Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 38 | Seperti seorang kekasih


__ADS_3

Aariz mendekat dan tatapan nya lurus kearah satu orang yaitu Zara. Yang lain berdiri tidak berani memakan makanan mereka karena merasa takut dengan kemarahan atasan mereka nantinya.


Agatha membawa mereka semua kebelakang. Lebih baik kedua atasannya berbicara. Walau jauh dilubuk hatinya dia tidak ingin mereka berdua kembali bertemu.


"Duduklah". Aariz sudah duduk lebih dulu namun tatapannya tidak pernah terputus dari Zara.


Zara yang awalnya ingin menghindar mengurungkan diri. Mereka memang harus membicarakan kekacauan ini.


"Kapan kau kembali, bagaimana kabar bibi?" Zara memulai karena tatapan mantan kekasihnya begitu intens membuatnya tidak enak.


"Baru saja, Ibuku baik dia mengucapkan selamat atas pernikahanmu". Jawabnya masih datar dengan tatapan yang sama.


"Kau memberikan Agatha kunci toko?"


Aariz tidak bereaksi dia hanya terus memandang wajah cantik didepannya. Dia sangat merindukan wajah ini, suara ini, semua yang ada pada Zara dia merindukannya.


"Aariz berhenti menatap seperti itu". Zara berdiri sejujurnya dia pun merasa terganggu dengan tingkah Aariz dia baru saja ingin memulai kehidupannya, dia berharap kehadiran Aariz tidak menggoyahkan nya.


"Baiklah..Duduklah dulu". Zara kembali duduk dengan tenang.


"Aku memang memberikan satu kunci untuknya".


Jawaban Aariz membuat Zara kembali mengalihkan pandangan ke arah mantannya kekasihnya.


"Baiklah, seharusnya aku juga tidak mempermasalahkan ini. Jelas dia sangat berarti bagimu sehingga kau mempercayainya". Jawaban Zara membuat Aariz ingin menyela karena tidak seperti itu.


"Aku tidak tahu sejak kapan hubungan kalian terjadi, sebelum atau sesudah kita bersama aku tidak tahu, tetapi aku cukup senang karena mengetahui bahwa wanita itu adalah Agatha".


"Sayang ak-"


"Cukup panggil aku Zara". Hening "Baiklah karena sepertinya kejadian ini seperti disengaja sedang kita tidak memiliki cctv digudang, dan anehnya tidak ada orang yang masuk, aku sudah memeriksa cctv di ruangan ini, jadi kita tidak akan tahu siapa yang sengaja merusak bahan-bahan itu".


Menghela nafas panjang "Setelah ini aku menyerahkan seluruh dari toko ini. Kau berhak mendapatkannya karena kau yang lebih banyak berperan". Ucapnya panjang lebar. "Lagi, aku akan mendapatkan toko baru jadi kita selesaikan kekacauan digudang dan kita tidak perlu selalu terlibat ditempat yang sama".


"Apa maksudmu?"


"Aariz kau tahu bagaimana cintanya aku dengan toko ini, aku bahkan sudah berulang kali memundurkan diri namun selalu kembali ketempat yang sama". Keluhnya


"Itu karena hatimu ada disini, bersamaku".


Zara diam, namun tatapannya tidak akan bisa berbohong masih ada sedikit rasa disana dan dia akan menghilangkannya.


"Untuk itu aku akan mendapatkan toko yang lain, karena aku tidak bisa menghentikan langkahku ketempat ini".


"Maka tetaplah disini, bersamaku, kita akan mengurus kekacauan gudang, kau tidak perlu membuat toko berbeda. Kau bisa datang kapanpun kau mau". Aariz meyakinkan Zara. Dia sudah melakukan hal sejauh ini hanya untuk memancing Zara ke toko dan dia tidak menyangka dengan keputusan wanita yang dia cintai ini. Tidak dia tidak akan membiarkan Zara semakin jauh.

__ADS_1


"Kau seperti seorang kekasih yang menyakinkan kekasihnya agar tetap berada disisimu". Cibir Zara.


"Kau tahu aku sangat mencintaimu, hm? Bagaimana mungkin aku membiarkanmu tidak datang lagi kesini sedang aku sangat mengharapkan itu". Lirihnya


"Bukankah seharusnya kau tidak mengatakan hal konyol seperti itu? Zara bedecak sebal, tangannya kini bersidelap di dada.


"Hal konyol?" Jelas Aariz tidak terima


"Lalu apa?" Kau mengatakan cinta pada istri orang lain apakah itu tidak konyol?.


Menghela nafas panjang sepertinya Aariz kehabisan kata-kata. Dia berdiri dan menyugar kasar rambutnya membelakangi Zara.


"Dengarkan aku, sekali saja". Kata Aariz akhirnya sudah berbalik dan berjongkok didepan kursi yang Zara tempati membuat Zara berdiri karena tidak menyangka dengan apa yang Aariz lakukan.


"Berdiri apa yang kau lakukan" Zara mundur


"Tidak, sebelum kau berjanji tidak akan menjauhiku". Mohonnya dengan mendongak.


