
"Stella, tenangkan dulu dirimu, oke!". Alena masih terus membujuk adiknya, dia tidak tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Stella kembali histeris padahal sudah bebefapa bulan iji dia sudah dinyatakan baik-baik saja.
"Ale, aku mencintainya, tetapi dia..hiks". Stella menangis pilu, dan Alena yang mendengar tangisan adiknya merasa sangat sedih. Andaikan saja dia memiliki cara untuk menyelamat adiknya dari Nania, tidak mungkin dia akan mengikuti permainan wanita itu, dan bodohnya dia. Bukannya membaik semuanya menjadi semakin kacau.
Malam itu Alena dengan sekuat tenaga membuat Stella meminum obatnya sampai akhirnya, Stella bisa tertidur dengan damai kembali.
Dikediaman Zachry seperti biasa Zara dengan kebiasaan barunya, mojok dibawah selimut tebal. Sementara sang suami sudah sejak tadi hanya menatapnya heran. Zachry sudah menggunakan pakaiannya, dia selalu terlihat sempurna dengan kemeja warna putihnya.
Tengah asyik memandang istrinya, tiba-tiba kepalamya kembali pusing, dia lapar dan ingin memakan roti. "Oh ada apa denganku?". Sambil memejit kepalanya pelan
"Sayang,,? kau masih mengantuk?" Tidak ada jawaban sama sekali, Zachry memaklumi kebiasaan baru istrinya, sebelum dia turun ke lantai bawah dia sempatkan mencium kening istrinya. Dia akan turun sarapan setelah itu kekantor. Sudah seminggu sejak Zara tiba-tiba minta sarapan dan Zachry merasa istrinya sering tertidur membuat dia mau tidak mau mencari tikang masak.
Dan karena Zara tidak membolehkan seorang wanita melayani suaminya, Zachry akhirnya mendapatkan koki pria yang seusia Daddy Edgar.
"Tuan, sarapan anda sudah siap" Katanya dengan sedikit membungkuk setelah melihat Zachry berjalan ke arah dapur.
"Hm, terima kasih". Dia mendudukkan diri di kursi dan mulai memakan makanannya.
"Rafh, Nanti kalau Nyonya sudah bangun, tolong beri tahu aku sudah berangkat". Katanya kemudian setelah menghabiskan semua makanannya, kepala masih saja pusing, dia sudah menghabiskan makanannya, tetapi dia ingin memakan roti sekarang.
Setelah mengatakan itu, dia bangkit dan meraih kunci mobil, dia tidak ke atas lagi karena dia harus segera berangkat. Dengan langkah lebar dan berkarisma Zachry keluar Mansion dan melajukan mobilnya ke arah tujuannya.
Namun lagi, dia menginginkan sebuah roti. Zachry berdecak kesal. Mau tidak mau di membelokkan mobilnya kearah lain. Ujung sana dia sudah melihat toko yang dia inginkan.
'Zacake'.
Zachry berdecak pelan, dia sangat kesal harus masuk ke toko ini namun dia menginginkan roti didalam. Dengan langkah lebarnya dia melangkah masuk, mendorong pintu kaca dengan sedikit kekuatan.
Agatha yang melihat siapa yang sepagi ini sudah berada di tokonya mengeryitkan dahi "Maaf tuan, anda menca-"
"Berikan aku semua jenis roti yang ada disini" katanya sudah duduk dikursi pengunjung.
Agatha segera melakukan permintaannya, walau sebenarnya dia sangat aneh dengan suami Bosnya dulu. Tengah menantikan Agatha mengambilkan roti. Pintu kaca terbuka menampilkan pemuda tampan dengan kemeja Navy, Aariz melangkah ke arah Zachry yang masih menatapnya dingin.
"Jangan mehatapku seperti itu". Aariz duduk didepan rivalnya. "Jadi apa yang membawa Tuan besar kita membuang waktu ke tokoku pagi-pagi sekali". Aariz terus saja menatap Zachry yang terus menatapnya malas.
