
Mulai panik Damien dan Albert berlari ke arah berlawanan dan kembali bertemu di titik tengah untuk memastikan bahwa kedua jalan sudah buntu.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Albert.
Damien diam memeriksa sekeliling sampai ia menemukan sebuah celah sempit di atas, memutuskan untuk memeriksa Damien memanjat dan menemukan celah itu dapat mereka masuki.
Ia pun merangkak duluan memasuki celah itu di susul dengan Albert, terus merangkak sampai tiba-tiba.
Syuuuut... Aaaaaa...
Tubuh mereka meluncur kebawah yang tentunya membuat mereka kaget.
Bruk
Aw!
Erang Damien yang jatuh menghantam tanah di tambah tertimpa tubuh Albert, meringis kesakitan ia baru sadar mereka menjadi pusat perhatian setelah menatap ke depan.
"Damien? apa itu kau?" tanya Meg berjalan mendekat.
"Meg!" seru Damien sambil bangkit.
"Albert!" seru seorang pemuda yang segera memeluk Albert.
Tentu Albert kaget sekaligus heran.
"Apa kau tidak ingat aku? aku alex!" serunya antusias.
"Astaga Alex? kenapa kau tumbuh dengan cepat?" tanya Albert tak percaya.
Hahahaha
Gelak tawa menggema di seluruh penjuru gua, sementara Alex merengut sebab merasa sedang di cemooh.
"Bagaimana bisa kalian ada di sini?" tanya Meg.
"Alessa yang memberitahu kami," sahut Damien.
"Oh pantas saja, jadi... bagaimana kabar kalian?" tanya Meg yang tak bisa menutupi perasaan senangnya.
"Baik, bagaimana dengan mu dan yang lain?" balas Damien.
"Seperti yang kalian lihat, kami terus mencoba bertahan dan masih kuat seperti dulu."
"Ya aku bisa melihatnya, seharusnya kau bertambah tua karena Alex kini sudah menjadi pemuda tangguh. Tapi kau masih cantik dan segar seperti pertama kita bertemu dulu," goda Albert dengan senyuman khas vampire yang mempesona.
"Hahahaha, hentikan itu! aku menyembunyikan uban ku," gurau Meg.
Mereka tersenyum.
"Ayo Albert! kau sudah di sini maka kau harus bergabung dengan kami," ajak Alex.
Tentu Albert tak bisa menolak, ia mengikuti langkah Alex untuk berkumpul dengan pemuda lain. Rupanya mereka semua adalah anak-anak yang dulu bermain dengannya, tak di sangka empat belas tahun tak bertemu kini mereka sudah lebih tinggi darinya dan berwajah tampan dengan tubuh kekar penuh otot.
Tentu saja mereka tumbuh dengan cepat, secepat waktu yang selama ini ia hitung sambil menunggu kedatangan anak kejutannya.
__ADS_1
"Lama kita tidak bertemu, kemana saja kalian selama ini?" tanya Meg.
Mereka duduk di dekat cahaya obor dengan api yang tegak, Meg bisa melihat wajah dan kulit pucat Damien tak berubah sedikit pun.
"Terus berkelana, tak ada yang bisa kami lakukan untuk hidup kecuali ini."
"Aku mengerti," sahut Meg memberi tatapan seolah berkata kawanannya juga sama.
"Bagaimana jika kalian menetap di sini? pegunungan ini cukup aman untuk kami dan aku yakin kalian juga akan aman disini," tawar Meg.
"Hmm, sepertinya tidak buruk," sahut Damien seraya tersenyum.
Memang terus berkelana dengan berpindah-pindah tempat akan melelahkan pada akhirnya, Damien sudah merasa bosan pada kehidupannya itu dan memang diam-diam menginginkan satu tempat yang biasa ia sebut rumah.
Albert pun tak keberatan untuk tinggal sebab ia juga rindu pada semua anak yang kini sudah menjadi remaja.
......................
