Surprise Child

Surprise Child
Bab 6 Pelatihan Pertama


__ADS_3

Sophia cukup kaget mendapati dirinya bisa tidur ditempat itu, padahal awalnya ia benar-benar merasa tak nyaman hingga terbatuk beberapa kali.


Saat tiba jam makan malam yang harusnya itu adalah sarapan Damien menjemputnya, duduk diantara para vampire rupanya tak seburuk yang Sophia bayangkan.


Mungkin karena mereka berwujud seperti manusia, satu-satunya yang membuatnya canggung hanyalah terlalu banyak pria bahkan ada pula yang sebaya dengannya.


Mendegar lelucon mereka yang ternilai jorok benar-benar tak biasa baginya, ditambah cara makan mereka yang rakus. Sebaliknya bagi mereka Sophia adalah bahan lelucon, cara Sophia bersikap bahkan makan dengan teratur sangatlah tidak cocok dengan tempat ia duduk.


Selesai mereka makan malam para vampire muda berhamburan pergi untuk kembali bersenang-senang dengan caranya, sementara Sophia memilih kembali ke kamarnya yang bau apek.


"Hei!" teriak seseorang memanggilnya.


Sophia menoleh, menatap tiga vampire muda yang sebaya dengannya. Ia diam menunggu ketiga vampire itu mendekatinya, meski Damien sudah memberi peringatan untuk tidak berurusan dengan mereka tapi rasanya tidak masalah jika hanya bertegur sapa.


"Kudengar Damien yang membawamu," ujar salah satu dari mereka.


"Ya, lalu?" tanya Sophia.


"Perkenalkan aku Tris, Edmund dan Key."


"Sophia," sahutnya.


"Aku tidak menyangka akan ada vampire gadis, ku pikir mereka hanya akan menargetkan para pria saja."


"Jadi?" tanya Sophia.


"Well, selamat datang di rumah. Aku harap kau tidak menangis saat pelatihan pertama hahahaha," tukas Key yang segera disambut tawa oleh yang lain.


Sophia mengerutkan kening, ia tak mengerti apa maksud mereka.


Akhirnya Sophia mengerti keesokkan harinya, para vampire muda itu dilatih keras agar siap bertarung melawan apa saja. Sophia tentu syok melihat cara bertarung mereka yang bagai gladiator, dan kecepatan yang sukar diikuti mata itu di luar nalarnya.


"Kau akan melatih ku seperti itu?" tanya Sophia kepada Damien.


"Tidak, ingat kau bukan vampire seperti mereka," bisik Damien.


"Lalu?"


"Kau akan mengetahuinya nanti, ayo!" ajak Damien.


Mereka memutari ruang terbuka itu dan masuk keruangan lain, terlihat banyak senjata terpajang mulai dari tombak hingga busur.


Di ujung ruangan itu Lucy sudah menunggu kedatangan mereka, sedikit ragu Sophia berjalan menghampiri sementara Damien menunggu di tengah ruangan.


"Kemarilah!" ajak Lucy.


"Pilih senjata yang kau suka," perintahnya.


Sophia melihat satu persatu senjata yang ada, tangan halusnya menyentuh setiap permukaan senjata sampai pilihannya jatuh pada busur crossbows.

__ADS_1


"Gunakan," perintah Lucy setelah Sophia memberitahunya.


Pertama kali harus menggunakan senjata tentu Sophia cukup gugup, tapi rasa penasaran membuatnya memiliki keberanian untuk mengambil benda itu.


"Uh!" pekiknya kaget karena ternyata busur itu sedikit berat dari yang terlihat.


Dari arahan Lucy ia mencoba membidik sebuah balok kayu, dengan menyipitkan mata Sophia mencoba membidik tepat di tengah.


Syuuuuut


Trang


Tapi tangannya tidak kuat menanggung beban busur yang berat hingga panahnya meleset, Lucy yang melihat hal itu hanya menggeleng sambil bergumam "Benar-benar mentah."


Lucy telah mengeluhkan hal ini sebelumnya, hanya dengan perkenalan saja ia tahu Sophia hidup untuk menjadi putri bukan petarung. Tapi Damien bersikukuh karena memang untuk selamanya Sophia akan menjadi miliknya, dan untuk itu ia perlu keterampilan betarung.


Menggeleng dengan kesal Lucy mulai mengajari dari latihan fisik, ia menyuruh Sophia untuk berlari setiap hari selama dua jam. Ia juga mengajarkan cara memukul, menendang dan menangkis yang membuat seluruh tubuhnya kesakitan di malam hari.


Melihat bagaimana Sophia memijit pelan tangan dan kakinya Damien tahu mungkin ia keterlaluan, apalagi setelah seminggu sosok putri cantik Sophia berubah jadi rakyat jelata.


