
Sophia menatap bagaimana Alessa berpamitan, ia memeluk Damien cukup lama dan itu membuat Sophia merasakan sedikit rasa cemburu.
Setelah mengetahui perasaan Alessa yang sebenarnya ia tak bisa menutup mata akan sedikit pun kedekatan diantara mereka, ia akan memperhatikan bagaimana cara Damien berinteraksi dengan Alessa.
Kini mereka sudah sembuh dan Alessa benar-benar akan pergi mengembara sendiri, ia berkata untuk jangan sungkan meminta bantuannya lagi jika mereka membutuhkannya.
Terakhir sebelum benar-benar pergi ia memeluk Sophia, memberinya wejangan untuk jangan memendam perasaan apa pun yang membebani hatinya.
Apa pun perasaan itu harus ia luapkan dengan baik, itu adalah satu-satunya cara agar Sang Penunggang tidak lagi mengontrol raganya.
Setelah kepergian Alessa kini Sophia menjadi ragu untuk berpisah dengan Damien, padahal awalnya ia sudah berniat akan mengantar Damien dan Albert ke hutan kegelapan bertemu dengan para peri sebelum ia pergi ke dunia naga.
Akhirnya untuk beberapa waktu mereka habiskan di gua itu, hanya akan keluar di malam hari untuk mencari makanan dan kebutuhan lainnya.
Sayangnya mereka tak menyadari akan bahaya yang datang, sudah dua malam Aro mengintai tempat itu dari hutan di bawah.
Memperhatikan kegiatan mereka untuk mencari kesempatan, sampai suatu malam saat Damien pergi keluar ia memutuskan untuk masuk kedalam gua itu.
Mengendap-endap di kegelapan ia berhenti saat melihat Albert dan Sophia yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing, Albert nampak mengasah sebilah pedang sementara Sophia menjahit sebuah kulit hewan berbulu.
Mereka hanya berdua tanpa keberadaan Luca, ini karena Sophia memutuskan untuk menyuruh Luca tinggal di dunia naga tanpa dirinya.
Ini adalah keputusan paling tepat untuk membuat mereka aman, ia berjanji akan datang sesekali ke dimensi itu untuk menjenguk jadi Luca tidak perlu khawatir akan keselamatannya.
Kalaupun Sophia dalam bahaya dan dirinya berubah menjadi Sang Penunggang Luca akan dapat merasakannya dan datang kepadanya.
Mengambil segenggam serbuk dari dalam kantung Aro kemudian berjalan dengan cepat ke arah mereka dan melemparkan serbuk itu di sekitar wajah Albert, tentu itu membuat mereka kaget hingga bangkit dari duduk.
Gep
Uh
Segera mengambil kesempatan Aro menarik tubuh Albert ke dalam dekapannya setelah Albert menghirup serbuk itu, satu tangannya kuat mengunci pergerakan Albert sementara tangan satunya ia gunakan untuk mengancam leher Albert.
"Ikuti perintah ku jika kau ingin selamat," ujar Aro tanpa basa basi.
Sophia yang masih terpaku karena kaget semakin terpaku lagi karena takut akan keselamatan Albert yang terancam.
"Temui aku di hulu sungai bersama naga mu sekarang!" perintahnya.
Ia menggendong tubuh Albert yang sudah tak sadarkan diri di bahunya kemudian berlari pergi secepat angin, tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Albert Sophia segera pergi ke didunia naga untuk memanggil Luca.
Naik ke punggungnya kemudian mereka pergi ke tempat yang di pinta Aro, sementara Damien yang baru kembali tentu heran melihat tempat itu sepi.
Tapi setelah mengandus bau yang familiar kecemasan segera membawa kakinya berlari keluar, mencari kemana kedua anak kejutannya di bawa.
......................
Sophia menyuruh Luca mendarat di hulu sungai dimana Aro sudah menunggunya sedari tadi, melihat Albert yang tergelatak di tanah Sophia memberikan tatapan tajam kepada Aro.
"Kau tahu apa yang aku inginkan," ujar Aro tanpa basa basi.
