
Ruangan disekitar menjadi mencekam, dua orang disana sama-sama dalam emosi yang membumbung tinggi. Luna tidak menyangka bahwa suaminya memiliki rahasia besar ini dan dia tidak mengetahuinya.
Lagi, sebenarnya Edgar tidak ingin semua ini terbongkar, tetapi dia dilema bagaimanapun ini permintaan pertama Nania.
Mengembuskan nafas pelan. Edgar mencoba menenangkan istrinya. Memegang pundak itu dan sedikit agak membungkukkan badan "Dengarkan aku, maafkan aku tetelapi aku terpaksa, ini permintaan pertama nya padaku". Mencoba merendahkan suara agar Luna bisa mengerti bahwa dia juga dalam posisi sulit.
"Mengerti? Kau memintaku mengerti perasaan anakmu dan mengabaikan perasaan anakku, begitu?" Luna masih berteriak. Dia tidaknmenyangka semuanya menjadi serumit ini.
Semua terjebak, terjebak dalam cintanya masing-masing.
Oh tuhan. Ada rahasia apalagi setelah ini?
Dia menatap tajam ke arah suaminya "Aku berterima kasih karena kau mau menjadi ayah dari anakku Zachry, tetapi apakah kau tidak terlalu kejam?"
Luna meluruh dilantai dia terisak, memukul dada rentanya, dia tidak menyangka rahasia sebesar ini terungkap setelah mereka sudah sangat renta.
"Sayang,,jangan". Mencekal tangan istrinya yang terus memukul dadanya.
"Lepaskan aku, kau membohongiku? Kau dan dia sama-sama penjahatnya". Pekiknya. Membuat Edgar melepas cekalannya dan mundur selangkah.
Edgar berdiri, memperhatikan istrinya yang terus saja memangis pilu, dia memang bersalah karena tidak jujur, lapi apakah di usia tua ini dia tidak bisa memerima maaf?.
Luna memperhatikan suaminya yang pergi menghilang dibalik tembok, dia menatap punggung itu, dia tidak menyangka suaminya menyembunyikan ini darinya, sudah berpuluh tahun, bahkan mereka sudah memiliki Zoe dan Zea walaupun kedua putrinya harus pergi duluan.
Tetapi, kenapa suaminya masih saja menyembunyikan anaknya yang lain?
Wanita tua itu bangkit, dia berjalan lemah menuju kamarnya. Diusia nya yang sudah tua, seharusnya sudah tidak ada lagi masalah.
Lalu dia mengingat menantunya Zara, dimana gadis itu? Dia memang mendengar bahwa gadis itu menghilang saat ke kantor Zachry dihari Nania dilarikan kerumah sakit.
Menghela nafas berat, Dia bukannya tidak tahu bahwa Nania menyukai anaknya, dia menyayangi Nania, tetapi tidak untuk dijadikan menantu. Nania hanya mengingatkannya pada putri kembarnya saja. Tidak bisa lebih.
Dilain tempat Zachry yang sangat kacau melajukan mobilnya ke arah toko yang belum mereka resmikan, dia menapak masuk, dan dahinya mengkerut saat menemukan bekas makananan diatas meja pengunjung.
Dia meraih gelas yang masih terdapat susu didalamnya, masih hangat. artinya ada seseorang yang masuk sebelum dia datang.
"Zara..". Teriaknya. Dia yakin istrinya baru saja ada disini. Dia melangkah masuk keruang kerja namun kosong.
__ADS_1
"****!".
Dia berlari keluar memasuki mobil, ponselnya berdering. Yah Zachry baru saja mendapatkan ponsel baru karena ponselmya sebelumnya remuk.
"Katakan".
Menghembuskan nafas, panjang dia mematikan ponselnya dan memutar arah, dia akan benar-benar marah sekarang. Dengan kecepatan penuh dia membawa mobil ke lingkungan elit milik mertuanya.
Belum keluar dari mobil ponselnya kembali berdering. Tidak ingin mengabaikan panggilan itu, dia menggeser icon hijau untuk menjawab. "Istrimu dirumah Tuan Dixon". Aariz memutuskan panggilan saat Zachry mendengar semua ucapannya.
Dia sebenarnya ingin membuat pria kaku itu menderita mencari Zara, tapi mengingat bagaimana wajahnya akan kembali remuk membuatnya memberi tahukan kebenarannya saja.
"Kau..".
Zachry dibuat geram, ini pertama kalinya seseorang memutus lebih dahulu panggilan telpon bersamanya.
