Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 47 | Leon Percepat


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan diri, Zara mencari pakaian yang sekiranya nyaman untuk dia pakai, dia akan ke tokonya, tetapi sebelum itu dia akan mampir ke perusahaan suaminya dulu, dia sudah memkirikan bahwa dia akan memberi tahu Zach bawa dia sedang hamil saat ini.


Zara yang tidak biasanya bersenandung pagi itu tiba-tiba saja terdengar bersenandung riang, dia mematut wajahnya dengan riasan tipis dengan polesan bibir berwarna pech membuatnya semakin manis dan cantik.


Dia memilih menggunakan blues sebatas paha dengan warna dark berbahan sutra lembut dengan lengan panjang dan leher berbentuk V. Dia tetap menggerai rambutnya dan sedikit membuatnya bergelombang.


Dia turun ke lantai bawah masih dengan senandungannya. Zara yang terkenal dengan gadis yang tidak suka mengekpresikan diri berlebihan kini tengah bersenandung.


Sangat langka.


"Selamat pagi, Nyonya". Rafh menyapa melihat Nyonaya mudanya yang masih asyik bersenandung. Zara menghentikan nyanyiannya. Dan memandang Rafh lekat, matanya memicing.


"Rafh, sudah ku katakan jangan membungkuk padaku!". Peringat Zara sudah seminggu selama Rafh bekerja Zara tidak lelah mengatakan bahwa jangan berlebihan. Dia tidak menyukainya.


"Maafkan saya, Nyonya, silahkan sarapannya sudah saya siapkan".


"Ck, ingat ya, jangan membungkuk padaku". Rafh hanya tersenyum simpul dan mengangguk mengiyakan.


Selesai dengan sarapannya, Zara langsung berangkat dia membawa mobilnya sendiri, karena tidak suka menggunakan jasa supir baginya terlalu merepotkan orang lain, dan itulah yang membuat Daddy Dixon lelah menasehati anak gadisnya sehingga menikahkannya saja.


Dia tahu banyak sekali orang yang akan berbuat tidak baik pada anak gadisnya, jika mereka tahu bahwa Zara belum menikah. Dan untung saja. Zachry pemuda itu bersedia.


Di perjalanan Zara kembali teringat dengan suaminya yang kadang-kadang sangat romantis, tetapi lebih sering mendengarnya mengomel.


Ah Zara merindukannya.


Apakah dia sudah benar-benar jatuh cinta?


Ah tidak mungkin secepat ini?


Apapun itu, Zara hanya merindukan wajah datar itu.

__ADS_1


Dia melajukan mobilnya ke arah perusahaan Suaminya, dia harus melewati gedung tinggi milik keluarganya dulu setelah beberapa kilo barulah sampai di gedung yang tidak jauh lebih tinggi milik keluarga Richards. Suaminya.


Dia memarkirkan mobilnya dan turun melangkah dengan anggunnya, hell yang tidak terlalu tinggi itu menggema di koridor. Karyawan yang mengetahui bahwa Zara adalah istri dari Bosnya lantas membungkuk dan menyapa dengan ramah.


Sebagian mereka mengakui bahwa Zraa memang sangat cantik jika dilihat dari dekat, ini adalah pertama kalinya mereka melihat istri bos mereka datang. Tidak ada halangan setelah mengetahui dimana ruangan Zachry, dia melesat cepat.


Jantungnya berdetak kencang, dia tidak sabar akan melihat bagaimana reaksi Zachry saat dia mengatakan bahwa dia tengah hamil. Dengan senyuman manis dia berjalan dengan mengelus perutnya yang masih rata.


"Apakah kau juga berdebar ingin memberi kejutan pada Daddy?" katanya pada perut ratanya.


Di ujung sana dia sudah melihat ruangan suaminya, dia melangkah sedikit cepat, sampai didepan pintu, dia akan mendorong pintu yang memang tidak tertutup rapat itu, namun gerakan tangannya berhenti.


Dadanya turun naik menahan amarah, dia sangat marah namun tidak bisa melangkah pergi dari sana dia jelas mendengar semuanya.


"Zach, aku mencintaimu, kenapa kau masih saja tidak mengerti itu, aku hanya ingin kau bersamaku".


"Dengan menjebakku? Dengan berusaha membuatku tidak sadarkan diri dan kau bebas-"


"Ya, apa lagi yang bisa aku lakukan? Hanya dengan membuatnya tertidur aku bisa menyentuhmu".


"Kenapa? Karena sebelah dari hatiku adalah hati mendiang adikmu begitu? Zach kalau memang seperti itu maka tidak ada alasan bagimu tidak menerimaku"


Nania terus saja memohon, tangannya masih sangat erat ditubuh kekar Zarchry, sejak tadi sejak pertama kali mereka membahas ini, Nania sudah memeluknya. Dan sial bagi Zachry yang tidak mengetahui bahwa diluar Zara melihatnya.


