
Setelah kejadian itu, Zachry lebih banyak diam. Bahkan lebih suka pulang larut malam melupakan sarapan dan makan malamnya bersama Zara.
Awalnya Zara memaklumi karena dia mengira Zachry sibuk dengan pekerjaannya di kantor, tetapi ini sudah seminggu, bahkan anniversary pernikahan mereka yang sebulan pun Zachry melupakannya, padahal sebelumnya dia yang meminta Zara menyiapkan diri agar saat waktunya tiba mereka akan keluar makan malam.
"Kau akan pergi tampa sarapan lagi?" Cetus Zara melihat Zachry sudah menuruni tangga, disana sudah ada Leon diruang tamu menunggu sepupunya. Juga jangan lupakan Nania yang duduk disamping Leon dengan pakaian formalnya.
"Kalian sarapanlah dulu". Ajak Zara ke arah Nania yang terus saja menatap suaminya.
"Kakak Ipar, kami buru-buru kami akan sarapan diluar". Leon yang menjawab karena baik Nania bahkan Zachry tidak ada yang menoleh padanya.
"Tapi aku sudah me-"
"Ayo berangkat, jangan biarkan klien kita menunggu". Putus Zachry kemudian tampa berbalik ke arah Zara. Dia melangkah cepat disusul Nania disampingnya dan Leon dibelakang mereka. Leon seperti tengah mengekor pada sepasang suami istri.
Zara hanya menghela nafas panjang melihat punggung suaminya yang memasuki mobil di susul Nania disampingnya.
Dia melangkah masuk dapur dengan wajah tertekuk, dia akan sarapan sendiri lagi. Setelah menyekesaikan sarapannya dia naik ke kamar dan membersihkan diri, dia akan ke perusahaan Daddy nya. Setidaknya disana dia tidak merasa sendiri.
Zara memang menyadari selama ini dia sudah sangat keterlaluan. Dia sudah menerima Zachry sebagai suaminya tetapi tidak untuk melakukan hubungan intim sampai dia benar-benar yakin dengan keputusannya. Lalu apakah dia akan segera yakin sementara dihatinya masih dimiliki masa lalunya. Sekali lagi dia menghela nafas panjang.
********
Dikantor, Zachry mendudukkan diri dikursi kebesarannya. Memejamkan mata dengan satu lengan diatas dahi. Leon dan Nania sudah duduk di sofa memperhatikan sahabat mereka yang tidak biasanya seperti itu.
"Zach, jadi dimana ruanganku". Nania sudah berdiri disamping Zachry, Iya dia akan bekerja di Perusahaan, sudah sejak lama dia meminta tapi tidak pernah berhasil, namun siapa sangka semalam Zachry menghubunginya dan memintanya datang ke kantor bekerja.
Zachry membuka mata, dia baru sadar saat melihat penampilan lain dari sahabatnya ini. Menegakkan badan lalu melirik ke arah Leon.
"Kenapa menatapku?" Tanya Leon karena tatapan Zach seperti meminta pendapat padanya.
Sebenarnya Leon juga tidak tahu kenapa Nania bisa diterima di kantor sedangkan tidak ada posisi kosong saat ini.
"Kenapa kalian saling tatap?" Nania memperhatikan kedua sahabatnya secara bergantian
__ADS_1
"Zachry, kau yang memintaku semalam datang, kenapa harus menatap Leon".
Menghela nafas panjang, sebenarnya Zachry memanggil Nania bekerja di kantornya karena sudah tidak tahu bagaimana cara menghentikan gadis ini mengekor tiap hari. Jadi fikirnya mungkin jika Nania diberi tugas maka dia akan lelah nanti.
"Ah iya, aku anak menjadikanmu asisten Leon". Jawabnya enteng. Tapi mendapatkan kebingan dari dua orang di ruagannya.
"Ya, kau akan bekerja dibawah Leon. Jadi pekerjaan Leon akan sedikit lebih mudah berkat kehadiranmu".
Setelah menimang-nimang akhirnya Nania mengiyakan, asal tiap hari bersama Zach.
Semenjak kehadiran Nania di kantor Leon juga menjadi lebih bebas karena tidak perlu lagi lembur sampai malam, dia membagi tugas dengan nania, dan untungnya gadis manis itu selalu bisa diandalkan.
