
Erlangga tersenyum senang melihat pantulan dirinya di depan cermin
Ia mengusap leher dan beberapa jejak kepemilikan yang Sherliya tinggalkan di tubuhnya
Pergulatan panasnya membuat ia begitu bahagia iapun keluar dari kamar mandi usai membersihkan dirinya
Erlangga menghampiri Sherliya yang tertidur di sofa mengenakan kemeja miliknya, dengan berbalut handuk di pinggangnya Erlangga berjalan membuka pintu ruang kerjanya
Jack dan Max masih setia berdiri di ambang pintu keduanya membelalakan matanya saat melihat penampilan Erlangga
''Robby mana?''
''Tuan Muda, Tuan Robby pergi beberapa saat yang lalu mungkin dia pulang''
jawab Max
''Dia pulang tanpa bilang padaku ? baiklah kalian tetap berjaga ''
titah Erlangga
''Baik Tuan Muda''
Erlangga kembali memasuki ruangannya dan segera meraih ponsel miliknya
''Dimana kau?''
''Tuan Muda, aku sedang dalam perjalanan pulang''
jawab Robby yang di hubungi Erlangga
''Siapa yang menyuruhmu untuk pulang?''
''Nona yang menyuruh semua karyawan untuk pulang lagipula Nona bilang sudah lewat jam kantor''
tutur Robby
Erlangga melirik ke arah Sherliya yang masih tertidur ia pun menghela napas panjang
''Baiklah kau teruskan saja perjalananmu karna hari ini aku sedang senang aku memaafkanmu''
''Terima kasih Tuan Muda''
''Ya, dan terima kasih kau sudah menghubungi Sherliya untukku''
timpah Erlangga
Robby yang terkejut dengan ucapan Tuannya itu seketika menginjak rem mendadak
''Ya Tuhan, apa aku tak salah dengar ''
Robby mencoba mengorek telinganya sendiri namun panggilan dari Erlangga sudah terputus
''Semua ini karna kau Nona ''
gumam Robby dan melanjutkan kembali perjalanannya
''Sayang kau bicara dengan siapa?''
Sherliya menggeliat terbangun dari tidurnya
''Ahh... aku bicara dengan Robby, kau sudah bangun?''
Erlangga mendekati Sherliya
''Hemm... sudah malam bagaimana kalau kita pulang ?''
tanya Sherliya
__ADS_1
Erlangga menyelipkan rambut panjang Sherliya yang terurai menutupi wajahnya
''Baiklah , aku pakai baju dulu''
jawab Erlangga
''Tunggu aku pakai baju apa?''
Erlangga bingung dengan pertanyaan sang istri , ia teringat jika pakaian Sherliya telah ia robek
''Sayang kau pakai kemejaku saja ya, malam ini kita pulang ke apartement jangan ke mansion nanti Kakek pasti banyak bertanya''
tukas Erlangga
''Baiklah terserah kau saja''
Erlangga meraih beberapa pakaiannnya yang di simpan di lemari pakaiannya di ruang tidur kantornya dan memberikannya untuk Sherliya kenakan
Erlangga pun bersiap dengan memakai pakaiannya sendiri begitu pun Sherliya yang memakai kemeja dan celana panjang milik Erlangga tanpa mengenakan ********** yang entah di lempar kemana oleh suaminya itu
Erlangga membulatkan matanya saat melihat tampilan Sherliya dalam balutan kemeja dan celana kebesaran miliknya namun malah terlihat menggoda baginya
''Sayang, apa yang kau pakai?''
''Aku??? bukannya ini pakaianmu ?
Sherliya menunjuk dirinya sendiri
Erlangga menatap Sherliya seperti mesin scen menatap tampilan sang isrti dari ujung kepala hingga kaki
"(Shitttt... kenapa dia malah terlihat seksi dengan pakaian itu) "
batin Erlangga
''El... kau kenapa?''
Sherliya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Erlangga yang hanyut dalam pemikirannya
''Benarkah?''
