
Tiga hari telah berlalu setelah kepergian Sophia, jasadnya yang di semayamkan di dunia Naga sengaja mereka lakukan agar arwahnya berubah menjadi bintang di langit sana.
Setelah upacara pemakaman Latisha pun kembali untuk memenuhi sumpah mendiang ibunya sebagai anak kejutan Albert, karena tak memiliki tempat tujuan akhirnya mereka bertiga menetap di kediaman Alessa untuk sementara waktu.
Setiap hari yang mereka lakukan hanyalah diam dan merenung, kesedihan ditinggal orang terkasih rupanya Albert yang paling tersiksa atas kepergian Sophia.
Setiap hari di dalam peti mati yang Alessa berikan khusus untuk tidur Albert akan terdengar isak tangis, baik di siang maupun malam hari.
Tak ada yang mencoba menghibur, mereka semua membiarkan Albert melepas emosinya meski harus berlarut.
Tak disangka Latisha justru lebih tegar dari yang lainnya, ia yang selama ini hanya hidup berdua dengan Sophia tentu sangat sedih. Tapi Latisha sudah sering di himbau akan kematian Sophia yang mungkin akan menjadi tragis, itu sudah menjadi bagian dari takdirnya dan Latisha di larang untuk berlarut dalam kesedihan.
Seakan dapat melihat masa depan Sophia berpesan agar menjadi anak yang kuat dan dapat diandalkan saat semua orang terkubur dalam duka, maka siang itu ia pergi keluar dan mencoba membantu Alessa membelah kayu bakar.
Setiap ia mengayunkan kapak satu emosinya keluar, semakin lama ia melakukannya kekesalannya tersalurkan dengan baik hingha ia merasa plong.
Aaaaaaaaaaa....
Tiba-tiba Latisha menjerit, semua orang yang mendengar jeritan itu sontak kaget dan menghambur keluar mencari Latisha.
Namun karena siang Damien hanya bisa melihat dari pintu sebab sinar matahari membakar tangannya yang baru terulur, sementara Alessa yang lebih dulu tiba segera memeriksa tubuh Latisha.
"Ada apa?" tanyanya panik.
"Ada sesuatu di tangan ku tadi, dia merayap terus ke punggungku!" jerit Latisha lagi.
Alessa kemudian memeriksa punggung Latisha tapi ia tidak menemukan apa pun, saat ia menengok kebawah rupanya ada serangga yang kemungkinan dialah penyebab Latisha menjerit kaget.
"Tidak apa-apa, itu hanya serangga. Dia tidak melukaimu," ujar Alessa menenangkan.
"Sungguh?" tanya Latisha.
Alessa mengangguk pelan sambil tersenyum, Damien dan Albert pun menghembuskan nafas lega. Tapi saat Alessa menatap Albert wajahnya menjadi kaku tiba-tiba, merasa tak enak di lihat seperti itu Albert bertanya "Ada apa?".
"Albert!" seru Damien yang juga menyadari arah pandangan Alessa.
"Ada apa? kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Albert bingung sekaligus panik.
"Kau tidak terbakar?" tanya Alessa.
Albert memeriksa tubuhnya, berfikir ada api di pakaiannya. Tapi ia tak menemukan apa pun, saat menatap ke Alessa lagi ia baru sadar mengapa Alessa bertanya seperti itu.
Menatap langit awan berarak dengan tenang, matahari tinggi di atas kepala dengan sinarnya yang cerah. Mengerutkan kening ia kemudian mengacungkan tangannya, membiarkan matahari menyinari tangannya yang pucat.
__ADS_1
"Aku.... tidak terbakar?" tanyanya mengulang ucapan Alessa.
Ia menatap bingung kepada semua orang, penasaran kemudian ia membuka pakaiannya. Membiarkan sinar matahari itu menerpa kulit yang selama ini terbungkus kegelapan, tak ada apa pun yang terjadi.
Ia tak merasakan panas ataupun sakit, ia kebal akan sinar matahari. Puas memeriksa diri hingga berjam-jam berada di bawah sinar matahari Albert pun masuk ke dalam rumah, wajahnya masih nampak bingung.
"Bagaimana mungkin?" tanyanya.
"Darah Sophia," jawab Damien.
Menatap Albert ia ingat Albert mencoba menyelamatkan Sophia dengan menjadikannya vampire, dalam prosesnya ja harus meminum darah Sophia baru setelahnya Sophia yang meminum darah Albert.
Sayangnya cara itu tak berhasil menyelamatkan Sophia, tapi darah Sophia yang sudah Albert hisap adalah darah Sang Penunggang.
Darah yang menjadi rebutan para vampire agar dapat berdiri di bawah matahari, Albert telah mendapatkan darah itu.
"Jadi... sekarang aku bisa keluar saat siang hari?" tanya Albert tak percaya.
Damien mengangguk, setelah puas berduka kini mendapat anugrah dari Sang Penunggang membuatnya menangis haru.
Ia kembali pergi keluar, masuk ke dalam hutan untuk menikmati siang yang sebenarnya cukup ia rindukan.
