Surprise Child

Surprise Child
Bab 43 Pertempuran di Kastil Enyver 2


__ADS_3

Terbang mengelilingi kastil Luca tak berhenti menyemburkan api, memporakporandakan prajurit yang berlarian mencari keselamatan. Mereka berlarian menuju hutan tempat yang paling aman sekaligus menjalankan perintah para Raja, menyiapkan senjata besar berupa meriam yang mirip ketapel besar yang akan melayangkan batu berukuran besar dengan Luca sebagai targetnya.


Hal ini adalah bagian dari rencana Dimitri yang telah di setujui para Raja, menggeser batu hingga masuk kedalam tempatnya mereka segera membidik Luca sebelum menarik tuas.


Batu besar itu melayang di udara, melintasi ribuan prajurit yang bertempur melawan kawanan manusia serigala yang telah berubah wujud menjadi serigala besar.


Bum


Khaaaaaa....


Satu lemparan batu itu tepat mengenai sayap kiri Luca, jeritannya yang nyaring cukup memekakkan telinga. Tapi Luca masih bisa terbang meski kini ia lebih rendah, rupanya luka yang diterima Luca berefek juga pada Sophia.


Ia merasakan rasa sakit yang sama di bahu kirinya, Dimitri yang melihat itu segera meninggalkan tempat untuk memberi arahan pada para prajurit.


"Sophia! kau baik-baik saja?" tanya Albert cemas sampai mencoba menghampiri.


Tapi Sophia tak menyahut, ia hanya meringis. Aro yang melihat kesempatan segera bertindak cepat dengan mencoba melukai Sophia menggunakan belati, Albert yang melihat itu bergegas menambah kecepatannya berlari untuk melindungi Sophia.


Aaaaaaaa....


khaz....


Jeritan Sophia yang tiba-tiba itu melepaskan sebuah tekanan energi yang besar, begitu kuat hingga membuat mereka jatuh mencium lantai.


Aro mencoba bangkit sebisanya namun hal itu sia-sia, seakan tubuhnya di tindih bongkahan batu besar ia tak mampu bergerak.


Syuuuuunngg


Bum


Khaaaaaaa....


Satu bidikan Dimitri berhasil menghantam tubuh Luca, kini mengenai perutnya dan itu membuat Sophia merasakan sakit yang sama. Tekanan yang Sophia buat pun melemah sehingga membuat mereka bisa bangkit, Aro yang benar-benar tak mau melewatkan satu kesempatan itu cepat bergerak mendekati Sophia.


Trang


Namun belati yang ia hunuskan hanya menggores perisai Sophia, sedikit pun Sophia tak terluka.


"Cih!" gerutu Aro kesal.


Namun itu membuatnya menyadari apa yang sudah sejak tadi Dimitri sadari, memandang ke bawah tepat dimana Dimitri berusaha membidik Luca lagi ia sadar mereka memiliki peluang yang lebih besar jika Luca yang lebih dulu tumbang.


Maka dari atas balkon itu ia berlari ke arah dimana Luca terbang, mengambil ancang-ancang ia bersiap terjun untuk mendarat di punggung Luca.


Jleb


Uh


Tapi Damien tak tinggal diam, ia yang juga sudah tahu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Luca ataupun Sophia. Satu bilah pedang berhasil menusuk perut Aro dari belakang, sayangnya itu tidak cukup untuk menumbangkan sang pangeran vampire.


Menarik kembali pedangnya Damien kini bersiap menghujamkan pedang itu pada titik vital dimana itu akan menghentikan hidup Aro, pertarungan mereka pun segera terjadi.


"Albert! jangan biarkan mereka menyakiti Luca!" serunya di tengah pertempuran sebab Albert masih tak tahu apa yang terjadi.


Mengangguk Albert segera meninggalkan tempat itu dan turun kebawah, menghajar setiap prajurit hingga ia bertemu Meg yang sama-sama masih bertarung melawan pasukan vampire.


"Meg aku butuh bantuan mu!" seru Albert menyita perhatian serigala betina itu.


"Kita harus menghentikan mereka menyakiti Luca!" ujarnya sambil menunjuk naga yang tengah berjuang menghindari banyak bidikan.


Meg menganggukkan kepala berbulunya, berlari tepat di depan Albert ia menyingkirkan semua orang atau vampire yang hendak menghalangi Albert.