Saat Aariz akan kembali berbicara Agatha datang dengan berbagai jenis roti didalam plastik, beserta struk harga.
__ADS_1
"Silahkan Tuan roti anda". Agatha memberikan sekantong penuh roti. Dan membuat Aariz bingung.
Setelah Zach membayar dan berniat akan meninggalkan toko tersebut, Aariz menahannya. "Bagaimana keadaannya?" pertanyaan itu sontak membuat Zachry geram, pasalnya dia tidak akan pernah suka jika menyangkut dengam pria di belakangnya. Lagi, dia menanyakan kabar istrinya, dia tidak suka.
Zachry berbalik, dan melangkah maju beberapa langkah untuk sampai didepan Aariz. Menghela nafas pelan lalu memindai lawannya dari atas sampai bawah "Apakah kau merindukan adikmu?"
Jawaban Zachry tentu saja membuat Aariz bingung, Agatha yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri hanya diam, dia juga takut bagaimana jika kedua orang ini akan melakukan aksi pukul memukul lagi?
"Adik?" yang di angguki mantap oleh Zachry. Lalu senyuman miring itu tercetak disudut bibirnya.
"Awalnya aku ingin menghabisimu, tetapi saat aku tahu bahwa kalian ternyata adalah saudara aku mengurungkan niat". Kembali memperhatikan wajah Aariz yang masih terlihat terkejut "Bukankah aku memang barus berbuat baik pada kakak iparku? kata Zachry membuat Aariz semakin merasa dipermainkan.
"Sudahlah, aku akan pergi dulu kakak ipar". Zachry menepuk pundak Aariz pelan untuk membuat lelaki itu sadar dari kediamannya.
Zachry melangkah bahagia, karena dia mendapatkan apa yang dia inginkan sekantong penuh roti dengan berbagai macam isian.
Disisi lain Aariz masih berdiri mematung, memandangi punggung Zachry yang semakin menjauh darinya. " Kau kira aku kan percaya dengan bualan recehmu?" katanya, dan memutar diri melangkah masuk ke ruangannya.
Saat akan ke ruangannya dia berpapasan dengan Felix, Karyawan baru didapur, semenjak menghilangnya Stella Aariz kembali mencari karyawan baru dan hanya mengkhususkan pria saja. Untungnya dalam beberapa hari Felix datang dan disinilah dia saat ini.
"Selamat pagi, Tuan". Katanya melihat Aariz yang baru saja datang.
"Tentu, Tuan terima masih sudah memberi saya kesempatan". Felix tersenyum lebar, dia masih sangat muda dibandingkan karyawan lainnya, jika dilihat sepertinya dia baru saja lulus sekolah.
"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu". Setelah mengatakan itu Aariz masuk kedalam ruangannya.
Ditempat lain seorang pria paruh baya, tengah menerima sebuah panggilan di dalam ruang kerjanya "Apa katamu?" jawabnya sangat terkejut
"Ya, Tuan Zach sepertinya sudah mengetahui semuanya". lapor seseorang dari balik layar ditangannya.
"Lalu bagaimana anak itu?"
"Tuan Aariz hanya diam, sepertinya dia tidak menghiraukannya sama sekali".
Tuan Dixon memutuskan panggilan itu sepihak, lalu pria tua itu memijit pangkal hidungnya, kepalanya terasa pening.
Dia tidak menyangka bahwa menantunya sudah melangkah sangat jauh, namun sekali lagi dia tidak akan bisa marah, dia tahu Zachry sangat mencintai putrinya. Dia yakin dia melakukan ini karena merasa Aariz adalah ancamannya. Setidaknya dengan Zachry mengetahui ini Anak itu anak aman. Tetapi bagaimana dengan Zara dan istrinya Luna? Apakah kedua wanita itu anak mengerti nantinya.
__ADS_1
Tiba-tiba tangannya menjadi dingin, degup jantungnya tidak beraturan, dengan sekuat tenaga dia menenangkan dirinya, mengabil air minum dan menelan satu buah pil yang selalu ada didalam laci kerjanya.
