
Buk
Satu tendangan itu membuat Damien jatuh tersungkur, beruntung Albert berhasil menangkapnya sebelum kepala vampire itu terantuk lantai.
Meski usia Ursula kini sama dengan manusia biasa tapi kekuatannya tetap saja Ratu Elf, ia punya sihir dan ilmu pedang yang mampu menjaga dirinya dari bahaya.
Albert tahu untuk saat ini ia bukan tandingan Ursula, tapi dengan dukungan penuh orang-orang yang mencintainya dibelakang ia pasti mampu melakukannya.
"Dia milik ku," ucap Albert kepada Damien.
Tentu Damien mengerti betul perasaan Albert sehingga ia beralih membantu Alessa dalam menumbangkan Cheet.
"Heh, aku tak terkejut jika kau ingin membalas dendam. Tapi dengan kondisi ini kau benar-benar bodoh!" tukas Ursula dengan senyum meremehkan.
"Dia tidak sendirian," ujar Sophia kini berdiri tepat disamping Albert.
"Kau mendukung musuh mu? apa kau sudah gila?" bentak Ursula tak terima.
"Aku berhak memutuskan seperti apa hidup yang akan ku jalani," sahut Sophia yakin.
"Bedebah!" seruan itu disertai dengan langkah Ursula yang cepat.
Tangannya kedepan menghunuskan pedang, mulai mengayun siap menyayat apa pun yang ada di depan. Albert dan Sophia menghindar, bekerja sama mereka saling memberi serangan secara bergantian.
Pedang-pedang beradu, panah-panah beterbangan, darah terus mengalir dari sayatan baru dan tubuh-tubuh yang terkapar tanpa nyawa mulai menebarkan bau busuk.
Pemandangan yang mengerikan itu seolah tak cukup, jeritan dari rasa sakit, amarah, hingga kesedihan saat ditinggal orang terkasih membuat fenomena neraka yang sesungguhnya.
Sebuah perang yang lumrah membuat tekad di hati pangeran Meseress bulat, ia ingin mengakhiri segalanya. Ia sadar tak memiliki kemampuan untuk membangun kembali istana yang susah payah nenek moyangnya buat, tapi setidaknya rakyatnya hidup tanpa bayang bangsa Elf yang ganas.
Semuanya harus berakhir di ujung pedang yang tajam, dengan mengerahkan kekuatan penuh ia berhasil memberi satu sayatan di pinggang Ursula yang membuat darah menetea keluar dari sana.
"Uh!" pekik Ursula merasakan nyeri.
"Menyerahlah," ujar Albert menempatkan pedangnya di bahu Ursula.
__ADS_1
"Yang Mulia.... " teriak Cheet yang melihat Ratunya dalam bahaya.
"Jangan mendekat!" seru Ursula mengetahui Cheet hendak menyelamatkannya.
Waktu seakan berhenti, mereka mematung dengan pandangan hanya tertuju pada Ursula yang masih bersimpuh di lantai. Sementara Sophia mengumpulkan energi tepat di belakang Albert, dari nafas keduanya Ursula tahu mereka sudah kelelahan.
"Jika kau ingin mengakhirinya maka selesaikan sekarang! tapi kau harus ingat hal ini tidak akan merubah apa pun," ujar Ursula.
Albert menatap ragu, sungguh tatapan Ursula yang tajam diam-diam telah membuat nyalinya ciut. Padahal hanya dengan satu ayunan ia bisa mengakhiri hidup Ursula, tapi kini dia justru meragu.
Gep
Tak disangka Ursula memegang kuat pedangnya, membuat Albert bingung sekaligus panik. Dengan satu tangan yang lain Ursula menghunuskan pedangnya tepat kearah Albert, itu membuat respon Albert cepat mengayunkan bilah pedangnya hingga memotong leher Ursula.
"Yang Mulia.... " jeritan Cheet begitu nyaring terdengar, bertepatan dengan kepala Ursula yang jatuh ke lantai.
Termangu Albert hanya bisa menatap bagaimana darah bercampur asap keluar dari potong leher itu, ia terkejut sama halnya dengan semua orang yang ada disana.
