
Dilla maju dan melesatkan tendangan ke arah lima orang pria sangar itu dan senjata api ditangan mereka jatuh terpental entah kemana
Sherliya pun dengan ilmu bela diri yang ia miliki berusaha untuk menyerang dan melindungi diri dan Dilla tentunya
''Bagus kita berikan mereka pelajaran ''
ucap Dilla dengan kuda-kudanya begitu juga dengan Sherliya
''Rupanya kalian bukan gadis biasa , baiklah kita bermain-main sejenak sebelum kalian mati''
''Kau yang akan mati brengsekk''
teriak Dilla
buggh
buggh
Dilla melayangkan pukulan dan serangannya dengan terarah dan fokus namun mematikan
''Sial kau pedas juga Nona ''
ucap salah satu penyerang dengan mengusap darah di sudut bibirnya
Dilla tersenyum mengejek kembali ia melayangkan tubuhnya untuk menendang namun di saat bersamaan tubuhnya harus tersungkur ketanah
Dorrr
Satu tembakan tepat mengenai dada kirinya , Sherliya yang berjibaku berusaha menahan serangan demi serangan syok melihat hal itu
''DILLA....
Sherliya melayangkan tubuhnya untuk melindungi Dilla yang di hujani peluru
''TIDAAAKK.... Sherliya.....
BRRUUKKKKK
Tubuh Sherliya jatuh memeluk tubuh Dilla , Sherliya menjadikan tubuhnya tameng demi melindungi Dilla
bertepatan dengan kedatangan Devano dan Erlangga semua terkejut dan syok melihat hal itu
''DILLAAA''
''SHERLIYAAA''
Erlangga dan Devano bersamaan di ikuti Robby, Pak Min dan Jack juga Max yang baru saja tiba bersamaan
Robby bersama Pak Min menangkap kelima penyerang bersama orang-orang Erlangga dan Devano mereka pun kini terikat tak berdaya
Sementara Erlangga memeluk tubuh Sherliya yang bersimbah darah di penuhi luka tembakan hancur sudah hatinya saat ini air mata mulai membasahi wajahnya
''Sayang, tidak ... kumohon bertahanlah demi aku , jangan tinggalkan aku.... aaaaaaaaaaaaa''
tangis Erlangga pun pecah dan terdengar begitu memilukan
__ADS_1
Begitu juga dengan Devano yang memeluk tubuh Dilla yang sudah tak sadarkan diri
''Dilla, tidaakk...jangan tinggalkan Kakak, Pak Min cepat kita ke rumah sakit sekarang''
Devano dengan suara parau karna tangisnya
Devano membopong tubuh Dilla dan segera menuju mobil
''Elang, jangan diam cepat bawa Sherli kerumah sakit waktu kita tidak banyak''
Erlangga seolah tersadar dengan cepat ia pun membopong tubuh Sherliya ke dalam mobil diikuti Robby yang kembali menyetir
☘️☘️☘️☘️☘️
Suasana di rumah sakit saat ini terlihat begitu menyedihkan untuk Erlangga dan juga Devano dimana saat ini Sherliya dan Dilla tengah berjuang di ruang operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh keduanya
Erlangga melipat kedua tangannya di bibir wajahnya terlihat sembab oleh airmata yang terus saja jatuh menetes di pipinya
Devano menepuk bahu sahabat karibnya itu agar Erlangga bisa lebih tegar
''Yakinlah semua akan baik-baik saja sebaiknya kita berdo'a untuk Sherli dan Dilla''
ucap Devano
Erlangga mengangguk pelan disaat itu Kakek Pandu datang bersama Arya dan Vincent juga Kakek Dirga bersama sang asisten
''Kakek''
Erlangga menyambut kedatangan sang Kakek yang terlihat terpukul dengan keadaan Sherliya dan Dilla
''Bagaimana keadaan Sherli dan Dilla cucuku?''
Erlangga tak bisa menjawab pertanyaan sang Kakek air mata kembali membanjiri wajahnya entah apa yang harus ia katakan
Kakek Pandu memeluk cucunya itu untuk memberikan kekuatan
''Saat ini Sherli dan Dilla tengah menjalani operasi kita berdo'a saja yang terbaik untuk mereka''
ucap Devano
''Dev, aku turut sedih dengan kejadian ini ''
timpah Vincent
Arya menatap ruangan dimana saat ini Dilla dan Sherliya tengah menjalani operasi
Airmata kesedihan tampak di sudut mata pria itu namun berusaha ia sembunyikan
Devano menepuk bahu Arya
''Do'akan dia''
Arya mengangguk pelan, Kakek Dirga yang mendengar perkataan Devano seketika syok dan air matanya pun tak kuasa untuk ia bendung
''Tuan Besar''
__ADS_1
asisten pribadinya berusaha untuk menopang tubuh Kakek Dirga
''Cucuku Sherliya , maafkan Kakek seandainya Kakek tidak egois mungkin kau tak akan mengalami ini semua , ini adalah kesalahanku maafkan Kakek''
lirih Kakek Dirga
Devano dan Erlangga menatap pria tua itu dengan iba dan kasihan begitu juga Arya dan Vincent
''Memang benar semua ini karna kesalahanmu Dirga kau tidak becus menjaga darah dagingmu sendiri, bagimu hanya Burhan yang benar aku harap Fatan dan Larasati bisa memaafkan mu kelak''
geram Kakek Pandu
''Kakek''
Erlangga mencoba memghentikan Pandu agar berhenti menyalahkan Dirga
''Jangan hentikan aku karna memang kenyataanya seperti itu''
kesal Kakek Pandu
''Semua yang katakan memang benar dan aku terima semua makian mu itu''
tukas Dirga
''Kau memang pantas mendapatkan cacian dan makianku Dirga , kau tak pantas menjadi Kakek Sherliya dia cucuku baik dulu , sekarang dan selamanya begitu juga dengan Dilla kau telah mengecewakanku Dirga''
Kakek Pandu beranjak meninggalkan ruang tunggu itu di ikuti Robby, Max dan Jack
Sementara Kakek Dirga terdiam mematung bersama asisten , Arya, Vincent, Pak Min , Erlangga dan Devano menunggu di depan ruang operasi
TIINGGG
Lampu kamar operasi terbuka Erlangga dan Devano dengan cepat menghampiri sang Dokter
''Dokter, katakan bagaimana keadaan Sherliya dan Dilla? mereka baik-baik saja kan?''
cerca Erlangga
Sang Dokter terdiam dengan raut wajah tak terbaca Erlangga dan Devano pun semakin cemas dan panik
''Dokter kenapa kau diam saja? jawab pertanyaanku bagaimana istri dan Dilla sahabatnya?''
Erlangga menarik kerah kemeja Dokter dengan kesal dan penuh amarah
''Elang, hentikan... Dokter katakan apa yang terjadi pada kedua adikku''
Devano kini yang bertanya
''Tuan Devano, Tuan Elang , maafkan saya , saya sudah berusaha sebaik mungkin tapi...
''Tapi apa??''
Bentak Erlangga
''Kami tak bisa menyelamatkan nyawa Nona Sherliya ia kehabisan banyak darah dan luka pelurunya tepat mengenai organ vital Nona kami mohon maaf''
__ADS_1
ungkap sang Dokter
''Tidaaakkk... kau pasti bohong itu tidak mungkin istriku baik-baik saja dia tak mungkin meninggalkan aku tidakkkkk...... ''