
Zara semakin beringsut mundur, tatapan Zachry sangat tajam, seperti menelanjanginya. Sedangkan Zachry sudah terbawa emosi wanita didepannya sudah membuat kesabarannya habis, wanitanya mengaku tidak akan pernah mencintainya, tidak ingin disentuh, dan sekarang dengan berani bertemu dengan laki-laki lain dibelakangnya.
"Zachry...maafkan aku". Air mata Zara sudah menetes dari tadi, dia sangat takut melihat bagaiman marahnya Zach.
Zach semakin me dekati istrinya, lebih dekat. Hingga nafas hangat zach bisa dirasakan oleh Zara diwajahnya.
Zachry menatap wajah istrinya, Zara masih menunduk. "Lihat aku". Kata Zach sudah duduk didepan Zara.
Zara mendongak "Maafkan aku...".
Zack menarik tubuh Zara dalam pelukannya, Membuat Zara terpaku dia sudah menyangka bahwa Zach akan melampiaskan emosinya dengan melukainya tadi. Tetapi ini....
"Apakah benar aku memang tidak pantas bersamamu, hum? Tanya Zach lembut mengelus rambut panjang Zara.
"Apakah dia memang lebih baik dari pada aku?" Tanya nya kemudian.
Zara masih terdiam didalam pelukan Zach yang sangat hangat, tangisannya sudah mereka saat merasakan pelukan Zach tadi. Ada sesuatu yng berbeda yang dia rasakan. Entah apa. Yang dia tahu dia merasa aman dalam pelukan Zachry
"Kau tahu aku sangat mencintaimu, jauh sebelum kalian memutuskan bersama". Zara tahu itu karena Zach pernah menjelaskannya. Dia diam mendengar penjelasan selanjutnya
"Aku memang egois karena merebutmu darinya, aku tahu kau sangat mencintainya, tetapi bagaimana dengan cintaku?" bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau akan kembali menjadi milikku saat aku menemukanmu?
Zara melepas pelukannya Zach, menatap Zachry dengan tatapan bingung. "Apakah ada yang salah? Kapan aku mengatakan bahwa aku akan kembali?" Gumam Zara dalam hati.
"Apa maksudmu? Kapan aku mengatakan itu? Jangan berbohong karena kita tidak seakrab itu sebelumnya".
Zach hanya tersenyum kecut. Hatinya mencelos mengetahui bahwa gadis manisnya melupakan dirinya. Dia tidak mengenalinya.
"Kau melupakanku? Tanya Zach kemudian melihat Zara semakin bingung.
"Tidak ku sangka kau dengan mudah melupakanku, dan terbukti saat kau sudah mencintai lelaki brengsek itu".
"Jangan menyebutnya dengan kata-kata kasar, kau tidak mengenalnya". Zara beram karena lagi-lagi Zach mengatai Aariz dengan umpatan.
"Lalu, harus ku panggil apa dia, hah?" Suara Zach meninggi karena tidak terima lagi-lagi Zara membela mantan kekasihnya
"Harus ku sebut apa laki-laki yang dengan berani mengajak istriku bertemu? Bahkan saat kita sudah bertunagan dia dengan kurang ajarnya memeluk dan menciummu mesra".
Deg
__ADS_1
Zara memaku, bagaimana Zach tahu. Bukankah saat itu mereka diruangan Aariz dan hanya berdua.
"Kenapa kau diam? Apa kau fikir aku tidak mengetahui perbuatan bejat kekasihmu?". Tatapan Zachry sinis menatap istrinya yang semakin pucat.
"Kau mendewakan lelaki yang menurutmu sangat baik itu, sampai kau menutup mata saat kau tahu bahwa dia dan karyawannya melakukan hal panas didalam ruang kerja yang biasa kalian tempati bercinta?" Ejek Zach sinis.
"Ah..atau kau memang menyukainya karena dia lebih bisa memuask-"
"Stop Zachry..Berhenti. Kau tidak punya hak apapun mengatainya". Teriak zara akhirnya
"Kenapa? Karena sebejat apapun dia kau akan terus mencintainya begitu?" Tantang Zach lebih keras.
"Berhenti..aku bilang berhenti". Pekiknya dengan suara lebih melengking.