"Albert ayo!" seru Damien yang suaranya bagai terbenam di lautan.
Tangan dinginnya menarik tubuhnya menjauh dari mayat Ursula yang mulai di peluk oleh Cheet, pedangnya yang berlumuran darah jatuh saat kakinya mulai ikut melangkah seperti perintah Damien.
Dalam keadaan tak sadarkan diri yang entah sejak kapan ia dibawa kembali ke suku Zimbe untuk istirahat, begitu juga dengan Sophia yang ikut pingsan karena kehabisan tenaga.
Esok malamnya saat ia terbangun hal pertama yang Sophia lihat adalah Damien, memperhatikannya entah sejak kapan.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya pelan.
"Menjagamu, kau baik?" balasnya.
Sophia tersipu, perhatian itu selalu saja membuatnya tak tahan hingga tak sanggup menampilkan muka.
"Bagaimana dengan Albert?" tanyanya setelah mengangguk sebagai jawaban.
"Dia belum sadarkan diri," sahutnya.
__ADS_1
Damien beranjak, membuka jendela kamar itu untuk melihat taburan bintang di langit malam.
"Saat Albert sudah bangun kita akan segera pergi dari sini," ujarnya.
"Kenapa? bukankah ini tempat yang paling aman?" tanyanya.
"Tidak setelah semua yang terjadi, kita terlalu sering datang kemari jadi aku khawatir mereka akan menemukan kita. Lagi pula kita tidak boleh terus merepotkan kepala suku," jawabnya.
Sophia mengangguk mengerti, setelah Albert bangun mereka kembali membahas hal ini dan sepakat untuk pergi. Tentu Yarren juga ikut sebab ia sudah memutuskan untuk melepas statusnya sebagai putri kepala suku, sementara Alessa sudah lebih dulu pergi entah kemana.
Mulai saat ini ia juga pasti dicari oleh semua orang, ia berasumsi jika pergi berkelompok akan terlalu menyulitkan jadi memilih untuk sendirian.
Damien tentu memahami keputusan Alessa dan meminta maaf karena ikut terseret dalam masalahnya, sebagai sahabat Alessa tidak keberatan dan menyuruhnya untuk mengabari jika butuh bantuan lagi.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Albert.
"Selatan, ada sebuah hutan yang disebut hutan kegelapan. Tempat para monster tinggal," sahut Damien.
"Kau bercanda bukan?" tanya Albert sambil menatap ragu.
Tapi Damien memasang wajah serius yang membuat Albert menelan ludah, sebagai pria dengan wawasan luas ia tahu tujuannya bukanlah tempat untuk bertamasya.
......................
Istana tanpa pemimpin hanya arena untuk sebuah pertarungan, dengan apa yang telah menimpa sang Ratu para tetua mengambil keputusan disaat-saat genting. Pada akhirnya mereka harus kembali menjadi bangsa buangan, hidup bersembunyi demi menyelamatkan nyawa muda yang akan mengambil alih masa depan.
Dengan dendam di dalam dada Cheet membaringkan tubuh tanpa kepala itu diatas peti kayu bertabur bunga, lalu menaruh kepalanya terakhir tepat menempel dibagian leher.
Sebelum di tutupnya peti itu di taruhnya beberapa lilin yang sempat ia nyalakan kemudian dia matikan, kini tak ada bau busuk yang menyengat dari gumpalan daging yang mulai disukai lalat.
Secara bertahap mereka keluar istana secara berkelompok, kembali menempati gua-gua dan hutan-hutan yang jarang terjamah manusia.
Sementara para prajurit masih tetap berjaga, mewanti-wanti akan adanya serangan berikutnya.
Tapi sampai kelompok terakhir yakni Cheet dengan peti kayu berisi Ursula dan beberapa prajurit tak ada serangan yang datang pada mereka, kini istana Meseress pun terbengkalai.
__ADS_1
Menyisakan bau busuk dari bangkai yang tak dibersihkan, kotor dengan debu bercampur darah yang mengering. Hampir rubuh akibat serangan yang entah sudah terjadi berapa kali, kini bahkan tak ada lagi namanya istana Meseress.
Mereka menyebutnya sebagai bongkahan kematian.