Zachry mengabaikan sementara rasa kesalnya dia melangkah lebar ke dalam mansion, suda ada Marry menyambutnya.
"Dimana Zara?".
"Nona dikamarnya, Tuan". Zach mengangguk dan menaiki tangga dengan tergesa-gesa dia akan menghukum gadis nakal itu.
Amarahnya mengaur. Melihat wajah cantik yang sudah dua hari menghilang itu. Rasa rindunya tidak bisa membendung. Dikecup wajah manis istrinya dengan pelan agar tidak mengganggu si cantik.
Setelah puas dengan kecupannya. Zachry memutari kasur dan ikut naik kaeatas. Memeluk Zara dari belakang dan ikut memejamkan mata.
Namun bayangan pertengkaran kedua orang tuanya membuatnya sulit untuk tertidur. Dia hanya memeluk Zara diam, tidak melakukan aksi lain. Karena dia tahu Zara tidak akan suka.
Setelah beberapa jam lama, akhirnya Zara terlihat akan bangun, dia mehgerakkan badan tetapi merasakan sebuah lengan menindihnya. Perlahan matanya terbuka, melihat sebuah tangan kekar melingkar dipinggangnya. Zara berbalik dan..
"Sudah lelah bersembunyi?" tatapan tajam Zachry membuat Zara yang baru saja bangun bergidik ngeri.
"Kenapa diam? Kau sengaja menghilang dan membatku bingung?"
"Kau bahkan tidak memperdulikanku". Zara beringsut bangun, mengingat kata Aariz membuatnya kembali kesal.
"Mau kemana?". Menahan tangan Zara yang sudah akan turun kasur.
__ADS_1
"Kamar mandi, aku lelah dan ingin mandi". Zara berusaha melepas tangannya tetapi karena kekuatan mereka tidak sama Zara mendekat ke suaminya. Dia menunduk dan mengerucutkan bibir.
"Apa karena aku tidak pernah mengatakan perasaanku, kau tidak mencariku?".
Zachry diam melihat dan mendengar, Zara melanjutkan terlihat dia memainkan jari-jarinya.
"Aku merindukanmu selama sua hari, tapi...hiks..." Tangisan Zara pecah. "Ta-pi kau tidak mencoba mencariku, hiks.. Bahkan..". Zara berbicara sambil mengis, membuat Zachry gemas. Pria itu membawa tubuh istrinya dalam pelukan. Menenangkannya dengan pelukan hangat.
"Maafkan aku". Lirih Zachry, Zara yang mendengar itu mendongak, terlihat hidungnya merah dan matanya sembab.
"Kau minta maaf karena tidak mencariku? Kau tidak tahu aku diculik?". Zara kembali menangis, dia sangat sedih sekarang.
"Bukan, aku minta maaf karena tidak menemukan penculiknya". Zachry menarik hidung merah itu, membuat si pemilik terpekik dan menggosok hidung yang sakit. Untung saja asli.
"Zach..."
"Hm, katakan.."
"Aku merindukanmu". Zara mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya, menghirup aroma tubuh yang sangat dirindunya. Dia memejamkan mata. Zara suka aroma Zach.
Zachry yang mendengar pengakuan Zara tidak bisa berkata, dia bahagia, akhirnya wanita keras ini mengakui rindunya.
"Aku juga rindu". balasnya
Keduanya masih dengan nayaman dengan posisi seperti itu, saling berpelukan dalam duduk. Zach masih mengelus pelan rambut panjang istrinya menenangkan wanitanya. Dia yakin selama dia diculik wanita ini sangat ketakutan.
Tapi siapa yang melepaskannya? Siapa yang memebawanya pulang? dia akan bertanya setelah Zara sudah tenang.
"Sayang...."
Tidak ada jawaban.
"Jangan bilang kau kembali tidur?".
Zachry mencoba melihat kebawah ke arah Zara yang masih bersandar didadanya, dan benar saja dugaannya. Wanita ini kembali tertidur.
"Oh aku rasa kau memang meminum obat tidur berlebihan". Dia curiga karena Zara suka sekali tertidur.
__ADS_1
Zachry membaringkan kembali istrinya dan masuk ke kamar mandi, dia akan membersihkan diri. Dikamar mandi Zachry masih memikirkan siapa yang membawa istrinya selama dua hari ini.
Dia tidak akan membiarkan hal ini kembali terjadi. Sehabis mandi dan sudah berpakaian, Zachry turun ke lantai bawah. Dia akan membuatkan makanan. Mungkin saat Zara bangun dia bisa mendapatkan sedikit informasi kemana wanita itu menghilang.