Berlarian ke sana kemari ia kemudian melihat seekor kelinci, merasakan adanya bahaya kelinci itu segera melompat untuk kabur. Tapi ia kalah cepat dengan Albert, ia tak bisa berkutik saat Albert menangkap tubuhnya.
"Ah ini kelinci," sahutnya.
"Aaa... lucu sekali, boleh aku pegang?" tanya Latisha antusias.
Albert mengangguk, ia memberikan kelinci itu agar Latisha bisa merasakan bulunya yang lembut. Merasakan geli di tangan karena bulu kelinci Latisha tertawa kecil, tawanya renyah dan cukup menular.
Membuat Albert ikut tersenyum dan senang, pada akhirnya rasa penasaran Latisha yang belum terpuaskan membuat mereka berjalan terus masuk ke dalam hutan.
Albert mengenalkan banyak hal pada Latisha, ia membiarkan Latisha mencoba dan memuaskan rasa penasarannya. Sampai mereka tiba di sungai, Albert mengajak Latisha mencoba menangkap ikan dengan tangan.
"Aahh susah! mereka sangat licin!" gerutunya.
Albert tertawa, tentu saja menangkap ikan dengan tangan adalah cara paling susah bagi manusia seperti Latisha. Tapi bagi Albert sendiri cukup gampang karena ia memiliki kuku yang tajam bagai cakar, ia berhasil menangkap beberapa ikan dan mengajak Latisha untuk membakarnya kemudian mereka makan.
"Um ini sangat enak!" seru Latisha kaget akan rasa ikannya yang gurih.
"Sungguh? kau menyukainya?" tanya Albert.
"Mm, di dunia Naga aku juga sudah biasa makan ikan. Tapi biasanya Naga ku yang menangkap ikan dan rasanya lebih asin dari ikan di sini, bentuknya juga beda."
__ADS_1
Albert mengangguk, ia mengerti jika Latisha benar-benar tidak tahu banyak hal sebab setelah ia sendiri masuk ke dalam dunia Naga rupanya tempat itu memang benar-benar berbeda.
Hahahaha
Tiba-tiba Albert tertawa, membuat Latisha bingung.
"Makanlah yang benar," ujar Albert sambil mengambil sisa makanan di sudut bibir Latisha.
Hal itu tentu membuat Latisha kaget, menatap wajah Albert yang begitu dekat jantungnya tiba-tiba menjadi tidak aman.
Degupannya sangat kencang hingga seakan akan melompat keluar, Latisha segera menunduk dan sibuk memakam ikan bakar sambil dalam hati mengutuk jantungnya.
Pulang ke rumah saat senja telah tiba, wajah mereka yang merona membuat Damien dan Alessa saling menatap penuh arti.
Setelah makan malam Latisha memilih untuk pergi tidur padahal untuk memejamkan mata saja ia tak bisa, diam-diam ia memikirkan Albert dan membayangkan wajahnya.
Seketika ia pun teringat obrolannya dengan Sophia, ia pernah bertanya seperti apa ayahnya itu dan Sophia menjawab dia adalah pria yang menawan.
Begitu mereka bertemu Latisha segera setuju bahwa ayahnya sangat tampan dan menawan, tapi setelah hari ini ia merasa Albert jauh lebih menawan.
Buktinya adalah jantungnya yang seringkali tak aman di beberapa momen saat ia bersama dengan Albert.
......................
Menemukan Albert duduk sendiri menatap langit malam Damien ikut duduk di sampingnya sambil memegang sebotol minuman.
"Sepertinya kau habis bersenang-senang," ujar Damien.
"Tentu saja, tapi sekarang aku justru merasa bersalah," sahut Albert dengan wajah sendu.
"Kenapa?" tanya Damien.
"Aku menghisap darah Sophia! apakah aku pantas bahagia di tengah kepergian saudara ku?" balas Albert bertanya.
Damien mengerti keresahan hati Albert, di tepuknya pundak Albert pelan.
"Aku tidak melihat penderitaan di wajah Sophia, menurut mu mengapa ia bisa pergi dengan damai sementara ia meninggalkan putri yang asing dengan dunia baru. Kekasihnya yang sudah lama tidak ia temui dan saudaranya yang paling ia lindungi?" tanya Damien.
Albert menatap Damien sambil mengerutkan kening.
"Itu karena dia percaya kepergiannya akan membawa kebahagiaan, ia percaya kepergiannya tidak akan sia-sia. Jadi jangan salahkan dirimu karena anugrah yang telah dia berikan padamu, anggap saja itu imbalan yang Sophia berikan agar kau dapat menjaga anak kejutan mu di siang hari."
Mengingat bagaimana dulu Damien sulit menjaga Sophia di siang hari harusnya Albert bisa lebih di andalkan dari dirinya sekarang.
__ADS_1
"Aku akan mencari santapan dulu," ujar Damien sambil berdiri dan pergi meninggalkan Albert yang perlahan mulai sadar.