
"Eeuhhhg.." Suara leguhan terdengar dari bibir sexy seorang gadis yang terbaring di atas ranjang king size. Merenggangkan tangan ke atas dan " Aww...." Desisnya saat merasakan bagian pribadinya terasa nyeri.
Dia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar, dan dia asing dengan suasana ini.
"Kau sudah bangun"
'Deg'
Mata Nania membola menatap ke arah suara yang tidak dikenalnya. Tubuhnya menegang saat melihat punggung pria membelakanginya. Dia hanya melihat di bawah leher belakangnya terdapat tanda lahir.
Belum sempat keterkejutannya karena berada didalam kamar bersama pria asing, dia semakin terkejut saat mendapatkan dirinya tidak menggunakan apapun didalam selimut.
"Aaaahhhhhhhh...A-apa yang terjadi, ..". Nania beringsut, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, dalam keterkejutannya dia mendapatkan kepingan-kepingan ingatannya.
"A-aku...Astagaaaa" Dia berteriak frustasi mengacak rambut panjangnya
"Maafkan aku, aku juga dalam keadaan mabuk semalam". Suara bariton itu membuat atensi Nania beralih
"K-kau siapa? Kenapa kau lakukan ini padaku ". Nania jelas saja bingung. Bukankah semalam dia melihat Zachry, lalu ini?
"Zachry.. Apakah semalam dia menjemputku? Apakah dia mencariku?" Gumamnya pelan tetapi masih bisa didengar oleh Aariz.
Aariz masih memunggungi Nania, dia tidak ingin wanita yang bersamanya menghabiskan malam itu melihat wajahnya. Untung saja Nania sudah tidak bersegel sehingga dia tidak terlalu merasa bersalah. Dan yang membuat Aariz bingung adalah saat wanita ini menyebut nama Zachry, apakah yang di maksudnya Zachry suami Zara?
"Jadi, Nona karena kejadian ini tidak disengaja, kau dalam pengaruh obat sedang aku dalam keadaan mabuk, aku serahkan keputusan ini padamu?" Aariz masih belum berbalik.
"Kenapa kau tidak berbalik? Bagaimana aku akan meminta pertanggung jawaban jika tidak melihat wajahmu"
"Aku akan berbalik saat kau sudah memgenakan pakaianmu".
"Cih, semalam saja kau sudah melihatku"
"Jadi apa mau Nona sekarang?. Tahya Aariz lagi
__ADS_1
"Nania, aku Nania.."
"Baiklah Nania, apakah aku harus bertanggung jawab?"
Nania terdiam menimang keputusan apa yang akan dia ambil. Jika dia meminta Pria ini bertanggung jawab, maka kesempatannya bersama Zachry akan hilang begitu saja..Ah jangan, itu tidak boleh.
"Tidak perlu, anggap saja apa yang terjadi semalam tidak pernah terjadi". Dia terdiam kemudian melanjutkan "Siapa namamu".
"Bagaimana mungkin aku melupakannya? Bukankah seharusnya anda marah? Tanya Aariz kini menoleh ke arah Nania.
Nania melihat wajah itu, Seperti tidak asing baginya, tapi siapa? Dan dimana mereka pernah bertemu
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak ingin kau bertanggung jawab karena aku mengiginkan pria lain di hidupku"
Aariz hanya diam, memperhatikan Nania bangun dan memungut pakaiannya yang berserakan karena ulahnya semalam. Sebenarnya jika wanita bernama Nania ini meminta pertanggung jawaban Aariz akan melakukannya, tentu secara diam-diam agar Zara tidak mengetahuinya.
"Baiklah, karena semalam kita sama-sama salah, maka semua impas" Nania hendak membuka pintu tetapi entah kenapa dia berjalan kembali menghampiri Aariz dan menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aariz yang masih bertelanjang dada.
Dengan gerakan pasti Nania menempelkan bibirnya diatas bibir Aariz. Membuat Aariz semakin bingung dengan sikap wanita ini. Aariz yang mendapat serangan tiba-tiba tidak membuang kesempatan yang ada dia mengambil kemdali, mencium kembali Nania dan merebahkannya kembali ke atas kasurnya. Terlibat jelas senyum jahat di bibir Aariz melihat Nania yang begitu berani padanya "Jangan sesali ini Nona". Setelah itu terjadilah kembali pergulatan panas diantara dua manusia asing didalam kamar tersebut, entah sampai berapa kali mereka melakukannya sampai mereka berdua kembali terlelap dalam satu selimut.
