Surprise Child

Surprise Child
Bab 16 Ujian 2


__ADS_3

Peserta yang lulus pada ujian pertama cukup banyak, ini membuat Dekan senang sebab artinya para pendidik telah berhasil mengajar mereka.


Masuk ke ujian kedua pada hari berikutnya peserta di bawa satu persatu kedalam ruangan, tentu ini menciptakan kegaduhan diantara peserta yang penasaran termasuk Ariana dan Sophia.


"Apa yang terjadi didalam?" tanya Ariana saat seorang peserta yang lulus keluar dari ruangan itu.


"Aku di suruh menghancurkan batu besar dengan sihir," jawabnya.


"Oh, mungkin Dekan tidak mau ada yang terluka sehingga kita masuk bergantian," ujar Sophia.


"Mungkin," sahut Ariana.


Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya tiba juga giliran mereka, seperti yang telah ia dengar tugasnya adalah menghancurkan sebuah batu besar tanpa menyentuhnya alias menggunakan sihir.


"Nona Sophia, kau sudah mempelajari teknik ini jadi aku harap kau tidak akan mengecewakan kami," ujar seorang pendidik kepadanya.


"Kau siap?" tanya pengawas.


Ia mengangguk, maka para pengawas dan pendidik pun pergi ke belakang agar tak terkena puing batu.


Dengan jarak kurang lebih dua meter Sophia mulai bersiap mengumpulkan energinya, berpusat pada tangannya yang mulai bercahaya saat ia merapalkan mantra.


Kunci dalam sihir ini adalah tidak boleh ragu, tidak boleh takut akan guncangan atau efek dari ledakan.


Cahaya dari tangannya menjalar bagai petir yang melingkupi batu itu, Sophia mencoba untuk menimalisir ledakan agar puing batunya tidak terlempar kesegala arah dan membahayakan semua orang.


Tapi hal itu cukup sulit dilakukan karena terlalu menguras energi.


Trak


Usahanya mulai membuahkan hasil, batu itu mulai retak dibagian atas kebawah. Sayangnya Sophia merasa energinya tidak akan cukup untuk membuat batunya hancur, tapi ia tidak boleh menyerah.


Aaaaaaarrrgggghhhh


Erangan kuat dari tenggorokannya mendorong kuat keinginan itu menjadi sebuah energi, dengan satu kali hentakan ia mencoba menyelesaikan tugasnya.


Duaaarrrr


Ahhh Hhhhh Hhhhh Hhhhh


Semua pengawas berlindung dengan perisai mereka, setelah merasa cukup aman mereka bangkit dan kaget melihat Sophia masih berdiri tegak.


"Sophia.... " panggil salah satu pendidik.


"Kalian... baik-baik saja... ?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.


Tentu saja mereka baik karena bukan hanya berlindung dengan perisai tapi ledakan batu itu tidak berhamburan jauh, ini membuat mereka sadar bahwa Sophia menggunakan cara tersulit untuk menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


"Kau lulus," ujar seorang pendidik sambil memberi stempel pada kartunya.


"Terimakasih..." sahut Sophia senang.


Kelaparan Sophia lupa akan tata tertib dalam perjamuan makan malam, ia tak lagi menggunakan pisau untuk memotong daging itu kecil-kecil tapi langsung memakannya dari tangannya.


"Pelan-pelan Sophia, kau bisa tersedak!" ujar Ariana khawatir.


"Maaf, aku benar-benar kelaparan!" sahutnya dengan mulut yang penuh.


Ariana hanya menggelengkan kepala, ia menerka Sophia pasti menggunakan trik yang sulit untuk menyelesaikan tugasnya.


Dalam satu tahun pertemanan mereka Ariana sudah mengenal baik sifat temannya itu, ia adalah putri yang sangat baik dan tidak suka perselisihan.


Pernah waktu itu ada seorang pangeran yang menyukainya hingga mengirimkan surat beserta bunga, namun rupanya pangeran itu memiliki penggemar rahasia yang cukup menyulitkan.


Mengetahui Sophia mendapatkan surat dan bunga penggemar itu langsung membuat masalah dengannya, ia bahkan berani memfitnah Sophia telah memperlakukannya dengan kasar hingga berakhir diruang Dekan.


Setelah diperlakukan seperti itu Sophia marah, tidak! dia membiarkannya dan menganggapnya angin lalu. Sampai Ariana heran apa gadis itu tidak memiliki emosi dalam dirinya.


Lambat laun Ariana mengerti Sophia cinta akan perdamaian, dia akan terus mengalah bahkan kepada orang-orang yang tak memiliki hati sekali pun. Saking cintanya pada sebuah perdamaian ia bahkan tidak akan berani menyakiti seekor lalat pun, itulah mengapa dalam setiap ujian Sophia pasti melakukan cara tersulit karena baginya lulus dalam ujian bukanlah hal utama.


......................


Masuk ke hari ketiga dimana ujian masih berlangsung, Sophia merasa tubuhnya tidak baik-baik saja. Jelas itu karena dia selalu memakai cara sulit yang menguras tenaganya, namun ia tak boleh menyerah.