Brrruuuhhhhh
Air keluar dari mulutnya, mencoba menggerakkan tangan dan kaki untuk berenang ke tepian ia merasa itu tidak mudah sebab satu tangannya terasa nyeri.
Meski begitu ia berhasil ketepian juga, membuka baju sinar rembulan yang terang memperlihatkan lengannya yang lebam parah.
Rupanya benturan ke batu saat ia hanyut telah melukai tangannya sehingga kini sulit untuk di gerakan, menahan sakit Sophia mencoba berjalan menjauhi sungai.
Entah sudah sejauh mana ia hanyut, tapi pasti cukup jauh mengingat derasnya aliran sungai.
Lelah bercampur nyeri membuat rasa kantuk yang hebat, berjalan sempoyongan akhirnya Sophia memilih untuk beristirahat di sudut pohon dekat sungai beralaskan dedaunan basah.
Saat bangun matahari malah sudah tinggi di atas langit, perutnya yang keroncongan bahkan sudah menagih sarapan. Bangkit dengan bantuan satu tangan ternyata cukup sulit, ia merasakan tangannya yang terluka berdenyut tak karuan memberikan sulur nyeri pada setiap sendi tulangnya.
Berjalan masuk ke dalam hutan Sophia berharap dapat menemukan makanan yang bisa di jangkau tangannya, beruntung tak lama ia menemukan buah bery yang tingginya hanya sampai dadanya saja.
Puas memakan buah yang masak kini perut Sophia membaik, tenaganya pun telah terisi penuh. Rasanya ia siap untuk pertarungan selanjutnya, tapi mengingat tangannya masih lebam parah ia harus menemukan tanaman obat dulu untuknya.
......................
Untuk pertama kalinya Latisha terbangun karena mimpi buruk, itu adalah sebuah mimpi yang ia alami kemarin saat ia perlu untuk berpisah dengan ibunya.
Nafasnya tersenggal-senggal, bulir keringat dingin memenuhi kehingnya. Bibirnya yang biasa merah merona pun kini nampak pucat dan kering, melirik kiri kanan ia merasa asing dengan tempat itu.
"Kau sudah bangun rupanya," ujar seorang wanita paruh baya dengan keranjang penuh sayuran di tangannya.
"Di-dimana aku?" tanyanya ragu.
"Kau di rumah ku, suamiku menemukan mu tergeletak tepat di depan kandang ternak kami."
Kini Latisha ingat, ia kelelahan habis berlarian semalaman dan jatuh pingsan. Rupanya pemilik rumah benar-benar telah menyelamatkannya.
"Terimakasih atas kemurahan hati kalian," ujar Latisha memberi hormat.
Tentu itu membuat wanita pemilik rumah kaget, tidak ada yang bicara sopan dengan perilaku elegan seperti itu kecuali seorang putri dari sebuah kerajaan.
"Nona siapa namamu?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Latisha," sahutnya.
"Asalmu?" tanyanya lagi berharap dia adalah putri yang sedang tersesat, andai itu benar ia akan membantunya pulang dengan harapan akan mendapat hadiah besar.
"Um.... sangat jauh, aku sedang mencari penyihir bernama Alessa. Apa kau tahu sesuatu tentangnya?" balas Latisha.
Sophia sudah mengajarinya tentang hal ini, dia tidak boleh mengungkapkan jati dirinya kecuali kepada Alessa dan manusia serigala. Tentu ini untuk melindunginya dari marabahaya, sebab sesungguhnya semua orang menginginkan kematiannya karena di anggap pembawa musibah.
"Oh begitu rupanya, maaf aku tidak tahu penyihir yang kau maksud."
Wanita itu merengut, kesal sebab harapannya tidak mudah untuk terwujud.
"Bagaimana dengan desa Tutua?" tanya Latisha kemudian.
"Maaf nona sepertinya aku tidak tahu," sahut wanita itu dengan malas.
