Surprise Child

Surprise Child
Bab 46 Kepala Desa


__ADS_3

Seorang ksatria dengan pakaian zirah lengkap berjalan masuk ke dalam bar, kepada pemilik bar yang tengah sibuk melayani ia meminta satu gelas anggur terbaik.


Tanpa senyum pemilik bar menyerahkan apa yang diminta, ksatria itu pun membuka helm keselamatannya dan menikmati minumannya.


"Habis berkelana?" tanya seorang wanita cantik yang duduk tepat di sampingnya.


Ia menoleh, memperhatikan wajah wanita itu yang memerah karena kebanyakan minum. Pandangannya kemudian turun ke bawah dimana sepasang gunung begitu mulus dan putih, menyeringai ia lebih mendekat.


"Begitulah, bagaimana dengan mu?" balasnya.


"Mm, aku sedang kesal. Seorang pria minta obat kuat karena istrinya selalu mengeluh, aku memberinya obat paling mujarab tapi esok harinya ia kembali datang dan mengeluh kalau ia bertengkar dengan istrinya karena mereka terus berhubungan tapi tidak memiliki anak. Bukankah itu konyol? masalahnya tidak ada hubungannya dengan obat yang ku berikan tapi dia marah padaku," jawabnya.


"Jadi kau seorang tabib," terka ksatria itu.


"Mm, aku penyihir," sahutnya sambil menggeleng.


"Oh, Derek. Siapa namamu?" ujarnya mengulurkan tangan.


"Alessa," sahutnya tersenyum manis sambil menyambut uluran tangan itu.


Bruk


Sring


Tak disangka ksatria bernama Derek itu malah segera bangkit dan menghunuskan pedangnya kepada Alessa, matanya yang awalnya bersahabat berubah menjadi tajam menusuk.


"Jadi kau penyihir yang bersekutu dengan bangsa Elf dan membantu Sang Penunggang kabur?" tanyanya tegas membuat semua perhatian pengunjung tertuju pada mereka.


Alessa tak menjawab, ia masih menatap tangannya yang mengambang di udara padahal seharusnya ada tangan sedang di genggam.


Hhhhhh


Menghembuskan nafas panjang Alessa membayar minuman yang sejak tadi telah ia habiskan.


"Sisanya untuk mu!" ujar Alessa sambil bangkit.


Sring


"Dan ini untuk membereskan pria itu," ujarnya lagi sambil mengeluarkan satu kantong berisi uang penuh.


"Hei mau kemana kau?" teriak Derek saat Alessa berjalan keluar dari bar.


Ia hendak mengejar tapi semua pengunjung berdiri menghalangi, tak ada pilihan mau tak mau Derek harus melumpuhkan semua orang itu.


Ia pikir mudah karena tubuh mereka yang kurus, dari pakaiannya pun jelas mereka hanya petani dan peternak yang tidak biasa memegang senjata.


Namun ia salah, semua orang itu adalah penduduk desa yang bisa menggunakan sihir. Satu lawan puluhan orang tentu saja ia kalah, jeritannya yang awalnya begitu kencang seketika lenyap.


"Selamat siang nona," sapa seorang nenek tua sambil tersenyum.


"Oh, ya. Bagaimana pinggang mu?" tanya Alessa.

__ADS_1


"Sudah lebih baik, apa kau baru saja pulang?" sahutnya.


Kali ini Alessa mengangguk, ia tak bisa menjawab karena perutnya mulai terasa bergejolak.


"Aku membuat sup, mampirlah ke rumah untuk mencobanya."


Sekali lagi Alessa hanya mengangguk, nenek tua itu pun berlalu.


Hoooeeeekkk..


Akhirnya ia memuntahkan kembali semua yang telah ia cerna pagi tadi, rasanya sangat tidak enak dan panas di tenggorokan. Kepalanya yang terus berdenyut membuatnya tak bisa berjalan dengan tegak, setiap orang menyapanya tapi ia tak peduli sebab terlalu pening sampai akhirnya ia ambruk begitu saja.


Rasanya ia baru terlelap, tapi saat bangun sinar matahari sudah lenyap dan bulan tinggi di langit malam. Ia melihat sekeliling dan sadar berada di kamarnya, rupanya seseorang sudah membawanya.


Kepalanya masih sedikit pening karena itu ia belum bisa berjalan dengan benar, tapi setidaknya ia sudah tidak muntah dan dapat merasakan air putih yang segar.


Selesi mencuci muka ada semangkuk sup di atas meja, tanpa ada tanda si pengirim Alessa tahu sup itu dari nenek tua yang tadi menyapanya.


Selesai makan kini ia menjadi lebih segar, saat keluar kamar taulah ia bahwa ternyata ini sudah dini hari yang artinya ia tidur hampir seharian.


Berjalan keluar rumah desa itu sangatlah hening, beda saat siang hari dimana aktivitas masyarakat padat.


Berjalan seorang diri Alessa membiarkan dingin menusuk hidungnya sampai memerah, tiba di hutan yang masih begitu gelap ia menutup mata dan menghembuskan nafas panjang.


Perlahan tangannya terentang dan mulailah ia berlatih, mengeluarkan sedikit tenaga untuk menggunakan berbagai sihir.


"Kau masih saja segesit saat kita pertama bertemu," ujar seseorang dari kegelapan.


"Damien! Albert!" serunya kaget.


Ia segera berlari dan memeluk kedua vampire itu bersamaan.


"Aku tak percaya akan bertemu kalian di sini," jujurnya.


"Kami mendengar ada penyihir hebat yang bisa melakukan segala hal, saat itulah aku tahu bahwa itu kau," ujar Albert.


