
Selesai sarapan Zara dan Zachry sudah bersiap akan kembali ke Mansion karena sudah waktunya masuk kantor, Zachry akan mengantar istrinya pulang terlebih dahulu kemudian ke kantor memang akan ada rapat mendadak.
Zara yang masih kesal dengan dirinya yang tiba-tiba saja merasa cemburu hanya diam saja. Dia tidak ingin membahas apapun dan Zachry menyadari ada yang salah. Tapi dia tidak tahu apa.
"Kalau kau memang sibuk aku bisa pulang sendiri. Lagi aku akan mampir ke toko sebentar, tiba-tiba ada sedikit masalah". Zara mendengar suaminnya menelpon dengan Leon dan sepertinya sangat mendadak.
"Toko?" Seketika aura mencekam diantara mereka. Seperti biasa Zachry tidak akan bisa membiarkan istrinya kembali ke toko itu. Tidak untuk membuat mereka berdua bertemu. Membayangkan itu saja emosi Zachry naik.
Dan Zara menyadari kemarahan suaminya.
"Jangan lupa, aku adalah salah satu pemiliknya. Daddy lebih banyak membantu didalam, dan Aariz tidak bisa ke toko karena menjenguk ibunya, Lalu siapa yang akan menghendel jika kami sebagai pemilik tidak disana?" Jelas Zara panjang lebar. Dia sangat kesal.
"Dia memberitahumu?" Maksudnya Aariz. Apakah pria itu berani menghubungi istrinya diam-diam?.
"Ayolah, aku hanya akan melihat apa yang terjadi, setelah itu aku akan kembali".
Zachry masih diam, jelas dia tidak akan setuju. Tetapi tidak ada salahnya mengizinkan setidaknya dia tahu bahwa mereka tidak akan bertemu nanti. Bukankah mereka harus saling percaya.
"Kaunyakin dia tidak disana?" Maksunya adalah Aariz
"Yakin". Jawab Zara mantab. Tapi masih terlihat sangat dingin.
"Zach, boleh aku menumpang dimobilmu? Kita searah dan supirku sepertinya mendapat masalah dan aku sangat terburu-buru". Alena datang dengan pakaian yang terlihat sangat mencolok, memang semalam dia meminta supirnya membawakan pakaian ganti untuknya. Dan entah kenapa sekarang supirnya bermasalah.
Bukan tampa alasan Alena meminta ikut tadi dia mendengar sedikit perdebatan mereka, dan sepertinya Zachry akan dimobil sendiri. Ini kesempatan.
Zachry tidak menjawab dia hanya menatap Zara yang terlihat sangat acuh.
"Zach bagaimana?" Alena masih berjuang.
Masih tidak mendapat respon apapun dari Zara sampai taksi yang sebelumnya Zara pesan tiba. Wanita itu tampa mengucapkan apapun melangkah masuk. Dan berlalu meninggalkan Zachry yang masih diam menatapnya.
Zachry memang sengaja tidak merespon permintaan Alena karena ingin lihat bagaimana reaksi istrinya. Dan benar saja wanitanya dalam mode tidak baik. Tapi kenapa?
"Zach..". Alena menegur jelas dia tahu Zachry dalam suasana hati buruk tapi tidak ada salahnya dia mencoba.
"Naiklah...".
Setelah mengatakan itu Zachry memutari mobilnya. Alena sudah dibelakang dibangku kemudi. Dia sebenarnya sudah akan masuk dan duduk bersebelahan dengan Zachry sebelum Nania datang dan duduk didalam.
__ADS_1
"Maafkan aku Zach, tapi Mommyku sudah berada di apartemen. Aku sudah meminta Leon menjemputku tetapi sepertinya dia akan terlambat". Jelas disini Nania sangat senang karena Mommy nya datang, setidaknya dia punya alasan bisa bersama mereka. Dia tidak akan membiarkan Alena mendekati targetnya.
"Kapan dia datang?" Tanya Zach. Semarah-marahnya Zach pada Nania dia tidak akan marah terlalu lama, karena Nania sudah seperti adiknya. Mommy nya melihat Nania seperti anak perempuannya yang meninggal. Jika mereka masih hidup mungkin seusia Nania.
"Beberapa menit yang lalu".
Alena yang duduk dibelakang sangat kesal. Dia sudah sangat senang tadinya karena akan semobil dengan Zach. Tetapi semua gagal sekarang.
Di 'ZaCake'
Zara yang pagi-pagi tadi mendapat kabar dari salah satu karyawan yang dia percaya menjaga gudang tiba-tiba memberi kabar bahwa gudang mereka dalam keadaan kacau.
Awalnya Zara tidak menghiraukan karena tahu Aariz akan memeriksa, lagi karena dia sudah berjanji tidak akan ke toko membuatnya enggan untuk kesana. Namun setelah mengetahui bahwa ternyata Aariz sudah beberapa hari tidak ke toko karena menjenguk ibunya membuat Zara mau tidak mau harus datang memeriksa.
