Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Kedatangan Zachry


__ADS_3

“Seperti yang kau lihat,” Zachry tersenyum.


“Aku bahagia karena setidaknya kehilanganmu selama dua tahun ini tidak sia-sia, kau bahagia dan itu bagus”


“Dimana Zara?” ucap Zachry tampa basa-basi, dia sudah tidak sabar menanyakan ini sejak tadi.


Aariz hanya mentapnya lekat, mereka sma-sama diam. Sebagai seorang kakak tentu saja Aariz sangat benci dengan pria didepannya, namun membalasnya dengan kekerasan tidak akan membuat puas. Biarkan saja seperti ini, biar Tuhan yang menentukan semuanya.


“Bukankah sudah terlambat mencarinya sekarang?” jawabnya masih tenang.


“Dia juga bahagia sama sepertimu, bahkan mumgkin lebih bahagia,” mendengar itu Zachry seperi tidak terima, dia berdiri dan meraih kerah baju Aariz, tatapannya tajam seakan ingin menghabisi Aariz saat ini juga.


“Wah, wah, kau masih saja emosional seperti dulu,” Aariz menyingkirkan tangan Zachry dan menepisny kuat, kemudian merapikan kerahnya yang sedikit kusut.


“Katakan dimana dia? Bagaimana dengan anak kami?”


Pertanyaan Zachry membuat Aariz juga ikut geram karena mengingat dua keponakannya yang lahir dengan ayah lain.


“Kau baru mengingat anakmu? Jangan mencarinya karena mereka tidak mengenalmu, mereka punya papa yang baik”


Jawaban Aariz sekali lagi membuat Zachry kepanasan dan terkejut, mereka, papa baru, apa maksunya?”


“Kau bingung? Biarku jelaskan, sekarang duduklah!”


Zachry akhirnya duduk adan menunggu Aariz melanjutkan kalimatnya walau jantungnya sekarang memompa sangat kencang, ada perasaan yang tidak enak dihatinya.


“Pertama tenangkan dirimu, sebagai teman aku akan mengatakan kebenaran, entah nanti Zara akan protes atau tidak, setidaknya kau tahu bahwa kau memiliki anak kembar,”


“Kembar?” mata Zachry berkaca-kaca karena mengetahui keadaan anaknya, anak yang dia rindukan selama pernikahannya. Dia merindukan anak iu selama ini. Tentu dengan ibunya juga.


Aariz mengangguk, dan tersenyum dia merasa ragu dengan ekspresi yang ditunjukkan Zachry, semakin membuatnya penasaran apa yang terjadi.


“Yah, mereka kembar, Zein dan Zoya, mereka sangat menggemaskan dan sangat pintar, kau mau melihat foto meteka?”


Zachry menangguk semangat dan menjulurkan tangannya meminta Aariz segera memperlihatkannya foto anaknya.


“Ini, mereka, mereka anak-anakku?” katanya melihat kea rah Aariz yang lansgung di angguki mantap. Air matanya mengalir, akhirnya dia bisa melihat anak-anaknya rindunya sedikit terobati. Dia memeluk ponsel Aariz. Tidak perduli sekarang semua karyawan Aariz melihatnya menangis.


“Dimana mereka? Aku, aku ingin bertemu anak-anakku, Zara harus kembali padaku?” katanya masih menatap wajah menggemaskan di balik layar mahal Aariz.

__ADS_1


“Aku bisa membawamu bertemu mereka, maksudku Zein dan Zoya, tetapi maafkan aku tidak bisa memastikan Zara kembali,”


“Apa maksudmu? Kau menyembunyikan dimana istriku?”


“Apa maksudmu istri?” kata Aariz. Dan tentu saja membuat Zachry bingung.


Keduanya terlihat bingung, lebih Aariz dia benar-benar membaca surat cerai mereka dan kenapa sekarang pria didepannya masih menganggap mantan istrinya sebagai istrinya?


Aariz menjelaskan semua yang dia ketahui, tepat disaat hari dimana Ayahnya mengatakan bahwa Zara dan dirinya adalah saudara, awalnya Aariz tidak hawatir karena Zachry pasti akan membawa istrinya kembali, untuk itu dia dan kedua orang tuanya lansung ke rumah ibunya.


Mereka yang sempat menginap jelas saja setelah kembali tidak menemukan dimana Zara, mereka mengetahui setelah Zara menerima surat cerai dari Zachry, dan mau tidak mau untuk melindungi anak mereka ya membuatnya pergi.


Dan untung nya David bersedia membantu.


Tentu semua orang bisa melihat bagaimana dia merawat Zara yang tengah mengandung anak kembar, dengan sabar David menemani, hingga pada akhirnya mereka memutuskan menikahkan mereka setelah kelahiran kembar Zein dan Zoya.


Lagi, mereka senang karena Zara tidak menolak.


“Tidak! Aku tidak pernah mengurus surat cerai, aku bahkan baru tahu kehilangan Zara karena hal ini, aku mengira karena-” Zachry mengingat sesuatu dan dia mengumpat.