Wanita itu masih ditempatnya, dadanya terasa pahit, bahkan untuk berteriak saja tenggorokannya terkecat. Ketiga kalinya. Ya ketiga kalinya dia melihat adegan seperti ini dan ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Dia masih berdiri disana jika kejadian sebelumnya dia lebih cepat menguasai dirinya kali ini tidak.


Seakan dia memang berniat melihat dan mendengar semuanya, dia merasakan tetesan bening, tetapi sangat panas menetes diujung matanya, setiap tetesan yang jatuh membuat hatinya semakin sakit. Zara masih menangis dalam diamnya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerimaku? Tak mengapa kau jadikan aku yang kedua asalkan kita bersama hm?". Nania masih memohon, kepalanya masih menempel di punggung Zachry.


"Katakan, aku tahu kau sebenarnya tidak mencintainya, aku tahu kau hanya tidak enak pada Daddy Edgar kan?"

__ADS_1


Zachry tidak menjawab apapun, bahkan dia membiatkan Nania tetap memeluknya seperti itu, bukan karena dia menyukainya, tetapi terkadang saat seperti ini dia merasa sangat dekat dengan adiknya, lagi dia tiba-tiba merasa pusing kembali, menjawab Nania dia yakin akan membuat suasana hatinya semakin buruk.


Nania masih menangis dibelakangnya, dia mengakui semua kesalahannya, manaru bobat tidur pada minuman Zachry dan membawanya diatas ranjangnya. Dia mengaku hanya melakukan itu sampai tiba-tiba dia mendengar suara Leon dan Zara mengarah kekamarnya malam itu.


Hingga sedetik kemudian terdengar suara gedebuk dibelakangnya. Nania terjatuh, dia pingsan.


Zachry yang tadi hanya diam berbalik dan melihat Nania yang sudah tidak sadarkan diri dibawahnya.


"Nania,, hei bangun!". Zachry menepuk-nepuk pelan wajah Nania, dan tampa menunggu lama dia mengankat tubuh ramping itu dan membaringkannya di sofa.


Zachry berteriak memanggil Leon agar membawakannya apapun yang bisa membuat Nania tersadar.


Leon yang sempat mendengar itu karena posisinya berada diluar tengah terkejut melihat istri sepupunya yang tengah berdiri dengan wajah memerah.


"Leon cepatlah!" Teriakan Zachry kembali terdengar Leon berlari, membuat Zara yang akan pergi karena takut Leon mengetahuinya.


Baru saja Leon akan menegurnya Zara sudah mendekatkan telunjuknya pada bibirnya mengisyaratkan agar Leon tidak memberi tahu Zachry bahwa dia ada diluar.


Leon yang kembali mendengar teriakan sepupunya lantas segera masuk, dia terkejut mendapatkan Nania yang sudah tidak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi?" Zachry tidak menjawab. Dia terus menepuk-nepuk pelan wajah Nania karena belum juga sadarkan diri, karena terlalu hawatir Zachry mengangkat tubuh Nania kembali dan membawanya keluar ruangan. Dia akan kerumah sakit.


"Siapkan mobil cepat!" Hardiknya karena Leon masih saja diam mematung karena tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba saja harus menyiapkan mobil.


Diluar Zara yang terkejut mendengar teriakan Zachry terlonjak, kakinya melemas, sampai didepan pintu Zachry juga sama terkejut melihat Zara, karena dia masih hawatir pada Nania, dia mengaikan kehadiran Zara dan melewatinya begitu saja. Zara hanya diam mekihat nanar kepergian suaminya, air matanya kembali jatuh.


"Zara, maafkan aku tapi aku akan kerunah sakit bersama Zachry, mohon tenangkan dirimu". Kata Leon gang merasa tidak enak, sebelum berlari karena Zachry terus saja berteriak.


Zachry hawatir, dia menoleh tetapi tidak mendapatkan Zara mengikutinya. Di hanya melihat Leon yang sedikit berlari ke arahnya dan melesat cepat arah mobil yang diparkir.


Dengan oerasaan campur aduk Zachry masuk bersama Nania yang masih didalam gendongannya.

__ADS_1


"Nania, ayo bangun". Zachry masih terus berusaha membangunkan Nania, dia semakin hawatir saat merasakan tubuh Nania terasa hangat.


"Leon percepat". Perintahnya dia hawatir sampai melupakan bahwa tadi dia melihat bagaimana sendunya wajah istrinya di balik pintu.


__ADS_2