
Buk Buk Buk
"Uh!"
Sophia tak pernah mengedipkan matanya tapi tiba-tiba mereka semua tumbang dan Damien berdiri tepat di hadapannya, dengan wajah cemas Damien hendak bertanya bagaimana keadaannya tapi para vampire muda lainnya sudah datang untuk berburu.
Tak ada waktu ia menarik Sophia dalam pelukannya, menggendong gadis itu dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Membawanya ke ruangan Lucy dan menguncinya di dalam, Sophia masih terkejut dengan apa yang terjadi karena semuanya berjalan dengan begitu cepat.
Sementara Damien menenangkan para vampire itu dengan membuatnya pingsan, Lucy dan para senior yang menyadari sesuatu telah terjadi hanya menatap tajam padanya.
Di ruangan lain setelah membereskan vampire muda yang menggila Damien harus menghadapi Lucy dan para senior, ia harus bertanggungjawab atas kekacauan yang ia buat.
"Aku sudah mengatakannya padamu, sangat tidak mungkin gadis itu bisa tinggal di sini tapi kau bersikukuh! sekarang aku minta kalian tinggalkan tempat ini sekarang juga," ujar Lucy kehilangan kesabaran.
Sebenarnya Damien masih ingin tinggal, tapi ia tahu resikonya akan semakin tinggi dan dia tidak boleh merepotkan rekan-rekannya untuk menangani vampire muda yang hilang kendali.
Menerima keputusan itu ia kembali pada Sophia yang sudah menunggu sejak tadi, tanpa penjelasan apa pun ia mengajak gadis itu untuk bersiap dan pergi.
Mereka kembali pada rutinitas biasa, berjalan dikedalaman hutan dan memakan apa yang mereka temukan. Sampai mereka tiba di sebuah kota kecil, fajar sebentar lagi akan tiba maka mereka pun mempercepat langkahnya.
Berhenti di sebuah rumah Damien mengetuk beberapa kali sampai pintunya terbuka, seorang wanita berkulit gelap muncul dengan rambut berantakan dan terlihat masih mengantuk.
"Damien?" tanyanya.
"Hai Alessa, aku butuh tempat tidur!" ujar Damien cepat.
"Masuklah," sahutnya.
Damien segera masuk diikuti Sophia, jelas Alessa heran melihat vampire itu bersama dengan seorang gadis.
"Sophia dia Alessa, teman lamaku."
"Senang bertemu dengan mu," ujar Sophia sambil menjabat tangan Alessa.
"Ya, apa yang terjadi?" tanyanya.
"Ceritanya cukup panjang tapi akan ku persingkat, Sophia adalah anak kejutan ku dan kami di usir dari rumah karena dia seorang manusia."
"Damien! apa kau gila? kau membawa gadis cantik ini ke rumah?" tanya Alessa sambil melotot.
__ADS_1
Damien hanya tersenyum menanggapi.
"Aku butuh bantuanmu, tolong ajari dia cara bertarung."
"Hei! aku seorang penyihir bung!" tukas Alessa.
"Memang kenapa? kau bisa bertarung kan?" tanya Damien.
"Kenapa tidak kau saja yang mengajarinya?" balas Alessa.
"Kau tahu aku tidak pandai menjadi pendidik."
"Argh... baiklah tapi aku minta bayaran penuh darimu," ujar Alessa sambil mengerang.
"Sepakat!" sahut Damien.
Sementara Damien pergi beristirahat Sophia memilih untuk membantu Alessa dalam pekerjaan rumah, Alessa yang penasaran mulai bertanya bagaimana kehidupan Sophia sebelumnya. Mengetahui dia adalah putri kerajaan Meseress Alessa kaget bukan main, terlebih Sophia tak mengeluhkan apa pun.
"Dengar sayang, jika kau butuh bantuan katakan padaku!" ujar Alessa bersimpati.
"Terimakasih, untuk saat ini aku hanya berharap kau mau bersabar saat melatihku."
