
Ruang kelas sihir itu hanya berisi sebuah meja tinggi kecil yang mengelilingi ruangan, Sophia masuk mengikuti pendidik juga semua teman yang berpotensi dalam sihir termasuk Ariana.
Ia berdiri tepat di samping Ariana sambil mengamati sebuah batu kecil diatas mejanya.
"Hari ini kita akan mempelajari Telekinesis," ujar pendidik yang berdiri tepat di tengah ruangan.
Semua mendengarkan dengan patuh, memperhatikan bagaimana pendidik itu mampu mengangkat batu tanpa menyentuhnya.
"Dasar dari Telekinesis adalah kekuatan benak, saat kau memiliki keyakinan penuh maka itu dapat diwujudkan. Kau bisa memberi perintah seperti 'bergerak' atau 'angkat' untuk memperkuat keyakinan," jelas pendidik.
Para murid mengangguk tanda mengerti.
"Ariana cobalah," ujarnya.
Semua mata tertuju padanya, sedikit gugup tapi gadis itu mampu mengendalikan diri. Perlahan batu kecil diatas mejanya bergerak, itu membuat para murid bergumam kagum dan mengguncang batinnya.
"Ahhh..." gerutunya kesal sebab batu itu tak mau bergerak lagi.
"Kendalikan dirimu, kunci utamanya hanyalah fokus. Jangan biarkan sekeliling mu mempengaruhi pikiran mu hingga mengundang gundah, sekarang kalian semua cobalah."
Semua murid mengangguk dan mulai fokus pada batu mereka termasuk Sophia, seperti yang dikatakan pendidik ia hanya perlu fokus pada batu itu.
Tapi dalam benaknya justru yang hadir adalah wajah Damien, lalu senyumnya dan sentuhan bibirnya yang dingin namun menggairahkan.
Satu persatu murid telah berhasil namun Sophia malah melamun dan mengacuhkan batunya.
"Sepertinya kau sedang tidak bersama kami nona Sophia," ujar pendidiknya.
"Maaf Mam," sahut Sophia cepat.
"Hari ini cukup sampai disini, kalian bisa kembali ke kamar masing-masing," ujarnya membubarkan.
"Kau baik?" tanya Ariana saat mereka berjalan keluar kelas.
"Ya," sahut Sophia pelan.
"Tenang saja, kau pasti nanti bisa melakukannya," ujar Ariana mencoba menghibur.
"Aku sudah menggerakkan daun agar ikut menari bersama ku," ucapnya.
"Lalu kenapa kau tadi tidak bisa menggerakkan batu itu?" tanya Ariana.
__ADS_1
"Pikiran ku kacau, aku benar-benar tidak bisa fokus."
"Aaah... memang sulit diawal, aku mengerti perasaan mu. Tapi kau tidak perlu khawatir! para ksatria gagah sudah kembali setelah menjalani tes dan malam ini Dekan sudah mempersiapkan sambutan untuk mereka," ujar Ariana penuh senyum.
Sophia tidak mengerti apa maksudnya tapi ia harap itu hal yang bagus, sebelum acara makan malam mereka menanggalkan seragam hitam putih dan memakai gaun warna warni dengan perhiasan indah yang menyempurnakan penampilan mereka.
Sementara Sophia yang tidak memiliki semua itu diberi pinjam oleh Ariana, tentu ia tak mau teman satu kamarnya itu memakai pakaian jelek dimalam dimana para pangeran pulang.
Aula yang biasanya hanya tempat kosong dimana semua orang lalu lalang dalam satu malam disulap menjadi lantai dansa yang indah, bagi Sophia sudah lama rasanya ia tak melihat pemandangan itu.
Membuatnya rindu akan istananya, tempat dimana ia juga bertemu dengan para pangeran dari Kerajaan lain.
"Edwin!" seru Ariana sambil berlari.
Sophia memperhatikan bagaimana sahabatnya itu menemui seorang pangeran dan memeluknya, terlihat pangeran itu tersenyum bahagia dan memuji kecantikan Ariana.
"Mari ku kenalkan, ini pangeran Edwin," ujar Ariana saat Sophia menghampiri mereka.
"Suatu kehormatan bisa mengenal anda, panggil saja aku Sophia," ucap Sophia yang tak melupakan sopan santun sebagai seorang putri.
"Suatu kehormatan pula bagi ku," balas Edwin sambil mencium punggung tangan Sophia.
"Ya, dia teman satu kamarku," sahut Ariana menjawabkan.
