
Seminggu setelah pemakaman Sherliya sikap Erlangga berubah drastis ia menjadi pria yang bersikap dingin dan tak banyak bicara kesehariannya ia habiskan dengan menyibukan diri di kantor
Pergi pagi pulang malam terkadang Erlangga juga tak pulang ke rumah
Kesibukan membuat Erlangga sejenak bisa melupakan kesedihannya tentang Sherliya namun jika malam menjelang ia tak bisa untuk tidak memikirkan Sherliya
Bayangan dan semua kenangan bersama Sherliya selalu menghantui dan berputar di kepalanya membuat Erlangga semakin terpuruk
Terkadang Erlangga meminum obat tidur untuk ia bisa beristirahat
Kondisi Erlangga membuat Kakek Pandu cemas kepergian Sherliya benar-benar menjadi pukulan berat bagi sang cucu
Sementara itu kondisi Dilla masih tetap sama tidak ada perubahan sama sekali sudah satu minggu lebih ia koma namun belum ada tanda-tanda ia akan sadar
Setiap hari Devano menjaganya siang dan malam tanpa lelah terkadang Arya juga datang untuk mengunjungi Dilla
Devano tau pasti kedekatan Arya dengan Dilla namun entah ia harus bagaimana mengatakan tentang pesan terahir Sherliya untuk Erlangga dan Dilla
Ia tak ingin Arya sedih dengan isi pesan itu, ia tak tau jika Arya sudah tau tentang pesan itu
Seperti hari-hari sebelumnya Arya datang memgunjungi Dilla dengan membawa buket bunga mawar putih kesukaan Dilla
Devano tersenyum tipis dengan pria tampan itu
''Kau sudah datang?''
tanya Devano
''Hemmm...
jawab Arya
''Ar, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu tentang Dilla''
''Apa itu Dev?''
''Sebaiknya kita bicara di luar saja, kau tau kan meski Dilla koma tapi dia bisa mendengar semua pembicaraan kita , kau tak ingin ia sedih''
ucap Devano
''Baiklah, kita bicara di luar saja''
Devano ke luar ruangan kamar Dilla, diikuti Arya mereka memilih untuk berbicara di kantin Rumah sakit
''Kau mau pesan makanan atau minuman?''
tanya Devano
''Air putih saja''
jawab Arya
Devano memesan kopi untuknya dan airputih untuk Arya
''Ar, apa perasaanmu untuk Dilla tulus ?
''Apa maksud pertanyaanmu Dev?
__ADS_1
Arya menjawab pertanyaan Devano dengan pertanyaan kembali membuat Devano bingung harus berkata apa
''Begini Ar, aku hanya menginginkan kebahagaiaan untuk adikku bagiku kebahagiaan Dilla adalah segalanya ''
''Aku tau hubungan kalian masih seumur jagung atau masih dalam tahap pendekatan, aku tau adikku juga memiliki perasaan yang sama denganmu tapi situasinya saat ini membuat segalany berbeda''
tutur Devano
Arya menatap Devano dengan serius
''Apa ini tentang pesan yang Sherliya tinggalkan untuk Erlangga dan Dilla?''
tanya Arya
''Kau sudah tau?''
Kali ini Devano yang balik bertanya
''Aku tau sejak seminggu lalu Erlangga membuang kertas yang kau berikan padanya tempo hari''
jawan Arya
''Elang, tak terima dengan keputusan Sherliya''
lirih Devano
''Apa kau akan memenuhi keinginan Sherliya?''
Arya menatap Devano
''Apa kau akan mengabaikan pesan seseorang yang kau sayangi ?''
''Aku tak akan memaksakan sesuatu yang bukan hak ku , tapi ini menyangkut kedua adikku aku sudah kehilangan satu adikku, dan aku tak ingin kehilangan adikku yang satunya ''
''Sementara bagian tubuh satu adikku saat ini hidup dan berdetak dalam diri adikku yang lain , aku berhutang nyawa dan kehidupan pada adikku demi adikku yang lain apa kau bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat ini?''