"Semuanya karena kesalahanku". Setelah mengatakan itu pria tua itu duduk dan menegadahkan kelapa ke atas dengan mata tertutup. Dia masih ditempatnya duduk dkurai kebesarannya saat menerima telpon daei seseorang yang dia perintahkan memantau keadaan.
Dia kembali mengingat kembali kejadian dua puluh lima tahun lalu, dimana saat itu seorang wanita tengah menangis karena teryata suaminya
Baru saja menikah dengan pilihan orang tuanya. Dia masih mengenakan pakaian rumah sakit karena baru saja melahirkan putra sulung mereka.
"Dixon, kau tega padaku dan anakmu?" isaknya masih memeluk satu kengan suaminya yang masih menggunakan tuxedo.
"Maria, maafkan aku". Hanya itu yang bisa dia ucapkan.
"Kau mengatakan bahwa kau akan membawaku ke dalam keluargamu, tetapi apa ini? Kau menikah disaat aku melahirkan anak kita? Wanita cantik itu masih terisak pilu.
Dixon memeluk istrinya, dia sangat mencintai wanita ini, tetapi tidak bisa membawanya masuk kedalam keluarganya, Ayahnya akan menolak. Dan itu akan membuat semuanya kacau dengan kesehatan Ayahnya yang sudah semakin keritis.
"Dengarkan aku hm, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun, tetapi bolehkah aku meminta satu hal darimu?".
Maria mendongak melihat suaminya dan mengangguk "Jangan pernah muncul lagi untuk sementara waktu".
Maria terkejut dia mendorong Dixon sangat kasar "Apa maksudmu? Setelah kau menikah dengan wanita lain dan sekarang kau tega mengusirku dan anak kita begitu?". Pekik Maria tidak bisa mengontrol amarahnya, dadanya naik turun dia sangat marah.
"Sayang, dengarkan aku, hanya sementara sampai semuanya membaik, aku berjanji akan selalu menjenguk kalian". Dixon terus saja membujuk istrinya dia tidak ingin kedua orang tersayangnya ini mendapat masalah.
"Aku sudah menyiapkan rumah untuk kalian di Malta, anak buahku anak mengantar kalian kesana. Aku akan mengusahakan datang secepatnya". Setelah mengatakan itu Dixon berlalu dari sana dengan lerasaan tidak menentu. kecuoan sayang dia berikan pada putra sulungnya yang masih sangat merah. Maria melihat itu dengan haru.
Suara ketukan dari luar membuyarkan lamunan pria paruh baya itu. Setelah mengangkat kepala dia melihat istrinya Luna datang dengan tersenyum lembut "Apa yang kau fikirkan?" Tanyanya melihat suaminya yang hanya diam.
"Kemarilah, aku merindukanmu". panggilnya dan menarik satu kursi yang dia khususkan untuk istrinya.
"Jangan berbicara gombal, kau tidak lihat kau sudah tua?" Luna memutar matanya malas. Tetapi dia memeluk suaminya.
"Ada masalah apa? Ku perhatikan kau selalu saja melamun?"
"Aku sudah tua, wajar saja aku akan terlihat banhak melamun, aku takut meninggalkanmu-".
"Jangan banyak omong kosong, kita akan berumur panjang". Dixon mengagguk bahagia, dia mungkin bisa dikatakan beruntung Maria dan Luna sama-sama wanita baik dan lembut, dan dialah penjahatnya. kebenaran yang dia tutupi hampir saja membuat kedua anaknya menikah.
__ADS_1
"Eugghhh". Zara melenguh.
Dia membuka mata dan dan tidak mendapatkan siapapun dikamarnya. Matanya tertutju pada jam di atas nakas. "Menghela nafas kemudian bangkit hati-hati dan duduk. Dia sempatkan mengelus perutnya "Sayang, Ayahmu bahkan tidak membangunkan kita". Gerutunya melangkah ke kamar mandi.