Takdirku Sahabat Pacarku

Takdirku Sahabat Pacarku
Chapter 40


__ADS_3

Alin kini sedang menangis sesegukan sambil mengadukan apa yang baru dilihat dan didengarnya didepan makam kedua orang tuanya. Karena ia bingung dan tak tahu lagi harus pergi kemana. Alin pikir selama ini Raka tulus dan menyayanginya dengan sungguh-sungguh hingga Alin pun berusaha membuka hatinya untuk menerima Raka namun ternyata disaat Alin sudah jatuh hati dan mencintai Raka ia malah melihatnya sedang bermesraan dengan wanita lain dikantornya.


"Ayah,,,ibu apa yang harus Al lakukan sekarang? Al pikir semua kebahagian ini nyata tapi ternyata semua hanya ilusi apa Al gak pantas bahagia atau mungkin karena Al sempat menyakiti Reyhan? Tapi semua itu juga bukan keinginan Al Yah,,, Bu" adu Alin didepan makam orang tuanya sambil menangis pilu meratapi nasib yang ia alami walau pun Alin sudah berusaha untuk ikhlas dan menerimanya namun ia juga hanya manusia biasa dan cobaan yang dialaminya terasa begitu berat untuk ia pikul sendiri.


Setelah cukup lama menangis dan kini sudah merasa lebih baik Alin pun mulai beranjak untuk meninggalkan makam karena hari juga sudah mulai petang.


"Aaahhkkk" pekik Alin yang merasa sakit dibagian perutnya.


"Sayang kamu baik-baik aja kan di dalam?" Ucap Alin sambil memegang perutnya yang masih sakit.


Alin berusaha berjalan pelan sambil menahan sakit dibagian perutnya walau kesusahan untuk berjalan namun ia tetap mencoba sekuat tenaga untuk meninggalkan makam dan mencari taksi untuk membawanya kerumah sakit terdekat...


***


Disisi lain Raka semakin frustasi dan khawatir karena belum dapat kabar tentang keberadaan Alin apalagi ditambah dengan omelan sang mama yang semakin membuatnya pusing dan tak bisa berfikir jernih karena panik.


"Bagaimana Ka sudah ada kabar?" tanya mama Sarah.


"Belum mah Raka tadi udah cari diapartemen tapi Alin gak ada Raka juga udah suruh orang buat cari Alin tapi belum ada kabar" ucap Raka lesu.


"Sayang kamu kemana sih ini juga udah malem tapi masih belum ada kabar juga mama takut kalian kenapa-napa" keluh mama Sarah.


"Hallo apa Alin sudah pulang?" tanya Raka lewat sambungan telpon pada orang yang menjaga diapartemen Alin.


"Maaf tuan, nyonya belum kembali" saut orang suruhan Raka.

__ADS_1


Tut...tut...


Panggilan langsung terputus secara sepihak. Raka kembali menghungi sahabat-sahabat Alin namun hasilnya juga sama.


"Aaaaahhhhkkkk" teriak Raka semakin frustasi ia merasa gagal untuk menjaga orang yang ia sayangi hingga tanpa sadar buliran bening pun membasahi pipinya. Mama Sarah yang melihatnya pun semakin sesak padahal Raka termasuk anak tegar dan jarang menunjukan sisi lemahnya namun saat ini dia benar-benar lemah tak berdaya hingga sampai menangis didepan mamanya.


***


"Sus,,,suster tolong" ucap supir taksi yang mengantar Alin.


Dua orang suster pun langsung menghampiri mobil taksi yang Alin tumpangi sambil mendorong brankar lalu memindahkan Alin dan menuju ruang perawatan.


"Alin" guman Reyhan yang berpapasan dengan Alin.


"Sepertinya pendarahan tuan, maaf saya permisi dulu" saut suster yang membawa tas Alin.


"Apakah tadi beneran Alin?" Guman Reyhan lagi dan untuk memastikannya ia pun menunggu didepan ruang IGD karena Reyhan tak melihat ada seseorang yang mendampinginya dan hanya diantar oleh taksi.


Reyhan awalnya ingin kembali kerumah orang tuanya untuk memberi kabar dan tidak kabur-kaburan lagi namun saat dijalan ia mengalami kecelakaan kecil sehingga Reyhan harus mengobati lukanya terlebih dulu di rumah sakit dan saat ingin keluar ia melihat seseorang yang mirip dengan Alin. Sejujurnya Reyhan sempat menyesal karena meninggalkan Alin begitu saja tanpa mendengar penjelasan Alin terlebih dahulu dan loss contak dengan Alin sejak kejadian terakhir kali karena ia mengganti nomer ponselnya agar Reyhan bisa melupakan Alin secepatnya namun selama hampir enam bulan Reyhan berusaha Alin tak pernah bisa hilang dari hati dan fikiranya sekuat apapun Reyhan mencobanya.


"Alin" ucap Reyhan spontan saat pintu ruangan dibuka dan terlihat Alin lemah tak sadarkan diri diatas brankar.


"Anda keluarga pasien?" Tanya dokter yang menangani Alin.


"Iya dok" saut Reyhan sambil mengangguk.

__ADS_1


"Bisa ikut keruangan saya sebentar?" Tanya dokter itu lagi.


"Bisa dok" singkat Reyhan yang mengikuti langkah dokter dan masuk ruangan. Sementara Alin kini sedang dipindahkan keruang rawat.


***


"Bu Alin terlalu stres dan tertekan hingga hampir mengalami persalinan prematur tapi untungnya segera dibawa kesini kalau tidak mungkin ibu dan janin akan dalam bahaya" jelas dokter.


"Tapi semuanya baik-baik saja kan dok?" Tanya Reyhan yang sangat shok mengetahui kondisi Alin.


"Iya, tapi tolong usahakan agar bu Alin tak terlalu banyak fikiran agar kondisi ibu dan janin kembali sehat" nasihat dokter.


Reyhan pun langsung menghampiri Alin diruang rawatnya setelah keluar dari ruangan dokter.


Duduk disamping brankar sambil menggegam tangan Alin yang tak terdapat selang infus.


"Apa yang sebenarnya terjadi Lin hingga kamu sampai seperti ini" sesal Reyhan karena tak bisa menjaga Alin seperti janjinya dulu lalu mengecup tangan Alin dan tertidur disamping brankar sambil menggenggam tangan Alin agar tak pergi.


.


.


.


TOLONG SEMPETIN BUAT LIKE,,,VOTE DAN KOMEN YAH BUAT DUKUNG AUTHOORNYA BIAR SEMANGAT BUAT UP. TERIMA KASIH 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2