Surprise Child

Surprise Child
Bab 11 Buronan


__ADS_3

Dengan cemas Sophia memeriksa pinggang Damien yang jelas terkena sayatan, tapi luka itu berangsung sembuh tanpa meninggalkan bekas.


"Bagaimana mungkin?" gumamnya heran.


"Ini adalah salah satu kelebihan vampire, jika hanya luka luar seperti ini tubuh vampire mampu menyembuhkannya sendiri."


"Pantas kalian disebut makluk abadi," ujar Sophia lega.


"Yeah, tapi tetap saja kami juga bisa mati terbakar dibawah sinar matahari dan menjadi debu jika jantung kami di tusuk."


Sopia tersenyum, tapi tak lama sebab saat melihat mayat-mayat Elf hatinya menjadi tak karuan.


"Kenapa mereka mengejar kita?" tanyanya.


"Kerajaan Meseress dan kaum Elf sudah lama bermusuhan, perang terakhir mereka terjadi lima belas tahun yang lalu dengan kemenangan ditangan Meseress. Sepertinya sekarang mereka membalas dendam," jelasnya.


Sophia tahu sebagai putri takdirnya tidaklah mudah, tapi mengalaminya langsung ternyata lebih sulit diterima.


"Ayo pergi!" ajak Damien.


Kembali berjalan kini mereka mencoba menghindari kota mengingat Sophia menjadi buronan, menapaki hutan dengan medan yang tak mudah Sophia memperlihatkan hasil latihannya dengan baik.


Kini bahkan ia sudah bisa menggunakan senjata untuk berburu, seekor kelinci muda berhasil ditangkapnya untuk santap malam.


"Alessa benar-benar pendidik yang baik, aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya dia adalah penyihir pertama yang mampu mengikuti kecepatan ku."


"Sungguh?" tanya Sophia tak percaya sebab ia tahu seberapa cepat Damien berlari.


"Heh, kami bertengkar karena suatu hal lalu dia marah besar padaku. Aku mencoba meloloskan diri dan berlari secepat mungkin, tapi dia berhasil mengejarku dan menusuk tanganku. Rasanya sangat sakit," ujar Damien mengingat masa lalu.


Melihat senyum diwajah Damien entah mengapa membuat Sophia merasa ada sesuatu dihatinya yang terasa mengganjal.


"Sepertinya kalian sangat akrab," ujarnya pelan sambil membuang muka.


"Kami sudah berteman sejak lama," sahut Damien tanpa menyadari perbedaan pada ekspresi Sophia.

__ADS_1


"Aku mau tidur," ucap Sophia sambil beringsut pada sebatang kayu.


Membuat dirinya nyaman hingga terlelap dengan cepat, sementara Damien yang tak bisa tidur karena malam adalah siang baginya memilih untuk terjaga.


Memperhatikan gadis yang sudah ditakdirkan untuknya, menikmati setiap sensasi getaran dihatinya yang terasa baru. Malam semakin larut dan angin mulai membawa hawa dingin yang mengalahkan api, Sophia yang terusik semakin menekukkan lututnya untuk menjaga tetap hangat.


Setelah sekian lama Damien kembali merasa menyesal telah menjadi vampire, tubuh dinginnya tak akan bisa membuat Sophia hangat.


Tapi sebagai pria ia tak akan diam saja, dibuatnya api lagi di dekat Sophia agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman dalam kehangatan.


Beberapa jam saja sudah cukup bagi Sophia untuk beristirahat, melihat ada dua api unggun didekatnya tentu ia kaget. Tapi saat melihat Damien yang sedang tidur taulah ia bahwa vampire itu yang telah melakukannya, merasa tersanjung kini ia bergantian menjaga vampire itu agar dapat tidur nyenyak di siang hari.


Ia memotong banyak dahan pohon dengan daun yang rindang, menumpuknya di sekitar Damien agar ia terlindung dari sinar matahari.


