
Arya membawa Sherliya ke apartement miliknya di kota Jakarta yang ia beli dan ia tempati jika ia berada di jakarta
selama Arya kuliah di luar negeri apartementnya selalu di bersihkan oleh salah satu temannya yang kebetulan pengelola apartement itu sendiri
''masuklah, untuk sementara kau bisa tinggal disini selama kau berada di Jakarta''
ucap Arya
''apartement ini milik Kakak?''
''ya begitulah, aku harus kembali dulu kerumah untuk mencari tahu bagaimana kondisi rumah saat ini setelah kau pergi dari pernikahanmu''
tutur Arya
Sherliya terdiam ia merasa telah banyak merepotkan pria di hadapannya itu berkatnya ia bisa kabur dari cengkraman Tuan Tama setelah bertahun-tahun
''terima kasih untuk semua yang telah Kak Arya lakukan hari ini untukku, aku tak tau jika tanpa bantuanmu aku mungkin sudah kembali tertangkap oleh para penjaga tadi aku sangat berhutang budi untuk semua ini''
ucap Sherliya tulus
''sudah , jangan berterima kasih terus aku melakukannya karna memang aku mau dan aku ikhlas membantumu''
tukas Arya
''oh ya, jika kau menginginkan dan membutuhkan sesuatu ambil ini, di bawah apartement ada minimarket kau bisa membeli apapun yang kau butuhkan ''
kembali Arya berbicara sembari memberikan Sherliya uang yang terlihat cukup banyak , Sherliya menatap Arya dengan tak enak hati
''tapi Kak, kau sudah terlalu banyak membantuku hari ini aku... aku tak bisa merepotkanmu terus''
ucap Sherliya
''sudah ku katakan aku tulus membantumu , suatu saat nanti kau bisa membalasnya setelah kau berhasil dengan hidupmu anggap saja aku meminjamkannya''
Sherliya pun mau tak mau mengambil uang dari tangan Arya karna memang ia juga membutuhkannya untuk saat ini
''baiklah aku harus pulang,kau jaga dirimu baik-baik jika ada apa-apa kau hubungi aku segera temanku juga akan membantumu selama disini kau mengerti''
Arya memberikan pesan untuk Sherliya sebelum ia kembali ke desa
''iya Kak, terima kasih aku akan menuruti semua kata-katamu''
ucap Sherliya
__ADS_1
''satu lagi aku sudah meminta temanku membelikanmu ponsel agar mudah untuk kita terhubung mungkin nanti ia akan mengantarkannya nanti , Kakak pamit jaga dirimu ''
pamit Arya
Sherliya mengangguk dan ahirnya Arya pun meninggalkan Sherliya sendirian di apartement itu meskipun sederhana namun cukup nyaman untuk ditinggali
terdiri dari ruang tidur, pantri , ruang tamu dan ruang santai Sherliya juga dapat melihat keindahan kota dimana lampu-lampu terlihat indah menghiasi bangunan-bangunan saat malam hari melalui jendela kaca juga roptoop apartement
''Tuhan , bantu aku menjalani ini semua , sekarang aku kembali ke kota ini, kota yang telah memberikan aku luka dan kenangan pahit, Kakek bagaimana kabarmu?''
lirih Sherliya
Sherliya menjelajahi apartement semua nampak tertata rapi dan juga bersih iapun berjalan menuju kamar tak berbeda jauh dengan ruangan lainnya kamar itu pun nampak terawat dengan nuansa abu-abu
Sherliya kemudian memutuskan untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian karna ia juga merasa tak nyaman dengan gaun pengantin yang ia kenakan seharian penuh
''ya ampun aku lupa, dengan apa aku harus berganti pakaian?''
gadis itu nampak kebingungan ia masih mengenakan bathrobenya setelah ia mandi
Sherliya membuka lemari pakaian namun ia tak menemukan pakaian yang bisa ia pakai semua pakaian itu adalah milik Arya yang rata-rata kemeja dan celana panjang untungnya ada beberapa tshirt yang bisa ia pakai dan celana dan celana pendek milik Arya
''aduh... semuanya kebesaran belum lagi tidak ada dalaman yang bisa aku pakai, sepertinya aku harus keluar membelinya juga beberapa keperluan yang harus aku beli''
ahirnya dengan terpaksa Sherliya memakai pakaian yang ada setelah dirasa cukup nyaman ia pun beranjak keluar apartement
Sherliya berjalan sepanjang lorong apartement yang terlihat sepi dan berjalan menuju lift setelah masuk ia menekan tombol untuk kelantai bawah
beberapa saat kemudian Sherliya tiba di lantai bawah dan pintu lift pun terbuka
''Sherli, oh my Good benarkah ini kau ?''
tiba-tiba seseorang tepat berada dihadapan Sherliya saat ini nampak senang melihatnya
''Vincent?
rupanya yang menyapa Sherliya adalah Vincent adik dari Wiryo , pria gemulai itu menghambur memeluk Sherliya begitu gadis itu keluar dari lift
''syukurlah kita bisa bertemu lagi , kau baik- baik saja ? bagaimana kau bisa ada disini?
cerca Vincent
''ceritanya panjang kau tau kan semua ini karna ulah Kakakmu''
__ADS_1
tukas Sherliya
''ya aku tau , itu sebabnya aku pergi dari desa dan sekarang aku bekerja disini mengelola apartement ini atas bentuan temanku ''
ungkap Vincent
''kau beruntung Vin, setelah Kakakmu menjualku hari-hariku terasa begitu berat beruntung hari ini aku bisa kabur juga karna bantuan seseorang''
'' dia sangat baik aku berhutang budi padanya entah bagaimana aku bisa membalas semua yang telah Kak Arya lakukan untukku?''
''Arya ? maksudmu Arya Wiratama putra Tuan Tama?
tanya Vincent
''iya , apa kau mengenalnya?
Sherliya menatap Vincent dengan heran
''oh my Good, ini sebuah kebetulan yang luar biasa kau tau aku akan ke apartementmu untuk memberikan ini ''
Vincent memberikan sebuah paperbag berisi ponsel untuk Sherliya atas perintah Arya
''jadi kau teman Kak Arya?''
''iya dia sahabatku''
ucap Vincent
Sherliya terkejut sekaligus gembira karna kini ia tak merasa sendirian lagi di kota itu ada Vincent yang akan membantunya
''terima kasih , ku pikir aku sendirian di kota ini ternyata ada kau Vin, aku tak akan merasa takut lagi hiks... hiks''
Sherliya mengusap air matanya
Vincent menatap Sherliya dengan iba ia tau betul bagaimana selama ini Sherliya selalu mendapatkan perlakuan buruk dari Kakak dan Kakak iparnya juga saat gadis itu di jual paksa dengan alasan penebus hutang
''Sher, jangan nangis atau aku ikut menangis juga, kau tenang saja selama kau disini aku akan membantumu sebisaku juga ada Arya kau harus yakin dan percaya semua penderitaanmu pasti akan berlalu dan berganti dengan kebahagiaan ''
tutur Vincent dengan mengusap airmata Sherliya
''aku tak tau Vin, apa semua itu akan terjadi padaku untuk saat ini aku hanya ingin menangis saja semua yang ku lalui begitu berat Vint... sangat berat apa salahku hingga semua terjadi padaku hiks... hikss''
Vincent membiarkan Sherliya meluapkan semua emosinya dengan menangis mungkin dengan begitu ia akan merasa lega
__ADS_1