Surprise Child

Surprise Child
Bab 62 Petualangan Malam


__ADS_3

Pulang dari menjenguk Latisha Albert menyempatkan diri untuk menjenguk kekasihnya, hanya dalam waktu sepekan rumput liar sudah mulai tumbuh di sekeliling pemakaman itu.


Menaruh setangkai bunga ia mulai membersihkan tempat itu sambil berkeluh kesah tetang kekecewaannya terhadap Damien.


Awalnya ia berniat pergi ke pegunungan harvest tempat Meg, tapi pegunungan itu terlalu jauh dan lagi mudah ditemukan Damien.


Akhirnya ia hanya terus berkelana dari satu desa ke desa lainnya, tinggal di penginapan atau hutan seperti dulu.


Sampai akhirnya ia memiliki ide untuk tinggal di sana bersama kekasihnya, Albert pikir itu tidak buruk. Maka ia pun mulai menebang pohon untuk membuat rumah kayu di atas dahan, tidak perlu bagus yang penting cukup untuk ia tinggali.


......................


Lama Zaruta tidak datang ke kamar para selirnya, saat ia baru datang lagi para selirnya sudah seperti cacing kepanasan. Mereka menggeliat di dekat Zaruta sambil menempelkan tubuh, membelai dengan lembut untuk membuatnya panas.


Zaruta segera naik ke atas ranjang, kali ini ia yang akan memainkan permainan dan para selirnya harus tunduk pada peraturan yang telah ia buat.


Berjam-jam mereka bermain sampai kelelahan dan tidur, tapi tidak dengan Zaruta. Selesai memuaskan para selirnya ia menuju ruang rapat.


Karena selama ini ia sudah banyak berbaik hati maka sudah saatnya para Raja itu membalas kebaikannya, ia memerintahkan Red untuk mengambil upeti.


Jika para Raja itu menolak hukuman harus segera dilaksanakan malam itu juga tanpa pengecualian, tentu saja karena Zaruta memberi perintah secara mendesak banyak Raja yang tidak bisa membayar hingga akhirnya istana mereka dibantai dengan kejam.


Menjelang pagi Red pulang bersama anak buahnya membawa banyak harta juga para putri dan Ratu yang pantas di jadikan selir, istana yang sempat sepi itu akhirnya ramai kembali dengan isakan tangis selir baru dan kemeriahan pesta yang Zaruta buat untuk anak buahnya.


......................


Malam hari saat semua orang sudah tidur Percy dan Barney yang memang memiliki rencana menunggu Latisha di kelas mereka, dengan memakai pakaian serba hitam Latisha menyelinap keluar kamar dan pergi menemui teman-temannya.


Percy dan Barney mengajak Latisha berjalan menyusuri koridor yang gelap karena semua lampu sudah di matikan, mereka terus berjalan melintasi sebuah ruangan besar yang tidak ada apa pun kecuali lukisan-lukisan di dinding.


Latisha memperhatikan setiap ruang yang mereka lewati dengan teliti sampai mereka masuk ke dapur, berhenti di sebuah pintu Percy mengeluarkan sebuah kawat panjang yang ia pintal-pintal baru ia masukan ke dalam lubang kunci.


Ceklek


Suara pintu terbuka cukup keras di keheningan malam, membuat mereka bertiga mengernyit sambil menatap sekitar.


Perlahan Percy yang membuka pintu lebih dulu menyelinap keluar di susul dengan Barney baru Latisha, udara malam yang dingin segera menerpa rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.


Perlahan Latisha menutup pintu dan barulah mereka berani untuk menegakkan tubuh, sejenak menikmati udara malam Percy baru mengajak mereka untuk kembali berjalan lagi.


"Ada danau buatan di dekat sini, setiap kami butuh kodok disinilah menangkapnya," ujar Barney.


Tak lama berjalan kaki mereka sudah sampai, danau buatan itu rupanya cukup luas. Latisha terkesima akan keindahan yang berbeda dengan malam di dunia naga, langit memang sama terpantul di permukaan air tapi ada pemandangan lain yang tak kalah menakjubkan yaitu pohon-pohon dan tumbuhan lainnya yang bagai siluet karena gelap malam.


Krook Krokkk

__ADS_1


Suara kodok segera terdengar, karena sudah masuk musim hujan tentu binatang itu lebih banyak dari biasanya.


Memilih bertelanjang kaki Latisha berlari ke arah danau mencoba menangkap kodok, tapi hewan itu terus melompat menghindarinya.


Latisha tertawa lepas, membuat Percy dan Barney senang karena mereka bisa membuat Latisha bahagia. Mereka pun segera ikut terjun, berlari ke sana kemari sambil tertawa.


Entah sudah berapa lama mereka terus seperti itu, yang pasti cukup lama sebab merema sudah merasa lelah. Mendapatkan satu kodok sudah cukup, mereka pun segera pulang sebelum seseorang menyadari kepergian mereka.


"Ini Latisha, kau saja yang simpan," ujar Barney memberikan kodok yang sudah di masukan ke dalam toples.


"Sungguh? boleh aku yang menyimpannya?" tanyanya senang.


"Tentu saja, besok setelah istirahat kita bedah bersama," ujar Percy.


Latisha mengangguk, mereka pun berpisah di Koridor sebab kamar mereka berbeda arah.


Esoknya sesuai janji mereka membedah kodok itu bersama-sama, Latisha yang lebih antusias benar-benar mendengarkan setiap penjelasan Percy dan Barney tentang organ kodok.


