Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 49 | Apa ada makanan lain?


__ADS_3

"Zach, kau pulanglah dulu, aku menghawatirkan kakak ipar". Ujar Leon yang sedari tadi memandang sepupunya nanar. Zachry yang mendengar itu kemudian teringat bagaimana terkejutnya Zara saat melihatnya membawa Nania tadi. Dengan perasaan kacau Zachry berdiri dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.


Leon sudah berjanji akan memberinya kabar saat Nania bangun. Lagi semua tegus juga sudah berada disana. Zachry merasa sangat bersalah karena mengabaikan istrinya.


Dia lupa menjelaskan hal yang behubungan dengan Nania selama ini. Dia akan berjanji setelah ini dia tidak akan merahasiakan apapun dari Zara. Dengan langkah lebar Zachry mengambil mobil dan membawanya menjauh dari halaman rumah sakit.


Berulang kali dia mendeal nomer istrinya namun tidak juga ada jawaban meski terhubung. Didalam ruang kerja Zara ditoko ponsel miliknya terus saja berdering sejak tadi.


"Sayang ayo angkat, maafkan aku, kamu hanya salah faham". Zachry terus melajukan mobilnya ke arah jalan pulang, dia berfikir mungkin saja Zara kembali pulang karena hobby istrinya belakangan adalah tidur.


Dengan kecepatan penuh akhirnya dia sampai juga, Zachry memarkirkan mobilnya sedikit lebih dekat dari teras mansion. Sudah tidak sabar meminta maaf. Dia sedikit berlari masuk dan bertemu dengan Rafh di ruang tengah yang menatapnya bingung.


"Rafh, Nyonya diatas?" Rafh semakin bingung jelas sejak pagi Nyonya sudah berangkat, dan dia tidak melihat Nyonya Zara pulang, bahkan suara mobilnya saja tidak ada.


"Maaf Tuan, bukannya Nyonya belum kembali? Saya belum melihat mobilnya datang".


'Degh


Yah Zachry melupakan mobil istrinya, bisa-bisanya dia melupakan keberadaan mobil merah itu. Lalu kemana Zara? Sial sekali hari ini karena kedua pengawalnya memang dia liburkan karena mengira bahwa Zara tidak akan keluar dari kamar.


Dia merogoh ponsel di dalam kantong jasnya, mendeal kembali nomer tersebut namun tetap tidak ada jawaban.


Zach membuka kembali aplikasi lain dan melihat dimana letak titik ponsel istrinya. "Ditoko". Gumamnya lalu kembali berlari membawa mobilnya ke arah titik dimana Zara berada.


Zachry merutuki dirinya karena tidak terfikirkan bahwa Zara akan ke toko sedangkan dia tahu betul toko adalah rumah kedua Zara.


Setelah beberapa menit diperjalanan, pria tampan bertubuh tinggi itu melangkah masuk ke dalam toko yang terlihat masih sepi.


Membuka pintu yang tidak terkunci, dia melangkah masuk dan memanggil istrinya "Sayang, kau didalam?". Teriaknya pelan dengan terus melangkah ke arah ruang kerja Zara yang dia modif sesuai dengan karakter istrinya.


Membuka pintu, Zachry mengerutkan kening karena hanya mendapatkan tas kecil istrinya disana dengan ponsel yang masih tergeletak begitu saja diatas meja.


Perasaannya mulai tidak enak, dia merasa takut, dimana istrinya?

__ADS_1


Apakah dia bersembunyi?


Dimana?


"Sayang, kau dimana? Jangan bermain-main?" Zachry keluar dari ruangan itu. Membawa tungkai panjangnya ke arah gudang dan dapur namun tidak ada tanda-tanda bahwa kedua ruangan itu sudah dimasuki seseorang.


Zachry panik, karena tidak menemukan istrinya dimana pun. Dia memerintahkan anak buahnya mencari dimana kemungkinan Zara berada. Dengan perasaan campur aduk dia menunggu kabar dari anak buahnya.


Lama menunggu akhirnya sebuah panggilan masuk membuatnya sangat marah. "Sialan".


"Aku tidak mau tahu kalian harus mencarinya, kurang dari dua puluh empat jam kalian sudah harus menemukannya"


"Dan jika tidak, kalian sendiri akan tahu akibatnya".


