
Keesokan harinya...
Seperti biasanya Alin sedang membantu Raka untuk bersiap ke kantor dengan memasangkan dasi dan jas Raka.
"Kamu jadi pergi sama mama yank?" Ucap Raka memastikan.
"Jadi lah mas, banyak juga yang mau aku beli" saut Alin.
"Tapi inget gak boleh kecapean" titah Raka.
"Iya mas kamu tenang aja" ucap Alin.
"Yaudah turun yuk" sambung Alin.
"Yuk" saut Raka lalu segera turun untuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya juga.
"Selamat pagi den...non" sapa mbok Yem.
"Pagi mbok" saut Raka dan Alin bersamaan.
"Papa sama mama mana mbok?" Tanya Alin.
"Masih di kamar non" saut mbok Yem.
Raka pun kini sudah duduk di kursi meja makan sedangkan Alin menghampiri mbok Yem didapur yang disekat dengan dinding kaca untuk membuat kopi dan susu.
"Aaahkk" pekik Alin tiba-tiba.
"Kenapa non?" Tanya mbok Yem.
"Sayang kamu kenapa?" Panik Raka yang langsung menghampiri Alin.
"Enggak papa ko mas... mbok cuma tadi dede nya nendang kuat banget" ucap Alin sambil memegang perutnya.
"Yaudah biar simbok aja yang terusin non" saut mbok Yem.
"Duduk dulu yank" titah Raka yang sudah memapah Alin ke kursi meja makan.
__ADS_1
Alin hanya mengagguk menanggapi ucapan mbok Yem dan Raka.
"Masih sakit?" Tanya Raka sambil berjongkok didepan Alin.
"Sayang kalau nendang jangan kenceng-kenceng ya kasian mommy nya jadi kesakitan" sambung Raka lalu mengelus perut Alin dan ikut merasakan gerakan janin yang ada dikandung Alin.
"Udah mendingan mas" saut Alin.
"Lo Al kamu kenapa?" Tanya mama Sarah yang baru tiba.
"Gak papa mah, cuma tadi dedenya nendang kenceng banget" saut Alin.
"Ohw bagus donk tandanya cucu oma sehat didalam ya sayang" ucap mama Sarah yang ikut mengelus perut Alin.
"Udah gak sabar ya mau jalan-jalan sama oma" sambung mama Sarah.
"Itu sih bukan dede nya yang gak sabar tapi oma nya" saut papa Bagas yang kini juga sudah duduk di kursi meja makan.
Mereka pun akhirnya sarapan tanpa ada yang bersuara lagi hanya dentingan sendok dan piring beradu yang terdengar. Setelah itu Raka dan papa Bagas pun pamit untuk pergi ke kantor...
***
Saat mama Sarah dan Alin sedang bersiap dikamar masing-masing.
"Ada apa bi?" Ucap mama Sarah saat membuka pintu kamar nya.
"Maaf nyonya ada tamu" saut bibi yang kerja selain mbok Yem.
"Ohw ya bi" ucap mama Sarah lalu segera menuju ruang tamu sedangkan bibi pergi kedapur untuk membuatkan minuman.
"Maaf cari siapa ya?" Tanya mama Sarah setelah menemui tamu tersebut.
"Selamat siang tante, saya cari Raka, Raka nya ada tan?" Sapa Sesil.
"Siang, Raka nya kerja maaf kamu siapa?" Tanya mama Sarah yang memang baru bertemu Sesil.
"Ohw perkenalkan saya Sesil tan pacarnya Raka" ucap Sesil.
__ADS_1
"Pacar?" Bingung mama Sarah.
"Mah..." panggil Alin yang baru turun dari tangga.
Sesil dan mama Sarah pun menoleh kearah suara.
"Ohw Al sini sayang" saut mama Sarah.
Alin pun menghampiri mama Sarah diruang tamu.
"Kenalin ini Alin istri nya Raka" ucap mama Sarah yang masih kesal karena ada perempuan yang ngaku sebagai pacar putranya.
Sesil pun langsung terkejut dengan ucapan mama Sarah apalagi melihat perut Alin yang sudah membesar membuatnya hanya diam dan mematung.
"Hallo...Alin" ucap Alin memperkenalkan dirinya dengan tersenyum manis karena saat dikantor Alin hanya melihat punggung Sesil.
"Se...sil" ucap Sesil terbata karena ternyata istri Raka lebih cantik darinya.
"Maaf saya masih ada urusan jadi lebih baik anda pulang toh orang yang anda cari tidak ada" ketus mama Sarah.
Sesil yang merasa terusir pun langsung pergi tanpa pamit dengan rasa malu dan kecewa.
Sedang Alin malah jadi bingung dengan situasi saat ini.
"Tadi siapa mah?" Tanya Alin yang masih penasaran.
"Bukan siapa-siapa yaudah jalan yuk" saut mama Sarah.
Alin pun mengangguk sejutu lalu segera pergi ke pusat pembelanjaan yang ada dikota itu dengan mama Sarah.
.
.
.
.
__ADS_1
.