"Sebab terakhir kali aku banyak merepotkan teman Damien, aku benar-benar sudah membuat mereka kewalahan."
"Oh sayang... Damien yang harus di salahkan atas hal ini! tega sekali dia membawamu ke neraka!" ketus Alessa.
Sophia tersenyum, senang mengetahui Alessa begitu bersahabat.
"Ah, ayo ikut aku!" ajak Alessa sambil menarik tangannya.
Mereka berlari keluar rumah, terus pergi menuju hutan dan berhenti di sana. Melepas pegangan tangannya dari Sophia Alessa maju beberapa langkah kedepan, sambil menatap Alessa seraya tersenyum ia mengangkat kedua tangannya.
Perlahan daun-daun kering itu ikut terangkat, mengikuti arah tangan Alessa mereka menari di udara. Sophia yang kagum mencoba menangkap satu daun, tapi ia tak berhasil dan malah dikelitik hingga membuatnya tertawa.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Sophia takjub.
"Aku penyihir, ingat?" sahut Alessa.
......................
__ADS_1
Menggenggam kemenangan ditangan membuat Ursula tersenyum puas, setiap hari dia berdiri dengan bangga di gerbang untuk menyambut rakyatnya yang baru dipindahkan.
Rumah-rumah yang masih layak huni segera di bereskan untuk tempat tinggal mereka, sementara para manusianya menjadi tawanan.
Tapi Afragus kurang dapat menerimanya meski mereka menang, menduduki tahta musuh selalu berarti perang tak berakhir. Ia takut dimasa depan keturunannya akan mendapatkan hal yang lebih mengerikan dari ini.
"Afra! apa semua sudah tiba?" tanya Ursula.
"Sudah, semua rakyat kita sudah tiba di istana."
"Itu bagus, cepat benahi semua dan adakan pesta. Untuk pertama kalinya kita memiliki tempat sendiri," ujarnya dengan tak sabar.
"Segera dilaksanakan," sahut Afragus.
Kembali ke tahtanya Ursula harus mulai menyusun rencana baru demi masa depan yang lebih aman, ia mengundang para pejabat dalam satu meja bundar.
Peta digelar diatasnya, menampilkan medan dan wilayah kerajaan lain yang ada.
"Berapa jumlah tentara yang kita miliki sekarang?" tanya Ursula.
"Sekitar dua ribu," sahut sang Jendral perang yang belum lama ini dilantik.
"Hanya segitu?" tanya Ursula kaget sebab jumlahnya berkurang banyak setelah perang terakhir melawan Meseress.
"Bahkan angka kematian anak-anak pun tinggi, selama berpuluh-puluh tahun bayi yang baru lahir banyak yang mati karena berbagai sebab," ujar Afragus.
Ursula merenung, tentu ini tidaklah baik. Ia sudah harus segera membangun pertahanan yang kokoh demi menjaga kelangsungan hidup rakyatnya. Selain dari itu ia juga butuh petani yang bisa menggarap lahan di ladang yang sempit, diam-diam ia merasa menyesal telah membuka diri bagi dunia karena ternyata hidup terbuka tidak terlalu baik.
"Dahulukan pertanian, amankan ladang didekat istana dan hewan ternak. Periksa semua rakyat dan pastikan mereka sehat," ujarnya.
Pertemuan segera ia akhiri, meski terlihat biasa saja tapi Afragus tahu Ursula mulai cemas.
"Aku sudah mengingatkan mu, lebih baik bersembunyi," ujar Afragus pelan.
"Bersembunyi atau tidak kita tetap di buru, berhentilah jadi pengecut Afra!" tegas Ursula.
"Lebih baik menjadi pengecut dari pada harus mengorbankan banyak nyawa, kita memang dihadiahi umur yang panjang tapi bukan nyawa yang banyak."
Mematung Ursula tak dapat membalas ucapan itu.
__ADS_1