
Seminggu setelah pernikahan Zachry dan Zara. Dan sekarang mereka sudah berada di mansion milik Zachry. Selama satu minggu ini mereka tidak lagi merasa canggung, tidak seperti awal-awal mereka menikah. Zara yang awalnya tidak bisa berbagi kamar dengan Zachry sekarang sudah tidak lagi. Mereka sudah sekamar. Dan sudah bisa mengobrol santai seperti pasangan-pasangan lainnya.
"Zachry, Kau tidak berangkat kerja?" tanya seorang wanita cantik disamping tempat tidur king size. Wanita yang bermata bulat dan bibir tipis itu mengenakan kaos rajut bolong-bolong kecil berwana cream. Semakin membuat wajahnya yang mungil semakin terlihat menggemaskan.
Tidak ada suara. Hening. Sampai beberapa saat. Zara kembali menggoyang-goyangkan tubuh Zachry karena merasa hari sudah semakin siang, sedangkan dia harus segera pergi.
"Zachry, kau tidak sengaja melupakan janjimu kan?" Zara memicingkan mata menghadap Pria yang sudah menjadi suaminya itu dengan lekat. Zachry memang masih menutup mata, jadi dia akan terus memperhatikan nya sampai menemukan kebohongan disana dan benar saja, Zachry sejak tadi hanya pura-pura tertidur.
"Oh..Istriku yang manis ini, sudah tega membangunkan suaminya yang tampan hanya karena ingin bertemu kekasihnya". Zachry memasang wajah jengkel.
"Ayolah, kau sudah berjanji padaku". Rengek Zara tampa merasa berdosa.
"Berikan aku satu ciuman makan aku akan segera mandi". Tawar Zach menaikkan alisnya.
Zara dan Zachry memang sudah sepakat menjalin hubungan mereka dari awal. Mulai dari teman. Awalnya Zachry tidak menerima karena dia merasa akan buang-buang waktu. Tetapi dia baru menyadari bahwa istrinya yang keras kepala ini akan semakin memberontak jika tidak di turuti.
"Kita bukan pasangan yang saking mencintai asal kau lupa". Zara berdiri meninggalkan Zachry yang menahan emosi. Dadanya bergemuruh. Mereka memang sepakat untuk memulai dari awal tapi tetap saja Zachry suaminya.
****
'ZaCake'
Disinilah mereka sekarang ,didepan toko Aariz. Semenjak kejadian malam itu Zara tidak pernah lagi mendengar kabar dari Aariz. Entah kenapa kekasihnya itu tidak memberinya penjelasan apapun. Ataukah memang Zara yang terlalu banyak berharap?
Dan apa yang harus Zara harapkan, sekarang dia bahkan sudah menikah, untuk apa dia marah? Bahkan saat kejadian itupun dia sudah menjadi tunangan orang lain. Tapi bagaimanapun dia tidak bisa membohongi perasaannya, dia mencintai Aariz.
"Kau akan terus berada disini? Atau masuk kedalam? Tanya Zachry yang masih didalam mobilnya.
"Aku..Apakah aku melakukan hal yang benar?" Gumamnya dengan suara kecil tapi masih bisa didengar oleh suaminya.
"Tanya pada hatimu, apakah yang kau lakukan ini benar atau salah?" Jawab Zachry. Sebenarnya dia ingin marah saat ini. Tapi dia akan sabar sebentar. Dia akan melihat sampai kapan istrinya ini bertahan dengan masa lalunya.
__ADS_1
Setelah membulakatkan tekad, akhirnya Zara menghembuskan nafas pelan. Dia tidak bisa menunggu lama, setidaknya dia bisa melihat wajah yang dirindukannya.
"Aku turun". Zara membuka pintu mobil. Berdiri didepan toko dan sesekali terlihat dia menghembuskan nafas panjang. Kemudian melangkah masuk toko.
"Kau datang?" Tanya seseorang wanita yang masih sangat di ingatnya, wanita yang pernah menamparnya. Stella.
"Hum, Aku kebetulan lewat dan mampir". Jawab Zara, mengambil tempat paling ujung untuk duduk.
"Maafkan aku" Tiba-tiba saja. minta maaf.
