
Aah...Oh..Zachry...oh...
******* demi ******* kembali terdengar didalam kamar berukuran besar itu. Baru saja mereka, maksudnya hanya Zachry yang membersihkan semua kekacauan yang semalam mereka perbuat kini kamar itu kembali kacau. Karena keluar kamar mandi. Zara langsung berbaring ke tempat tidur, dia merasa sangat lelah, namun Zachry yang melihat istrinya berbaring kembali tergoda.
Dan penyatuan itu kembali terulang, Zachry semakin semangat melihat bagaimana wajah erotis istrinya yang dibawah kendalinya. Mereka berdua terus berburu kenikmatan sampai akhirnya Zachry kembali tumbang.
"Aaaaaahhhhhhh". Mereka sampai bersama. Cairan kental milik Zachry menyembur kedalam rahim Zara. Hangat.
"Zachry aku lelah".
"Tidurlah..biar aku yang membersihkanmu". Zachry melepas penyatuan mereka dengan menarik pelan benda pusakanya. "Aaahhh..."
Setelah merasa nyaman dikecup kening istrinya yang terlihat sangat damai. Dia kemar mandi mengambil air hangat dan membersihkan sisa percintaan mereka di inti istrinya tampa jijik sedikitpun. Setelah membersihkan diri dikamar mandi, Zachry naik ke kasur dengan hati-hati meraih tubuh polos istrinya didalam selimut dan memeluknya. Mereka tertidur. sangat lelap sampai melewati sarapan dan makan siang.
Sementara dikantor. Leon masih terlihat sangat kelelahan karena Bos sekaligus sepupunya tiba-tiba saja menelponnya pagi-pagi menumpahkan semua tugas kantor padanya.
Dan semenjak berhentinya Nania tugasnya yang sebelumnya dirasa ringan kembali memberat.
"Aah...Nania, hanya karena sepupuku tidak menerimamu, kau berhenti bekerja?". Leon menatap Nania kesal, saat ini mereka berada di cafe yang biasa mereka tempati. Tadi Nania menelponnya karena ingin tahu apakah Zach mencarinya atau tidak.
"Jadi dia tidak ke kantor?" Tanyanya dengan nada kesal.
"Sepertinya mereka sedang merencakan bulan madu" jawab Leon dengan nada bahagia.
"Kau bahagia? Bukankah kau akan sangat kerepotan kalau mereka pergi?
"Tidak masalah..Asalkan mereka memberiku keponakan yang lucu". Leon tertawa membayangkan sepupunya yang kaku itu menggendong bayi.
Sedangkan Nania mengepalkan tangan. Dia tidak terima Zachry memiliki anak dari wanita lain. Tidak, dia tidak akan bisa.
Nania bangkit, wajahnya sudah merah. Emosinya sudah menumpuk. Dia harus memikirkan cara menyingkirkan Zara. Dia tidak menyangka wanita itu bisa mengambil banyak peran di hati Zachry. Nania melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia akan kesuatu tempat. dia yakin akan berhasil memisahkan wanita penggoda itu.
__ADS_1
Sampai disuatu tempat, disebuah apartemen dipinggiran kota. Dia naik menuju kamar yang masih dia ingat jelas letaknya.
Didepan pintu Nania yang sudah diliputi emosi terus saja menekan bel sampai dia benar-benar melihat pintu itu terbuka.
"Siapa kau..?" Nania bingung kenapa wanita yang membuka pintu, apakah dia salah kamar? Ataukah dia...
"Dimana pemilik nya...?" wanita itu hanya mengerutkan kening, karena tidak pernah melihat wanita ini. Dan sekarang dia mencari Aariz.
"Siap-". Aariz mendekati pintu dan melihat siapa yang tiba-tiba mencarinya.
"Kau... " Belum sempat Aariz melanjutkan kalimatnya Nania sudah masuk dan menyenggol Agatha. Yah, sekarang wanita ini lebih sering datang dan sudah menganggap apartemen Aariz seperti rumahnya sendiri. Lebih tepatnya dia akan datang pagi dan pulang malam hari. Entah itu untuk memasak atau hanya ingin berdekatan dengan mantannya, apakah Aariz mengizinkan? Jika tidak mungkin Agatha tidak akan ada disana sekarang. Lagi, Agatha seseorang yang tidak ingin mendengar nasehat orang lain. Jika dia merasa benar.
"Kau mengenalnya?" Agatha yang bertanya dan di angguki oleh Aariz.