Ia beranjak ke meja makan, rumah itu berbentuk kotak dengan ruangan di dalamnya tanpa sekat, Dari ranjang tempat Latisha tidur ia bisa langsung melihat perapian dan meja makan. Wanita itu menaruh keranjang sayurannya di atas meja dan bersiap untuk membuat sarapan, tiba-tiba Latisha menghampirinya dan menyimpan beberapa koin emas di dekat wanita itu.
"Anda sangat baik kepada ku, mohon ambil sedikit tanda terimakasih ku ini," ujarnya.
Mata wanita itu tiba-tiba berbinar, ia tak menyangka gadis yang suaminya tolong benar-benar orang kaya.
"O-oh nona... anda tidak perlu sungkan, kami hanya tidak tega melihat anda tak berdaya. Silahkan duduk dan nikmati sup yang aku buat untuk mu," ujar wanita itu sambil segera mengambil koinnya.
Latisha tersenyum dan duduk di kursi, ia membiarkan wanita itu menjamunya dengan baik. Selesai makan Latisha kembali bertanya untuk terakhir kalinya sambil menyodorkan beberapa koin lagi, "Apa desa Tutua sangat jauh dari sini?".
"Oh itu... anda harus menghabiskan waktu tiga hari tiga malam untuk sampai, saya sarankan untuk membeli kuda saja agar anda cepat sampai."
"Dimana aku bisa mendapatkan kuda?" tanya Latisha lagi.
"Bagaimana dengan kuda milik kami?" tawar wanita itu.
"Baiklah aku ambil kuda mu," jawab Latisha dan dia pun kembali memberi beberapa koin.
Selesai makan mereka segera pergi ke kandang, wanita itu menyerahkan seekor kuda jantan kepada Latisha. Sesungguhnya itu adalah kuda ternak yang tidak akan sanggup melalui perjalanan jauh, ia sengaja menjualnya kepada Latisha sebab kuda itu sudah terlalu tua untuk bekerja.
Latisha sendiri yang belum paham tentang dunia baru tentu hanya bisa mengikuti kata orang,
Beruntung Sophia memberinya banyak uang untuk ia pergunakan di saat genting, sekarang ia bisa gunakan uang itu untuk melanjutkan perjalanan.
Ini adalah kali pertama Latisha melihat kuda dan menungganginya, ada sedikit kekhawatiran tapi ia harus yakin ia bisa. Sophia pernah berkata menunggangi kuda hampir sama dengan menunggangi naga, ia harus membuat kontak batin agar kuda itu tenang.
Di rasa ia mampu untuk mulai berjalan maka dihentakkannya kakinya dan si kuda pun langsung berlari, tentu Latisha cukup kaget karena hal itu. Tapi setelah beberapa saat ia mulai terbiasa bahkan menikmatinya, seperti saat menunggangi naga ia menyukai saat rambutnya melayang di terpa angin yang kencang.
Ia baru keluar dari hutan dan memasuki perkampungan, jaraknya tidaklah jauh namun kuda yang ia tunggangi sudah kelelahan hingga tak sanggup berjalan.
Latisha berfikir hewan darat tidak memiliki tenaga yang bagus karena hal ini, tak ada pilihan ia turun dan membiarkan kudanya beristirahat.
Matahari baru meninggi, ia tak mau membuang waktu meski sebenarnya ia ingin bersantai dan menikmati apa pun yang menarik perhatiannya.
Melihat ada yang menjual kuda Latisha melihat kuda dagangan itu dengan teliti dan menemukan banyak perbedaan dengan kuda yang telah ia beli, entah bagaimana menjelaskannya tapi ia merasa kuda yang di jual itu lebih energik dari kudanya.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk menjual murah kudanya dan menambah beberapa koin untuk kuda baru, saat menunggangi kida baru ternyata rasanya memang berbeda.
Kuda barunya mampu berlari lebih cepat dan tidak mengenal lelah meski senja telah tiba, dengan begini ia bisa lebih cepat sampai di desa Tutua.
__ADS_1