
Zara keluar kamar Nania yang disusul Zachry, Nania dan Leon.
"Sayang, tunggu aku bisa jelaskan". Katanya mengikuti langkah lebar Zara yang masih saja diam menatap lurus.
Dibelakang diam-diam Nania tersenyum, beberapa jam lalu saat efek obat itu bekerja, dia meminta Aariz membawa Zachry ke kasurnya, membuka sedikit kancing baju dan membiarkannya tertidur.
Sebenarnya tadi Nania terkejut mengetahui Zara sudah sadar secepat itu, sedang rencananya belum sepenuwhnya berjalan.
Tapi karena sudah seperti ini dia tetap merasa bahagia, jika nantinya Zachry marah, setidaknya Zara sudah tidak ingin melihat suaminya.
"Jangan bilang kau yang merencanakan ini Nania". Bisik Leon pada Nania yabg masih mengikuti pasangan di dedepannya.
"Kau salah faham". Hanya itu yang Nania ucap
Diruang tengah sudah terlihat tetua menunggu, mereka senang melihat Zachry tapi juga merasa heran karena anak menantunya terlihat tidak baik-baik saja.
"Zachry kau dari mana?" Tanya Mom Luna , didalam hatinya sudah merasa ada yang salah.
"Zara, kau-".
"Mom aku akan pulang bersama Leon, Zara lelah". Katanya masih megabaikan Zachry
"Tidak, biar kita pula-". Zachry tidak terima karena istrinya akan kembali bersama Leon walaupun mereka sepupuan.
Belum juga selesai dia berbicara Zara sudah berjalan keluar meninggalkannya, Leon masih diam tidak tahu harus bagaimana?.
"Ada apa sebenarnya?" Kini Dad Edgar yang bertanya, dia yakin ada sesuatu yang membuat anak menantunya terlihat seperti itu.
"Tadi, maaf Dad, itu ..." Nania terbata-bata.
Tampa mendengar penjelasan Nania, Zachry sudah keluar mengejar istrinya. Namun langkahnya terhenti saat melihat apa didepan matanya
Dengan langkah cepat, dia meraih istrinya dan melayangkan satu tinjuan pada wajah Aariz. Agatha yang melihat itu terkejut dan memekik keras.
"Sudah berapa kali kuperingatkan, jangan menyentuh istriku BRENGSEK".
'Bug
Jika biasanya Aariz akan diam saat ini dia akan melawan. tidak akan dia biarkan wajahnya kembali hancur.
Aksi saling pukulpun terjadi. Jam tiga dini hari harusnya mereka masih tidur dengan nyenyak namun kini saling pukul terjadi.
"HENTIKAN". Zara berteriak karena sudah lelah melihat mereka terus saling menyerang.
Mendengar ada keributan semua orang yang didalam keluar berhamburan. Mereka terkejut mendapatkan perkelahian disana.
Setelah berusaha untuk dipisahkan mereka semua kembali membawa Zachry dan Aariz kedalam rumah di ikuti oleh Zara, dan Agatha.
__ADS_1
"Jelaskan ada apa?" kata Dad Edgar.
Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, membuat semua orang tidak sabar.
"Zachry, bisa jelaskan kenapa kau keluar dari kamar Nania?" Kini Mom Luna yang berbicara.
"Mom, semalam aku, maafkan aku ini salahku". Jawab Nania ambigu.
"Apa maksudmu? Kalian dikamar yang sama semalam, begitu?" Mom Angnes tidak percaya
"Mom maafkan aku". Nania tertunduk.
"Tidak terjadi apapun, kalian hanya salah faham, Sayang percayalah". Kata Zachry terus saja menatap Zara yang seolah tidak ingin melihatnya.
"Mom, Dad, Zara akan kembali lebih awal". Kata Zara berdiri dan meninggalkan semua orang, disusul Agatha dan juga Aariz. Mereia membiarkan Zara oulang karena ada auoir yang akan mengantarnya.
Namun saat Aariz berdiri Zachry dengan cepat menghentikannya "Kau mau kemana?"
"Maafkan saya Tuan, saya harus kembali, saya harus membuka toko lebih awal, Nona Nania terima kasih". Katanya melangkah setelah yang lain mengangguk dan meminta maaf atas perbuatan Zach.
Disinilah Zara sekarang diapartemen Agatha, entah apa yang membuatnya sampai dia ingin ikut bersama kekasih mantannya. Dengan menyuruh supir keluarga pulang dan beristrahat saja.
Tidak mungkin juga dia akan ke Mansion orang tuanya, dan ya dia tidak akan berani jika harus kembali ke mansion suaminya sendiri, tidak Zara tidak akan berani.