Anehnya, Damien tidak pernah mendengar Sophia mengeluh apalagi merajuk minta pulang. Ini membuatnya penasaran hingga malam itu setelah selesai latihan Damien menghampirinya ke kamar.


"Aku bawakan baju baru untuk mu," ujarnya sambil menyerahkan bungkusan kain.


"Terimakasih, jujur pakaian ini sudah tak nyaman digunakan," akuinya seraya tersenyum.


"Aku cukup kaget melihat kecepatan mu dalam beradaptasi, apalagi saat melihat mu makan tanpa mengomentari rasa atau mencium baunya, heh...kau sudah menjadi bagian dari kami."


Ia menatap gadis itu lekat-lekat, mencari bekas air mata yang mungkin saja di sembunyikan. Tapi di wajah Sophia hanya ada debu dan remahan roti sisa makan tadi.


"Apa kau tidak menyesal?" tanya Damien.


"Maksud mu?" balas Sophia kurang mengerti.


"Ayolah... kau seorang putri! hidupmu sangat layak dan bahagia, tapi tiba-tiba seorang vampire datang dan kau harus mengikuti kemana pun dia pergi. Tinggal dirumah yang tak pernah disinari matahari, tidur beralas tikar yang keras dengan bau apek dan suara tikus yang mengganggu. Bahkan kau hidup diantara pemangsa!" tukas Damien.


Sejenak Sophia terdiam, menatap Damien untuk beberapa menit sebelum akhirnya menjawab.


"Bohong jika ku katakan aku baik-baik saja, tapi hidup bukan untuk penyesalan! meski sulit hingga terasa ingin menyerah aku masih ingin hidup dan mengetahui seperti apa takdir ku."


Termangu, Damiem tak menyangka jawabannya begitu sederhana. Tak ada alasan khusus atau tujuan lurus, hanya sekedar ingin tau dan itu sudah cukup.


Tanpa sadar Sophia telah membangunkan sebuah jiwa yang terkubur sekian lama, disetiap hari saat ia menjalani hari berat dengan latihan hingga kuku cantiknya hilang jiwa itu berada di sana untuk mengamati.


......................


Buk Buk Buk


"Bagus! lebih kuat lagi!" teriak Lucy mengarahkan pukulan Sophia yang kini sudah lebih bertenaga.

__ADS_1


Latihan berat dalam hari lainnya masih berlanjut, kini setidaknya Sophia sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk menggunakan senjata.


"Baiklah, hari ini sudah cukup!" ujar Lucy menyelesaikan latihan itu.


Mengambil nafas dalam-dalam Sophia mengatur pernafasannya yang terasa berat, merasa cukup baik ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar sebelum pergi mandi.


"Hai putri!" sapa Edmund.


"Bagaimana latihan mu?" tanya pula Key.


"Cukup baik, bagaimana dengan kalian?" balasnya.


"Kau tidak akan percaya, kami harus memanjat tebing curam tanpa pengaman dan terus bebas ke sungai yang tingginya hampir 500 meter!" sahut Tris.


"Sungguh? sepertinya kalian menikmatinya."


"Tentu saja, kau menikmati latihan mu?" tanya Tris sambil memegang baru Sophia.


"Singkirkan," ujar Sophia pelan sebab ia tak suka akan sentuhan tangan Tris yang memainkan bahunya.


"Kenapa?" tanya Tris dengan senyum mengejek.


Plak


Satu tamparan mendarat tepat dipipi Tris yang meninggalkan bekas merah.


"Oh, sial! hahahaha... " ujar Edmund yang segera mengundang amarah Tris.


Merasa terhina Tris mendorong tubuh Sophia hingga menghantam tembok, dengan kekuatan vampirenya tentu Sophia merasa tulang punggungnya remuk seketika.


"Lepaskan aku atau..." ujar Sophia dengan tatapan tajam.


"Atau apa?" balas Tris.


Buk


"A arghh.. " erang Tris sambil memegang tepat bawah perutnya.


Senyum penuh kemenangan menghiasi wajah Sophia, karena tahu ia kalah dalam hal kekuatan maka setidaknya ia masih memiliki akal untuk menang.


"Sialan!"


Sret


"Ah!" pekik Sophia merasakan perih di pipinya yang terkena sayatan dari kuku Tris.


Darah segar segera menetes keluar, menyebarkan aroma nikmat yang seketika mengundang dahaga para vampire muda.


Tris, Edmund dan Key yang berdiri paling dekat menatap lekat pada cairan kental itu. Menelan ludah seolah tenggorokannya kering, sementara Sophia yang sadar akan bahaya menatap takut sambil mengawasi para pemangsa.

__ADS_1


"Tidak.... Damien!" teriaknya tepat saat cakar-cakar itu menyerbu.


__ADS_2