
Malam harinya...
Raka' Alin' mama Sarah dan papa Bagas kini sedang berkumpul diruang keluarga setelah selesai makan malam bersama untuk sekedar ngobrol dan bercengkrama menghabiskan waktu bersama setelah seharian sibuk dengan kerjaan dan rutinitas masing-masing.
"Cucu oma apa kabar? Sehat-sehat ya didalam oma sudah tidak sabar ingin gendong kamu nak" ucap mama Sarah sambil mengelus perut Alin.
"Baik oma dede juga udah gak sabar pengen main bareng oma" saut Alin yang meniru suara anak kecil.
"Oya Al cucu mama cewe atau cowo? Bentar lagikan kamu udah mau lahiran jadi harusnya kita udah mulai buat persiapin semua keperluan si kecil" ucap mama Sarah antusias.
"Emm Al juga gak tahu mah, mas Raka selalu larang dokternya saat ingin kasih tahu" lesu Alin.
"Loh ko gitu Ka, masa dokternya kamu larang" kesal mama Sarah.
"Biar jadi kejutan aja mah yang penting kan dia sehat didalam" saut Raka lalu mengelus perut Alin lembut.
"Gak bisa pokoknya besok kalian harus USG lagi biar tahu cewe atau cowo" titah mama Sarah.
"Ngapain mah kan kemaren waktu Alin dirumah sakit juga udah diperiksa ko" saut Raka.
"Biar kalian dan mama tahu soalnya mama mau ajak Alin buat belanja perlengkapanya nanti, kan gak lucu kalau asal beli" ucap mama Sarah.
"Mah Alin kan baru keluar dari rumah sakit masih butuh banyak istirahat masa udah mau mama ajak belanja aja" ucap Raka.
"Iya mah ucapan Raka ada benarnya juga" timpal papa Bagas yang sedari tadi hanya menyimak.
"Ihh papa ko malah belain Raka sih bukan belain mama" kesal mama Sarah lalu pura-pura marah dan masuk kamarnya.
"Ehh mah masa papa ditinggal sih" saut papa Bagas lalu menyusul istrinya.
Mama Sarah hanya bisa berbuat seperti itu untuk bantu Raka agar hubungannya dengan Alin bisa seperti dulu lagi.
Mama Sarah tahu kalau Alin masih ragu denga Raka walau mereka tak pernah bertengkar didepannya tapi mama Sarah tahu hubungan mereka kini masih jarak.
Raka lalu mengajak Alin untuk istirahat juga dikamar.
__ADS_1
"Habisin dulu susunya Yank" ucap Raka.
Alin hanya mengangguk menuruti ucapan Raka lalu menghabiskan susunya.
"Yank mau sampai kapan kamu diamin mas terus?" Lesu Raka.
"Udah ya marahnya mas beneran udah gak ada hubungan apapun dan yang kemarin kamu lihat hanya salah paham aja" jelas Raka.
"Yank mas kangen banget sama kamu jangan seperti ini terus ya" sambung Raka dengan nada sidikit memohon lalu memeluk Alin dengan manja.
"Udah mas geli" tolak Alin saat Raka menyusupkan kepalanya dileher Alin.
"Tapi jangan marah lagi ya mas cuma cinta dan sayang sama kamu" tulus Raka.
Alin mengangguk menanggapi ucapan Raka.
"Serius Yank" Raka memastikan.
"Iya mas" ucap Alin.
"Udah mas aku gak bisa nafas" ucap Alin.
Raka lalu melonggarkan pelukannya dan mencium bibir Alin dengan lembut.
"Makasih Yank mas janji gak akan ada kejadian kaya gini lagi yang bikin istri mas jadi sedih dan maaf ya karena mas kamu dan anak kita hampir celaka" ucap Raka.
Sebenarnya Alin sudah memaafkan Raka sejak pertama kali Raka menjelaskannya namun entah kenapa hati Alin jadi bimbang setelah kehadiran Reyhan namun setelah beberapa hari Alin mendiami Raka ia semakin yakin kalau Raka lah yang sekarang ia cintai dan Reyhan hanya masa lalu nya saja. Alin hanya merasa bersalah terhadap Reyhan dan setelah Alin menjelaskannya ia pun merasa lega dan tak terbebani seperti sebelumnya...
***
Keesokan harinya...
Reyhan kini tengah bersiap karena akan kembali masuk lagi kekantor dan membantu papanya diperusahaan Anggara grup.
Lalu menghampiri mama dan papanya yang sedang sarapan.
__ADS_1
"Pagi mah...pah.." sapa Reyhan.
"Pagi Rey" saut papa Angga.
"Pagi sayang ganteng banget anak mama" puji mama Dina.
"Kamu udah mulai ngantor lagi?" tanya papa Angga.
"Iya pah" saut Reyhan.
"Bagus kalau gitu papa seneng dengernya" ucap papa Angga.
Mereka pun mulai sarapan tanpa ada yang bersuara hingga selesai lalu ayah dan anak itu pamit untuk kekantor yang sama dengan mobil masing-masing. Reyhan memang masih menjabat sebagai wakil direktur karena ia selalu menolak saat papanya ingin mengangkatnya sebagai direktur atau CEO diperusahaan papanya. Reyhan hanya tak ingin terlalu terbebani dengan hal-hal seperti yang diceritakan oleh Raka dulu dan ia sendiri juga masih belum siap untuk menanggung beban sebesar itu, lagi pula papanya juga masih muda dan masih bisa menangani perusahaannya jadi tugasnya hanya untuk membantu papanya dan belajar banyak hal agar bisa sukses seperti papanya.
.
.
.
TERUS DUKUNG AUTHOOR DENGAN
LIKE.....
VOTE.....
DAN KOMEN....
BIAR AUTHOORNYA SEMANGAT UNTUK UP TIAP HARI.
TERIMA KASIH 🤗🤗🤗🤗🤗
 
 
__ADS_1