"Hah, sudahlah.. Jika kau memang berniat menemui kekasihmu lagi pergilah.. Tapi kau akan melihat bagaimana aku akan membunuhnya didepanmu". Hardik Zachry keluar dari kamar membuat Zara terperanjak karena kerasnya suara pintu yang dibanting.
***********
Di apartemen mewah milik Aariz, seorang wanita terlihat sangat geram, dia terus mengomel sejak pertama kali melihat luka lebam di wajah tampan teman Prianya.
"Kau masih belum sadar juga?"
"Diamlah, atau pulang saja karena kau tidak punya waktu mendengarkan ocehanmu". Aariz memperbaiki duduknya setelah melihat Agatha menyimpan kembali kotak p3k di dalam nakas.
"Kau tahu jawabannya".
"Apakah kita tidak bisa bersama lagi?" Tanya Agatha penuh harap.
Aariz menoleh ke arah Agatha yang masih menatapnya dengan rindu.
"Kau sudah tahu bahwa saat itu aku tidak berselingkuh darimu, tetapi kenapa hatimu masih belum menerima ku kembali?
Menghela nafas panjang Aariz menjawab "Dulu aku memang sangat mencintaimu, tetapi jika kau bertanya apakah aku masih mencintaimu atau tidak maka jawabannya aku sudah tidak bisa". Jawabnya lugas. Tentu saja membuat Agatha kecewa
"Kenapa? Apa yang salah?"
Aariz hanya menghela nafas. Karena Agatha tahu betul alasannya.
"Aariz......".
__ADS_1
Tampa tahu malu Agatha mendekatkan diri lebih dekat dengan Aariz. Tangannya dengan nakal meraba dan membuat pola di dada bidang itu. Aariz refleks mendongak dan memejamkan mata.
Entah siapa yang pertama kali memulai dua benda kenyal itu menyatu, saling menuntut dan saling melepas nafsu.
Setelah pangutan itu terputus, Agatha tersenyum melihat bagaimana Aariz membersihkan bibirnya yang basah dengan ibu jari.
"Apa yang kau harapkan dariku?" Tanya Aariz
"Tentu saja dirimu". Jawab Agatha lugas.
"Aku tidak pantas untukmu, kau akan tersiksa".
"Dan aku bersedia tersiksa asalkan selalu berada sisimu".
Mereka kembali berciuman dengan panas.
*********
Keesokan paginya Zara bangun dengan kepala yang sedikit pening, semalaman dia menangis. dia mengedarkan pandangannya, hanya dia sendiri. Beranjak dari kasur kekamar mandi, membersihkan diri.
Setelah mandi dia merasa lebih baik sekarang. Menggenakan pakaian santai dan melangkah turun ke dapur.
Didapur dia hanya sendiri. Zachry hanya memiliki satu asisten rumah tangga, tetapi saat Zara menjadi Nyonya. Dia meminta agar tidak memperkerjakan asisten rumah tangga karena Zara suka melakukan sesuatu sendiri.
Menghela nafas panjang, melihat sekeliling hanya ada dirinya sendiri, Zachry sudah pasti berada di kantor sekarang. Sebulan menikah Zara merasa hampa, mereka lebih banyak diam-diaman te tu saja karena Zara yang tidak ingin melakukan banyak komunikasi. Mereka didalam kamar bersama, diranjang yang sama, namun seperti orang asing.
"Haruskah aku membuka hati sekarang?" gumamnya sambil membersihkan meja makan.
"Aariz.. Haruskah...?
Setelah menyelesaikan rutinitas didapur, setelah selesai sarapan. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke seseorang lalu dia melangkah keluar dan melajukan mobil kesuatu tempat.
Disebrang sana, sesorang meraih ponsel mahalnya dan membaca pesan masuk dari seseorang. Hanya senyum tipis yang tercetak, walaupun sangat tipis tetapi masih bisa dilihat jika benar-benar diperhatikan.
Sampai ditempat tujuan, Zara turun dari mobil dan melangkahkan kaki jenjangnya dan menghampiri seseorang yang sedari tadi menunggunya.
"Apakah aku terlambat?" Tanya Zara langsung duduk disampingnya.
"Aku juga baru saja sampai". Jawabnya sambil tersenyum melihat ke arah Zara.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu? Apakah kau bahagia? Maafkan aku karena waktu itu tidak bisa menolongmu?"
"Aariz...Ayo kita pergi jauh....".