"Lepaskan Albert dulu baru aku akan menyerahkan diriku," sahut Sophia.
"Bagaimana jika kau berbohong?" tanya Aro.
"Bagaimana jika kau berbohong?" balas Sophia meniru.
__ADS_1
Aro berdecak, ia paling tidak suka di uji oleh gadis ingusan yang bahkan usianya belum mencapai seperempat dari masa hidupnya.
"Kau tahu vampire selalu dapat dipercaya," ucap Aro,
"Tapi aku memilih untuk mewaspadi vampire," tukas Sophia bersikukuh.
Tak ada pilihan, ia harus percaya Sophia jika menginginkannya. Aro pun mengangkat tubuh Albert dan menaikannya ke atas punggung Luca sesuai isyarat yang Sophia berikan, setelahnya ia mundur beberapa langkah.
"Bawa Albert pergi, pastikan dia selamat," ujar Sophia kepada Luca.
Naga itu memberi anggukan pelan, sayapnya yang lebar lalu dibentangankan untuk kemudian terbang ke atas langit.
Kini mereka pun tinggal berdua, Sophia tetap diam di tempat sementara Aro mulai berjalan mendekatinya.
Matanya tajam mengawasi Sophia, sebelum membenamkan taringnya Aro yang berhati-hati lebih dulu memastikan tak ada senjata apa pun di tubuh gadis itu.
"Tidak mempercayaiku?" tanya Sophia.
"Aku lebih memilih waspada," sahutnya membalas.
Setelah memastikan semuanya aman tanpa menunggu lagi sepasang taring mencuat dari mulutnya, meski ia tak memiliki hati tapi ia mampu merasa gugup saat hendak menghisap darah Sang Penunggang.
Ia mendekap tubuh Sophia yang kecil dengan kedua tangannya, saat mulutnya mendekati leher Sophia bisa merasakan hembusan nafas yang dingin.
Whuuuuuussss....
Bruk
Sophia cepat mundur beberapa langkah tepat saat Luca terbang diantara mereka sementara Aro terjatuh, melayang di udara Luca kembali dan mendarat tak jauh dari mereka.
"Bagaimana jika kita selesaikan sekarang? satu lawan satu," ujar Damien maju ke depan.
"Kenapa tidak?' sahut Aro saat melihat peluang meski kecil.
Mereka maju untuk lebih dekat, melepaskan semua senjata mereka akan bertarung dengan tangan kosong. Damien mengambil langkah pertama untuk menyerang, ia memberi tinju yang kuat meski yang kena adalah udara.
Aro cukup pandai menangkis semua serangan Damien, tapi ia juga tak mudah memberi serangan karena Damien sama terlatihnya.
Apalagi Damien adalah vampire pengelana yang sudah melawan berbagai makhluk, tak seperti dirinya yang hanya duduk di atas singgasana dan berlatih dengan beberapa anak buah yang lemah.
Pergerakan Damien lebih gesit, sayangnya ritmenya terlalu cepat sehingga di banding Aro ia lebih mudah kelelahan.
Dalam beberapa menit kemudian Aro menguasi pertarungan itu dengan memberi banyak serangan, memukul mundur Damien hingga hampir menabrak Sophia.
"Awas!" seru Albert sambil mendorong Sophia untuk mundur.
Mereka menatap Damien yang membawa Aro ke sisi lain, sementara Albert tiba-tiba menatap Sophia sambil mengerutkan kening.
"Tidak mungkin? apa ini?" tanya Albert bingung.
"Apa?" balas Sophia tidak mengerti.
Albert kemudian menatap tangannya yang masih menempel di perut Sophia, begitu juga dengan Sophia.
"Aku merasakan detak jantung," sahut Albert pelan.
Sontak itu membuat Sophia kaget, ia mulai bertanya-tanya mungkinkah Albert salah atau dalam perutnya ada sesuatu yang hidup. Menelan ludah ia harus cepat mengetahui yang sebenarnya.
__ADS_1
"Albert cepat bantu Damien, kita selesaikan sekarang juga," ujar Sophia.
