
Satu penyesalan yang sungguh ingin ia perbaiki adalah saat meragukan kebaikan hanya karena takdir yang belum tentu akan terjadi, benar apa yang dikatakan Yarren bahwa persaudaraan bukan hanya terjalin karena ikatan darah tapi juga karena ikatan batin.
Bukankah bertahun-tahun ia habiskan dalam kesendirian karena menanggung tugas menjadi seorang Raja? andai bangsa Elf tidak pernah menang dalam penyerangan itu sudah pasti ia hidup sebagai pemimpin sementara tanggungjawab sesungguhnya diambil alih oleh Sophia. Yakni menjadi anak kejutan.
Bahkan dalam pertemuan mereka yang berfikir mereka terlahir dari satu rahim telah membuat ikatan kasih sayang yang begitu dalam, hingga tanpa takut Sophia datang menyelematkannya ke istana Meseress.
"Sophia... " lirih betul kata itu terucap dari bibir yang bergetar nan pucat.
"Maafkan aku... meski dunia mengenal mu sebagai Sang Penunggang, meski semua orang hendak merenggut nyawamu karena merasa terancam, tapi bagiku kau adalah saudaraku dan kita adalah anak kejutan Damien."
Pisau itu masih menempel di lehernya, Albert telah memutuskan untuk pasrah sehingga ia menutup mata.
Tapi justru seketika mata Sophia terbuka, sekelebat berbagai kenangan muncul dalam benaknya hanya dalam waktu beberapa detik saja. Mulai dari pertemuan pertamanya dengan Damien, perjalanan mereka ke segala tempat hingga menyatukan hati mereka sebagai kekasih.
Lalu pertemuan selanjutnya dengan Albert yang rupanya lebih berkesan, menghabiskan waktu beberapa malam dengan saling bertukar cerita dan janji untuk saling menjaga.
Sret
Satu sayatan cepat membebaskan pergelangan tangan Albert dari tali yang mengikatnya, kaget ia menatap senyum sendu diwajah Sophia.
"Lari," ujar Sophia tanpa suara.
Masih kaget akan apa yang terjadi ia memperhatikan Sophia berbalik untuk menyerang Ursula, pertempuran itu terjadi dengan cepat hingga membuat Cheet yang seharusnya melindungi Ursula malam tertegun beberapa menit.
Buk
Satu pukulan keras dari Cheet membuat Sophia jatuh tersungkur, sementara Ursula mundur beberapa langkah demi keselamatan dirinya.
"Bagaimana mungkin?" tanyanya tak percaya Sophia bisa lepas dari jerat sihirnya.
"Aku juga mempelajari sihir, satu hal yang kau lupakan dalam ilmu sihir adalah keyakinan lebih kuat dari kekuatan itu sendiri. Aku percaya takdir ku sebagai Sang Penunggang bukan menjadi penakluk seperti yang kau inginkan," sahut Sophia.
"Kurang ajar! Cheet serang dia!" seru Ursula murka.
Sekali lagi Sophia menyuruh Albert untuk lari sementara ia akan menahan semua pengawal itu, tapi tentunya Albert tidak akan menuruti kata-kata itu.
Ia tidak akan menjadi pengecut lagi yang gegabah, merenggut pedang salah satu pengawal ia membantu Sophia melawan Cheet dan pasukan yang mulai berdatangan untuk menaklukan mereka.
"Sophia, kau bisa membuat portal?" tanya Albert menyadari mereka harus menyelamatkan diri.
"Tidak, tenagaku tidak cukup untuk membuatnya," sahut Sophia di sela-sela pertempurannya.
Aaaaa..... Aaaaa....
Tiba-tiba teriakan histeris dari luar mengalihkan perhatian mereka, lalu seorang prajurit menghambur masuk dengan wajah cemas.
"Yang Mulia kita di serang!" serunya.
Tentu Ursula tidak pernah berfikir hal ini akan terjadi, dengan cepat ia memberi perintah untuk mengevakuasi rakyat.
__ADS_1
Cheet cepat pergi dengan beberapa pengawal, momen ini pun mereka manfaatkan untuk melarikan diri.
"Sial! kejar mereka!" seru Ursula mendapati Albert dan Sophia kabur.
Mempercepat langkah mereka berlari menyusuri koridor dan bertarung melawan beberapa prajurit yang menghadang, sampai akhirnya mereka bisa keluar dari istana.
Rupanya keadaan istana itu sudah kacau oleh peperangan, melihat simbol yang terpatri pada zirah prajurit itu Sophia keheranan mengapa Raja Salim menyerang istana seolah itu sebuah rencana yang telah dimatangkan.
"Sophia... Albert... " seru Yarren yang menatap diantara kerumunan.
"Yarren!" sahut Albert segera berlari menghampiri.
Bertemu di titik tengah mereka melepas kecemasan masing-masing dengan sebuah pelukan yang erat, sementara Sophia ikut senang akhirnya dua sejoli itu dapat di pertemukan kembali.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Yarren yang segera dijawab dengan sebuah anggukan.
"Bagus, kami sengaja meminta bantuan Raja Salim untuk menyelamatkan kalian. Tentu aku hanya berkata Albert ditawan karena itu kita harus segera pergi sebelum Raja Salim menyuruh prajuritnya untuk membunuh Sophia," jelasnya.
"Kau yang meminta bantuan Raja Salim?" tanya Sophia.
"Sebenarnya itu ide Damien," sahutnya.
Memang, itu adalah rencana yang mereka susun untuk menyelamatkan Albert. Damien menyuruh Yarren yang setidaknya sudah bertemu dengan Raja Salim untuk meminta bantuan, sementara Alessa dan Damien mencari cara untuk masuk ke istana.
