
"Le-Leon kau..? Kau disini?". Tanya nya gugup dan mendekat ke arah Leon.
"Hm, kenapa kau terlihat gugup? Lagi.. Ini adalah Club milikku jadi tidak ada salah kalau aku disini". Ucapnya masih menatap Aariz dengan tatapan permusushan.
"Dan kau, apakah ini adalah kau yang sebenarnya?" Baru menatap Nania dari ujung kaki sampai ujung kepala, pakaian yang digunakan Nania memang sangat ketat dan hanya berbentuk kemben. Ditarik sedikit sudah pasti isinya akan nampak.
"Apa sekarang kau berhubungan dengan mantan kekasih orang kain karena kau baru saja ditolak?" Sindir Leon terus saja berbicara membuat Aariz muak.
"Kalian berdua selesaikan urusan kalian aku akan pergi" Ucap Aariz melewati Leon yang sudah sangat marah. Terlihat Leon akan melayangkan pukulan pada Aariz namun Nania mencegahnya.
Melihat itu Aariz hanya tersenyum simpul dan berlalu meninggalkan mereka berdua. Aariz keluar dan melajukan kembali mobilnya pulang. Dia sudah sangat lelah. Semenjak pernikahan Zara hidupnya tidak pernah lagi baik. Dia lebih sering menghabiskan waktu di Club.
Ditoko atau di apartemen akan sangat membosankan baginya terlebih Agatha selalu saja menempel.
Dia menyesal karena tidak bisa mempertahankan kekasihnya. Seharusnya dia tidak mendengarkan perkataan ibunya. Entah kenapa dia merasa ibunya menyembunyikan sesuatu darinya dan dia tidak bisa bertanya karena takut kondisi sang ibu memburuk.
"Bisa kau jelaskan ini Nania?" Sekarang Nania duduk didekat Leon seperti terdakwa. Tetapi yang berbeda adalah Nania sangat santai menghadapinya. Dia bersandar di sandaran sofa dengan satu kaki menumpu ke atas. Cahaya temaram disekitarnya membuat wajahnya semakin terkihat manis.
"Tidak ada yang harusku jelaskan". Jawabnya acuh meneguk minuman botol ditangannya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini, aku tidak lagi melihat Nania yang dulu".Keluh Leon sendu
"Nania yang kau cintai itu tidak akan pernah kembali, ah tidak, maksudku Nania itu hanya Nania palsu".
Leon terdiam. Dia sangat terkejut.
"Aku tidak bodoh, aku bisa melihat kalau kau menyukaiku" Ejeknya dengan tatapan malas.
"Tapi sayangnya Bos besarmu sangat bodoh tidak bisa melihat kalau aku sangat mencintainya" Nania terus berbicara tampa membiarkan Leon menyelanya, dan Leon memang ingin mendengar semuanya sekarang. Jadi dia. Diam.
Leon memang sengaja mencari Nania setelah kejadian tadi dikantor Nania tidak ingin dia bantu, gadis itu keluar dengan membanting pintu dan menghilang. Dan ternyata dugaannya benar. Nania akan ke Club saat suasana hatinya memburuk.
__ADS_1
"Lalu apa yang kulihat tadi?" Tanya Leon akhirnya
"Aku yakin kau tidak buta untuk bisa melihat apa yang kami lakukan". Setelah mengatakan itu Nania berdiri dan melangkah meninggalkan Leon. Gadis itu ke lantai dansa. Alunan musik yang keras cukup membuatnya sedikit lebih baik. David melihat itu dan menyusul.
Sekarang dua sejoli itu tengah menikmati dentuman musik, Nania yang sudah sedikit mabuk, mengalungkan tangan ke leher David dan merebahkan kepala ke dada pria itu. tercetak seriangaian licik di sudut bibirnya.
Pemandangan yang sangat memuakkan bagi Leon yang sedari tadi menahan amarahnya, dengan langkah lebar. Dia menarik Nania dengan kasar, tampa aba-aba mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya pergi.
"Sial" Lagi-lagi David kehilangan kesempatan. Dia tidak akan. Berani macam-macam pada Leon. Tidak atau dia hancur. Dan untuk mengalihkan kekesalannya dia memesan wanita untuk menemaninya minum.
"Apa-apaan kau, lepaskan aku!". Pekik Nania yang sudah sedikit oleng. Leon melemparnya kedalam kursi penumpang mobil dan menguncinya. Dia dengan keadaan marah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Nania yang awalnya terkejut karena Leon bersikap berlebihan dengan membawa mobil seperti pembalab, akhirnya tertawa keras membuat Leon semakin marah.
