Surprise Child

Surprise Child
Bab 54 Pertemuan Anak Kejutan


__ADS_3

Hari ini tak ada tamu yang datang namun kastil itu cukup berisik, seorang putri baru datang untuk menebus kesalahan ayahnya. Ia sudah mencoba melarikan diri hingga mengakhiri hidup namun pengawal tak membiarkannya, sementara Zaruta belum sempat menemuinya karena terlalu memikirkan Sophia sehingga ia tak berselera.


"Yang Mulia! tuan Red sudah kembali tapi... " ujar seorang pelayannya dengan wajah gusar.


"Berani sekali kau masuk tanpa ijin dan bicara seperti itu pada Yang Mulia! mana hormat mu!" hardik seorang penjaga yang berdiri tepat di bawah singgasana Zaruta.


"Ma-maafkan aku Yang Mulia... " sahut pelayan itu ketakutan.


"Sudahlah, mana Red?" tanya Zaruta malas.


"Hamba di sini Tuanku," sahut Red sambil memasuki ruangan.


Alangkah terkejutnya Zaruta dan semua orang saat melihat Red masuk, semua mata tertuju pada apa yang di tenteng tangannya. Itu merupakan kepala Amora, tangan kiri Zaruta yang selalu membuat iri para selir karena dapat perhatian lebih dari Zaruta.


"Apa yang terjadi?" tanya Zaruta dengan nada tinggi.


Red segera bersimpuh memberi hormat.


"Sang Penunggang yang melakukan ini kepada Amora, dia juga memiliki pesan yang ingin ia sampaikan kepada anda."


"Katakan!" perintah Zaruta.


"Dia menantikan malam perjamuan di kastil Enyver," sahut Red.


Zaruta membeku sejenak, mengingat perang besar yang pernah terjadi di kastil itu. Dengan isyarat kemudian ia memerintahkan Red untuk pergi membawa potongan kepala Amora, sementara ia turun dari singgasana dan berjalan keluar.


Di kawal oleh dua vampire prajurit Zaruta masuk ke dalam kamar dimana putri baru tinggal, begitu ia masuk kamar pintu pun di tutup.


Dari cahaya lilin yang remang-remang ia bisa melihat Sang putri tengah meringkuk di sudut kasur, rambut dan pakaiannya berantakan namun Zaruta masih bisa melihat wajahnya yang cantik.


Perlahan ia naik ke atas kasur dan mendekati putri itu, sentuhan pertama yang Zaruta berikan di lutut putri itu sontak membuatnya kaget.


Ia menatap Zaruta penuh ketakutan dan memelas minta dikasihani.


"Tolong bebaskan aku... " pintanya lirih.


Sssssssshhhhhhttt


Zaruta memberi isyarat diam dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir, putri itu pun segera membungkam mulutnya.


"Kau tidak perlu takut, aku tidak akan melukai mu," bisiknya.


Tangannya kemudian beralih mengelus lembut kepala putri itu, perlahan kemudian ia merangkulnya. Memberikan rasa nyaman meski dalam pelukan dingin, beberapa detik kemudian putri itu pasrah pada takdirnya.


Ia membiarkan Zaruta mendekapnya hingga kemudian menancapkan taringnya di leher.


......................


"Latisha.... " seruan itu jelas dan nyata.


Seseorang memanggilnya, ia mengenali suara itu. Mencari diantara kabut kemudian yang ia temukan adalah naganya, merunduk untuk memberikan kepalanya seperti biasa agar Latisha dapat mengelusnya.


Begitu tangannya menyentuh kepala Naga itu pesan yang diucapkan Sophia kemudian tersampaikan kepadanya, sontak Latisha terbangun dari tidurnya.


Terengah-engah Latisha melirik ke kiri kanan, dari celah jendela cahaya pagi sudah masuk membuat kamarnya berwarna oranye. Rupanya ia sudah tidur semalaman, sayup-sayup kemudian terdengar suara orang bercakap-cakap.


Penasaran Latisha bangun dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar ia mendapati ruangan itu sangat gelap dan hanya ada cahaya lilin yang remang-remang.

__ADS_1


Suara orang bicara tiba-tiba hening saat mereka mendapati Latisha datang, perlahan Damien kemudian berjalan ke arahnya dengan tatapan rindu.


