
Masih di toko setelah kepergian David wajah Zachry terlihat murung, Aariz tahu pasti karena tadi Zein mita adik. Pria itu menepuk pundaj Zachry pelan.
“Kau memikirkan apa?”
“Tidak ada,” jawabnya kembali menyesap kopi digelasnya, Zein dan Zoya malah tertidur didalam, karena memang kedua anak itu terbangun sangat cepat tadi.
“Zara?” tebak Aariz tetapi tidak mendapatkan jawaban.
“Lupakan dia, biarkan dia memilih hidupnya sendiri,”
“Aku masih tidak percaya dia meninggalkanku, dan memilih pria lain yang-” Zachry mendesah, bagaimanapun David bukan pria yang pantas untuk Zara. Dia jelas melihat semuanya saat bersama Alena.
“Tidak ada yang pantas atau tidak, kalau Tuhan sudah menentukan, lagi setiap orang punya masa lalu.”
Zachry mengangguk. Apa lagi yang bisa dia lakukan. Mungkin memang seharusnya dia melepaskan Zara. Jika memang dengan David dia bahagia maka dia akan berusaha merelakan walaupun itu sulit.
“Jadi kau dan Nania akan menikah?”
“Itu hanya mimpinya, dia ternyata adalah anak dari Dadku,”
“Apa!?” Aariz jelas terkejut mendengar kenyataan ini. Bagaimana mungkin Nania adalah anak dari Ayah Zachry.
“Jadi kalian saudara juga, lalu kenapa menikah?” jelas Aariz bingung.
“Dia anak kandung, sedangkan aku hanya anak tiri, Mom menikahi Dad Edgar saat aku sudah lahir.”
Zachry menceritakan semuanya, apa saja yang Momnya katakan.
“Jadi untuk itulah Nania mengambil kesempatan ini, dia meminta Dad, menikahkannya denganku sebagai permintaan maaf karena meninggalkan anak kandungnya dan merawatku,”
“Oh my God brother, aku tidak menyangka hidupmu sangat memprihatinkan,” kata Aariz dengan nada terkejut, tetapi langsung diam saat tatapan Zachry menembus jantungnya.
“Lalu kenapa dia masih sangat yakin kau akan menikahinya?”
“Karena mereka berdua mengancam, tidak akan membantu biaya pengobatan Mom, aku sudah tidak bekerja lagi diperusahaan setelah tahu Zara meninggakanku,”
Aariz sudah mengerti sekarang kenapa Zachry sudah tidak sesibuk 2 tahun lalu.
**
“Bagaimana jalan-jalannya?” Kata Zara melihat kedua anaknya datang bersama dengan Aariz.
__ADS_1
“Senang, Sein senang karena ada Daddy,”
“Hum, oke mama mengerti, bagaimana dengan putri mama ini?” katanya melihat kearah Zoya.
“Soya juga senang, dimana papa?”
“Papa dikamar, kalian bagunkan dan kita makan siang bersama, hem?” keduanya mengangguk dan berlari, Zara sampai meringis karena keduanya sangat gesit.
“Mereka berdua dublikat kalian berdua. Jika Zein seperti Zachry maka Zoya sama sepertimu.”
Zara hanya diam tidak menjawab apa yang Aariz katakan. Terlalu malas membahas masalah ini.
“Mereka akan menikah seminggu lagi,” ucapan Aariz membuat Zara menghentikan langkahnya. Tidak menoleh tetapi Aariz tahu jika adiknya merasa terluka.
“Itu urusan mereka.”
“Kau tidak lelah membohongi dirimu?” Aariz melangkah cepat dan berdiri didepan adiknya. Memegang bahunya dan memaksa Zara mentapnya, setelah itu membawa Zara ketaman belakang mereka akan membicarakan hal penting disama.
Zara tidak menolak. Dia harus mendengar semuanya setelah iu menentukan apa yang harus dia putuskan.
“Sekarang aku tanya, kau masih mencintainya?”
“Tidak!”
“Hah, jangan memulai, aku mencintaimu juga karena terpaksa.” Kilahnya.
“Aku tidak percaya.”
Zara berdecak. Aariz yang melihat kekesalah adiknya lantas terbahak. Lalu membawa Zara duduk di gazebo kecil yang berada disana, mereka berdua duduk berdampingan.
“Masih ada waktu untuk mengungkapkan kebenarannya.”
