Surprise Child

Surprise Child
Bab 56 Jangan Tangisi Aku!


__ADS_3

Trang Trang Trang


Pedang saling beradu ketajamannya, tekanan saling beradu kekuatannya. Empat belas tahun sudah Sophia mencoba menaklukkan kekuatan Sang Penunggang dan akhirnya ia berhasil, dengan sedikit dorongan emosi kekuatan itu akan muncul bercampur dengan kekuatan sihir yang ia asah di Akademi.


Memiliki kekuatan yang seimbang dengan Zaruta kini hanya tinggal menunggu waktu siapa yang akan membuat kesalahan pertama kali.


Semua tentu berfikir itu adalah Sophia, itu karena Zaruta memiliki sifap tenang dan dingin. Tapi tanpa mereka ketahui Sophia jauh lebih mampu untuk mengontrol emosinya, hal ini sudah ia latih bertahun-tahun lamanya demi meredam kekuatan Sang Penunggang.


Trang Trang Trang..


Pertarungan masih berlangsung, Zaruta tak membiarkan siapa pun ikut campur apalagi membantunya mengalahkan Sophia. Ini demi tujuan sucinya membalas kematian Amora yang tragis.


Mungkin Tiga puluh menit sudah pertarungan itu berlangsung, keduanya masih bertahan dengan kekuatan masing-masing.


Duuuaaaarrrr


Tiba-tiba sebuah ledakan di barisan prajurit Zaruta melumpuhkan pasukannya.


Srettt


Teralihkan sejenak Zaruta berhasil di lukai dengan sebuah sayatan di pahanya, sayang luka itu tidaklah dalam sehingga dengan sendirinya luka itu tertutup.


Zaruta mundur beberapa langkah, memberi jarak sebab iaa ingin tahu dulu siapa yang telah menyerang pasukannya.


Dari balik asap yang mengepul akibat dari ledakan itu Zaruta akhirnya bisa melihat Alessa dan Damien berjalan sambil kembali menyerang pasukannya.


"Sepertinya bala bantuanmu sudah datang," ujar Zaruta.


"Mereka hanya membasmi serangga yang kau pelihara, urusan mu tetap degan ku," sahut Sophia.


Sophia maju dengan cepat dan kembali menyerang, pertempuran pun berlanjut. Sementara Damien yang melihat itu segera memberi intruksi kepada Alessa untuk hanya mengingat pasuakni saja.


"Berani sekali kau!" hardik Red yang tak terima.


Hanya sekali pandang Damien sudah bisa melihat Red adalah vampire muda, tenaganya yang tak cepat habis akan menyulitkannya namun di sisi lain ia bersyukur juga karena pengalaman bertarung Red pasti masih lemah.


Pertarungan antara Damien dan Red pun terjadi, mereka saling mengadu ketangkasan dalam ilmu pedang.


Tinggallah Alessa yang harus menghadapi pasukan Zaruta yang begitu besar, merepotkan memang dan belum tentu ia dapat menang mengingat banyaknya jumlah pasukan itu.


Brrruuuuuuhhhh


Tiba-tiba sebuah lidah api menjulur dari langit, membakar para pasukan yang masih berbaris rapi. Membubarkannya sekaligus mengakhiri mereka dalam satu serangan, semua mata segera tertuju ke langit.


Kaget sekaligus terpana ada juga yang menatap ngeri, kawanan Naga muncul di langit dan mulai membakar apa pun yang ada.


Diantara kawanan itu ada satu Naga yang di tumpangi Latisha dan Albert, Albert meminta turun dan segera menyerang musuh yang berani mendekat sementara ia menyuruh Latisha untuk tetap di atas Naga saja dan menyerang dari udara.


"Bagaimana... mungkin?" tanya Zaruta tak percaya bahwa Naga itu ada banyak.


Trang Trang


Zaruta tak waspada, ia hanya lengah sedikit dan Sophia sudah melancarkan banyak serangan yang membuat Zaruta kewalahan.


Tersudut, Sophia bisa melihat satu kesempatan. Hanya dengan satu serangan ia yakin pedangnya mampu untuk menembus jantung Zaruta.


Whuuuss


Ahh


Namun ternyata yang sebenarnya terjadi adalah Sophia sudah masuk ke dalam perangkap Zaruta, saat pedang Sophia menghunus ke depan Zaruta berputar ke samping menghindar serangan.


