
Cahaya matahari itu terpantul dipermukaan air yang jernih, membuatnya nampak seperti dua langit. Ujung-ujung cakar itu kemudian menyentuh permukaan air hingga riaknya menggoyangkan pantulan langit, gadis manis dengan gaun biru berselendang tertawa riang melihat hal itu.
Ia membenarkan tempat duduknya yang terlalu condong ke samping, berpegangan kuat pada naganya ia memerintahkan untuk mendarat di salah satu lapangan.
Sophia menatap tajam gadis itu yang segera menurunkan pandangannya, jelas terlihat dari raut wajahnya ada kemarahan yang siap keluar.
"Latisha! ibu benar-benar tidak tahu harus memberi hukuman apa lagi padamu!" ujar Sophia dengan sebuah tekanan.
Latisha diam, tak pernah berani menatap apalagi menyahut saat ibunya sedang marah.
"Masuk sekarang!" perintah Sophia sambil menunjuk.
Masih menundukkan kepala Latisha berjalan melewati Sophia dan terus masuk ke dalam gua yang merupakan rumahnya, Sophia memperhatikan bagaimana Latisha berjalan.
Itu sangat mirip dengan Damien yang membuatnya menghembuskan nafas panjang, dari langit yang masih cerah seekor naga besar kemudian mendarat di tepian.
Sophia melirik dan tersenyum, sudah empat belas tahun dan kini Luca sudah menjadi naga besar dengan sayap yang paling lebar.
"Tolong awasi anak mu agar jangan mengikuti perintah Tisha, sungguh aku tidak mengerti mengapa ia sangat bandel. Padahal dulu aku begitu penurut," keluh Sophia.
Luca meraung pelan, berbicara dengan bahasa naga yang tidak di mengerti siapa pun kecuali Sophia dan Latisha.
"Yeah kau benar, masa anak-anak," gumam Sophia.
Luca kemudian pamit pergi dan Sophia juga masuk ke dalam, menghampiri Latisha yang sibuk merenungkan kesalahannya.
"Berapa umur mu sekarang?" tanya Sophia sambil duduk tepat dihadapan Latisha.
"Tiga belas," sahut Latisha.
"Selamat ulang tahun," ujar Sophia sembari tersenyum.
Melihat wajah Sophia yang sudah merona Latisha pun ikut tersenyum, ia mengucapkan terimakasih.
"Ini untuk mu," ujar Sophia menyerahkan sebuah potongan tanduk rusa yang begitu pendek.
"Apa ini?" tanya Latisha penasaran.
"Tanduk rusa, lebih tepatnya potongan tanduk rusa. Ibu memiliki satu potongan dan kau akan menyimpan potongan lainnya," sahut Sophia.
Latisha mengangguk, ia tidak tahu seperti apa rusa itu sebab di dunia mereka hanya ada naga dan hewan air seperti ikan dan udang.
"Ibu mendapatkannya dari Albert," ujar Sophia.
__ADS_1
"Sungguh?" tanya Latisha.
Sophia mengangguk, sejak usia tujuh tahun Sophia sudah menceritakan segalanya kepada Latisha. Memberi pengertian bahwa ia adalah anak kejutan yang harus patuh kepada Albert, sama seperti dirinya yang harus menerima takdir sebagai anak kejutan Damien.
Namun Latisha sedikit berbeda, rupanya ia tak senang menerima takdirnya karena seakan ia akan terkurung untuk selamanya. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya Latisha mengerti dan menerima takdirnya.
"Sekarang usia mu sudah cukup untuk keluar dari sini," ujar Sophia.
"Sungguh? kapan aku akan pergi?" tanya Latisha tak sabar.
"Besok, kita akan pergi dan mencari ayahmu juga Albert."
Latisha bersorak, ia benar-benar tak sabar untuk segera pergi melihat dunia luar yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
Sepanjang hari itu ia mencoba menyibukkan diri agar waktu lebih cepat bergulir, tapi ia terlalu senang hingga saat malam tiba tidur pun ia tak bisa.
Paginya setelah sarapan mereka diantar Luca menuju tebing dimana pintu keluar berada, Sophia yang lebih dulu turun memberi tangannya untuk Latisha berpegangan.
"Kau siap?" tanya Sophia kepada Latisha.
Gadis itu menarik nafas panjang untuk mempersiapkan diri, setelah cukup berani ia pun mengangguk dan mereka mulai melangkah menembus dinding batu.