"Latisha... " panggilnya.


Latisha menatap Damien, mencaritahu siapa pria yang menatapnya sedemikian rupa itu.


"Aku Damien," ujarnya.


Kini tahulah ia, ayah yang selama ini ia cari ternyata begitu tampan dan keliatan masih muda. Segera ia pun memeluk Damien, namun rasa dingin kulit Damien yang menyentuhnya membuatnya tersentak kaget.


"Hahaha, ibu mu juga selalu seperti itu jika aku menyentuhnya," ujar Damien sambil tertawa.


"Ah ini Albert, ibu mu pasti sudah banyak bercerita tentangnya," lanjutnya sambil menunjuk Albert.


"Tentu saja," sahut Latisha.


Begitu Damien mendapat kabar dari Alessa mereka segera berlari menuju rumah Alessa, sakit cepatnya mereka berlari selama semalaman pagi sebelum pajar tiba mereka sudah sampai.


Tentu itu membuat Alessa kaget, tapi ia dapat memaklumi perasaan mereka berdua. Kini mereka sudah bertemu dengan Latisha, masalahnya adalah Sophia tidak bersama dengan mereka.


Damien sudah mendengar dari Latisha bahwa Sophia mencoba menyelamatkan Latisha dengan mengurus seorang siluman wanita, tentu itu membuat mereka khawatir pada keselamatan Sophia.


"Sekarang kita perlu mencari Sophia," ujar Albert.


"Tidak perlu," sahut Latisha yang membuat mereka menengok ke arahnya.


"Aku mendapat pesan dari ibu kalau sebuah perang besar akan terjadi lagi di kastil Enyver, entah apa yang terjadi tapi aku yakin ibu pasti akan pergi ke kastil itu," jelasnya.


Mereka saling menatap satu sama lain, empat belas tahun telah berlalu semenjak perang besar itu. Mereka yang masih hidup mencoba bertahan dengan segala cara, bahkan Alessa sendiri rela terikat pada sebuah desa demi keselamatannya.


"Aku akan minta bantuan Meg," ujar Albert.


"Tidak, kita sudah merepotkan mereka. Lihatlah kini mereka terasing di pegunungan karena kita," sergah Damien.


"Tapi kita tidak mungkin melawan banyak pasukan sendirian!" seru Albert.


"Ini adalah perang kita! sudah cukup Albert," balas Damien bersikukuh.


Mereka terdiam, jelas Albert kesal karena sifat keras kepala Damien. Tapi ia juga tak bisa bicara lagi karena memang apa yang di katakan Damien benar, sampai kapan pun mereka akan terus mengincar Sophia selama mereka mengetahui Sophia masih hidup. Itu artinya sampai kapan pun perang ini tidak akan pernah berakhir.


"Bagaimana jika aku minta bantuan para Naga?" tanya Latisha tiba-tiba.


"Para Naga? apakah ada banyak Naga di dunia ini?" tanya Alessa.


"Aku lahir dan tumbuh di dunia Naga, tempat itu sangat berbeda dengan dunia ini. Ada banyak Naga dan jika aku yang bicara mungkin mereka mau membantu," sahutnya.


"Sepertinya itu layak di coba," ujar Alessa.


Damien terlihat merenung, ia tak yakin Latisha mampu mengendalikan Naga sebab ia rasa meski lahir dari Sang Penunggang ia bukanlah Sang Penunggang.


"Baiklah," tapi tak ada pilihan selain mencoba.


"Sstelah matahari terbenam aku akan langsung pergi ke kastil, sementara kau akan di antar Albert untuk pulang ke dunia Naga," lanjutnya.


"Bagaimana dengan ku?" tanya Alessa.


"Apa kau akan ikut bertarung lagi?" tanya Albert.

__ADS_1


"Hei! kenapa tiba-tiba aku jadi terasing? ayolah... aku masih bagian dari kelompok ini," protesnya.


Hahahaha


Mereka tertawa, setidaknya Ada sedikit hiburan di tengah kegaluan.


......................


Malam datang dengan cepat, seperti yang direncanakan Damien dan Alessa langsung pergi ke kastil sementara Latisha dan Albert pergi ke gua.