“Ada apa?” kata Aariz melihat kemarah dimata Zachrhy sekarang.


“Bagaimana kalau besok? Perjalanan ketempat mereka memakan waktu dua hari, dan semalam aku baru saja sampai dari mengunjungi mereka.”


Seperti yang di janjikan Aariz hari ini mereka berangkat ke kota dimana Zara dan David inggal, Aariz tidak menceritakan bahwa Zara sudah menikah, biar saja dia yang menjelaskan sendiri, karena Zachry hanya inin melihat anak-anaknya.


Sepanjang jalan Zachry hanya diam, jantungnya berdegup kencang, setelah dari toko Aariz memang dia tidak kembali lagi ke mansionnya melainkan menginap di apartemen Aariz.


“Kau siap?” Tanya David pada Zara, wanita itu masih saja memeluknya erat suaminya. di ingatkan kembai Selma bersama David, Zara menjadi sangat manja, seperti menemukan tempat kembali.


“Siap, ada kau menemaniku” jawabnya tenang, memang semaam Aariz sudah mengatakan bahwa Zachry akan datang menemui Zein dan Zoya, walaupun kesal karena kakaknya seenaknya mengambil keputusan, Zara juga tidak bisa mencegah Zachry melihat anaknya.


Setelah melakukan perjalanan dua hari kini Zachry dan Aariz sudah tiba di sebuah kota kecil dengan pemandangan yang masih asri. Jantungnya berdegup kencang bahkan dia tampa sadar meremas telapak tangannya.


Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, sanggupkah dia menjelaskan pada Zara? Maukah wanitanya kembali, bukankah mereka bertiga seharusnya sudah cukup menjauhinya kerena kesalah pahaman ini.


Hingga kedua pria itu sampai di salah satu rumah bercat putih dengan halaman rumput luas didepannya. Aariz membawa Zachry turun dari mobil, hari memang sudah siang. Tetapi karena didaerah meraka yang banyak pohon matahari tidaklah menjadi halangan.


Bahkan dihalaman dua anak menggemaskan itu tengah berlarian aling mengejak. Mata Zachry berkaca-kaca, dia tahu mereka berdua adakah anak-anaknya. Zein dan si cantik Zoya

__ADS_1


“Paman Ais..” Zoya yang melihat pamannya lebih dahulu berlari dan disusul oleh Zein dibelakangnya.


Aariz berjongkok dan merentangkan kedua tangannya menyambut mereka berdua dalam pelukannya, Zachry ingin melakukan hal yang sama tetapi dia masih sangat canggung.


Aariz melihat kea rah Zachry yang terlihat sangat canggung, dia tidak tahu harus menjelaskan apa. Maka dia membawa kedua anak kembar itu masuk dengan di ikuti Zachry dibelakang mereka.


Bukan hanya jantung Zachry yang tidak menentu tetapi Zara juga.


“Kau baik?”


Zara menggangguk dan membalas genggaman tangan David.


Temui mereka, aku akan menyusul nanti”


Awalnya Zara tidak ingin namun David membuatnya yakin, memang seharusnya diselesaikan lebih cepat.


Zachry memasuki rumah sederhana namun sangat memberi ketenangan, dia mencium wangi Zara diseluruh ruangan, wangi yang sama yang berada diruang kerja Aariz.


“Mama..mama paman Ais datang” ucap Zoya masuk mencari mamanya. Jantung Zachry semakin tidak menentu.


“Tenangkan dirimu, ayo duduk dulu”


Dari dalam Aariz dan Zachry mendengar suara langkah kaki dia tahu bahwa iru adalah Zara wajah Zachry mendadak pucat karena gugup.


Sementara itu Zein yang sejak tadi hanya diam, terus memperhatikan Zachry seperti ada yang menarik perhatiannya.


Zara keluar dengan dress dengan bawahan lebar mengembang, berwara putih, rambut sebahunya yang diwarna coklat membuatnya semakin berseri. Jangan lupakan lesung pipinya yang kecil.


Dengan jantung yang terus berdegup Zara masih berusaha menahan senyumannya. Melihat Zachry duduk berseblahan disamping Aariz.


Dengan langkah santai, dia mendekat dan mengecup kedua pipi kakaknya, lalu duduk tidak jauh dari mereka.


“Zein, masuk dulu sayang, papa lagi main bersama Zoya, Zein tidak ingin ikut bermain?”Zein yang sedari tadi menatap Zachry mendengar papanya bermain bersama Zoya langsung turun dari pamngkuan pamannya dan berlari masuk.


“Papa!” teriaknya tidak terima karena tidak di ajak.


“papa..? siapa yang mereka maksud?”


“Aku akan masuk, kalian bicaralah dengan santai ingat jangan sampai kalian membuat kedua keponakanku takut” ancamnya lalu meninggalkan mereka berdua. Tujuannya adalah kamar bermain kedua keponakannya dan melihat kekuatan hati David.

__ADS_1


“David, aku akan mentraktirmu roti di tokoku jika kau ditinggalkan” gumamnya dengan senyuman misterius.


__ADS_2