Dilain tempat Aariz tengah mengerjakan data-datanya terpaksa harus berhenti karena sebuah panggilan masuk.


Sekilas dia melihat nomer tersebut lalu menjawabnya.


Dalam beberapa detik wajah datarnya berubah seperti biasa, seperti tidak terjadi apapun, dia kembali mengerjakan laporan-laporan keuangannya.


Selama Zara tidak ditokonya memang pelanggannya berkurang, namum dia tidak akan menyerah untuk terus memberi yang terbaik.


Waktu berputar sangat cepat anak buahnya belum juga memberinya kabar membuatnya semakin fruatasi. Dia berfikir apakah dia akan memberi tahu mertuanya atau menunggu sebentar lagi.


"Makanlah, sudah seharian kau tidak makan apa kau tidak lapar?" Si kurir memberikan sepiring makanan didepan Zara. Wanita itu memang sangat lapar apalagi selama keadaan hamil apapun akan terasa nikmat. Namun karena takut makanan itu beracun dia menahan laparnya.


"Makanlah, tidak ada racun didalamnya".


Zara melihat kembali makanan didepannya, lalu menatap pria yang sudah membawanya itu dengan sinis, walaupun dalam kondisi diculik tetapi Zara tidak terlihat tertekan atau apapun sebagai korban.


Jelas saja, dia sudah berada di meja makam besar, tangan dan kakinya tidak terikat, tidak ada tanda-tanda bahwa dia adalah korban peculikan sebenarnya.


Zara meraih piring yang berisi nasi goreng, menyendokkan sedikit lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Enak.

__ADS_1


Dia melihat sekelilingnya ruang makan ini sangat luas, corak yang dipilih sangat pas. rumah siapa ini? Batinnya masih terus mengunyah makanannya


"Kenapa kau menculikku?". Tanyanya memicingkan mata dengan mulut terisi.


"Aku sudah mengatakan aku menginginkanmu, sayang". Zara berdecak, dia sudah tidak setakut siang tadi entah itu karena perutnya sudah terisi atau karena dia merasa bahwa pria ini sufah tidak seberbahaya tadi.


"Aku baru tahu setelah makan mood mu langsung berubah, tadi siang saja kau menangis karena takut, tapi sekarang?" menatap Zara tidak percaya.


Menghela nafas, dia juga bingung kenapa kewaspadaannya menurun. "Kau masih punya makanan lain?" Mendengar itu si Pria hanya tergelak tahanannya meminta makanan lain.


"Aku butuh makanan manis, kau punya?" Zara masih menunggu.


Si Pria berdiri menggeser kursi kebelakang dan melangkah menuju kulkas besar dia menunduk dan mengambil makanan manis didalam lalu membawanya ke arah Zara.


Zara yang melihat itu matanya berbinar, senyumnya merekah. "Kau sesenang ini karena sebuah makanan?". Pria ini tidak percaya, dia meletakkan cake itu didepan Zara dan melihat bagaimana mata bulat itu sangat terlihat senang.


Satu tangannya terulur menepuk kepala Zara lembut. "Makanlah, aku akan menyuruh pelayan membersihkan kamarmu?" katanya berlalu tetapi tidak dijawab oleh Zara karena dia lebih memilih makanannya.


Ini bukan pertama kalinya dia diculik, tetapi beruntungnya saat itu Daddy nya menemukannya karena dia membawa ponsel. Dan sialnya sekarang dia meninggalkan ponselnya ditoko


"Apakah mereka akan menyadari ketidak beradaanku lagi?" tanya dalam hati.


Setelah menghabiskan satu mangkok full, Zara merasa senang karena perutnya sudah terisi. "Entahlah, seperti apa nanti tubuhku kalau terus makan sebanyak ini". Gumamnya mengelus perut ratanya.


Si pria datang, melihat Zara yang tengah mengelus sayang perutnya "Kau sudah kenyang?". Tanyanya dia semakin terkejut saat melihat isi mangkok itu tidak tersisa.


"Kau menghabiskan ini semua? Oh sepertinya aku menculik orang yang salah". Katanya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.


Zara yang melihat itu hanya cengegesan. Seperti tidak berdosa.


"Kalau begitu, antar aku pulang?


Menghela nafas panjang "Tidak sayang, kau akan disini bersamaku".

__ADS_1


__ADS_2