"Begitu rupanya, aku senang mengetahui sekarang kau sudah ada teman tidur. Selama pergi aku benar-benar khawatir padamu," ujar Edwin jelas menujukan kepeduliannya.
Menyadari akan adanya hubungan spesial diantara mereka Sophia memilih untuk pergi, menikmati pesta dengan mencoba berbaur dengan yang lain.
......................
Ia mengerjap dalam cahaya remang-remang, butuh beberapa menit untuk menyesuaikan pandangan dari kegelapan itu.
"Kau sudah bangun," ujar Yarren sambil berjalan mendekat.
"Berapa lama aku tidur?" tanyanya.
"Seharusnya hanya beberapa jam saja, itu efek dari obat yang ku berikan tapi kau tidur seharian jadi sepertinya tubuhmu butuh istirahat."
Albert menatap lengannya yang sudah di perban, tersenyum ia mengucapkan terimakasih.
"Apa kau tidak punya lilin lagi? sepertinya cahayanya kurang," tanyanya.
__ADS_1
"Ini adalah malam kesunyian," jawabnya.
"Maksudmu?" tanya Albert tak mengerti.
"Ayo, ayahku akan menjelaskannya padamu."
Menarik tangan Albert agar ia bangkit mereka pun berjalan keluar kamar, menemui ayah Yarren yang tak lain adalah kepala suku.
Diruang tengah itu juga ada ibu Yarren dan adik laki-lakinya yang masih kecil, duduk mengitari sebatang liling besar ditengah.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya ayah Yarren.
"Baik, terimakasih," jawab Albert sambil duduk.
"Yarren sudah mengatakan apa yang terjadi, aku menyesal hal ini telah terjadi padamu."
"Tidak apa-apa, dihutan kesalahpahaman sering terjadi."
"Aku Mateo, kepala suku dan ayah Yarren. Dia Ansida istri ku dan Aslan," ujarnya memperkenalkan.
Albert mengangguk seraya tersenyum, menatap api lilin yang kadang bergoyang kepala suku memulai cerita yang sama sepanjang tahun pada hari kesunyian.
"Waktu tidak pernah berubah, hanya dunia dan makhluk yang selalu merubahnya. Nenek moyang suku Zimbe sadar akan alam dan potensi yang harus dikembangkan, tapi mereka tidak pernah mau merubah dunia demi keseimbangan alam.
Berbeda dengan makhluk lain yang tenggelam dalam hasratnya dan terus mengais potensi serta mengembangkannya, saat apa yang mereka tanam tak dapat dituai sesuai rencana perasaan kecewa berubah menjadi amarah yang menghitamkan hati.
Menyadari satu-satunya harapan hanya terdapat pada nenek moyang kita, mereka mulai merayu untuk bekerja sama. Tapi setiap penolakan meski secara halus telah melukai hati mereka dan menjadikannya bomerang untuk kita."
"Pembasmian suku Zimbe!" seru Albert yang sadar akan kisah itu.
Semua mata menatap kepadanya, bukan karena dengan lancang ia telah memotong cerita melainkan Albert adalah orang asing yang seharusnya tidak tahu kisah itu.
"Ya, pembasmian besar-besaran seluruh suku Zimbe. Tak peduli anak kecil, wanita, semua dihabisi dengan kejam. Tak ada artinya untuk melawan karena itu hanya akan memperparah masa depan, akhirnya mereka yang selamat memutuskan untuk bersembunyi. Memutuskan hubungan dengan dunia luar dan melarang keturunannya untuk menunjukkan diri kepada dunia luar bahkan ikut campur.
Dan semenjak itu pula ada sebuah tradisi yang disebut kesunyian, adalah hari dimana kita mengenang tragedi memilukan itu. Mematikan daya hidup seperti tidak bekerja berlebihan, berpuasa seharian, tidak menggunakan cahaya banyak, semua itu demi menghormati arwah para leluhur yang sedang menjenguk kita."
Cerita itu telah usai, mengantarkan hawa dingin dan sepi yang sesungguhnya. Namun dengan berani Albert bertanya "Lalu bagaimana dengan ku?".
"Aku adalah orang asing, mungkin nenek moyang ku terlibat dalam tragedi itu sebagai tersangka. Apakah... kalian akan memafkan ku?" lanjutnya memperjelas.
"Suku Zimbe tidak pernah memandang kebelakang sebagai penyesalan, jika benar nenek moyang mu adalah tersangka maka tandir telah bekerja lewat panah Yarren sebagai hukuman. Kau diterima disini," jawab Mateo dengan bijak.
__ADS_1