"Jangan rendahkan diriku, aku mohon berdirilah".


"Tidak, sebelum kau berjanji untuk tidak menghindariku".


Menghela nafas gusar. Akhirnya Zara mengangguk. Dia tidak bisa melihat reaksi orang lain jika melihat Aariz seperti ini.


"Terima kasih, Aku mohon maafkan aku karena dulu tidak berjuang terlaku keras". Aariz memeluk Zara kuat, membuat Zara meronta karena tidak terima


"Biarkan seperti ini sebentar, aku merindukanmu". Pelukan itu semakin erat


"Aariz lepas, kau gila". Masih berusaha melepaskan diri.


"YA, AKU MEMANG GILA, AKU GILA KARENA TERLALU MENCINTAIMU, AKU GILA KARENA MENCINTAI MILIK ORANG LAIN, Aku Gila". Aariz berteriak dengan mengguncang tubuh Zara.


"Aku mohon kembalilah padaku". Kembali memeluk Zara namun kemudian pelukan itu terlepas karena kekuatan yang Zara miliki membuat Aariz sedikit bergeser. Hanya sedikit


'Plak


Bunyi tamparan itu menggema, tiba-tiba hening bahkan beberapa pelayan yang mencuri dengar pertengkaran mereka tadi dengan mengintip ikut terpaku tidak percaya.


Aariz memegang wajahnya tidak percaya.


"Hentikan, aku bilang hentikan BODOH!".Teriak Zara terlalu kesal.


"Apa kau bilang tadi, kau mencintaiku, menginginkanku terus berada bersamamu dan memintaku kembali hah? Apa kau benar-benar sudah gila?"


Aariz masih diam, sorot matanya jelas tidak percaya dengan apa yang terjadi, gadis manisnya menamparnya, bahkan menyentuh semutpun Zara tidak mampu tapi apa ini? dia ditampar?

__ADS_1


"Cinta yang kau punya untukku tidak lagi penting, kau dengar. Dulu aku memohon padamu, agar kau berani memperjuangkan cinta kita, tapi apa kau melakukannya?".


"Tidak, kau tidak melakukan apapun bahkan kau yang melepaskan sendiri tali itu, kau yang mendorongku menikahinya kau lupa?"


"Lalu apa ini? Kau berlutut? Cih, aku bahkan curiga kalau pelaku penghancuran gudang didalam".


Jelas saja perkataan Zara membuat Aariz membisu, bahkan karyawan yang mendengarnya sampai menutup mulut mereka tidak percaya.


Menghela nafas pelan.


"Berhenti bersikap seolah kaulah yang paling tersakiti, karena sebenarnya disini akulah yang paling terluka". Dia kemudian melanjutkan.


"Kesepakatan apa lagi yang kau buat dengan Daddy ku? apakah kau melepaskan ku karena toko? Atau karena pengobatan ibumu?


"Zara, DIAM!" Bentaknya merasa tidak terima Zara menggatakan sesuatu yang menurutnya tidak benar.


"Kau yang diam!


"Sekarang jujur, kau yang mengcaukan isi gudang? Kenapa?"


Aariz masih diam, haruskah dia jujur bahwa dia sengaja untuk menarik perhatian Zara agar datang ke toko?


"Kenapa kau lakukan hal kekanakan begini, hm? Tanya Zara mulai melembut


"Karena aku-"


"Karena apa? Aku juga harus mendengar alasanmu bukan?"


"Zachry, untuk apa kau disini?" tanyanya melihat suaminya yang tiba-tiba saja sudah didepan pintu.


"Tentu saja menjemputmu, kau lupa kau mengatakan akan pergi sebentar dan ini sudah hampir sore?"


Terlihat sangat jelas nada tidak suka yang Zachry berikan. Zara hanya diam dia tahu dia salah.


Bagaimana tidak lama mereka harus membersihkan gudang yang tidak kecil. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


"Aku akan pulang sendiri kau tidak perlu hawatir". Ketusnya masih keaal mengingat kejadian semalam saat Alena memeluk suaminya. Dan berjalan melewati mereka berdua.


Mengabaikan Zara, kini pria tampan bertubuh tinggi dan kulit putih itu melihat kearah Aariz. Ada senyuman mengejek di bibirnya.


"Aku tidak percaya kau akan melakuakan hal bodoh untuk menarik perhatian istriku". Zachry menepuk-nepuk punggung kemeja Aariz yang langsung ditepis oleh si pemilik.


"Singkirkan tanganmu". Geramnya.


"Ck, kuperingatkan sekali lagi, Jangan mencoba mendekatinya". Masih saling menatap Zachry melanjutkan " Berhenti sebelum kau menyesalinya".

__ADS_1


Setelah itu Zachry berbalik namun suara Aariz membuatnya berhenti kemudian melangkah cepat ke arah mobil yang sudah ada Istrinya disana.


"Kalau begitu jagalah dia, sebelum aku mengambilnya darimu, dan itu mudah bagiku".


__ADS_2