Didapur bernuansa hitam putih itu Wanita cantik betubuh langsing dengan rambut di sanggul acak, tangan halus itu tengah sibuk melakukan magic nya mencampurkan tepung dan bahan lainnya, Zara akan membuat menu baru yang dilelajarinya dari Youtube semalam dia memang suka didapur. Tengah sibuk dengan kegiatannya, tiba-tiba tangan kekar melingkar di perutnya. Wangi suaminya sangat menenangkan. dan Zara menyukainya.
"Ada apa?" Tanya Zara karena baru semalam mereka bersitegang karena masalah Zara yang tidak ingin disentuh. Bahkan mereka belum melakukan malam pertama mereka.
"Jangan meminta hal aneh. Kau tahu aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak mencintaimu"
Mendengar itu pelukan Zachry melemah, dia tidak suka saat Zara mengatakan hal itu.
"Kenapa? Apakah aku tidak pantas?"
"Kau tahu jawabannya Zachry" jawabnya enteng.
"Karena kau masih mencintai kekasihmu itu? Terka Zachry dengan menahan amarah
__ADS_1
Zara hanya diam, dia tidak ingin membuat keributan, lagi tidak mungkin dia mengatakan bahwa dihatinya masih ada nama Aariz sedangkan dia sudah menjadi milik orang lain.
Lagi pula dengan menghilangnya Aariz bukankah sudah menandakan bahwa laki-laki yang pernah dia cintai bahkan mungkin masih dia cinta itu benar-benar sudah merelakannya brrsama Zachry.
"Aku tidak ingin berdebat" putus Zara akhirnya menyadari perubahan wajah suaminya
"Kau kira aku ingin?"
"Apakah kau masih mencintainya?". Tanya Zachry menahan emosi, mereka sudah hampir sebulan menikah, dan mereka tidak melakukan honnymoon karena Zara tidak ingin kemana-mana, lagi istrinya tidak pernah ingin disentuh karena beralasan tidak bisa melakukannya tampa cinta.
"Apa yang ingin kau dengar?" Zara menghentikan tangannya yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaannya lalu menatap lekat mata Zachry.
Menghela nafas panjang, lalu berkata "Meskipun aku mencintainya, aku tidak akan bisa bersamanya"
Zara kembali melanjutkan pekerjaanya dan perjataan Zachry berhasil membuatnya berbalik dan mengerutkan kening "Kalau kau memang mau, aku bisa melepasmu untuknya".
Zara hanya tertawa hambar. "Kenapa kau lakukan itu? Bukankah kau mencintaiku sebelum kita dijodohkan?"
"Dan ternyata itu tidak membuat hatimu luluh".
"Jangan terlalu keras, kau akan terluka"
"Aku bahkan rela terluka asal bisa melihatmu bahagia, aku mengira lebih mampu membuatmu bahagia saat bersamaku, karena cintaku yang besar untukmu, tetapi aku salah, sebesar apapun aku berjuang memilikimu, hasilnya akan tetap sama. Kau hanya melihatnya".
Setelah mengatakan itu Zach berlalu, membiarkan Zara mematung dengan apa yang baru saja di dengarnya. Entah mengapa semua orang. Tidak ada yang mau mempertahankannya. Mereka mengatakan mencintainya tetapi dengan mudahnya mereka merelakannya bersama oramg lain.
'Tes'
Air mata Zara menetes, mengingat bagaimana saat itu Aariz mengatakan sangat mencintainya bahkan sangat terluka saat mengetahui perjodohannya. Tetapi lelaki itu merelakannya dengan alasan bahwa Zachry mampu membuatnya lebih bahagia. Dan sekarang suaminya, walapun saat ini dia belum mencintainya tetapi mendengar suaminya akan mengembalikannya ke sisi kekasihnya yang dulu mendorongnya menjauh ternyata lebih menyakitkan.
Zara menghapus air matanya, menahan sesak di dadanya karena harus menahan tangisannya.
"Apakah aku memang tidak pantas dipertahankan?"
__ADS_1
Senyum sinis tercetak di bibirnya, bahkan adonan tepung yang tadi di gelutinya tidak jadi karena adonan itu sudah mengeras karena terlalu lama di luar suhu.