Siang itu mereka makan siang bersama di cafe yang dekat dengan kantor, Nania yang traktir karena sudah diterima bekerja.
Mereka bertiga menikmati makan siang mereka. Nania duduk disamping Zach walaupun sebelumnya Zach sudah menolak. Tetapi Nania bukan orang yang akan menyerah begitu saja kalau ditolak.
Tampa sengaja Zach menangkap sosok yang sangat dikenalnya baru saja memasuki cafe dan duduk disudut dengan membelakanginya. Zach terus menatap nya memperhatikan semua gerak geriknya. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah kehadiran seseorang yang baru saja datang dan duduk di depan Wanitanya.
"Bukankah dia istrimu". Tanya Nania yang menangkap arah pandang Zach
Sebenarnya Nania sangat terkejut saat melihat pria yang bersama Zara, tetapi dia mencoba menetralkan diri agar tidak terlihat mencurigakan. Dia hanya ingin melihat bagaimana sikap Zach saat melihat wanita yang di nikahinya bertemu pria lain.
Leon berbalik, ke arah pandang keduanya dan dia juga terkejut karena mengetahui siapa pria yang bersama Zara.
Tampa menunggu lama, Zach berdiri dan melangkahkan kaki lebar ke arah wanitanya mengabaikan tangan Nania yang berusaha menghentikannya.
"Kau disini?". Zach mencium pucuk kepala istrinya dan duduk bersebelahan.
"Ka-kau...bagaimana?". Zara melupakan sesuatu Cafe ini memang dekat dengan perusahaan Zach. Sebenarnya tadi dia akan ke perusahaan Daddy nya. Tetapi tiba-tiba saja Aariz memintanya bertemu di tempat ini. Zara yang sudah merindukan Aariz tampa berfikir langsung mengiyakan.
"Kami tidak sengaja bertemu". Jawab Zara akhirnya mehatap Aariz.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang?". Ajak Zach sudah berdiri memegang tangan istrinya.
__ADS_1
Aariz yang melihat Zara yang enggan beranjak lantas ikut berdiri. "Lepaskan tangannya". Pinta Aariz tidak melihat kondisi.
"Kenapa harus, dia istriku, aku bahkan lebih berhak atasnya". Suara Zach datar dan dingin menatap Aariz
"Kau lihat dia tidak ingin kembali, biarkan dia duduk dan makan".
Zach beralih menatap Zara "Kau pilih, pulang denganku secara suka rela atau aku akan menggendongmu pulang?".
Aura di sekitar mereka berubah mencekam karena Zara tidak juga bersuara. Dia terlalu takut melihat tatapan Zachry
"Zach, biarkan saja, dia bisa pulang nanti, lagi kita ada rapat setelah ini". Nania tampa malu memegang lengan Zach didepan Zara dN pria yang pernah menghabiskan malam dengannya.
"Nania, jaga batasanmu?". Suara Zach datar
"Lepas Nania". Zach kembali menekan kata-katanya karena Nania tidak juga bergeming.
"Tuan Zach to-".
'Bug..
Satu tinjuan tepat mendarat di wajah Aariz.
"Aku sudah sering memperingatimu brengsek, jangan dekati istriku".
Mereka berdua terlibat saling pukul, walau Zach lebih unggul. Zara berteriak meminta seseorang memisahkan suami dan mantan kekasihnya tetapi tidak ada yang mendekat karena sebelumnya Zach sendiri yang ingin membereskan Aariz dengan tangannya.
"Zachry aku mohon". Zara memegang lengan Zach yang sudah siap melayangkan pukulan lagi. Melihat Zara yang menghalanginya membuat Zach semakin murka. Dia memberi tinjuan terakhir sebelum menyeret Zara kembali ke mansion.
Sampai dikamar, Zach melempar tubuh Zara kekasur dengan kasar. Membuang jas dan membuka kemejanya dengan cepat sampai dia benar-benar bertelanjang dada.
Zara yahg melihat itu meneguk ludah dengan kasar.
"Zachry maafkan aku, Kau salah faham". Ucap zara terbata-bata
__ADS_1