Memacu kuda agar lebih cepat sampai Albert bisa begitu lihai mengendalikan kudanya meski di malam hari, Latisha yang duduk di belakang baru pertama menikmati angin malam di dunia baru yang ternyata lebih dingin.


Jarak antara desa Tutua dan gua tempat menuju dunia Naga cukup jauh, rupanya waktu satu malam menggunakan kuda tidaklah cukup. Alhasil karena pagi datang mereka terpaksa mencari tempat gelap untuk Albert, cukup merepotkan memang.


Di tengah hutan untungnya mereka menemukan gua yang meski tak dalam tapi cukup untuk berteduh dari sinar matahari.


"Maaf karena perjalanan kita terganggu, andai aku bisa berjalan di siang hari pasti saat ini kita sudah sampai," ujar Albert merasa menyesal.


"Tidak ada gunanya minta maaf, sekarang yang perlu kita lakukan hanya berharap perang itu belum mulai," sahut Latisha.


"Sepertinya belum, yang akan Sophia lawan adalah para vampire. Mereka juga pasti akan keluar malam ini," sahutnya.


Latisha mengangguk, ia tak begitu memahami dunia baru itu meski Sophia susah menjelaskan semuanya.


"Oh ya," ujar Latisha tiba-tiba.


Ia mengeluarkan potongan tanduk rusa yang di berikan Sophia kepadanya.


"Ibu memberikannya padaku, katanya ini pemberianmu," ujarnya.


Albert mengambil benda itu dan melihatnya, segera ia pun ingat bahwa benda itu pemberian anak manusia serigala.


"Apa ibumu menjelaskannya kenapa aku memberikan ini untuknya?" tanya Albert yang segera di jawab dengan gelengan kepala.


"Awalnya aku mendapatkan ini dari anak manusia serigala, katanya dulu dalam kawanan manusia serigala jika pria memberikan benda yang berasal dari tulang, tanduk atau gigi kepada wanita itu artinya lamaran. Tapi seiring bergulirnya waktu pengartian itu berubah menjadi kasih sayang yang bisa di pakai di segala umur dan hubungan, saat aku mendapatkan potongan tanduk rusa ini mereka memberitahu ku bahwa meski aku adalah manusia yang menjadi vampire yang sejatinya musuh alami mereka tapi mereka tetap menyayangiku. Karena itulah aku memberikannya kepada Sophia sebagai jimat keberuntungan," jelasnya.


"Potongan tanduk rusa itu patah menjadi dua bagian, satu ibu berikan padaku dan satu lagi ia simpan. Tapi saat kami dalam bahaya ibu memberikan sisa potongannya padaku," ujar Latisha.


"Kalau begitu aku akan menyimpannya lagi," kata Albert sambil mengikatnya talinya di leher sehinga potongan tanduk itu menjadi sebuah kalung.


Latisha memperhatikan Albert, meneliti setiap inci wajah vampire itu dan menyadari ada guratan tampan di sana.


"Aku pikir Sophia akan menyerahkan mu padaku setelah usia mu mencapai setidaknya lima belas tahun, aku tidak menyangka ini akan lebih cepat," ujar Albert.


"Kenapa?" tanya Latisha.


"Dulu saat Damien mengambil ibumu usianya sudah mencapai lima belas tahun," ujar Albert.


"Jadi kau senang aku datang dua tahun lagi?" tanya Latisha tajam.


"Tentu saja tidak! setiap hari aku menghitung bintang agar benak ku teralihkan dari hal tentang mu," tukas Albert yang entah mengapa perkataan itu mampu membuat Latisha memerah.


"Sebaiknya kita istirahat, gunakan waktu sebaik mungkin agar nanti malam kita bisa kembali melanjutkan perjalanan," ujar Latisha segera berbalik badan.


Ia meringkuk di tanah dengan posisi membelakangi Albert sambil berharap Albert tak mendengar degup jantungnya yang sangat kencang hingga seakan- akan melompat keluar.


Albert sendiri yang baru sadar kalau Latisha tengah malu tiba-tiba teringat pada Yarren, kekasihnya itu juga sering membuang muka jika dalam keadaan malu.

__ADS_1


__ADS_2