Ilmu baru yang Latisha dapat itu membuatnya menatap kagum kepada kedua temannya, ia memuji betapa pandainya mereka sampai wajah keduanya memerah karena malu.


"Malam ini kami akan keluar lagi, apa kau mau ikut?" tanya Barney.


Latisha mengangguk tegas, ia tidak akan melewatkan kesempatan dalam petualangan malam hari.


Malam itu mereka mengajak Latisha ke tempat yang berbeda, masih dekat dengan kastil Akademi namun terkenal bahaya.


Melihat tatapan Latisha yang penasaran Barney segera menjelaskan segala hal yang ia ketahui tentang hewan satu ini, Latisha mengangguk dan memuji padahal semua yang dikatakan Barney di lebih-lebihkan.


Percy yang tak terima sebab hanya Barney yang mendapat perhatian mulai meralat semua kesalahan dalam penjelasan Barney, tentu saja Barney tidak terima sehingga adu cekcok pun terjadi.


Sementara Latisha yang lebih penasaran pada hewan itu mencoba lebih dekat lagi, ia ingin melihat dengan jelas sebenarnya apa warna bulu mereka dan bagaimana rupa mereka.


Sayangnya Latisha terlalu dekat hingga membuat Barney yang baru sadar kalau Latisha merangkak maju sendiri kaget dan memanggilnya, seruan yang kencang itu sontak membuat kawanan hyena itu kaget dan bangkit.


Melihat Latisha yang lebih dekat mereka segera menerkam Latisha.


Aaaaaaaa...


Satu gigitan kuat menancap di tangan Latisha, ia meringis kesakitan sambil menghalau para hyena yang lain. Sementara Barney dan Percy yang ketakutan mencoba mengusir mereka dengan suara.


"Bodoh! ayo panggil Dekan saja!" seru Percy yang sadar suara mereka tidak akan membuat para Hyena itu takut.


Lari tunggang langgang mereka segera kembali ke Akademi, sementara Latisha masih berjuang menghalau hyena lain yang ingin menyerangnya.


Uh Buk

__ADS_1


Satu pukulan kuat yang ia berikan akhirnya berhasil membuat hyena itu melepaskan gigitannya, darah mengucur dari bekas gigitan yang dalam.


Berdiri di tengah Latisha tahu ia sedang di kepung, hyena itu bisa menyerang kapan saja namun Latisha tidak gempar.


Ia justru membalas setiap tatapan dingin itu tanpa rasa takut, satu hyena kemudian mencoba menyerangnya.


Tapi Latisha bisa membaca gerakan itu sehingga ia bisa menghindar, sebaliknya ia justru mencoba menyerang salah satu hyena itu meski dengan tangan kosong.


Satu hyena berhasil ia tangkap dan dengan keras ia pukul ke tanah, itu membuat si hyena meringis kesakitan saat Latisha melepaskannya.


Dalam keadaan setengah berdiri ia menatap hyena lain, aura kepemimpinan yang secara naluri keluar membuat para hyena menjadi tak berani untuk mendekatinya.


"Mundur!" teriak Latisha sebagai peringatan.


Para hyena itu perlahan mundur, Latisha masih memberikan tatapan yang mendominasi saat ia bangkit.


"Latisha!" seru seseorang tiba-tiba bersamaan dengan perisai yang mengurung dirinya.


Melihat ada banyak orang yang datang kawanan hyena itu pun bergegas kabur, rupanya yang datang adalah Dekan dan para pengajar lainnya termasuk Mam.


"Astaga... tangan mu!" seru Mam melihat bagaimana luka gigitan itu sangat dalam.


"Ayo masuk! kita harus mengobati lukamu," ujar Dekan.


Latisha di bawa masuk, dengan cepat lukanya di obati agar tidak infeksi. Setelahnya ia harus menemui Dekan bersama dengan Percy dan Barney, wajah Dekan masih terlihat marah karena kenakalan mereka.


"Kalian tidak boleh masuk kelas selama tiga hari dan tidak boleh saling bertemu, pengawas akan mengawasi kalian dua puluh empat jam selama tiga hari. Aku harap hukuman ini bisa membuat kalian sadar betapa salahnya perbuatan kalian," ujar Dekan tegas.


"Maafkan kami," ujar Percy sebab merasa ini adalah tanggung jawabnya.


"Sekarang pergi ke kamar kalian masing-masing dan beristirahatlah," perintah Dekan.


Mereka bangkit dari tempat duduk dan sekali lagi meminta maaf sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


"Latisha," panggil Barney.


"Maafkan aku, kau pasti membenciku karena semua ini," ujarnya menyesal.


"Aku juga minta maaf, aku yang paling tua tapi tidak bisa menjaga kalian," timpal Percy.


"Apa maksud kalian?" tanya Latisha.


Wajah mereka yang awalnya menunduk karena merasa bersalah segera terangkat karena pertanyaan singkat Latisha.


"Aku sangat menikmati petualangan ini, luka sedikit tidak apa-apa. Lain kali sebaiknya kita lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan masalah dan ketahuan," ujar Latisha seraya tersenyum.

__ADS_1


Mereka menatap bingung, bukannya kapok Latisha justru ketagihan. Ia bahkan membuat rencana setelah hukuman selesai mereka akan menyelinap pergi lagi, tentu itu membuat Barney dan Percy bernafas lega sekaligus tenang.


Tersenyum mereka pun mengangguk.


__ADS_2