Bertepatan dengan saat ritual hendak dilakukan Raja Salim dan pasukannya berhasil datang tepat waktu untuk mendobrak masuk, ditengah gempuran itu tentu seketika proses ritual menjadi kacau sehingga mereka memiliki kesempatan untuk masuk dengan aman.
"Lalu dimana Damien dan Alessa sekarang?" tanyanya.
"Kalian pergilah dulu nanti aku akan menyusul," ujar Sophia yang berniat mencari Damien.
"Tidak Sophia!" sergah Yarren.
"Kabar bahwa kau adalah Sang Penunggang sudah tersiar dengan cepat bahkan Raja Salim sudah mengetahuinya, alasan dia memberi bantuan adalah untuk membunuh mu. Jadi mari kita pergi sebelum terlambat," ujarnya.
Sophia terdiam, menatap lurus calon iparnya yang sudah menyayanginya tanpa merasa terancam.
"Aku memilih kematian sebagai takdir ku dari pada Sang Penunggang, aku harus mengakhiri semua ini," ujarnya pelan.
Ada senyum ringan yang menghiasi wajah Sophia sebelum itu pergi begitu saja, meninggalkan Yarren dan Albert dalam kebisuan mereka.
Menanggalkan gaun yang terasa berat Sophia memilih hanya memakai baju terusan putih agar mudah bergerak, ia mengambil busur dan anak panah dari mayat tanpa kepala di medan pertempuran.
Langkahnya yang kini lebih pasti berjalan cepat sambil sesekali melancarkan anak panah pada siapa pun yang hendak menyerangnya, entah itu bangsa Elf atau prajurit Raja Salim.
Kembali masuk ke istana ternyata Raja Salim sendiri yang menyambut kedatangannya.
"Well, lihat siapa yang datang?" sapa Raja Salim.
Sophia menatap tajam dengan tangan yang menggenggam erat busur, sementara Raja Salim yang terlindung dengan zirah emasnya mulai memasang kuda-kuda.
__ADS_1
Aaaaaaaa....
Teriakan itu menjadi pertanda bahwa Sophia harus siap akan serangan yang kuat, meski Raja Salim sudah tak muda lagi tapi tenaganya cukup untuk memenggal kepalanya.
Busurnya yang tak mempan melawan zirah dan pedang membuat Sophia harus banyak menghindar, paling tidak saat dalam jarak jauh ia bisa menggunakan sihirnya untuk membatasi pergerakan Raja Salim.
Namun tetap saja itu tidak banyak membantu, Raja Salim yang tahu bahwa saat ini Sophia hanya gadis biasa tak akan berkasihani justru memanfaatkannya untuk cepat membuat kemenangan.
Ia menempatkan Sophia pada situasi terpojok dimana pedangnya terus menekan siap menggorok lehernya, dengan tenaga seadanya Sophia mencoba bertahan dengan berlindung di balik busur.
Buk
Uh
Erang Raja Salim saat jatuh kesamping, masih dalam kondisi telentang di lantai ia melihat Albert berdiri melindungi Sophia dengan pedangnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu menyentuhnya lagi," ujar Albert sebagai peringatan.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu?" bentak Raja Salim sambil bangkit.
"Dia adalah monster! dia adalah ancaman bagi kita semua."
"Tidak! dia adalah Sophia, saudara kembarku dan anak kejutan Damien."
Degh
Ini adalah kali pertama Sophia merasakan jantungnya seperti di pukul dengan keras, terasa sesak namun nyaman. Perasaan yang jauh lebih aneh saat ia sadar telah menyukai Damien, mungkin itu adalah perasaan bahagia yang menjadi haru.
"Kami sudah memutuskan," ujar pula Yarren yang baru datang.
"Kita habisi Ursula makan semuanya akan selesai, tak ada ritual, tak ada pengorbanan, tak ada Sang Penunggang," jelasnya.
"Bodoh! kita tidak boleh mengambil resiko!" seru Raja Salim.
Ia kembali menghunuskan pedang dan berlari untuk menyerang, kini Sophia yang sudah tak sendiri maka kekuatannya pun cukup untuk melawan.
Tiga lawan satu tentu saja tak seimbang, meski beberapa prajuritnya datang membantu tapi dengan sihir Sophia dan kecepatan Yarren dalam memanah mereka mati dengan mudah.
Saling membahu Albert menyerang dengan pedangnya, Sophia dengan sihirnya dan Yarren dengan panahnya. Hanya butuh waktu tujuh menit saja Raja Salim tumbang dengan leher yang tersayat dalam, darah kelar bagai sungai yang deras dari luka itu hingga nyawanya meregang dalam hitungan detik.
Tersenyum mereka melanjutkan perjalanan masih dengan saling membantu, menghabisi satu persatu siapa pun orang yang berani menyerang.
Sampai kaki mereka kembali menginjak altar, dimana rupanya Alessa sedang bertarung melawan Cheet dan Damien melawan Ursula.
"Albert, mau bagaimana pun darahnya mengalir dalam tubuhku. Status ibu tidak bisa dihapus begitu saja, oleh karena itu. Bisakah kau yang mengakhirinya?" tanya Sophia.
Angin berhembus entah dari mana, menyingkap poni Sophia yang kemudian memperlihatkan tanda samar di kening gadis itu.
Albert sadar bahwa mungkin dialah penyebab munculnya tanda Sang Penunggang, andai ia tak pernah ragu pada keinginan Sophia untuk tetap menjadi putri Meseress mungkin semua tak akan sesulit ini.
__ADS_1
"Tentu, terimakasih sudah mengijinkan ku untuk membalas dendam," sahutnya.