Hingga akhirnya mereka sampai dan segera menyerang para prajurit itu, sayangnya Dimitri juga berada di sana sehingga itu akan menjadi cukup sulit.


Meski kini Albert sudah menjadi kuat tapi kontrolnya terhadap kekuatan itu tidak cukup baik sehingga ia seperti pegulat bodoh, berbeda dengan Dimitri yang jelas tahu tingkat kekuatannya dan ahli strategi juga.


Beberapa kali serangan Albert di patahkan dengan mudah, sebaliknya justru Albert yang menerima banyak serangan balik. Melirik pada Meg sayangnya serigala itu sibuk dengan para vampire bawahan yang mencoba melumpuhkannya, ia harus berjuang sendiri.


Whuuuuussss...


Tiba-tiba angin kencang berhembus dari arah hutan, begitu kuat hingga merobohkan meriam yang awalnya berdiri kokoh. Para prajurit yang berdiri di dekatnya menjerit meminta tolong saat tubuh mereka terhimpit bongkahan besar itu, saat angin telah menghilang mereka bisa melihat Alessa berdiri dengan nafas tersenggal-senggal.


Membuat angin topan rupanya adalah sihir yang menguras energinya, namun cukup efektif untuk menumbangkan senjata yang menyakiti Luca.


"Maaf aku terlambat," ujarnya sambil mengatur nafas.


"Tidak! kau datang tepat waktu," sahut Albert tersenyum.


Alessa segera berdiri di samping Albert, menghadapi Dimitri mereka siap untuk pertempuran.

__ADS_1


"Satu bantuan kecil tidak akan merubah apa pun," olok Dimitri.


"Kau salah, hal besar seringkali terjadi karena sesuatu yang kecil," balas Albert.


Bekerjasama Albert menggunakan kekuatan vampirenya untuk membuat Dimitri repot, sementara Alessa menyokong dengan sihirnya.


Kini mereka menjadi seimbang, beberapa serangan Albert akhirnya dapat melukai Dimitri meskipun itu kecil. Tak mau kalah Alessa juga memberikan serangan dari jarak jauh, ia mengunci pergerakan Dimitri dengan perisai buatannya dan memberikan tekanan kuat di dalamnya.


Itu tidak akan membunuh Dimitri dengan cepat tapi ampuh untuk melemahkannya, saat di rasa Dimitri cukup lemah barulah Albert memberikan serangan fisik berupa pukulan yang membuat linu ulu hatinya.


"Albert!" seru Alessa sambil melemparkan sebilah pedang.


Albert menangkap pedang itu di udara dan menusukkannya tepat di jantung Dimitri, sayangnya ketangkasan Dimitri masih bagus sehingga ia bisa menangkis pedang itu.


Tak mau menyerah Albert terus memberikan serangan, membuat vampire ratusan tahun itu kewalahan menghadapinya yang seakan tak bisa lelah.


"Sial! vampire muda memang merepotkan!" gerutunya kesal saat merasa kerepotan dengan banyak serangan itu.


Bhuuuurrr...


Di udara Luca yang kembali membaik karena tak ada serangan lagi semakin menjadi dengan mulai membakar hutan-hutan, tentu saja itu membuat banyak keributan dari peniknya prajurit manusia.


"Cih! aku harus segera mengakhirinya," tukasnya.


Ia melesat ke depan tepat kearah Albert, lalu melayangkan satu pukulan kuat saat Albert masih belum siap.


Bruk


Tinju di perut itu membuat tubuh Albert terpental ke belakang dan berakhir dengan menghantam pohon sebelum jatuh ke tanah, Alessa yang melihat hal itu berniat untuk menolong namun Dimitri lebih cepat dan sudah mencengkram lehernya.


Akh..


Tak bisa bernafas Alessa mencoba melepaskan diri dengan memukul-mukul wajah Dimitri, tapi itu tidaklah berarti apa-apa.


Justru Dimitri semakin kencang mencekik lehernya hingga Alessa perlahan kehilangan kesadarannya.


Sret


Sebuah ujung pedang tiba-tiba mencuat dari dadanya, perlahan Dimitri melepaskan Alessa dan menengok ke belakang. Rupanya Dimitri kehilangan kewaspadaannya hingga Albert mampu menghujamkan pedang dari punggung, menghentikan detak jantungnya seketika.