Selesai sarapan para peserta mulai bersiap untuk kemudian dipanggil perlima orang kedalam ruangan, saat satu kelompok berhasil dalam ujiannya para peserta lain berbondong-bondong menanyakan ujian apa yang mereka hadapi.


Cukup gugup karena kondisinya saat ini kurang fit Sophia memutuskan untuk pergi mencari udara segar selagi masih ada waktu, ia juga menambah energi dengan meminta cemilan pada koki.


"Sophia! ah aku mencarimu sejak tadi, sebentar lagi giliran kita," ujar Ariana.


"Oh baiklah," sahutnya.


"Kau gugup?" tanya Ariana.


"Lebih dari sebelumnya."


"Bagus, itu akan meningkatkan kewaspadaan mu."


Berjalan memasuki ruangan mereka disambut oleh senjata otomatis di langit-langit, tentu ini membuat nyali menciut.


"Kalian punya waktu sepuluh menit untuk bertahan dari serangan, karena ini ujian tentu kalian diberi keringanan dengan diberitahu bahwa semua busur diatas akan otomatis mengeluarkan panah kearah kalian. Tak hanya disitu para pendidik juga akan menyerang dengan berbagai elemen seperti air dan api," jelas pengawas.


Menelan ludah Sophia tak menyangka ujiannya akan seberat ini padahal baru masuk keujian ketiga, bersiap mereka berdiri disetiap lingkaran yang sudah ditetapkan.


"Tunggu!" sela seorang peserta.

__ADS_1


"Jika... jika perisai kami hancur apa yang akan terjadi?" itu adalah sebuah pertanyaan konyol.


Tentu saja jika perisainya tidak mampu menahan serangan maka resikonya adalah terluka bahkan kematian, tapi karena ini ujian fungsi pengawas yang banyak tentu adalah memastikan mereka tidak curang dan menyelamatkan mereka sebelum terluka.


"Di dunia luar yang sesungguhnya kalian tidak ada kesempatan untuk berfikir atau bahkan mencari perlindungan, saat kalian tidak siap maka seketika ajal menjemput. Untuk itulah tujuan ujian ini tercipta, agar kalian siap menghadapi semua medan diluar sana," jelas sang pengawas.


Tentu mereka mengerti hingga menganggukkan kepala sebagai tanda telah siap, dalam hitungan ketiga perisai pun tercipta melingkupi tubuh mereka.


Busur diatas mulai menerang dengan anak panah dalam kecepatan tinggi dan jumlah yang banyak, memberikan tekanan yang kuat hingga menguras energi meski baru diawal.


Trang Trang Trang


Panah-panah yang tak berhasil menembus perisai berjatuhan ke lantai dan semakin menumpuk, tiga menit berlalu busur itu berhenti menyerang digantikan pendidik yang mengeluarkan api dari tangan mereka.


Hawa panas membuat ruangan terasa didalam tungku, keringat mulai bercucuran dan tenaga mereka hampir terkuras habis.


Tersisa lima menit lagi yang terasa lama para pendidik mengganti elemen dengan angin yang membuat beberapa peserta mundur sebab tak mampu menahan dorongan, dua menit kemudian mereka menggantikannya dengan air.


Prang.......


Aaaaaaa....


Teriak satu peserta yang tak berhasil menahan serangan, pendidik yang menyerangnya pun berhenti dan membiarkan pengawas membawanya pergi ketempat yang aman.


Insiden itu tentu membuat peserta lain kehilangan sedikit konsentrasi mereka, begitu juga dengan Ariana yang melemah.


Sisa waktu yang hanya tinggal tak lebih dari dua menit itu serangan berganti lagi dengan panah, meski hanya sekitar semenit tapi terasa lama bagi mereka yang sudah mencapai batasnya.


Trak


Aaaaa...


Teriak Ariana saat satu panah berhasil menembus perisainya, mengambang diudara antara perisainya yang retak. Gugup serta melemah Ariana hanya bisa pasrah saat melihat panah lain yang meluncur kearahnya.


Prang......


Perisainya telah pecah, merunduk ketakutan Ariana hanya bisa menangis menyadari ia gagal di detik terakhir dengan luka berat. Tapi anehnya ia tak merasakan apa pun padahal jelas panah itu sudah dekat.


"Selesai!" seru pengawas.


Ariana bangkit, terkaget melihat sebuah perisai yang melindungi dirinya. Saat menengok kesamping dilihatnya Sophia terengah-engah dengan satu tangan yang terarah kepadanya, Sadarlah ia bahwa Sophia membuat perisai ganda untuk melindunginya.


"Nona Ariana, sayang sekali kau tidak lolos dalam ujian ini. Kau masih memiliki kesempatan sebanyak tiga kali jadi bersiaplah untuk esok," ujar pengawas kepadanya.


"Dan nona Sophia, aku kagum akan kecepatan mu dalam bertindak. Kau lulus," lanjutnya sambil memberi stempel pada kartu Sophia.


"Ariana... oh maafkan aku," ujar Sophia cepat menghampiri dengan perasaan menyesal.

__ADS_1


"Astaga... kenapa kau minta maaf? ini bukan salahmu, justru aku berhutang padamu karena telah melindungi diriku."


Sophia tersenyum, senang karena temannya baik-baik saja meski kini mereka tak bisa bersama dalam ujian.


__ADS_2