Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Menentukan pilihan


__ADS_3

"aku.....Dika, Mahardika"ucap pria itu yang tak lain adalah Dika,bernama lengkap Mahardika Hardja


"terimakasih sudah mengingat kan ku,Dika"Vani tersenyum tulus


"tidak masalah,sudah kewajiban kita untuk tolong menolong"jawab Dika tersenyum


"dia begitu baik,berbeda dengan Adyan apa yang harus aku lakukan"


"aku harus pulang,senang bertemu dengan mu,sampai jumpa"ucapan Dika membuyarkan lamunan Vani


"oh ya,semoga kita bisa bertemu kembali"ucap Vani dengan senyum tulus,melambaikan tangan nya ke arah Dika yang sudah masuk kedalam mobil nya


"kita akan bertemu lagi,jika memang sudah ditakdirkan"batin Dika


di dalam kamar yang bernuansa biru tua dicampur bintang dan bulan,kesunyian dan kesepian selalu terjadi,seorang perempuan tengah merenungi perasaan nya,menghadap ke arah balkon dengan jendela terbuka.

__ADS_1


hembusan angin menerpa wajah,tak kunjung membuyarkan lamunan gadis cantik itu,tak lama mamahnya masuk ke dalam kamarnya,membuat sang empunya menoleh ke arah pintu.


"Vani sayang,sedang apa nak"tanya mamah Vani lembut,mengelus rambut Vani yang berterbangan diterpa angin malam


"aku sedang merenung mah"Vani menjawab dengan murung pertanyaan mamahnya


"ada apa sayang?cerita pada mamah nak"lagi lagi kalimat lembut penuh makna keluar dari bibir mamah Vani


Vani diam sejenak,berfikir untuk menceritakan atau tidak,sampai akhirnya dia memutuskan untuk bercerita pada mamahnya,karena bagaimanapun baik buruk anaknya,orang tuanya harus tau.


"pilihan apa,ceritakan pada mamah"mencoba meyakinkan anak semata wayangnya untuk bercerita


"Vani mencintai orang yang tidak mencintai Vani.jangankan untuk mencintai,dia melihat ke arah Vani aja ngga mah"Vani semakin murung kala mengingat perilaku adyan terhadapnya


"Vani terkadang merasa seperti orang bodoh yang mencintai dan memperjuangkan seseorang yang ntah hatinya untuk siapa"Vani tertawa miris

__ADS_1


mamah Vani hanya mencermati perkataan Vani dengan elusan elusan lembut pada kepala Vani yang bersandar pada bahu nya,bagaimanapun anaknya ini butuh seseorang untuk menyemangati dirinya.


"Vani harus bagaimana mah,menyerah atau terus memperjuangkan perasaan Vani"Vani menoleh ke arah mamanya dengan mata yang berkaca kaca


"sayang,dengarkan mama,apakah kamu benar benar mencintainya?"Vani membalas dengan anggukan


"tidak ada cinta tanpa air mata sayang,berjuanglah jika kamu masih sanggup,berhenti jika sudah lelah.orang yang tidak mencintaimu tidak bisa dipaksa untuk jatuh cinta kepadamu"Vani diam,merenungi setiap perkataan mama nya


"tidak akan ada kebahagiaan jika tidak ada kesedihan sayang,semangat mama selalu ada untuk mu,mendukung apa yang membuat mu senang,selama itu tidak membahayakan dirimu"Vani berbalik menatap mamanya dengan mata berkaca kaca


"mama..."mama Vani merentangkan tangannya,dan Vani berhambur ke pelukan mamanya


"terimakasih mah, terimakasih karena sudah selalu ada untuk Vani,selalu mendukung Vani dan selalu bisa meluangkan waktu untuk Vani,mamah orang yang paling berarti bagi kehidupan mama,jika tanpa mama hidup Vani akan tanpa arah dan petunjuk"Vani menangis dalam pelukan mamanya.


Lidya tersenyum dibalik pelukan anaknya,masih tidak menyangka anak nya kini sudah menjadi gadis yang menangis karena cinta bukan anak kecil yang menangis karena luka,tidak menyangka bisa melewati pahitnya hidup hanya dengan putri kecilnya

__ADS_1


"sudah,sekarang tidur ya,masih banyak jalan yang harus kamu lewati,tetap semangat"Lisda mencium kening anaknya dan menidurkannya kemudian beranjak menuju jendela balkon untuk menutupnya.


__ADS_2