Bruk


"Aku... tidak apa-apa, sebaiknya kau cepat hentikan Sophia... " ujar Alessa dengan nafas yang masih tersenggal.


......................


Aro adalah vampire dengan kemampuan stabilitas yang baik, ia tak mudah terpancing emosi atau memiliki ambisi besar seperti Dimitri. Ia sangat tenang dan menjunjung tinggi sopan santun khas vampire, rumor mengatakan dulu ia seorang pangeran kerajaan sebelum akhirnya menjadi pangeran vampire.


Tidak seperti melawan Dimitri yang condong pada kegilaan justru Aro memiliki sikap tenang yang tidak mudah diruntuhkan, ini menyulitkan Damien sebab setiap gerakannya mudah terbaca juga apa pun yang ia katakan tidak mudah menyulut emosi Aro.


Semakin lama mereka bertarung justru Damien yang semakin merasa terintimidasi, ia semakin ingin mengakhiri pertempuran dan hasilnya ia menjadi ceroboh.


Damien menerima banyak luka, meski beberapa detik kemudian luka itu sembuh dengan sendirinya tapi rasa sakit tetap mengganggu.


Dalam pertempuran yang telah menghabiskan waktu beberapa menit Aro yang lebih unggul memanfaatkan kelemahan Damien dan menjebaknya dengan menusukkan jarum beracun.


Tersentak kaget Damien cepat menghindar namun jarum itu telah menyebarkan racun dengan cepat, kakinya mulai merasakan lemas hingga ia tak mampu berdiri dengan tegak.


Tak butuh menikmati momen kemenangan Aro bergegas pergi ke sisi lain balkon, melihat Luca yang semakin mengganas tanpa ragu ia mengambil ancang-ancang dan lompat dari ujung balkon.


Buk


Ugh


Perhitungannya tepat, ia jatuh diatas punggung Luca yang keras. Merasakan cengkraman Aro di sisiknya tentu Luca merasa tak nyaman sehingga ia terbang dengan cepat ke atas langit, membuat Aro hampir saja jatuh.


Semakin Luca berusaha menyingkirkan Aro dari punggungnya justru Aro membenamkan sebilah belati yang menusuk begitu dalam dagingnya, tentu Luca mengerang kesakitan begitu juga dengan Sophia.


Saking tak tahannya Sophia sampai jatuh dan kehilangan perisai yang melindunginya, ditengah ketidakberdayaan Damien melihat Sophia kesakitan dan mencoba mendekat.


Terseok-seok di lantai ia terus merangkak sampai akhirnya dapat begitu dekat dengan Sophia, karena masih tak sadar Sophia malah mencoba melepaskan diri dari Damien yang hanya ingin merangkulnya.


"Sophia... sadarlah.. hentikan semua ini," pinta Damien lirih.


Namun Sophia tak peduli, ia telah kehilangan jati dirinya sebagai Sophia.


Buk


Justru satu dorongan kuat ia berikan kepada Damien hingga vampire itu jatuh tersungkur, merasa tak nyaman Sophia kembali mengamuk dan mengeluarkan angin kencang dari sekitar tubuhnya.

__ADS_1


Rroooaarrr.....


Tiba-tiba sebuah lolongan keras khas monster menggema, menyita semua perhatian termasuk Damien.


Aaahhh...


Dan Sophia ambruk dengan posisi meringkuk, tepat di belakangmu ia melihat Luca jatuh hingga terdengar suara dentuma yang keras. Aro telah berhasil melukai dada Luca dengan sebilah pedang, menusuknya tanpa ampun hingga sang naga tak berdaya.


"Semua telah berakhir," ujar Zaruta yang entah datang dari mana.


Damien yang masih lumpuh di lantai hanya bisa menengadah, menatap Zaruta dengan pakaian yang di penuhi noda darah.


Ia berjalan melewati Damien, lalu mengangkat tubuh Sophia kedalam pelukannya.


"Sayang sekali, padahal dia gadis yang cantik. Tolong jangan berlebihan karena kita semua tahu Sang Penunggang sangat berarti bagi vampire," ujarnya sambil memperhatikan wajah Sophia.


"Berhenti Zaruta!" ancam Damien tegas.


Tapi Zaruta tak mau mendengarnya, sepasang taring mencuat dari mulutnya yang terbuka. Ia mengambil tangan Sophia dan sudah bersiap untuk membenamkan mulutnya, tapi tiba-tiba sebuah kaki melayang di samping kepalanya.


