
Setelah kunjungan Erlangga ke Rumah sakit tempo hari Erlangga selalu memikirkan Dilla entah apa yang terjadi namun ia merasa tidak senang saat mengetahui kedekatan Arya dan Dilla saat di Rumah sakit
''Apa yang terjadi denganku ?''
gumam Erlangga sembari menutup semua berkas-berkas yang ai periksa di meja kerjanya
Robby mengetuk pintu ruang kerja Erlangga dan masuk tanpa menunggu jawaban sang Tuan Muda
''Tuan Muda, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu ''
''Siapa?''
''Aku''
Erlangga dan Robby menoleh ke arah suara mereka terkejut dengan kedatangan Nadia dikantor Adhibrata setelah lama wanita itu menghilang
''Kau ?siapa yang mengizinkan kau untuk masuk kemari ? apa kau Robby?''
tanya Erlangga kesal
''Bukan saya Tuan, yang ingin menemui anda bukan dia tapi Tuan Arya''
ucap Robby
''Suruh Arya masuk dan usir wanita itu dari kantorku bilang pada security untuk jangan pernah membiarkan wanita ini menginjakan kakinya kembali di kantorku''
titah Erlangga
''Baik Tuan, Nona silahkan keluar, anda sudah dengar sendiri apa yang Tuan katakan''
ucap Robby
''Tidak , aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan aku dulu, Elang maafkan aku tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu ''
Nadia dengan memberanikan diri untuk berdiri dan menerobos ruangan Erlangga meskipun sudah dihalangi Robby
''Aku bilang pergi dari sini''
bentak Erlangga
Nadia berhenti di tempat karna teriakan Erlangga yang terdengar menggema diruangan itu Robbypun sama terkejutnya
''Elang, tak bisakah kau memberikan aku kesempatan ? kumohon demi hubungan baik kita dimasa lalu ''
lirih Nadia
''Tidak ada kesempatan untuk seorang penghianat''
Erlangga dengan tatapan dinginnya dan perkataannya yang membaut Nadia tertohok, Robby terpaksa menarik tangan Nadia dengan kasar
''Saya sudah memperingatkan anda Nona, jadi jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar''
Robby menarik tangan Nadia dan menyeretnya ke luar ruangan Erlangga , wanita itu tak menggubris sama sekali peringatan Robby malah berteriak memanggil-manggil Erlangga
''Silahkan anda pergi Nona''
__ADS_1
Robby melepaskan tangan Nadia dengan kasar dan meminta security untuk datang mengusir Nadia, Arya yang sedang menunggu untuk menemui Erlangga di buat terkejut dengan pemandangan itu
''Nona kau ada disini?''
tanya Arya
''Diam kau jangan ikut campur urusanku''
bentak Nadia
''Siapa yang mau ikut campur urusanmu Nona, kau ini terlalu percaya diri''
tukas Arya ketus
''Tuan, mari Tuan Muda sudah menunggu anda di dalam''
ucap Robby
Nadia pergi dengan kesalnya semua orang menatap dirinya dan sibuk menggunjingkan dirinya terlebih dengan di seret dua orang security
Arya memasuki ruangan Erlangga sementara Robby kembali ke ruangan kerjanya
''Lama tidak bertemu Tuan Muda''
sapa Arya
''Jangan basa basi denganku biasa saja , kau tau aku tidak suka hal itu''
tukas Erlangga
''Kau selalu ketus dan arogan El''
Arya menenggak minuman di tangannya
''Inilah aku , terserah orang lain suka atau tidak aku tak peduli''
Erlangga duduk dihadapan Arya
''Baiklah, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu ''
''Apa itu? katakan''
''Ini tentang Dilla dan pesan Sherliya''
Erlangga tertegun ia menatap Arya yang menaruh kaleng minumannya di meja
''Kau tau tentang hal itu?''
tanya Erlangga yang kemudian menaruh kaleng minuman ditangannya di meja seperti yang di lakukan Arya
''Aku tau , tanpa sengaja ''
Arya mengeluarkan kertas yang berisi pesan Sherliya yang Erlangga buang tempo hari dan menaruhnya di meja Erlangga menatap secarik kertas itu dengan perasaan kembali bergemuruh
''Apa kau akan mengabaikan pesan Sherliya untukmu El?''
__ADS_1
tanya Arya saat melihat perubahan raut wajah Erlangga
''Jika kau di posisiku apa kau bisa melakukannya?''
Erlangga balik bertanya
Arya terdiam sejenak dengan pertanyaan Erlangga
''Jika aku jadi dirimu aku akan melakukannya''
ucap Arya santai
''Apa maksudmu?''
''Seperti yang kau dengar aku akan melakukannya karna ini adalah keinginan terahir dari orang yang aku cintai aku tak ingin Sherliya bersedih disana kau tau bagaimana sifat istrimu itukan?''
tutur Arya
Erlangga terdiam
''Aku tau hal ini berat untukmu, tapi yakinlah Sherliya hanya ingin melihat kau bahagia dengan kau menikahi Dilla''
''Ingat saat ini jantung Sherliya masih berdetak dalam diri Dilla karna keinginan Sherliya yang ingin tetap bersamamu meski bukan dirinya tapi melalui Dilla''
''Karna jika hal itu tak Sherliya lakukan maka saat ini bukan hanya kita kehilangan Sherliya saja tapi juga Dilla''
Erlangga menatap Arya dan mendengarkan semua penuturan pria itu
''Lalu kau sendiri bagaimana , bukankah kau dan Dilla sedang menjalin hubungan ? aku tau kau mencintai Dilla''
''Cintaku tulus El, dan aku tak meminta Dilla agar menjadi milikku semua aku serahkan pada Tuhan dan jika Tuhan memang mengizinkan Dilla akan menjadi milikku tanpa aku bersusah payah''
''Aku akan menerimanya dengan bahagia tapi jika Tuhan menginginkan Dilla untuk kau nikahi seperti keinginan Sherliya aku akan merelakannya dengan sepenuh hati''
Erlangga menatap Arya yang berbicara dengan santai namun penuh kedewasaan tak sedikit pun terlihat kebohongan dimata pria itu meskipun saat ini sakit dan hancur sudah perasaan Arya namun ia pandai menutupi sakit hatinya
''Akan aku pikirkan semua ucapanmu Ar''
ucap Erlangga
''Baguslah, aku harap kau bisa memutuskan semuanya dengan baik dan tak menyakiti ataupun mengecewakan orang yang kau sayangi''
Arya beranjak dari duduknya
''Aku pamit dulu , sampai jumpa lagi''
''Hemm... jaga dirimu ''
Erlangga dan Arya berjabatan tangan dan adu tos seperti yang selama ini mereka lakukan jika bertemu
Setelah kepergian Arya , Erlangga duduk merenungkan semua ucapan Arya ia meraih kertas berisi pesan Sherliya dibacanya kembali
Ditatapnya foto pernikahan dirinya dan Sherliya yang terpasang dengan di dinding ruang kerjanya
''Baiklah aku akan melalukan sesuai keinginanmu sayang''
__ADS_1
gumam Erlangga