
Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi saat Erlangga terbangun dari tidurnya di liriknya Sherliya yang terlelap dalam pelukannya namun ada yang berbeda pada diri Sherliya
Erlangga terperanjat saat merasakan suhu tubuh Sherliya yang terasa panas , ia pun menaruh telapak tangannya di kening sang istri
''sayang , kau demam?''
Erlangga segera turun dari tempat tidur dalam keadaan tubuh polosnya ia meraih celana dan memakainya kemudian membenahi posisi tidur Sherliya yang tertidur setelah pergumulan mereka
''apa aku terlalu memaksakan kehendakku padanya ?''
gumam Erlangga
Dengan segera ia pun pergi ke lantai bawah untuk mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres Sherliya.
Erlangga meraih ponselnya dan menghubungi Robby
''Robby, hari ini aku tak akan masuk kantor istriku demam, kau handle semua urusan kantor''
Erlangga langsung menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban asisten pribadinya.
Erlangga membersihkan dirinya terlebih dahulu kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Sherliya
Beberapa saat kemudian Erlangga masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa bubur ditangannya juga obat dan air putih untuk Sherliya
Erlangga menaruh nampan berisi bubur itu di meja nakas samping tempat tidurnya
''sayang, bangun dulu makan bubur dan minum obatnya dulu setelah itu kau boleh tidur lagi ''
Erlangga meraih handuk kecil di kening Sherliya dan menaruhnya kembali kedalam wadah berisi air untuk mengompres
Sherliya perlahan membuka matanya
''aaww... ''
Sherliya meringis , membuat Erlangga panik
''kau kenapa ? apa ada yang sakit?''
Sherliya hanya tersenyum tipis , dengan bantuan Erlangga ia pun membenahi posisinya untuk duduk bersandar di tempat tidur itu tak lupa ia juga melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya sebatas dada
''kepalaku rasanya pusing sekali , semua nampak berputar juga seluruh tubuhku rasanya seakan remuk semua tulang-tulangku ''
ucap Sherliya lirih
Erlangga tersenyum tipis , kembali ia merasa bersalah karna ulahnya yang tak bisa mengontrol dirinya hingga membuat Sherliya seperti ini namun ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan saat ini melihat jejak kepemilikan yang ia tinggalkan memenuhi hampir semua bagian tubuh sang istri
''maaf, semua ini karna aku yang tak bisa mengendalikan diriku ,tubuhmu pasti syok mungkin karna belum terbiasa''
__ADS_1
tukas Erlangga mengusap wajah Sherliya
''tidak, ini bukan salahmu juga mungkin karna semalam juga aku terlalu lama diluar mungkin karna aku terlalu banyak menangis dan terlalu banyak berpikir''
ungkap Sherliya
''aku tau semua yang terjadi, dari kemarin kau terus menangisi Kakekmu ''
timpah Erlangga
''ka-kau tau ? dari mana ? apa kau memata-mataiku ?''
cerca Sherliya
Erlangga mengecup tangan Sherliya dengan gemas melihat reaksi sang istri yang terkejut dengan penuturannya ia pun menunjuk beberapa sudut kamar itu yang terpasang CCTV
Sherliya terkejut dengan apa yang di katakan Erlangga pantas saja dirinya bisa tau semua yang ia lakukan selama ini
''kau memasang CCTV di kamar ini juga? lalu yang tadi pagi kita lakukan?
Sherliya panik teringat aktifitas paginya bersama Erlangga jangan-jangan terekam kamera pengawas juga , Erlangga semakin gemas melihat kepanikan Sherliya ia pun mencium bibir Sherliya membuat sang istri membulatkan matanya
''El....
''kau lucu saat kau panik''
''aku tidak bercanda sayang kau membuatku gemas kau tau ?''
Sherliya menarik napasnya kesal dengan apa yang Erlangga ucapakan bisa-bisanya suaminya itu bercanda dalam keadaan panik seperti ini
''jangan khawatir, semua yang kau pikirkan itu tidak benar kau tau sayang kejadian tadi pagi hanya kau dan aku yang tau mana mungkin aku merekamnya aku sudah mematikan kamera CCTVnya sejak semalam''
ungkap Erlangga
''sungguh?''
Sherliya ahirnya bisa bernapas lega dengan perkataan Erlangga , yang kini tengah meraih mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapi dirinya
''makanlah , dan minum obatnya''
Erlangga menyodorkan sendok berisi bubur kepada Sherliya
''aku bisa sendiri, kau jangan repot-repot''
''tapi aku ingin melakukannya, jangan membantah lagi''
Erlangga dengan kekeh
__ADS_1
Ahirnya Sherliya makan dengan di suapi Erlangga ada perasaan senang dan bahagia yang kini dirasakannya Erlangga benar-benar memperlakukannya dengan penuh kelembutan
''buburnya enak apa kau yang membuatnya sendiri?''
tanya Sherliya
''kau suka?
''iya aku suka sangat lezat''
''syukurlah, kalau kau suka , lain kali aku akan memasak lagi untukmu ''
tutur Erlangga
Sherliya mengangguk tanda setuju , usai menghabiskan buburnya Erlangga memberikan obat untuk diminum Sherliya
''El, terima kasih ''
ucap Sherliya
''sama-sama, sekarang beristirahatlah agar kau cepat sembuh''
Erlangga mengguyar rambut panjang Sherliya
''baiklah,oh ya aku lupa , apa kau tidak ke kantor ?
sahut Sherliya
''jangan pikirkan yang lain , hari ini aku akan menjaga istriku lagi pula itu kantorku tidak akan bangkrut jika aku tidak ke kantor sehari kan? lagi pula ada Robby
tukas
''ya... ya kau benar, aku lupa siapa suamiku ini''
Sherliya mencibirkan mulutnya kesal dengan jawaban Erlangga , namun Erlangga hanya tersenyum melihat kekesalan sang istri
''tidurlah jangan berpikiran yang macam -macam lagi cukup pikirkan aku , dan segera sembuh aku ingin mengulang yang tadi pagi lagi bersamamu ''
tutur Erlangga
''El...
''hahaha....''
Sherliya membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Erlangga yang kini berubah mesum pikirnya sementara sang suami nampak tertawa bahagia karna menggodanya
Sherliya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karna malu namun di lubuk hatinya yang terdalam ia ikut tersenyum bahagia
__ADS_1