"Oh yang benar saja, sekian lama kita tidak bertemu dan sekarang kau pandai memuji," tukas Alessa sambil memutar bola matanya.


Mereka tertawa kecil.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Damien.


"Tentu saja baik, malah sekarang aku menjadi kepala desa."


"Sungguh?" tanya Albert tak percaya.


"Yeah, dulu ini hanya desa miskin yang merupakan surga penyakit. Melihat keputusasaan mereka aku menjadi kasian dan memutuskan untuk membantu mereka," jawab Alessa.


"Hubungan timbal balik, kau memberi kemakmuran dan mereka memberi tempat tinggal," ucap Damien yang sudah bisa membaca situasinya.


Alessa tersenyum, ia pun mengajak kedua vampire itu masuk ke dalam rumahnya untuk bernaung dari sinar matahari yang sebentar lagi akan muncul.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Sophia? apa dia baik-baik saja?" tanya Alessa.


Damien dan Albert seketika bungkam, sudah empat belas tahun berlalu dan mereka tidak pernah sedikit pun mengungkit tentang Sophia.


Diam-diam sebenarnya mereka selalu bertanya-tanya bagaimana rupa anak dari Sophia dan Damien, apakah mereka baik-baik saja atau apa yang selama ini mereka lakukan.


Sophia sudah berjanji akan memberikan anak itu kepada Albert dan pasti ia lakukan, tapi kapan waktunya mereka tidak pernah tahu.


Sejak perpisahan mereka Albert dan Damien sempat pergi ke hutan kegelapan untuk hidup disana sampai dua tahun lamanya, setelah Albert cukup matang sebagai vampire mereka pun mencoba keluar untuk melihat bagaimana dunia yang telah mereka tinggalkan.


Rupanya selama dua tahun itu mereka menjadi buronan, termasuk dengan Alessa sementara bangsa manusia serigala menjadi musuh semua ras seperti bangsa Elf.


Albert dan Damien pun memilih untuk hidup berpindah-pindah dan menyebarkan rumor kalau Sang Penunggang sudah tiada, tak mereka sangka dalam waktu satu tahun semua orang dalam belahan dunia meyakini rumor itu.


Dengan begini jika suatu saat Sophia kembali ia bisa hidup damai tanpa takut di buru, hanya saja ia perlu untuk menyembunyikan identitas aslinya.


"Dia pasti baik-baik saja," sahut Damien sambil mencoba tersenyum meski getir.


Menyadari mereka enggan membahas Sophia Alessa pun mengganti topik, ia membahas tentang para vampire lain yang masih mencoba mencari keberadaan mereka karena hanya mereka yang tahu dimana Sophia berada.


"Kemarin sekarang ksatria mencoba membunuh ku saat mengetahui namaku, empat belas tahun sudah berlalu dan jika ada yang mengenali ku itu berarti mereka berhubungan dengan para vampire itu. Aku rasa mereka mencoba memperalat manusia," ujar Alessa.


"Meski ketiga pangeran sudah mati tapi Zaruta si kepala pelayan masih hidup, malah ia menggantikan posisi ketiga pangeran dan duduk memegang kekuasaan sendirian. Tentu kini semua vampire hanya akan tunduk padanya dan melaksanakan semua tugasnya, mengingat sifatnya yang tak pantang menyerah tentu saja empat belas tahun tidak akan cukup membuatnya melupakan Sophia."


Alessa dan Albert mengangguk setuju pada apa yang dikatakan Damien, berapa tahun pun lamanya mereka tetap harus hati-hati pada Zaruta.


Saat matahari sudah timbul Alessa membiarkan dua vampire itu tidur, sementara ia pergi keluar untuk melihat perkembangan desanya.


Setiap orang yang bertemu dengannya akan menyapa, itu sudah menjadi kebiasaan. Sebagai kepala desa yang baik Alessa akan bertanya sejauh mana perkembangan pertanian mereka dan bila ada masalah ia akan segera menyelesaikannya.


Di desa kecil itu Alessa bagai bulan, ia cantik dan awet muda dengan ilmu hebat. Begitu timpang dengan rakyatnya yang kebanyakan orangtua, tapi meski begitu karena Alessa mengajari mereka sedikit ilmu sihir setidaknya mereka menjadi satu kesatuan.


Berjalan melihat-lihat peternakan dari kejauhan para gadis desa saling berbisik membicarakannya, seharusnya kini wajah Alessa sudah di penuhi keriput dengan rambut kusam yang memutih.


Sebagai bagian dari rakyatnya para gadis itu sering kali meminta ramuan ajaib yang bisa membuatnya awet muda, tapi Alessa tidak pernah memberikannya.


Tentu saja karena ia sudah tak memilikinya, semenjak berpihak pada Sophia ia memutuskan hubungan dengan semua vampire kecuali Damien dan Albert. Tentu saja hal ini membuatnya tidak mendapatkan serum lagi, tapi meski begitu ia tak keberatan sebab ia sudah cukup memakai serum sehingga ia akan tetap awet muda.


Sayangnya karena hal ini para gadis di desa tidak menyukainya, apalagi banyak pria yang suka dengan sengaja menggoda dan Alessa tidak keberatan akan hal itu.


Saat malam tiba ia pulang dan mendapati Albert serta Damien sudah bangun, mereka hanya minta sedikit perbekalan dan akan langsung pergi.


"Kalian akan kemana lagi?" tanya Alessa.


"Kemana saja yang penting kami harus terus bergerak," sahut Albert.


"Aku dengar kawanan manusia serigala tinggal di pegunungan Havertz, mungkin kalian bisa memeriksa keadaan mereka," ujar Alessa memberitahu.


"Terimakasih," sahut Damien.


Tanpa menunggu apa pun lagi Damien dan Albert segera berjalan di tengah kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2