"Untuk apa? Tanya Zara heran. "Bukankah masalah saat itu sudah selesai?"
"Aku hanya merasa aku harus minta maaf padamu". Jawab Stella, setelah beberapa menit terdiam.
"Ku dengar kau kecelakaan, apa kau sudah baik-baik saja?" Tanya Zara serius, dia pernah mendengar salah satu karyawan disini mebgatakan bahwa Stella kecelakaan, tiba-tiba saja ada mobil dari arah belakang menabrak taksi yang ditumpanginya sampai menabrak pohon besar.
"Huem, aku baik-baik saja, tidak perlu hawatir". Stella melanjutkan "Oh iya selamat atas pernikahanmu".
"Bos tidak ada, Beberapa minggu sebelum pernikahan Nona, bos tidak pernah lagi ketoko" Stella menjelaskan seolah tahu apa yang Zara cari.
"Aku tidak mencarinya". Zara lantas segera berdiri dari duduknya, mengambil tasnya dan bersiap untuk keluar.
"Bukankah kau sangat egois Nona?" Zara berbalik
"Maksudmu?"
"Aku tidak tahu, bagaimana mungkin seorang wanita yang sudah menikah masih mencari kekasih lamanya". Stella jelas mencibir.
"Bukan urusanmu". Zara mendekat ke arah Stella "Ingat, siapa kau disini". Setelah mengatakan itu Zara berbalik dan keluar dari toko, dia masih melihat suaminya bersandar di badan mobil dengan tangan bersidekap di dada.
"Kenapa cemberut? Bukankah kau harus bahagia karena suamimu ini mengizinkanmu bertemu dengan kekasihmu?" Zachry menekan kata kekasih dan suami agar Zara sadar. Siapa dia saat ini.
__ADS_1
"Zach......." Suara nyaring dari arah belakang mengagetkan Zachry dan Zara yang akan memasuki mobil.
"Nania? kenapa kau ada di sekitar sini?" tanya Zach menatap lekat ke arah Nania yahg sudah didepannya
"Oh aku mencari ini, makanan kesukaanmu, aku akan mengantarnya ke kantor, tapi ternyata kita bertemu disini". Jawab Nania panjang lebar, tampa menghiraukan Zara yang sudah masuk dalam mobil.
"Jangan terlalu keras, kau akan lelah, dan aku tidak akan bisa membantumu".
*****
Di dalam ruangan Zachry di kantor tidak hanya ada Zara dan Zachry disana tapi juga ada Nania.
Zara hanya hanya diambmelihat bagaimana Nania melayani makan siang untuk suaminya. Apakah Zara akan cemburu? Tentu tidak, karena dia tidak mencintai laki-laki di depannya.
"Kalian makan lah, aku akan pulang". Putus Zara karena sudah jengah melihat bagaimana kerasnya Nania mengambil perhatian Zachry yang hanya menatap makanan itu dengan datar.
"Duduk" Titah Zachry melihat istrinya sudah berdiri. "Dan Nania, kembalilah aku akan makan siang bersama istriku".
"Tapi..? Nania dan Zara bersama, saling menatap kemudian menatap Zachry.
"Zara..." Zachry mengerang kesal karena Zara tidak mendengarkannya.
"Kalau kau berani keluar dari pintu itu, aku pastikan kau akan menyesalinya". Peringat Zachry sungguh-sungguh. Membuat Zara hanya mematung di tempat memikirkan apa yang akan Zachry lakukan padanya.
"Aku bilang kembali, Duduk".
Nania yang melihat itu, menjadi sangat kesal. dengan penuh emosi dia keluar dari ruangan itu, melangkah memasuki lift dengan segala umpatan keluar untuk Zara.
"Sialan..Jangan kira aku akan menyerah secepat ini'. Gumamnya dengan senyum penuh misteri.
"Kau ingin datang sendiri dan duduk bersamaku, atau aku yang akan membawamu dengan paksa". Zachry sangat kesal saat ini. Sudah cukup dia menuruti permintaan konyol istrinya. Dan dia tidak akan terima saat istrinya hanya diam saja melihatnya bersama wanita lain. Oh dia tidak akan terima.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan duduk, kau tidak bosan terus-terusan mengancamku?" Zara berjalan ke sofa yang tadi dia tempati.