Seolah tak ada apa-apa Latisha tidak merasakan apa pun saat ia berjalan menembus dinding, di langkah berikutnya ia sudah berada di gua yang gelap gulita.
Sophia yang sudah terbiasa akan kegelapan itu menuntun Latisha berjalan hingga mereka keluar dari gua, begitu mereka berdiri di ujung tebing hamparan hutan yang luas segera memanjakan mata Latisha.
Terbiasa melihat lautan biru tentu saja ia kagum melihat hutan yang rimbun, angin sepoi numpang lewat dengan membelai rambut Latisha membuatnya tak mau beranjak.
Udara dingin yang menggelitik kemudian segera membuat hidungnya memerah.
"Ayo!" ajak Sophia.
Mereka kembali menaiki punggung Luca untuk turun dari tebing juram itu, setelah mendarat Sophia segera memerintahkan Luca untuk kembali ke dunia naga dan tak boleh keluar sampai ia memanggilnya.
Luca mengangguk dan segera terbang kembali ke dalam gua, sementara Sophia mengajak Latisha untuk mulai berjalan.
Sepanjang perjalanan itu Latisha banyak bertanya tentang segala ham yang menarik perhatiannya, Sophia selalu tersenyum dan menjelaskannya.
Saat ini usia Latisha sudah tiga belas tahun tapi karena ia baru mengenal dunia ini ia nampak seperti bocah lima tahun, sangat menggemaskan bagi Sophia.
Perjalanan panjang mereka akhirnya keluar dari hutan, untuk pertama kalinya Latisha melihat desa dan orang-orang yang berfisik sama seperti mereka.
Sophia sudah menjelaskan tentang hal ini, dunia baru yang akan ia lihat tak hanya ditinggali oleh manusia saja. Tapi juga ada bangsa Elf, manusia serigala, vampire, peri, orc dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Dari sekian banyak makhluk yang ada Latisha perlu untuk waspada terhadap semua makhluk kecuali manusia serigala dan peri, sisanya tergantung ia bertemu dengan siapa dulu.
"Naikkan tudung mu," ujar Sophia saat mereka hendak memasuki desa itu.
Riuh lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing membuat banyak pertanyaan di benak Latisha, setiap hal kecil sekalipun seperti tenda para pedagang begitu menarik perhatiannya.
"Ayo masuk," ajak Sophia sambil membuka kedai bar.
Latisha berjalan tepat di belakangnya, melihat tempat itu di dominasi pengunjung pria membuat Latisha heran dan berfikir mungkin tempat itu seperti tempat khusus yang hanya bisa di masuki beberapa orang saja.
"Satu rum dan segelas susu," ujar Sophia kepada pemilik bar.
Latisha duduk tepat di samping Sophia, memperhatikan bagaimana si pemilik bar menuangkan minuman ke dalam gelas.
"Hentikan ekspresi terkejut mu, kau bisa menarik perhatian dan itu tidak baik untuk kita," bisik Sophia.
Latisha segera menundukkan kepala, saat pemilik bar memberinya segelas susu ia pun meminumnya tanpa melirik kiri kanan lagi.
"Permisi, apa kau tahu penyihir hebat di daerah sini?" tanya Sophia.
"Um.. penyihir ya, di sekitaran sini tidak ada," sahut pemilik bar.
"Sungguh?" tanya Sophia.
"Memang kenapa kau mencari penyihir?" balas pemilik bar.
Sring
Sophia menaruh sekantong koin emas diatas meja yang membuat pemilik bar membelalakkan mata, dengan cepat ia mengambil kantong itu dan menyimpannya.
"Aku butuh informasi penting dan hanya seorang penyihir hebat yang bisa membantuku," sahut Sophia.
Pemilik bar melirik kanan kiri, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka lalu ia mendekat pada Sophia untuk berbisik padanya.
"Ada seorang penyihir bernama Alessa di desa Tutua, dia seorang kepala desa di sana. Jika kau ingin bertemu dengannya jangan katakan kau tahu dari aku."
"Kenapa?" tanya Sophia heran.
"Alessa seorang pengkhianat, dulu dia berada di pihak Sang Penunggang karena itu dia sekarang menjadi buronan. Jadi jangan sampai ada yang tahu kau mendapat informasi dariku," jawabnya.
"Terimakasih," ujar Sophia.
Ia pun mengajak Latisha untuk beranjak pergi.
__ADS_1
"Ibu kita mau kemana?" tanya Latisha.
"Mencari bibi mu," sahut Sophia.