lapor Red sambil bersimpuh memberi hormat.
Zaruta menengok, kata siluman kini menjadi sensitif setelah kematian Amora.
"Bawa dia kemari!" perintah Zaruta dengan suara dalam yang sudah lama menghilang di istana itu.
Red memerintahkan anak buahnya untuk membawa siluman itu, selang tak berapa lama kemudian siluman itu datang di kawal oleh dua penjaga.
Zaruta menatapnya lekat-lekat, ia benar-benar berbeda dengan Amora. Dari segi usia jelas dia hanya siluman yang baru remaja, melihat gerak geriknya jelas ia juga penakut.
"Siapa nama mu?" tanya Zaruta.
"Viona," sahutnya pelan.
Zaruta kembali meneliti siluman itu, akhirnya ia memerintahkan untuk membersihkan tubuh siluman itu sebelum membawanya ke kamar.
Red tersenyum puas, akhirnya ia berhasil membangkitkan hasrat tuanya lagi.
......................
__ADS_1
Albert yang baru kembali setelah perjalanan jauh di kejutkan akan pemandangan yang tak pernah ia kira, dari celah pintu belakang ia melihat Damien dan Alessa tengah bersama di dapur.
Jelas keduanya menikmati kebersamaan itu, bagai memergoki orangtuanya berselingkuh Albert kesal bukan kepalang.
Rasanya ia ingin membunuh Damien hari itu juga, mengoyak tubuhnya hingga semua organnya keluar. Tapi ia tak mau tertelan emosi begitu saja, alih-alih pulang pada akhirnya Albert memilih tidur di hutan hingga pagi menjelang.
Alessa yang bangun dengan perasaan senang dan puas berencana untuk membuat sup jamur, ia pergi ke hutan mencari semua jenis jamur yang dapat di makan.
Di tengah pencariannya ia menemukan Albert tengah tidur tepat di bawah pohon, tentu ia kaget sekaligus heran.
"Albert!" serunya membangunkan vampire itu.
Perlahan Albert membuka mata, saat hal pertama yang ia lihat adalah Alessa dengan cepat ia bangkit.
"Kapan kau kembali? kenapa kau tidur di sini?" tanyanya.
Bukannya menjawab Albert justru memberikan tatapan tajam, perasaan kesalnya kembali hadir yang membuatnya muak melihat penyihir itu. Ia pun berjalan melewati Alessa begitu saja.
"Hei ada apa?" tanya Alessa mencoba menghentikan langkah Albert.
"Minggir!" hardik Albert sambil mendorong tubuh Alessa hingha terjatuh.
"Aw, kenapa kau ini?" tanya Alessa mulai kesal.
"Jangan bicara dengan ku dasar j*l*ng! aku tidak sudi lagi memiliki hubungan apa pun dengan mu!" bentaknya.
Tak bisa menerima ia berlari mengejar Albert yang masuk ke dalam rumah, ia terus mempertanyakan alasan Albert marah padanya.
Tak mau menyahut Albert malah membereskan semua barangnya juga milik Latisha, panggilan-panggilan Alessa yang kencang pada akhirnya mengusik tidur Damien.
Ia bangun dan mendapati hari baru pagi, berlindung dari cahaya matahari ia memakai selimut tebal dan masuk ke kamar Albert dan heran melihat Albert beres-beres.
"Kau mau kemana?" tanya Damien.
"Pergi," sahutnya ketus.
"Kemana?" tanya Damien lagi.
"Kemana saja asal tidak di sini," jawabnya.
Ia telah selesai berkemas dan siap untuk pergi, namun Damien menghalangi pintu sehingga ia tak bisa lewat.
"Katakan apa yang terjadi? kenapa kau tiba-tiba mau pergi dengan wajah kesal seperti itu?" tuntutnya.
"Aku tidak ingin menganggu bulan madu kalian, jadi silahkan nikmati kebersamaan kalian sampai puas!" sahutnya.
Tentu Alessa dan Damien kaget mendengar jawaban itu, mereka tak mengira Albert memergoki kebersamaan mereka dan akan kesal karena hal itu.
__ADS_1
"Maaf," ujar Damien pelan.
"Maaf? katakan itu pada mayat Sophia yang belum kering!" hardik Albert.
"Aku tidak bermaksud! Albert tolong jangan bawa nama Sophia!" pinta Damien dengan tegas.
" Serius? aku lihat kau sangat menikmatinya, jangan-jangan kau sengaja menyuruh Latisha ke Akademi agar dia tidak melihat kelakuan bejat ayahnya!" tuduh Albert.
Plak
Satu tamparan mendarat tepat di pipi Albert, tentu Damien tidak terima penghinaan tersebut.
"Kau melakukan kesalahan," ujar Albert pelan.
Matanya sarat akan tuduhan bahwa Damien yang bersalah tapi ia tak mau mengaku bagai pengecut, menabrak bahu Damien Albert benar-benar pergi dari rumah itu.
Ia terlalu kecewa pada vampire yang selama ini di banggakan, padahal Sophia begitu mencintainya tapi dengan mudah Damien melupakannya dan tidur dengan wanita yang sempat Albert kagumi karena kebaikannya.
Sakit hatinya tak dapat di utarakan dengan kata atau pun tindakan, setidaknya harusnya ia yang menampar wajah Damien tapi saking kesalnya ia sampai merasa jijik dan tak mau menyentuh Damien.
Matahari ssmakin tinggi di atas langit, Albert bertanya-tanya bagaimana dengan Latisha andai dia tahu perbuatan Damien yang tidak pantas.
Menggelengkan kepala Albert menjadi yakin bahwa Sophia memberikan Latisha sebagai anak kejutannya adalah untuk melindungi anak itu dari segala bahaya sekaligus sakit hati.
Menatap langit cerah ia bersumpah demi darah Sang Penunggang yang telah ia hisap dia akan menjaga anak kejutannya.
Sementara itu di rumah Alessa dan Damien masih saling membisu, setelah Albert meluapkan kekecewaannya mereka menjadi malu akan tindakan mereka yang memang tidak pantas.
Benar apa yang dikatakan Albert, Sophia belum lama meninggal dan mereka sudah bersenang-senang.
Beranjak dari duduknya Damien kemudian pergi untuk tidur lagi, saat matahari telah terbenam ia bangun dan segera membereskan barangnya.
"Kau akan pergi juga?" tanya Alessa.
"Maafkan aku Alessa, bukan berarti aku tidak menyukai mu. Aku hanya... butuh waktu menebus kesalahan ku kepada Albert, Latisha dan yang paling utama Sophia."
Alessa mengerti, ia pun merasa bersalah pada Sophia karena seakan telah mengkhianatinya.
"Apa kau akan kembali?" tanya Alessa.
"Entahlah," jawab Damien jujur.
"Yang terjadi diantara kita bisakah dianggap sebagai penebusan cinta yang lalu? setelah ini kita kembali menjadi teman dan tak ada apa pun lagi diantara kita," tanya Alessa.
"Jika itu yang terbaik," sahut Damien.
Vampire itu segera pergi melewati pintu dan menghilang dengan cepat, pada akhirnya Alessa kembali sendirian lagi.
__ADS_1