Disinilah mereka saat ini di Mansion milik Leon. Tepatnya didalam kamar. Mansion hasil kerja kerasnya selama ini. Tidak terlalu besar. Hanya lantai satu, tapi cukup untuk tempat tinggal dengan dua anak.
"Kau mau apa?" Nania melotot saat Leon sudah membuka kancing bajunya. Dia semakin beringsut mundur ke sandaran kasur.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nania melembut. Tidak akan memberontak takut jika Leon melakukan sesuatu yang lebih gila. Meskipun jika itu terjadi dia tidak akan kehilangan apa-apa. Tapi dia harus tetap waspada.
"Lepaskan aku, hm". Pinta Nania melembut. Dia juga sadar selama ini semua yang Leon lakukan karena pria ini menyukainya. Tetapi bagaimana bisa tidak mengabaikan itu saat pesona Zachry jauh lebih menggoda buatnya.
"Apakah aku memang tidak pantas untukmu?" gumam Leon dengan nada lirih masih memeluk Nania. Dan jujur saja bagi Nania pelukan Leon selaku bisa membuatnya tenang. Sangat tenang seperti dia menemukan rumahnya.
"Aku yang tidak pantas untukmu, kau pria baik, sudah seharusnya mendapatkan yang jauh lebih baik". Terang Nania membuat pelukan mereka terlepas. Ya Nania juga memeluk Leon karena baginya tubuh sahabatnya ini sangat hangat.
"Lalu siapa yang pantas untukmu? Zachry?" Nada suaraya sedikit meninggi.
Nania hanya diam. Karena tampa dia menjawabpun Leon akan mengerti.
"Hah, berapa kali aku katakan padamu, berhenti dijalanmu, kau tidak akan bisa sampai Nania, TIDAK AKAN".
__ADS_1
"Dan berapa kali juga aku katakan aku akan terus berjalan ditempatku tidak penting aku akan sampai cepat atau lambat, aku pasti akan sampai dan saat itu aku akan perlihatkan pada dunia aku bisa menaklukkan pria sombong itu".
Leon sangat frustasi, bagaima bisa Nania sangat keras kepala, apakah dia tidak sadar bahwa sekeras apapun dia berjuang tidak akan membuatnya berhasil.
"Kau sadar?, yang kau lakukan itu bukan cinta, tapo Obsesi!".
"Tidak penting itu cinta atau apa, aku hanya ingin membuatnya berlutut dibawahku". Nania berdiri dan berjalan melewati Leon.
"Dan aku peringatkan jangan pernah ikut campur dengan kehidupanku, jika tidak, maka tidak ada alasan bagiku untuk terus menganggapmu sahabat".
Leon yang emosinya sudah turun seolah terpancing kembali, dadanya bergemuruh dia sangat marah karena lagi-lagi Nania menolaknya tampa harga diri.
Dengan sekali tarikan tangan tubuh kecil itu menubruk dadanya. Membuatnya terkejut dan dengan cepat Leon menyudutkannya ke dinding, mengikat tangannya ke atas kepala dengan satu tngannya.
Dan seperti yang seharusnya terjadi, ciuman itu terjadi, yang awalnya lembut menjadi menuntut.
Dengan nafas terengah-tengah Nania yang sudah berhasil melepas tautan itu mencoba melepas diri tetapi gagal.
Malam itu kedua sahabat yang sedang bermasalah karena perasaannya tidak dapat diterima akhirnya berujung dengan penyatuan yang di dominasi oleh Leon.
Leon yang baru pertama kali melakukannya juga tahu ini bukan pertama kali bagi Nania. Tapi dia mengabaikan itu semua. Dia hanya ingin memiliki wanita yang dipeluknya dalam selimut ini, tidak perduli siapa yang melakukannya pertama kali. Dia hanya ingin Nania.
"Apakah kau bingung dan bertanya karena aku sudah terpakai lebih dulu oleh orang lain? Tanya Nania masih memandang sahabatnya yang memejamkan mata memeluknya. Dia tahu Leon hanya pura-oura tertidur.
"Inilah aku, wanita yang kau kira pantas, ternyata tidak seperti yang kau fikir, aku bahkan pernah melakukannya dengan Aariz" Sontak saja kalimat terakhir Nania membuat mata Leon terbuka.
Memandang wajah dibawahnya. Aura membunuh keluar dari dadanya. Dengan cepat dia membuka selimut dan akan keluar mencari pria brengsek itu tetapi sebuah pelukan dibelakangnya membuatnya membeku.
"Jangan pergi, aku akan terlihat menyedihkan kalau kau meninggalkanku dalam keadaan seperti ini"
"Tapi...
__ADS_1