Sherliya memutar tubuhnya dihadapan Erlangga , dengan cepat Erlangga menarik Sherliya kedalam dekapannya
''Kau sungguh cantik , aku tak rela jika tubuhmu dilihat orang lain dengan penampilanmu yang seperti ini''
lirih Erlangga
''El, siapa yang akan melihatku disini hanya ada kau dan aku tidak ada orang lain''
ucap Sherliya
''Entahlah tapi aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi aku merasa takut''
Erlangga menatap Sherliya entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Sherliya
''Jangan berpikiran macam-macam tidak baik, aku akan menjaga diriku dengan baik bukankah selalu menjagaku selama ini?''
Sherliya mencoba menenangkan
''Entahlah tapi firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi''
Sherliya meraih tangan Erlangga dan menciuminya ia menatap Erlangga dengan penuh cinta
''Yakinlah suamiku semua baik-baik saja ''
''Kuharap juga begitu, semoga semua hanya perasaan cemasku saja''
tukas Erlangga dan menarik Sherliya kedalam pelukannya dan diciuminya puncak kepala sang istri
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
Ditempat lain di Mansion Devano Anggarafaza sedang dalam kehebohan dimana Dilla sedang kesal dan menghabiskan waktunya dengan olah raga beladiri
Pak Min, di buat cemas dengan kekesalan Dilla yang menyerang secara membabi buta para pengawal Dilla yang menemaninya berlatih
''Pak Min, ada apa ini?''
tanya seseorang yang tak lain adalah Devano
''Tuan Muda, Nona sepertinya sedang ada masalah''
Devano melihat Dilla yang terus berlatih dengan menghajar semua pengawal pribadinya
''KALIAN JANGAN DIAM SAJA LAWAN AKU , AKU TAK MENGIZINKAN KALIAN UNTUK MENGALAH''
Dilla dengan kesal para pengawal menatap ke arah Pak Min dan Devano
Devano mengangguk tanda mengiyakan
''Maafkan kami Nona''
Dan benar saja kali ini para pengawal tak lagi sungkan dan berusaha mengimbangi serangan demi serangan yang Dilla lakukan
''Bagus itu yang aku inginkan ''
Dilla kembali menyerang dengan serangan yang semakin terarah, cepat dan lincah
Bayangan Arya selalu melintas di pikirannya saat ini dan hal itu semakin membuat dirinya kesal
''Semua lelaki memang brengsek, kalian pikir kalian pintar dan menganggap wanita itu bodoh hah... ''
Dilla dengan suara lantang , perkataan Dilla membuat Devano dan Pak Min saling pandang dan ahirnya mereka mengerti dengan kemarahan Dilla
''Rupanya masalah hati''
gumam Pak Min
Devano melompat ke area pertarungan para pengawal langsung berhenti menyerang Dilla dan mundur satu per satu
''Kak Dev''
Dilla menghentikan serangannya dan menjatuhkan senjata sejenis pedang atau cambuk tipis dari tangannya begitu saja saat mendapati sang Kakak ia pun berlari memeluk Devano
''Ada apa ? siapa laki-laki yang sudah membuat Tuan putriku seperti ini?''
Devano memeluk erat Dilla , sementara Dilla memeluk erat dirinya
''Bukan siapa-siapa hanya teman yang baru ku kenal''
''Kau tidak bohongkan ?
Devano memegangi pundak Dilla dan menatap mata sang adik yang berusaha menyembunyikan perasaannya itu
''Benar Kak, aku tidak bohong''
Dilla berusaha menghindari tatapan sang Kakak ia tak ingin Devano tau masalah hatinya saat ini
''Ya sudah, jangan berlatih lagi sana mandi dan beristirahatlah sudah larut malam''
titah Devano
''Iya Kak''
Dilla beranjak dan meninggalkan Devano bersama Pak Min
''Pak Min, kau selidi siapa pria yang membuat adikku seperti ini dia harus membayar sakit hati yang adikku alami''
__ADS_1
titah Devano
''Baik Tuan Muda''