
Erlangga memasuki ruang kerja bersama dengan Arya keduanya mendapati Sherliya tengah duduk dengan majalah di tangannya membuka satu per satu halaman tanpa membacanya
''Sayang, dengarkan penjelasanku dulu semua tak seperti yang kau pikirkan''
Erlangga berusaha mendekati sang istri yang tak sedikitpun menoleh ataupun memalingkan wajahnya dari majalah yang ia pegang
Arya duduk di samping Sherliya dan mengambil majalah dari tangan Sherliya
''Sher, dengarkan dulu suamimu berikan dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya agar tak ada lagi salah paham diantara kalian''
ucap Arya
''Apa Kak Arya mencoba membela El?
Sherliya beranjak dari duduknya
''Bukan begitu Sher, Kakak hanya ingin kau dan suamimu meluruskan masalah kalian hanya itu''
Arya turut beranjak dari duduknya
''Sayang, jangan menyalahkan Arya dia tak bersalah aku yang seharusnya di salahkan disini''
timpah Erlangga
''Memang kau bersalah El''
__ADS_1
Sherliya dengan kesal
''Aku tau makanya aku minta maaf padamu dan menyusulmu kemari bukankah kau sudah tau hal itu ''
''Yakin menyusulku bukan tunanganmu itu?''
''Sayang, berapa kali harus ku katakan aku tidak tau dia akan datang ke kantor, sudah bertahun-tahun aku meninggalkannya karna dia sudah menghianatiku dia hanya ingin memanfaatkanku dan uangku''
tutur Erlangga dengan prustasi
CEO itu entah bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Sherliya ia mengacak rambutnya sendiri saking kesalnya
Arya tersenyum melihat keadaan Erlangga namun ia juga merasa kasihan sekaligus lucu
''Sher, jangan buat suamimu semakin prustasi maafkan dia dan pulanglah ''
''Aku heran apa yang kau katakan pada Kak Arya, dia malah mendukungmu bukan mendukungku''
kesal Sherliya
''Dia mempercayaiku dia tau aku tidak berbohong''
''Oh bagitu, jadi kau menyalahkan aku karna tidak percaya padamu ?''
''Bukan begitu aku... aku ... ah.... sudahlah terserah kau mau percaya atau tidak padaku, aku sudah menjelaskan semuanya padamu''
__ADS_1
Erlangga kembali menjambak rambutnya sendiri dengan sikap keras kepala sang istri.
Sherliya menatap Erlangga jauh di lubuk hatinya ia ingin sekali memeluk sang suami namun egonya membuat ia tak bisa melakukan hal itu
''El, benarkah kau tak memiliki perasaan lagi pada Nadia?''
tanya Sherliya ragu
Erlangga menatap Sherliya dan berusaha untuk meraih tangannya dan di genggamnya
''Dengan cara apa aku harus membuktikannya agar kau percaya padaku , di hatiku hanya ada kau baik dulu dan sekarang pertunanganku dengannya bukan atas mauku tapi orangtuaku''
''Apa maksudmu dulu El?''
''Kau akan tau nanti sayang, yakinlah aku hanya mencintaimu ''
Erlangga menarik pinggang Sherliya kedalam pelukannya dengan mata saling menatap
''El, aku tak tau apa yang kurasakan untukmu, yang aku tau aku tak rela kau bersama wanita itu, kau milikku hatiku mengatakan kau hanya milllikku''
''of course baby''
Erlangga mengangkat dagu Sherliya dengan ibu jarinya dan mengelus bibir sang istri dengan mata saling menatap Sherliya seakan terhanyut dalam tatapan mata Erlangga dengan cepat ia mendaratkan bibirnya di bibir Erlangga
Erlangga terkejut untuk pertama kalinya Sherliya berinisiatif mencium dirinya ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu dengan cepat ia menahan tengkuk Sherliya dan memperdalam ciuman mereka
__ADS_1
Decapan dan ******* keduanya membuat mereka terhanyut dan semakin menuntut lebih Sherliya meremas rambut Erlangga dan ******* itupun keluar begitu saja dari bibirnya saat Erlangga semakin melakukan untuk melakukan lebih