Devano dengan sedih dan raut wajah penuh penyesalan
''Aku juga tak memliki keberanian untuk menghadapi Elang, dia yang paling terluka di sini ''
Devano dengan sedih
Arya terdiam dan memikirkan semua perkataan Devano
''Aku mengerti ini berat untukmu, aku pun sama denganmu meskipun aku belum lama mengenal Sherliya tapi bagiku dia adik yang sangat baik dan tulus''
''Apa yang kau pikirkan pun sama dengan yang aku pikirkan saat ini, aku tak akan bersikap egois dengan hanya memikirkan perasaanku saja kita serahkan saja semuanya pada Tuhan dan biarkan waktu yang akan menjawab semuanya''
Mendengar penuturan Arya , Devano terdiam dan mengangguk pelan
''Untuk saat ini biarkan aku datang mengunjungi Dilla sebelum ia sadar hanya ini permintaanku padamu''
timpah Arya
''Itu hakmu Arya, aku tak akan menghalangimu lagi pula kita belum tau bagaimana keputusan Dilla apa dia menerima atau tidak keinginan Sherliya semuanya tergantung pada kepeutusannya kita tunggu saja''
Devano mereguk kopi di cangkirnya sementara Arya mengangguk dan meminum air putih yang ia pesan keduanya lanjut berbincang tentang kehidupan dan bisnis masing -masing
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
Dilain tempat yaitu kantor polisi Erlangga datang berkunjung bersama Robby untuk mengunjungi Burhan , Miranda dan Yola
Saat ini mereka tengah duduk berhadapan dan terhalang dinding
Erlangga duduk berpangku tangan sementara Robby berdiri dengan setia di sampingnya
''Tuan Muda''
Sapa Burhan , Miranda dan Yola , Erlangga menatap ketiga orang dihadapannya itu rasa marah, kesal dan benci menjadi satu dalam diri Erlangga
''Kalian , apa sudah puas setelah berhasil membunuh istriku?''
Erlangga dengan sorot mata dingin
Burhan, terdiam dan tertunduk begitu juga Miranda dan Yola
''Tuan Muda, sungguh a-aku tidak tau dan tidak terlibat dengan kematian keponakanku, se-semua itu rencana istri dan anakku bukan aku''
ucap Burhan dengan terbata
''Pah... apa yang kau katakan ? bu-bukannya kau juga setuju dengan rencana kami ?'' kau keterlaluan Pah''
kesal Miranda
''Papa , kenapa menimpahkan segalanya pada kami Papa juga bersalah''
timpah Yola
BRAAAKKK
Erlangga menggebrak meja di depannya membuat semua orang terlonjak
''Kalian benar-benar manusia tak punya hati, aku tidak peduli siapa ,yang jelas kalian akan merasakan pembalasannya dariku''
bentak Erlangga
''Tu-Tuan Muda, kami mohon ampuni kami Tuan Muda... kami menyesal tolong... keluarkan kami dari sini...
Miranda dan Yola bersimpuh memohon Burhan melihat istri dan ananknya demikian hanya diam tak berbicara
''Menyesal??? setelah ini kalian menyesal ? aku tak peduli kematian istriku karna ulah kalian apa kalian pikir aku akan dengan bodoh melepaskan kalian ?
''Jika tidak karna Kakekku aku sudah melenyapkan kalian dengan tanganku sendiri , tapi meski demikian aku akan membuat kalian membayar semua yang telah kalian lakukan pada istriku dari dulu juga atas kematian mertuaku aku pastikan kalian bertiga akan membusuk di penjara''
Erlangga beranjak dari duduknya dengan tatapan penuh amarah ia menatap ketiganya
Burhan , Miranda dan Yola terdiam dengan tubuh gemetar ketakutan tak sanggup menatap sang Tuan Muda
''Robby ,pastikan mereka membusuk di penjara atau perlu berikan mereka hukuman mati aku ingin mereka merasakan apa yang istriku rasakan bahkan lebih sakit dari kematian itu sendiri''
titah Erlangga
'Baik Tuan Muda sesuai keinginanmu''
Robby dengan penuh semangat karna iapun kesal pada ketiga orang dihadapannya itu
__ADS_1
Burhan , istri dan anaknya itu kini jatuh terkulai ke lantai karna syok dengan perintah Erlangga mereka sadar dan tau tak akan bisa lari atau menghindar dari apa yang telah di perintahkan sang Tuan Muda Adhibrata