“Aku tidak mau. Sangat aneh rasanya jika harus kembali.” Kata Zara sudah tahu niat David dan Aariz membawanya kembali ke kota ini.
“Kau tidak kasihan dengan kedua anakmu? Mereka membutuhkan Daddy nya, Ra” ucapnya lembut. Jika Aariz sudah menyebut nama pendek Zara artinya dia sangat serius dalam bicara
“Merea memiliki David sebagai papa mereka.”
“Dan kau akan memenjara pria malang itu. Dia akan menjadi ayah dari anakmu.” Zara ingin menyela tetapi Aariz mencegahnya. Dia harus menyelesaikan pembahasan ini secepatnya.
“David sudah cukup membantu kita, dia bahkan merelakan masa mudanya, aku tahu dia sangat mencintaimu, dibanding dengan cintaku padamu dulu mungkin cintanya jauh lebih besar sehingga selama dua tahun ini dia rela berpura-pura menjadi suamimu.” Kata Aariz panjang lebar.
__ADS_1
Mereka memang sepakat membuat cerita palsu pada Zachry seolah telah menikahkan Zara dengan David karena kedua bayi mungil itu akan lahir. Tetapi kenyataanya adalah keduanya tidak pernah menikah. David memiliki rumah dibelakang rumah yang Zara tempati. Pria itu akan kembali kerumahnya saat kedua anak itu sudah terlelap. Dan akan kembali saat pagi sebelum keduanya bangun.
Mereka menjalani hari seperti itu seterusnya. Rasa cinta yang David beri pada Zara adalah tulus. Dia mencintai wanita itu, tetapi tidak akan meminta balasan karena tahu dia tidaklah pantas mendapatkannya.
Zara wanita baik. Tapi tidak dengan dirinya yang sudah sering menghabiskan malam dengan wanita lain sebelum Zara berhasil didapatnya.
“Tapi-”
“Kau lupa, kau sendiri yang mengatakan bahwa akan mengatakan yang sejujurnya jika Zachry mencarimu, dan lihat dia datang, dia mengakui kebodohannya.”
****
“Jadi bagaimana keputusannya?” tanya David mereka berada dibalkon kamar.
Zara masih bersandar dibahu kokoh milik David. Bahu yang selama dua tahun membantunya berdiri sampai kuat.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Zara
“Karena aku mencintaimu, aku sudah sering katakan aku mencintaimu sangat.”
Katanya tulus mengecup lembut pucuk kepala Zara. Wanita itu hanya memejamkan matanya.
“Maafkan aku karena idak bisa membalasnya.”
“Tentu sayang, kau istri orang lain mana bisa membalas cinta pria lain.” Kata David dengan tawanya namun siapa yang tahu hatinya masih sakit seperti pertama kali mengetahui wanitanya menikahi pria lain.
Jika dilihat dari awal kembali, cinta Davidlah yang lebih besar. Dia menunggu Zara selama ini, mengintainya dan memantau semua gerak geriknya, sampai dia terjebak dengan cinta Stella kemudian terperangkap dengan rencanan Nania dan merusak pernikahan Alena dan Zahcry.
Andai saja saat itu dia tidak membantu Nania merusak Alena mungkin saja saat ini Zachry sudah menikahi Alena dan dia bisa bersama Zara.
Huh! Takdir Tuhan memang luar biasa. Jika memang Tuhan tidak mentakdirkan hambaNya, maka dengan cara apapun tidak akan bisa bersama.
Begitupun dengan David yang tidak mendapatkan apa-apa dari semua usahanya, bahkan dialah yang membantu Zara bertemu jodohnya. Sama seperti saat ini. Dia akan melakukan hal yang sama. Mengembalikan jodoh orang lain yang sudah dia jaga dengan baik.
“Aku menyayangimu,” Zara memeluk David erat.
Dia tidak bisa melakukan apapun. Aariz benar dia tidak bisa memubat David semakin menderita bersamanya. Setidaknya dengan melepaskan David bisa menemukan kebahagiaan nya yang sesungguhnya.
“Aku lebih menyanyangimu.” Jawabnya.
Mereka kembali berpelukan. Sebelum masuk ke dalam kamar yang sama namun, tidak ada yang tahu bahwa didalam kamar itu ada dua kamar yang berbeda. Kamar Zara dan David. Kecuali Aariz.
__ADS_1
“Aku harap kau memaafkaku.” batinnya