"Kau siapa..? Apakah kekasihnya?". Kini Nania bertanya yang dijawab tidak oleh Aariz. Tentu saja Agatha yang mendengar itu sangat kecewa.
Terkadang dalam posisi seperti ini, Aariz merasa bangga dengan dirinya yang banyak di kagumi oleh wanita-wanita cantik. dan sial baginya karena Dia juga sangat menyintai Zara tetapi Tuhan tidak merestuinya.
Disinilah dia berada ditengah dua wanita yang pernah berbagi peluh dengannya. Bedanya dia mendapatkan Agatha untuk pertama kali. Dan Nania entah siapa yang mendapatkan mahkotanya, karena saat bersama Aariz malam itu Nania sudah tidak bersegel.
"Ada apa kau mencariku? Tidak mungkin kau jauh-jauh datang ke tempatku jika tidak memiliki tujuan".
"Benar, dan hanya kau yang bisa menolongku".
"Aku...?" Aariz menunjuk dirinya posisi mereka sekarang sudah duduk di sofa dan saling menghadap.
"Kau menginginkan Zara dan aku menginginkan Zachry". Ujarnya terus terang membuat kening Aariz mengkerut lalu kemudian dia tersenyum sinis.
"Nona kau salah orang kalau begitu".
Aariz pusing sendiri, di toko Stella yang salah sasaran dan sekarang wanita sexy di hadapannya juga.
__ADS_1
"Walaupun aku menyintai Zara, tapi aku tidak akan membantumu mendapatkan suaminya".
"Oh my God.. Kau kejam sekali, padahal ini sangat menguntungkan bagi kita"
Nania berjalan ke arah Aariz dan duduk di atas pangkuan pria tampan itu dengan sesekali meraba wajah itu.
Aariz menghentikan gerakan tangan Nania. Dan mengangkat tubuh mungil itu dan memindahkannya kesamping.
"Wah..kau.....". Pekik Nania merasakan tubuhnya melayang sesaat.
"Jaga batasanmu, walaupun kita pernah tidur bersama bukan berarti aku akan membiarkanmu menyentuhku sesukamu". Tatapan Aariz menjadi datar. Dia kesal karena ternyata wanita sexy ini menginginkan kehancuran Zara. Dan dia tidak akan membiarkannya.
"Kembalilah, sebelum aku menyeretmu keluar"..Nania sangat kesal, dia melangkah keluar. percuma dia membujuk pria itu karena sepertinya dia tidak akan menurutinya. Nania kembali melajukan mobilnya dan kembali kerumah. Dia akan memikirkan rencana selanjutnya setelah beristrahat.
"Tidak akan kubiarkan wanita itu semakin mengikatmu dengan kehadiran bayi" dia memukul stir beberapa kali karena kelewat marah. "Zara aku pastikan posisimu sebentar lagi akan menjadi milikku".
Awalnya Nania, tidak terlalu hawatir dengan pernikahan mereka karena tahu mereka berdua tidak saling mencintai. Lebih karena dia tahu wanita yang dinikahi Zachry memiliki kekasih.
Kembali pasangan pengantin baru yahg baru saja semalam melakukan olahraga . Zara terbangun, masih memandang langit-langit kamar, dia mengingat semua apa yang sudah terjadi dengan mereka. Wajahnya bersemu merah. Dia malu. Dan tampa sadar disebelahnya Zachry tersenyum lembut memperhatikan istrinya yang bersemu.
"Sudah bangun....?"
Zara terkejut membola mata dan menoleh kesumber suara.
Zara tersenyum kikuk lalu mengangguk pelan.
"Mau mandi berdua lagi?" Zachry menaik turunkan alisnya.
Zara mencium wangi segar, melihat pakaian suaminya. Dia tahu bahwa suaminya yang tampan ini sudah mandi.
"Kau sudah mandi, dan tidak baik terlalu sering mandi". Ujar Zara mencebikkan bibirnya
__ADS_1
"Tidak masalah asalkan mandi bersamamu, seharian dikamar mandi juga aku mau". Zachry tersenyum bahagia saat mengatakannya.
"Wah sayangnya aku tidak ingin mandi bersamamu Tuan". perkataan Zara membuat Tawa bahagia itu menghilang dan kemudian berubah menjadi senyum penuh kejahilan. dengan tampa aba-aba Zachry menggelitik pinggang istrinya sampai terdengar suara tawa renyah yang membahagiakan didalam kamar.