
Erlangga memerintahkan Robby untuk mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahannya dengan Dilla
Awalnya Robby terkejut dengan perintah yang Erlangga berikan, melihat raut wajah sang asisten Erlangga memberikan kertas pesan yang Sherliya tulis
Tak butuh waktu lama bagi Robby menyiapkan segalanya menjelang sore hari Erlangga dan Robby pergi ke rumah sakit bersama petugas catatan sipil
Devano yang baru saja tiba di rumah sakit di kejutkan dengan kedatangan Erlangga begitu juga dengan Arya
''Elang ada apa ini?''
tanya Devano
''Kenapa kau terkejut begitu? aku datang sesuai keinginan kalian bukan?''
Erlangga dengan santainya
''Apa maksud semua ini Elang? jangan membuat ku bingung ?''
tukas Devano
Erlangga hanya tersenyum tipis ia berjalan mengahampiri Dilla yang masih belum sadar dari komanya
''Maaf Tuan Dev, kedatangan kami kemari untuk membawa Nona Dilla, setelah Tuan Muda menikahinya''
tukas Robby
''APAAA???''
Devano menatap Erlangga tak percaya dengan apa yang didengarnya
''Kenapa kau terkejut Dev? bukankah sudah seharusnya istri ikut kemanapun suaminya membawanya?''
ucap Erlangga
''Ta-tapi Elang, Dilla masih koma bukankah sebaiknya kita tunggu sampai dia sadar dulu baru kau bisa menikahinya , lagi pula kita tidak tau Dilla setuju atau tidak dengan pernikahan ini''
Devano mencoba untuk menolak pernikahan itu Erlangga menatap Devano dengan tersenyum sinis
''Aku sudah memutuskan , kau tak berhak menghalangi pernikahan ini''
''Aku berhak karna Dilla adikku''
''Apa kau bertanya tentang hak saat jantung istriku kini berdetak dalam tubuh adikmu itu?''
Erlangga menatap tajam Devano
Arya menahan Devano agar tak terpancing amarah oleh perkataan Erlangga
__ADS_1
''Kau....
''Sudahlah Dev, biarkan Erlangga melakukan apa yang Sherliya inginkan, semoga setelah ini Dilla bisa cepat sadar dari komanya''
''Lagi pula Erlangga pasti akan memberikan yang terbaik untuk Dilla dan pasti kita akan bisa lebih tenang daripada kita membiarkan Dilla disini sendirian jika kita tak ada''
Mendengar ucapan Arya, Devano pun luluh ia menatap Dilla kemudian Erlangga
''Baiklah, lakukan apa yang menurutmu benar dan baik, jaga Dilla dia adikku yang paling aku sayangi jangan pernah kau sedikitpun berpikir untuk menyakitinya atau kau akan tau akibatnya Erlangga Adhibrata''
tegas Devano
Erlangga tersenyum tipis, ia menatap jengah Devano dan memerintahkan petugas catatan sipil untuk memulai ijab kabul yang akan ia lakukan di saksikan Devano, Arya dan Robby
Arya walaupun dengan berat hati dan perasaan hancur Arya mencoba untuk tetap tegar dan menerima kenyataan itu
Devano menepuk bahu Arya , ia tau jika saat ini Arya pasti sakit hati pria itu harus melupakan cinta yang baru saja akan tumbuh namun layu sebelum berkembang
Sekilas Erlangga menatap Arya, ia tau pasti apa yang Arya rasakan ada rasa bersalah menghinggapi dirinya saat ini
Dilihatnya Dilla yang terlihat cantik meskipun dalam komanya
"(Entah apakah keputusanku ini benar atau tidak? namun yang pasti mulai saat ini kau adalah milikku dengan jantung Sherliya berdetak dalam dirimu sebagai pengganti dirinya")
batin Erlangga
Dokter pun mengizinkan dengan syarat akan ada Dokter dan perawat yang akan berjaga selama 24 jam untuk menjaga dan memantau kesehatan Dilla
Erlangga tentu saja menyetujuinya dan hari itu juga Dilla di pindahkan ke mansion Adhibrata
☘️☘️☘️☘️☘️
Kakek Pandu begitu terkejut saat ada ambulans berhenti di depan Mansion
Erlangga di ikuti Robby, Devano dan Arya turut mengantarkan Dilla ke Mansion
Robby menjelaskan semuanya pada Kakek Pandu juga tentang Erlangga yang sudah menikahi Dilla awalnya Kakek Pandu terkejut namun ia juga lega karna Erlangga sudah melakukan pesan Sherliya
Dilla di rawat di kamar samping kamar tidur Erlangga sementara Dokter dan perawat yang bertugas diberi kamar khusus untuk mereka selama merawat Dilla
Malam menjelang Devano dan Arya pamit setelah merasa lega dan tenang Dilla berada di mansion Adhibrata
Apalagi ada Kakek Pandu yang memang begitu menyayangi Dilla
Erlangga menatap Dilla yang terbaring di tempat tidur dengan peralatan yang tersambung ke tubuhnya
Tangan Erlangga terulur dengan sendirinya ia mengusap puncak kepala Dilla
__ADS_1
''Cepatlah sadar gadis bar-bar ''
gumam Erlangga
CEKLEEKK
''Maaf , saya kira tak ada Tuan Muda''
ucap perawat yang bertugas menjaga Dilla dengan menundukan kepala
''Apa yang akan kau lakukan?''
tanya Erlangga
''Saya, mau membersihkan tubuh Nona Dilla''
jawab sang perawat dengan membawa peralatan untuk membersihkan tubuh Dilla
''Biar aku saja, kau boleh beristirahat ini sudah malam''
titah Erlangga
''Baik Tuan Muda, terima kasih ''
sang perawat pun pamit dan kembali menutup pintu
Erlangga meraih handuk kecil dan air hangat yang disediakan perawat tadi dan ia taruh kembali di meja nakas tempat tidur
Perlahan Erlangga membuka kancing piyama yang Dilla kenakan satu per satu dengan penuh kehati-hatian
Erlangga meraih handuk kecil dan mengusapkannya secara perlahan ke tubuh Dilla, Erlangga tertegun saat ia mengusap wajah Dilla mata yang bulat, hidung yang mancung , bibir mungil berwarna pink juga pipi yang merona membuat Erlangga terhanyut menatap kecantikan Dilla
''Cantik''
gumamnya kembali , Erlangga dengan telaten membersihkan tubuh Dilla hingga seluruh tubuh Dilla tak terlewat ia bersihkan
Meski ia harus menahan dirinya menatap keindahan tubuh Dilla kulit putih sehalus sutra, tangan yang lentik , kaki yang jenjang indah juga kedua bukit kembar Dilla yang nampak berisi begitu menggoda dan menantang
Beberapa kali Erlangga menelan salivanya sendiri melihat kemolekan tubuh Dilla namun ia sadar saat ini kondisi Dilla
Dengan cepat ia menyelesaikan tugasnya membersihkan tubuh Dilla dan memakaikannya pakaian yang baru
''Huhhh...rasanya seperti habis memenangkan proyek besar, begitu menguras tenaga dan pikiran''
lirih Erlangga
Iapun menyelimuti Dilla dan membereskan bekas peralatan yang ia gunakan untuk membersihkan tubuh Dilla
__ADS_1