Buk


Uh


Lalu satu tendangan dari Zaruta membuat Sophia jatuh terpental.


Menatap bagaimana Sophia bangkit Zaruta tidak membiarkannya, ia bergegas berlari dan kembali menyerang dengan pedangnya. Susah payah Sophia mencoba terus menghindar, hingga sampai akhirnya ia berhasil menggulingkan Zaruta dan memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur.

__ADS_1


Kembali Sophia bersiap dengan memasang kuda-kuda dan menggenggam erat pedangnya, sementara Zaruta melepaskan helm pelindung kepalanya baru kemudian bangkit.


"Menyebalkan, ternyata kau lebih kuat dari yang aku kira," ujar Zaruta.


"Aku Sang Penunggang, ingat?" balas Sophia.


Sophia sudah melihat semua Naga dan beruntung tidak ada Luca, dengan begini ia bisa bertarung dengan nyaman sebab belahan jiwanya berada di tempat yang aman.


"Baiklah, mari kita mulai lagi," ucap Zaruta.


Ia berlari memberi serangan, entah mengapa kini larinya lebih cepat dari sebelumnya. Serangannya juga bertambah kuat dari sebelumnya, hingga membuat Sophia cukup sakit.


Tak mau kalah Sophia melepas sedikit lagi kekuatan Sang Penunggang, saat itu angin berhembus keluar dari seluruh tubuhnya. Ia pun siap.


Trang Trang Trang


Kembali menjadi rival yang sepadan tiga puluh menit berlalu kemudian tanpa ada tanda-tanda ada yang akan kalah, mereka masih seimbang.


Sementara pertarungan antara Damien dan Red sudah mencapai ujungnya, Damien lebih unggul dan mampu memukul mundur Red sehingga ia butuh bantuan anak buahnya.


Begitu juga dengan Alessa, berkat bantuan para Naga ia bisa mengurus pasukan itu meskipun banyak.


Perang tetap berlanjut, total dua jam sudah Sophia beradu kekuatan dengan Zaruta. Nafasnya sudah terengah-engah dengan bulir keringat di keningnya yang ia biarkan mengalir sendiri dan menetes dari dagu.


Meski tak terlihat tapi Zaruta juga sudah mulai mencapai batasnya, ia sengaja menambah kecepatan untuk mengintimidasi lawan padahal ia hanya mampu melakukannya selama beberapa menit lagi setelahnya ia akan cepat ambruk.


Karena itu ia harus cepat mengakhirinya, mengambil langkah lagi ia menyerang Sophia.


Trang


Sophia masih mampu untuk menangkisnya karena Zaruta hanya menggunakan satu tangan untuk menggenggam pedangnya sehingga tekanannya tidak begitu kuat.


Namun rupanya Zaruta sengaja melakukan itu agar satu tangannya yang lain bisa menusuk pinggang Sophia dengan sebuah belati.


Ah


Bruk


Jatuh terduduk Sophia menatap belati yang menancap cukup dalam di sana, tapi Sophia tidak mencoba untuk mencabutnya sebab ia sadar jika ia cabut darah akan keluar dan bisa-bisa mati kehabisan darah.


"Masih belum cukup," ujar Zaruta tak puas.


Penderitaan yang Sophia berikan padanya akan ia kembalikan dengan utuh, hingga tak tersisa sedikit pun kesedihan di dalam hatinya.


Segera mengambil langkah ia kembali menyerang Sophia, sebab Sophia menahan luka meski ia berhasil menahan serangan Zaruta dari depan tapi saat Zaruta berlari pindah ke belakang sayangnya ia tak bisa menangkis sebuah pedang yang kemudian menusuknya hingga tembus ke depan.


Ah


Pekikan pelan itu begitu merdu di telinga Zaruta, sayangnya karena ia berada di belakang ia tak bisa melihat ekspresi Sophia.


Sreett


Uh


Maka ia menarik pedangnya, membuat lubang di tubuh Sophia hanya untuk kemudian ia berpindah ke depan dan menatap wajah Sophia.


"A-apa?" gumamnya yang berharap menemukan ekspresi dari rasa sakit dan penderitaan.


Namun Sophia justru tersenyum, matanya menatap Zaruta seakan berkata 'dengan begini semua telah berakhir'.