Lalu sepanjang siang itu ia hanya duduk disamping Damien untuk melihat wajah vampire itu saat tidur, jika terus diperhatikan rupanya Damien memiliki wajah bayi yang imut saat tidur.


Sangat menggemaskan hingga Sophia tak tahan ingin menyentuhnya, tangannya sudah beranjak untuk setidaknya mengelus pipinya. Tapi saat ingat suhu tubuh mereka yang berbeda ia sadar itu akan membuat Damien kaget dan terbangun, maka ia pun urungkan niatnya.


Menjelang sore Damien baru bangun, mendapati ia dikelilingi ranting pohon tentu Damien heran.


Damien mengangguk sambil tersenyum, lalu mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan. Terus berjalan menyusuri hutan sampai diatas bukit itu mereka bisa melihat sebuah kastil megah yang dijaga dengan ketat.


"Ayo!" ajak Damien.


Menuruni bukit Sophia mengikuti tepat dibelakang, sampai di pintu gerbang seorang penjaga bertanya apa kepentingan mereka.


"Aku ingin bertemu Sir. Hummut," jawab Damien.


Penjaga itu pun mengangguk dan membukakan pintu gerbang, masuk kedalamnya Sophia cukup kaget melihat pemandangan yang sangat berbeda.


Dalamnya cukup ramai dan tertata rapih bak istana, mengikuti langkah Damien mereka menemui seorang wanita untuk memberitahu kepentingan mereka.


Wanita itu pun memimpin jalan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan menemui Sir. Hummut, sang dekan pemilik akademi.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sir. Hummut.

__ADS_1


"Ya tuan, aku ingin mendaftarkan Sophia sebagai murid disini."


Mendengar hal itu Sophia reflek menatap Damien, kini ia tahu bahwa tempat itu adalah akademi tempat para pangeran dan putri belajar.


"Tentu, kami menerima semua orang. Aku akan segera menyiapkannya," ujar Sir.Hummut ramah.


"Belajarlah dengan baik, aku akan menjemputmu nanti setidaknya satu tahun lagi."


"Apa? kau akan meninggalkan ku?" tanya Sophia kaget.


Melihat Ekspresi Sophia Sir.Hummut tahu ada hal yang belum mereka bicarakan, maka dengan sopan ia memberi mereka waktu untuk bicara.


"Sophia aku tidak bisa tinggal disini!" seru Damien setelah Sir.Hummut keluar.


"Kenapa?" tanya Sophia.


"Ada hal yang harus aku kerjakan, tapi aku berjanji aku pasti akan kembali."


"Aku tidak mau," ujar Sophia tegas.


"Sophia, kau adalah anak kejutan ku jadi kau harus menurut akan keputusan ku," ucap Damien dengan nada tegas dan dingin.


"Ya! aku anak kejutan mu karena itu tidak seharusnya kau meninggalkan ku sendiri!" seru Sophia.


Kehabisan kesabaran Damien menarik kepala Sophia dan mengecupnya dengan menggebu, dorongan yang kuat itu tak bisa Sophia tahan. Tapi ia juga tak mau pasrah begitu saja, dalam kedinginan kulit Damien ia membenamkan kukunya hingga vampire itu menggeram.


"Aku tidak ingin kau terluka, di luar terlalu berbahaya jadi biarkan aku mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi. Tahun depan setidaknya usia mu telah mencapai enam belas tahun dan siap untuk kubawa pergi," bisik Damien.


Perlahan Sophia membuka mata, menatap Damien yang masih menundukkan kepala dengan nafas yang terengah.


"Lalu kemana kita akan pergi nanti?" tanyanya.


"Aku akan menjadikan mu pengantinku," sahut Damien sambil menatap Sophia.


Sophia tersenyum meski airmatanya mengalir, itu adalah sebuah lamaran yang tak biasa tapi ia menyukainya.

__ADS_1


Dengan ikhlas ia pun menganggukkan kepala, membiarkan Damien pergi membawa janji yang akan ia penuhi setahun kemudian.


__ADS_2