Sebenarnya Albert tidak boleh ikut campur dalam pertarungan itu karena etika dasar dalam kehidupan vampire adalah tidak ikut campur dalam urusan orang lain apalagi saat bertarung, tapi ia harus melakukannya.
Di ambilnya sebuah pedang yang telah ia asah, saat Aro terlalu sibuk dengan Damien ia tanpa ragu menghujamkan pedang itu ke dada Aro.
Sontak hal itu membuat Aro kaget sekaligus merasakan nyeri, Damien yang sama kagetnya sejenak terpaku menatap tubuh Aro yang kemudian ambruk di tanah.
"Apa yang kau lakukan?" hardik Damien tak senang sebab apa yang dilakukan Albert sama saja dengan sebuah penghinaan untuknya.
Albert tak menjawab, tapi Sophia yang segera berjalan mendekatinya menarik tangannya lalu menempelkannya di perut.
"Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Sophia.
Sejenak Damien diam, berkonsentrasi agar kemarahannya reda hingga ia bisa merasakan denyut jantung di dalam perut Sophia. Matanya terbelalak, ia baru saja mendeteksi kehidupan di perut itu.
"Sophia...apa itu anak kita?" tanya Damien.
Sophia melepaskan genggaman tangannya, ia terlalu syok pada kabar yang baru ia terima. Tentu ia senang mengandung anak dari pria yang ia cintai, tapi benaknya terlalu takut pada semua ancaman yang akan datang padanya.
"Maafkan atas keegoisan, tapi aku akan pergi ke dunia naga. Anak ini harus selamat apa pun yang terjadi," tegasnya.
Sayang sekali, Damien mengharapkan raut wajah bahagia namun yang ia temukan adalah kecemasan yang getir. Bahkan kini Sophia seakan tak peduli pada keselamatan Albert yang selama ini ia utamakan, tersenyum pahit Damien berkata "Jika itu keputusan mu."
Mereka segera kembali ke gua, di ujung gua yang hanya ada jalan buntu Sophia berhenti. Ia kemudian menatap Albert dan Damien yang tak mengatakan apa pun.
"Kalian harus pergi ke hutan kegelapan lagi," ujarnya.
"Aku mengerti," sahut Damien.
Ia mengangguk kemudian kembali berbalik menghadap ke dinding batu itu, tak ada ucapan perpisahan yang sedari tadi Albert tunggu maka ia pun berseru "Tunggu!."
Sophia menghentikan langkahnya, berbalik untuk mendengarkan apa yang akan Albert katakan.
"Apa kita akan bertemu lagi?" tanyanya.
Sungguh hal itu tidak bisa Sophia jawab, ia tak berani keluar dunia naga membawa anaknya sementara ada banyak bahaya mengancam nyawanya.
"Apa kau memilih untuk tidak mempertemukan ayah dan anaknya?" tanya Albert lagi yang membuat Sophia sadar ia telah melakukan kesalahan besat.
Ia termakan kekhawatirannya sendiri tanpa menyadari bahwa Damien memiliki hak atas anak mereka, merenung Sophia akhirnya berkata.
"Saat anak ini lahir dan telah cukup umur aku akan memberikannya kepadamu sebagai anak kejutan," ujarnya kepada Albert yang membuat mereka kaget.
"Berjanjilah untuk terus melindunginya seperti Damien melindungi kita," ucapnya lagi.
"Sophia... " panggil Damien pelan.
"Untuk itu kalian harus hidup!" tegasnya dengan senyuman penuh namun air mata deras mengalir di pipinya.
Berlari kecil Sophia segera memeluk Damien, menikmati dinginnya tubuh vampire itu yang menghangatkan jiwanya. Tak lupa ia juga memeluk Albert yang kini juga sama dinginnya.
"Kau yakin?" tanya Albert pada keputusan yang telah Sophia ambil.
"Aku percaya kau dapat melindunginya," sahutnya.
Melepaskan pelukan itu Sophia berjalan menjauh, akhirnya ia melakukan perpisahan yang pantas sebelum pergi. Tersenyum pada kedua prianya kali ini ia benar-benar melangkah masuk melewati dinding batu bersama dengan Luca.
__ADS_1