"Ibu...... " jerit Latisha yang pertama kali melihat hal itu.


Sontak Damien dan Albert menatap ke arah Sophia, begitu melihat darah mengucur deras dari lubang di perutnya secepat mungkin Damien berlari menghampiri Sophia.


"Yang Mulia!" seru Red saat melihat Albert memberikan serangan kepada Zaruta.


"Sebaiknya kita mundur dulu," ujar Red berhasil melindungi tuannya.


Ia pun memberi perintah kepada pasukannya untuk mundur, maka mereka yang masih memiliki tubuh lengkap segera berlari menyelamatkan diri.

__ADS_1


"Sophia!" panggil Damien mendekap tubuh yang sudah tak berdaya itu.


"Alessa! bisakah kau menyembuhkan Sophia dengan sihirmu?" tanya Albert kepada Alessa yang baru datang menghampiri.


"Maaf, kheos ku tidak cukup," sahutnya menyesal.


"Ibu... ibu... " panggil Latisha segera turun dari Naganya dan berhambur menghampiri Sophia untuk memegang tangannya.


Dengan mata yang berkaca-kaca Sophia menatap setiap orang yang memanggil dan mendekatinya.


"Kalian... sudah bertemu," ujar Sophia.


"Jangan banyak bicara, simpan tenagamu," pinta Damien.


Sophia tersenyum, tangannya yang sudah tak bertenaga menyentuh pipi Damien. Ia sedikit berkedut karena merasa dingin saat melakukannya, namun kemudian perlahan ia terbiasa hingga membenamkan seluruh tangannya di pipi Damien.


"Sudah.... selesai, Sang Penunggang akhirnya telah tiada.. kini... dunia akan aman," ucap Sophia.


"Tidak!' seru Albert tak terima.


Sejak awal Sophia adalah saudaranya dan anak kejutan dari Damien, ia bukanlah Sang Penunggang seperti yang di katakan orang-orang.


"Takdir ku... hanya sampai di sini," ujar Sophia kembali menyulut emosi mereka


Ia menatap Damien kemudian Latisha, darah dagingnya kini telah siap untuk hidup bersama yang lainnya.


Perlahan Sophia menutup mata, tangannya yang memegang pipi Damien pun terjatuh. Berbagai kenangan yang telah ia buat bersama dengan Damien dan Albert muncul menjadi penguat dari rasa sakit melepas raga.


"Sophia..."


"Sophia.... "


"Ibu... "


"Sophia.... "


'Shhhhhh.... jangan panggil namaku!' seru Sophia dalam batinnya.


Ia sudah sangat mengantuk, ia ingin tidur dengan tenang.


Gep


Tak disangka Albert menggigit tangan Sophia, membenamkan taringnya dengan begitu dalam dan menghisap darahnya dengan rakus.


Selesai pada tangan kemudian ia merebut Sophia dari pelukan Damien dan membenamkan taringnya di leher Sophia cukup lama.


"Masih belum," ujarnya setelah selesai menghisap darah Sophia.


Latisha menatap tak mengerti dengan apa yang di lakukan Albert, tapi Damien dan Alessa yang tahu hanya membuang muka dengan sedih.


Setelah cukup menunggu kemudian Albert menggores tangannya sendiri menggunakan belati, darah yang keluar dari luka itu ia berikan kepada Sophia agar di minumnya.


Tapi tubuh Sopy sudah kaku, tenggorokannya pun tak bisa menelan.


"Bangun! Sophia... kau tidak bisa melakukan ini padaku!" seru Albert murka.


Ia mengguncang tubuh Sophia dalam pelukannya, berharap ada tanda kehidupan meski kecil.


Tapi beberapa menit berlalu dan Sophia tidak menunjukkan apa pun kecuali wajah damainya dalam tidur.


"Ibu... " panggil Latisha.


Air mata mengalir deras di wajah gadis yang masih polos itu, tangisannya yang pilu membuat Alessa tak tahan hingga mendekapnya untuk memberikan sedikit ketenangan.


Whuuuusss...


Para Naga turun ke bumi, merunduk ke arah mereka seakan memberikan penghormatan terakhir pada Sang Penunggang.


Tangis Albert pun akhirnya pecah, menderu pilu.

__ADS_1


__ADS_2