Dengan satu tangan Zaruta berhasil menangkis sebuah tendangan, dengan wajah datar ia tetap tak bergeming sampai kaki itu menjauh dari telinganya.


"Tidak sopan, pelayan sepertimu tidak pantas mendahului pangeran," ujar Aro si pemilik kaki itu.


"Maafkan aku tuan ku, tapi aku tidak bisa menahan diriku. Lagi pula kau hanya pangeran samping," sahut Zaruta sambil menggeletakkan Sophia.


Jelas dari percakapan singkat itu mereka berdua tidaklah akur, Zaruta tanpa ragu menatap dingin Aro begitu juga sebaliknya.


Damien yang kini sudah tak bisa bergerak hanya bisa menonton bagaimana kedua vampire itu kemudian bertarung, memperebutkan hak pertama mereka untuk meminum darah Sang Penunggang.


"Damien! Sophia!" seru Albert yang baru kembali.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas melihat Damien tergeletak di lantai.


"Tidak, hanya tubuhku tak bisa bergerak karena racun. Sebaiknya kau cepat bawa Sophia pergi sebelum ia sadar dan mulai mengacau lagi."


"Bagaimana dengan mu?" tanya Albert yang juga tak bisa meninggalkan Damien.


"Aku akan baik-baik saja," sahut Damien meski sebenarnya ia tak yakin akan hal itu.


Dengan berat hati Albert akhirnya membuat keputusan, ia sudah hendak menghampiri Sophia tapi tiba-tiba tubuh Sophia bergerak. Saat matanya terbuka pupilnya sudah kembali normal, raut wajah Sophia pun menunjukkan bahwa ia kebingungan.


"Sophia... " panggil Albert pelan.


"Albert? oh kau masih hidup!" seru Sophia bergegas memeluknya.


"Sophia... kau sudah sadar?" tanya Damien memastikan.


"Damien apa yang terjadi padamu?" tanya Sophia melepas pelukan untuk melihat kondisi Damien.


"Ia terkena racun yang membuat suatu tubuhnya tak bisa bergerak," jawab Albert.


"Bertahanlah," ujar Sophia.


Ia membuat Damien terlentang, lalu memeriksa tubuh Damien untuk menemukan jarum yang menyebarkan racun. Dengan sigap Sophia mencabut jarum itu lalu dengan pisau bedah ia membuat goresan di bekas tusukan jarum, dengan mulutnya ia menghisap darah Damien beserta racunnya.


Memuntahkan racun itu kini Sophia membungkus bekas sayatannya dengan kain, ajaibnya Damien perlahan mulai bisa merasakan tubuhnya lagi meski masih belum bisa digerakkan sepenuhnya.


"Racunnya sudah terlanjur menyebar, dia harus diberi ramuan agar cepat pulih. Bawa Damien, kita akan pergi dari sini," perintah Sophia.


Albert mengangguk ia segera menggendog Damien di punggungnya dan bergegas pergi mumpung Zaruta dan Aro masih belum sadar kalau Sophia sudah normal. Keluar dari kastil pemandangan pertama yang Sophia lihat adalah neraka, betapa banyak mayat yang gosong terbakar dan tak sedikit juga potongan-potongan tubuh berserakan.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Alessa menghampiri.


"Ya, bagaimana dengan yang lain?" balas Albert.


"Meski kalah jumlah tapi kita menguasai peperangan," sahutnya.


"Alessa beri tahu Meg untuk menyuruh semuanya mundur, kita akan pergi!" ujar Albert.


Alessa mengangguk, ia segera pergi untuk memerintahkan kawanan serigala mundur. Mereka pun kembali berlari meninggalkan tempat itu, tapi mata Sophia menangkap tubuh Luca yang terluka parah.


Kesedihan mulai berdenyut di hatinya, dengan nanar perlahan ia berjalan ke arah Luca untuk melihat seberapa parah luka yang naganya terima.


"Sophia!" panggil Albert.


Tapi Sophia tak menyahut, ia fokus pada pedang yang masih menancap di dada Luca.


"Sophia!" panggil Albert lagi.

__ADS_1


Sophia menoleh, tapi matanya telah berubah menjadi biru lagi lengkap dengan cahayanya.


__ADS_2