
Seperti yang Erlangga katakan jika ia tidak akan pergi ke kantor dan memutuskan untuk bekerja dari rumah ia meminta Robby untuk mengantarkan berkas-berkas penting yang harus ia tandatangani ke apartement
Saat ini Erlangga tengah berada di ruang kerjanya memeriksa dokumen yang Robby antarkan tadi siang tiba-tiba saja ponselnya berbunyi
Erlangga tertegun dengan nama yang tertera di layar ponselnya
''Kakek''
gumamnya
''iya Kek, ada apa?''
Erlangga menerima panggilan sang Kakek
''DASAR CUCU DURHAKA.... kau menikahi tanpa memberitahuku cepat bawa istrimu itu padaku malam ini juga atau kau akan tau bagaimana aku akan bertindak pada istrimu itu ''
Erlangga membelalakan matanya tak menduga jika sang Kakek akan tau tentang pernikahannya secepat ini
''Kek, saat ini Sherliya sedang sakit dia tak bisa menemuimu dulu''
Erlangga mencoba menolak perintah sang Kakek
''jangan mencoba untuk menghindar, kau tak bisa membohongiku anak tengik''
Terdengar suara sang Kakek yang semakin kesal dengan penolakan Erlangga
''baiklah Kek, nanti malam aku akan datang membawa menantumu itu''
Erlangga ahirnya mau tak mau mengikuti keinginan sang Kakek, ia pun menutup panggilan sang Kakek tanpa menunggu jawaban
Erlangga menghela napas panjang bagaimana ia bisa mengajak Sherliya,sementara saat ini Sherliya tengah demam
Ahirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar , namun begitu ia memasuki kamar ia tak mendapati Sherliya
''kemana dia ?''
Erlangga mencari keseluruh ruangan kamar namun ia tak mendapati sang istri , lalu ia mencoba melangkahkan kakinya ke kamar mandi
Benar saja Sherliya tengah memanjakan dirinya di dalam bathtub dengan menutup mata dan mendengarkan musik klasik kesukaannya
''pantas saja dia tak mendengar panggilanku ''
Erlangga menghampiri Sherliya yang tengah berendam dengan tubuh tertutupi busa sabun
''rupanya istriku disini''
''El...
Sherliya terperanjat mendapati Erlangga tengah berdiri dihadapannya menatapnya dengan kedua tangan di lipat di dada
''bagaimana kau bisa masuk?
''Nona aku memanggilmu sejak tadi , tapi tidak ada jawaban makanya aku masuk karna cemas, dan ternyata kau sedang disini mendengarkan musik memanjakan dirimu apa kau sudah baikkan ? bukannya kau demam? kenapa malah berendam?''
__ADS_1
Erlangga mencerca Sherliya dengan begitu banyak pertanyaan
''aku sudah merasa lebih baik berkat dirimu, lagi pula aku merasa gerah dan ingin mandi rasanya pegal-pegal ditubuhku sedikit berkurang dengan aku berendam''
tutur Sherliya
''baguslah kalau begitu, aku senang kau sudah sembuh ada sesuatu yang ingin ku katakan''
tukas Erlangga
''apa itu?''
''mungkin kau merasa ini terlalu cepat, tapi tadi Kakek menelpon ia ingin bertemu denganmu , aku sudah bilang kalau kau sakit tapi Kakek tak percaya padaku''
jelas Erlangga
Sherliya terdiam , namun tak berapa lama ia menatap Erlangga dengan mengulas senyum manisnya
''tidak apa-apa cepat atau lambat aku harus menemuinya , lagi pula itu lebih baik''
ucap Sherliya
''sungguh ? kau tak keberatan ?
''kenapa aku harus keberatan toh dia Kakekmu berarti akan menjadi Kakekku juga meskipun hanya sampai perjanjian itu selesai ''
Sherliya dengan suara lirih
Erlangga terkejut dengan perkataan Sherliya yang masih beranggapan jika pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian
batin Erlangga
''kenapa kau diam? apa yang kau pikirkan?''
kembali Sherliya bertanya
''ah... tidak , aku tidak memikirkan apapun''
elak Erlangga
''El, bisakah kau keluar aku mau membersihkan diriku dulu''
ucap Sherliya
''kenapa aku harus keluar? lagi pula aku sudah melihat semuanya kenapa harus ditutup-tutupi lagi''
Erlangga mencoba menggoda Sherliya
''El, jangan membuatku kesal dengan kemesumanmu itu cepat kau keluar dulu ''
''tidak, aku tidak akan keluar ''
''El... apa yang kau lakukan?''
__ADS_1
Sherliya tak percaya dengan apa yang dilakukan Erlangga yang malah ikut masuk kedalam bathtubnya tak peduli dengan pakaiannya yang ikut basah kuyup
''El... kau ini''
Sherliya mencoba melepasakan pelukan Erlangga yang kini malah memeluknya dari belakang dengan tangan mulai berkelana di kedua bukit indahnya
''emmhh... El... ka-kau apa yang mau kau lakukan?''
''aku menginginkanmu sayang''
''El... tapi ini di kamar mandi ''
''dimanapun aku tak peduli, yang ku tau saat ini aku ingin memilikimu kembali''
bisik Erlangga di telinga Sherliya dengan menjilati dan menciumi leher sang istri
''emmhh... aahhh.... El....
******* Sherliya ahirnya kembali terdengar membuat Erlangga semakin bersemangat
''berbaliklah dan duduk di pangkuanku''
titah Erlangga
Sherliya menuruti perintah Erlangga dirinya benar-benar dibuat terlena dengan semua yang dilakukan Erlangga pada dirinya
Erlangga menikmati kedua bukit kembar Sherliya dengan penuh hasrat menggebu Sherliya mendekap kepala Erlangga dengan meremas rambu sang suami yang tengah asyik menikmati bukit kembarnya
''El... ahh... aku sudah tak tahan lagi emmhh... ''
Erlangga mencium bibir Sherliya mengabsen isi mulut sang istri dengan rakusnya
''puaskan aku sayang ... ayo masukan ''
titah Erlangga
Erlangga menuntun tangan Sherliya meraih senjata keperkasaannya
dengan naluriah Sherliya berjongkok dihadapan Erlangga menikmati surga kenikmatannya seperti ia menikmati lolipop
''aahhhkkkk.....
erang Erlangga ia benar-benar dibuat melayang dengan semua permainan Sherliya ia memegangi rambut Sherliya dengan tangannya
''yes... baby faster... aahhhkkk''
Sherliya semakin liar dengan permainannya membuat Erlangga meracau dan menggila di tariknya tubuh Sherliya dengan bertumpu pada bathtub Erlangga memasuki tubuh sang istri dari belakang
''aahh.... El.... sayang... emmmmhhh.... aaaahhhhh''
''kau sungguh nikmat sayang.... kau membuatku tergila-gila aahhkkk''
******* dan racauan keduanya memenuhi kamar mandi mewah itu Erlangga benar-benar mengexplore tubuh Sherliya yang kini sudah menjadi candu baginya
__ADS_1
begitu pun dengan Sherliya yang seolah haus akan sentuhan Erlangga