Dia semakin kesal saat tahu bahwa Zachry tidak mengikutinya tadi.
Zara mengambilnya, dan meminumnya, kemudian dia tersadar. "Dimana Aariz? Dia sudah kembali?" Tanya nya. Memang Aariz yang membawa mereka berdua ke apartemen Agatha.
"Aku disini". Katanya keluar dari dapur.
Zara meringis melihat bagaimana banyaknya luka diwajah mantannya.
"Maafkan dia". Katanya merasa tidak enak.
"Aku tahu kau akan membelanya walau sebenarnya dialah yang salah".
"Bukan dia yang salah, tapi aku". Katanya kemudian menghela nafas pelan.
"Kalau begitu, kau bertanggung jawab mengobati lukaku". Katanya mendekat masih menatap wajah sendri itu.
"Aariz, kau punya kekasih minta tolonglah padanya". Kata Zara bersidekap.
"Kami bukan kekasih". Aaris dan Agatha bersamaan, membuat Zara berdecak.
"Siapa yang akan kalian bohongi". Zara akhirnya mengambil kotak obat yang masih diatas meja, karena Agatha tidak juga bergerak.
Agatha yang melihat itu, undur diri ke dapur, walaupun dia sering melihat Aariz dan Zara bersama saat di toko, namun saat mengetahui Zara sudah menikah rasanya ada yang salah.
__ADS_1
"Kekasihmu akan salah faham padaku". Menekan sedikit keras luka Aariz".
Aariz meringis karena itu. "Diamlah, aku hanya mengoleskan salep". Kata Zara melihat Aariz yang bereaksi berlebihan.
"Aku tidak tahu kenapa setelah menikah kau sangat kasar". Masih menahan rasa perihnya. Karena Zara seperti sengaja melakukannya.
"Agar kau sadar, aku milik orang lain".
Menghela nafas pelan "Bisakah kita tidak membahas ini". Kata Aariz menghentikan tangan Zara.
"Tidak, sampai kau berhenti berbuat aneh".
"Karena aku mencintaimu, berapa kali aku katakan aku mencintaimu, tidak perduli sekarang kau milik siapa, aku akan mendapatkanmu". Desisnya kemudian berdiri dan meninggalkan apartemen Agatha. Sudah hampir pagi, Aariz kembali saja.
Menghela nafas menatap punggung yang semakin menjauh.
"Harusnya kau ingat, kaulah yang membuat hubungan kita seperti ini, kau yang menyerahkanku menjadi milik orang lain". Gumamnya menyandarkan punggung disandaran sofa. Mata indah itu tertutup dan terdengarlah dengkuran halus.
"Nona in-" Agatha datang membawa cemilan, mungkin saja tamunya lapar, tapi dia hanya melihat gadis beruntung itu tertidur di sofanya dengan cara duduk.
Dilain tempat, Zachry tengah memijit pangkal hidungnya. Sudah hampir pagi dan mereka masih membahas kesalah fahaman ini. Mereka sudah kembali ke mansion utama.
"Sekarang jujur, apa yang kalian berdua lakuakn dikamar?"
Menghela nafas jengah.
"Mommy, Tidak terjadi apapun, aku ketiduran".
"Yah kau memang ketiduran, tetapi kenapa harus dikamar Nania?" bentak Mom Luna.
"Mom, Aku hanya membantunya kekamar, dia terjatuh dan aku membawanya kesana".
"Ya ya...kau membantunya, kau ketiduran tapi kenapa dikamar Nania". Mereka terus saja mendebat tentang itu sampai pagi menampakkan diri.
"Sudah cukup, kalian mengerti atau tidak, aku akan tetap mengatakan aku merasa sangat mengantuk dan tertidur".
Setelah mengatakan itu Zachry keluar, dia akan pulang, dia akan menjelaskan ini pada Zara. Dia yakin Nania sengaja melakukan ini padanya, dan anehnya kenapa semua orang tidak menyadari.
Sampai di mansion Zachry langsung naik kelantai dua, dia melangkah cepat dia yakin semalaman Zara tidak bisa tidur. Dia tahu istrinya takut sendiri.
Dia membuka pintu tetapi tidak mendapatkan siapaun didalam. "Sayang.." dia mencari ke kamar mandi juga kosong. Perasaannya mulai tidak enak.
Dimana dia? Apakah dirumah mertuanya?
Dia yakin Zara tidak akan mungkin kesana, lalu dimana dia? Tiba-tiba dia mengingat kemungkinan terburuknya
"Aariz....".
__ADS_1