Selama dia bekerja dan mengelola toko bersama Aariz tidak pernah sekalipun hal seperti ini terjadi. Tetapi saat ini kepalanya terasa sangat pusing saat melihat bagaimana hancurnya isi gudang bahan makanan.
Tepung, mentega dan semua bahan-bahan lain semua berhamburan. Jelas sekali terlihat ini direncanakan. Tidak mungkin tiba-tiba barang-barang digudang menghamburkan dirinya sendiri.
Zara melangkah masuk, dia berjalan hati-hati karena butter terbuka dimana-mana dan terhambur mengharuskannya berjalan pelan agar tidak terpleset.
"Sejak kapan Aariz tidak masuk? Dan siapa yang memegang kunci toko?".
"Itu..Saya Nona". Jawab Agatha.
Zara berbalik dan melihat Agatha tertunduk, meremas ujung bajunya.
Zara mendekat, lebih dekat dengan Agatha terlihat bahwa tinggi mereka sedikit sama, namun dalam segi usia Agatha lebih tua. Wanita berambut hitam itu merasa hawa sangat mencekam diantata mereka. Dia memang membenci Zara karena Aariz mantannya terus saja melihat kearah wanita bersuami ini, namun saat berhadapan langsung seperti ini aura Zara sangat mengintimidasi.
Agatha meneguk ludah kasar.
"Maafkan saya Nona, seingat saya memang sudah mengunci pintu, Tapi saya tidak tahu bagaimana bisa kejadian ini bisa terjadi, dan kunci yang saya bawa hilang". Akunya jujur. Dan merasa sangat bersalah.
"Aariz memberikanmu kunci miliknya?" Zara bersidekap masih menatap tajam Agatha
Bagaimana bisa Agatha mengaju bahwa dia diberi kunci berbeda oleh Aariz dan tidak boleh ada yang tahu.
"Jawab Agatha". Desis Zara sudah sangat kesal melihat Agatha hanya diam.
"I-itu..". Jawabnya tergagap.
__ADS_1
"Ah, sudahlah sekarang tolong kalian tutup toko. Dan saling membantu membersihkan kekacauan ini"nmwnhibaskan tangan dan berjalan masuk keruangan Aaris dengan kunci yang dia bawa. Dia akan menangkan diri sebentar.
Beberapa menit Zara kekuar dengan penampilan berbeda. Rambutnya di ikat ke atas. Untung saja dia memakai celana panjang itu memudahkannya bekerja nanti.
"Dan tunggu dimana Stella?" Tanya Zara, sejak tadi gadis aneh itu belum terlihat.
Yang lain juga baru menyadari bahwa Stella belum muncul padahal seharusnya dijam ini dia sudah siap di depan oven besar.
Karena tidak ada yang mengetahui, Zara mengabaikan dia juga tidak memperdulikan gadis itu. Menurutnya Stella tipe orang yang selalu melakukan apapun tampa difikirkan terlebih dahulu.
Sudah hampir sore dan mereka semua sudah selesai. Semua bahan rusak dimasukkan di kardus dan cukup banyak, sayang sekali harus dimusnahkan.
Dan tersisa hanya sebagian kecil saja.
"Nona, bahan-bahan ini kita bawa kemana?" tanya salah satu dari mereka.
"Tolong bawa saja diluar toko nanti akan ada mobil pengangkut yang akan membawanya".
Mereka mengangguki dan membawa semua yang tidak dibutuhkan keluar toko.
"Hah...sangat melelahkan". Zara mengusap keringat di diwajahnya dengan tisu didepannya.
Terlihat semua orang kelelahan dengan pakaian yang basah karena keringat. Mereka semua seperti dipaksa bekerja keras namun sangat senang karena Nona mereka juga tidak hanya duduk dan memerintah tetapi juga turun ikut membantu.
"Tunggu Nona saya bawakan minuman". Ucap Agatha berdiri terlihat sekali wanita itu sangat kelelahan.
"Duduklah, sebentar lagi makanan kita sampai" mereka terkejut dan terharu dalam waktu yang bersamaan.
Baru saja dia mengatakan itu kurir makanan sudah berada didepan toko dengan beberapa tumpuk pizza dan minuman dingin, yang bekerja di toko semuanya sebanyak sembilan orang empat pria dan lima perempuan termaksud Stella dan karena hari ini Stella tidak muncul maka mereka genap delapan orang.
Dan mereka mendapat satu box pizza untuk dua orang.
"Nona, Silahkan dimakan, biar saya sama yang lain". Agatha menyodorkan pizza miliknya karena melihat Zara tidak mendapatkan bagian. Lagi ini porsi besar berempat pun akan tetap cukup.
"Tidak perlu kalian makan saja". Tolaknya dan tersenyum lembut.
"Zara...."
Panggilan seseorang dari arah pintu membuat Zara menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya.
__ADS_1
Matanya membola dia berdiri "Kau datang....?"