Takdir Cinta Gadis Yang Terbuang

Takdir Cinta Gadis Yang Terbuang
TCGYT#30


__ADS_3

Sherliya melayani sarapan untuk Erlangga dengan cekatan dan telaten , Pandu nampak senang dengan pemandangan dihadapannya itu ia bahagia karna harapannya menjadi kenyataan Erlangga menemukan istri sesuai keinginannya meskipun ia tak menyangka jika pilihannya adalah cucu dari sahabat karibnya


''Kek, Kakek mau sarapan apa biar Sherli ambilkan untuk Kakek''


''Jangan nak, cukup kau layani saja suamimu biar Kakek ambil sendiri''


''Baiklah Kek''


''Sayang duduklah kau juga sarapan ''


titah Erlangga


Sherliya duduk di samping Erlangga sementara Pandu di kursi tengah sebagai kepala keluarga atau Tuan Besar mansion itu


Sarapan pun dimulai tanpa ada yang bersuara Erlangga dan Pandu nampak sangat menikmati sarapan mereka kali ini dengan lahap


''Sayang, kau yang menyiapkan semua ini?''


tanya Erlangga


''Hemm... kenapa ? apa ada yang kurang ? atau kau tak suka dengan masakannya?''


Sherliya penasaran jika masakannya tak sesuai dengan selera suami dan mertuanya


''Tidak sayang, justru aku sangat menyukai masakanmu ini sangat lezat, kau tau aku tak biasanya sarapan sebanyak ini ?''


tukas Erlangga


''Sungguh ??''


Sherliya nampak berbinar


Erlangga mengangguk dan mengguyar rambut Sherliya dengan gemasnya


''Hei, kalian ini di meja makan Kakek, apa tidak bisa kalian jangan bersikap seperti itu di saat ini?''


tanya Pandu


''Maaf Kek''


Sherliya tertunduk malu


''Haissshhh... Kakek ini seperti tidak pernah muda saja ''


kesal Erlangga


''Dasar kau ini ,Sherli masakanmu sangat lezat nak ? apa Mama mu dulu yang mengajarimu? rasanya sama dengan masakan Larasati''


tanya Pandu


''Iya Kek,Sherli belajar memasak dari Mama''

__ADS_1


Sherliya tersenyum simpul kembali teringat kenangannya bersama almarhum sang Mama, Erlangga menggenggam tangan Sherliya saat melihat perubahan raut wajah sang istri


''Maafkan Kakek Sherli, bukan maksud Kakek membuatmu sedih ''


Pandu tak enak hati


''Tidak apa-apa Kek, Sherli tau Kakek tidak bermaksud untuk itu''


Sherliya mencoba untuk melupakan kesedihannya ia tak ingin terus larut dalam kesedihan


''Apa kau yakin sayang''


timpah Erlangga cemas


''Hemm... aku yakin , mulai sekarang aku akan mencoba untuk melupakan semua masa laluku dan aku akan menata hidupku kembali bersama kalian orang yang ku sayangi''


tutur Sherliya dengan mata berbinar dan senyum mengembang di wajahnya ia juga menarik tangan Erlangga dan mengecupnya membuat Erlangga terkesiap dengan apa yang dilakukan Sherliya


Pandu tersenyum bahagia mendengar penuturan Sherliya yang menatapnya penuh senyum ketulusan


''Kakek , tau kau pasti bisa melewati semuanya dengan mudah dan Kakek yakin kalian akan bahagia''


ucap Pandu


''Terima kasih Kek''


Sherliya dan Erlangga bersamaan , usai sarapan Sherliya mengantar Erlangga yang akan berangkat ke kantor


tanya Erlangga


''Iya, aku masih rindu dengan Kakek Pandu , sudah lama aku tidak bertemu dengannya rasanya aku seperti melihat Kakek Dirga dalam diri Kakek Pandu''


lirih Sherliya


''Baiklah, jaga dirimu kalau ada apa-apa cepat hubungi aku''


titah Erlangga


''Iya , hati-hati di jalan''


ucap Sherliya ia pun mencium punggung tangan Erlangga dan sang suami mengecup kening dan bibir Sherliya


''El, malu nanti ada yang lihat''


''Memang kenapa ? aku mencium istriku sendiri bukan istri orang apa itu salah?''


Erlangga malah menarik pinggang Sherliya dan memeluknya erat


''Emmhhh... El.... ''


Sherliya tak bisa menolak ataupun berontak jika Erlangga sudah berkehendak ia pun larut dalam ciuman yang Erlangga berikan

__ADS_1


''Tadi malam aku melepaskanmu tapi tidak malam-malam yang akan datang''


bisik Erlangga


Wajah Sherliya nampak memerah karna bisikan Erlangga tepat di telinya dan kini menatapnya dengan tatapan memuja


''El, sudah hentikan aku malu di lihat Kakek nanti , ayo sana kau berangkat ke kantor ''


Sherliya mendorong tubuh Erlangga perlahan


Dengan senyum bahagianya Erlangga pergi mengendarai mobil sport miliknya meninggalkan Sherliya yang tampak melambaikan tangannya dengan tersenyum manis , Erlangga melihat hal itu dari kaca spion mobil


☘️☘️☘️☘️☘️


Sherliya menghabiskan waktunya bersama Pandu dengan berbincang dan berolah raga bersama seperti dulu Pandu selalu mengajari Sherliya berlatih memanah, menembak dan juga karate


Di mansion Adhibrata memang dilengkapi dengan berbagai fasilitas mulai dari alat-alat olah raga , lapangan bulutangkis, basket juga tempat panahan dan menembak semua itu jelas ada mengingat Pandu yang notabene seorang Jendral Besar yang cukup di segani dan di takuti di beberapa negara di Asia


Sherliya yang dulu sempat belajar semua itu kini bertekad untuk kembali berlatih untuk melindungi dirinya sendiri juga orang di sekitarnya mengingat Burhan akan selalu menjadi duri dalam kehidupannya juga Tuan Tama


''Dorrr''


''Dorrr''


''Dorrr''


Sherliya menembakan senjatanya ke arah papan tembak dengan sempurna dan tepat sasaran


''Bagus sekali nak, kau masih seperti dulu fokus dan cerdas dalam mengerjakan sesuatu''


puji Pandu


''Kakek, selalu memujiku''


ucap Sherliya


''Kakek bukan memuji hanya untuk menyenangkanmu tapi memang kenyataan , kau sama persis dengan Dirga''


tukas Pandu


''Tentu saja aku memang cucunya ''


''Hahahaha.... cucuku kau bisa sombong juga rupanya ?''


''Ya bisalah, aku mencontoh Kakek Pandu ''


''Jadi aku sombong menurutmu ?''


''Hemmm... sedikit hahahaha..... ''


Sherliya dengan tertawa riang keduanya tersenyum senang Pak Whang yang kali ini baru melihat Tuan Besarnya tertawa lepas dan bahagia ikut tersenyum tipis melihat keakraban menantu dan mertua itu

__ADS_1


__ADS_2