
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Zein sudah bangun dan berlari mencari papanya di dalam kamar, tetapi pintu itu tidak juga terbuka, membuat Aariz yang baru saja keluar dari kamar melihat keponakan kecilnya cemberut dan bertanya.
“Hai jagoan, ada apa?” Aariz memang menginap. Dia tidak akan membuang kesempatan bersama kedua keponakannya.
“Papa dan mama tidak buka pintu, Sein mau masuk,”
Aariz melihat kearah pintu adik dan iparnya memang masih tertutup. Memang masih sangat pagi, tetapi anak ini sudah bangun.
“Membutuhkan sesuatu?”
“Kata papa, kita akan ketemu Daddy,”
Sekarang Aariz tahu, kenapa Zein sudah bangun sepagi ini, melihat ini dia ingat dengan Zacry yang tidak mau sabar dalam apapun.
“Kalau begitu kita tunggu papa dan mama bangun, mungkin mereka buat adek untuk Zein dan Zoya,” katanya dengan senyum lebar.
“Adek?” Aariz mengangguk, setelah itu dia menutup telinga karena anak itu sudah berteriak karena senang, akan memiliki adik selain Zoya. Aariz mengikuti kemana larinya dia akan lihat apa yang akan Zein sampaikan ke Zoya.
“Adik?” kata Zoya mengulangi. Gadis kecil itu juga sama senangnya dengan kembarannya. Mereka bahkan harus melompat-lompat. Membuat Aariz menggaruk tengkuknya, dia sudah merasakan hawa tidak enak kalau kedua orang tua anak ini tahu.
Sementara itu dikamar, Zara dan David sudah siap-siap akan turun, wajah mereka sama-sama berseri. Entah apa yang sudah mereka bicarakan semalam. Tiba dilantai bawah mereka disambut dengan teriakan bahagia ke dua anaknya.
Sementara Aariz yang menjadi dalang berusaha tidak terlihat mencurigakan.
“Mama, papa!”
“Ada apa sayang, kalian terlihat bahagia?” tanya Zara. Jika memang hanya ingin bertemu Zachry, maka Zoya tidak akan terlihat sebahagia ini.
“Mana adik Soya, mama?”
“Adik?” Zara memandang satu persatu anaknya, terlihat keduanya mengangguk antusias.
“Ya, kata paman Ayis mama dan papa buat adik,”
Aariz yang mendengar itu langsung menutup wajahnya saat Zara dan David melotot ke arahnya.
“Aariz,” Desis Zara tetapi berusaha menampilkan senyum untuk kedua anaknya.
__ADS_1
“Zein mau ketemu Daddy?” David menyela, karena kalau dituruti pembahasan masalah adik tidak akan selesai.
Zein mengangguk, membuat Zara dan Aariz bernafas lega. setelah sarapan mereka berempat berangkat, Zara memilih tinggal dirumah, dia akan membuat sesuatu untuk Dad dan Momnya.
“Kau yakin akan bertemu dengannya?” tanya Aariz dia tahu bagaimana Zachry yang suka sekali dengan kekerasan bahkan dulu dia adalah salah satu korbannya.
**
Disinilah mereka saat ini di toko yang pernah Zara idam-idamkan ‘Zara Bakery’ Aariz tahu dimana harus mencari pria yang dulu suka sekali mengerjainya sampai babak belur, dia mendengkus saat mengingat itu, dan David hanya tertawa.
Zachry belum datang, hanya pegawainya saja yang sudah datang.
“Kira-kira kapan boss kalian datang?” tanya Aariz yang sudah mulai bosan, karena pegawai wanita Zachry ini terus menatapnya dengan malu-malu.
“Biasa boss sudah datang dijam begini, mungkin sebentar la-”
Tidak meneruskan karena mereka semua sudah melihat Zachry datang dengan wajah masam, disusul oleh Nania yang juga tidak kalah kesal.
“Mereka mungkin tinggal bersama,” kata Aariz berbisik pada David, tetapi pria itu tidak mengatakan apa-apa, wajahnya datar saat melihat Nania. Perempuan yang sudah membuat Zara semenderita itu.
“Zacry baru saja memasuki pintu, teriakan Zein membuatnya terkejut kemudian wajah tanpannya terlihat berkali lipat “Daddy!”
“Anak manis ayo peluk Daddy!” perintah David lembut. Tetapi Zoya hanya menggeleng dan meminta David memangkunya. Aariz hanya geleng-geleng. Kedua anak adiknya memang benar-benar dublikat orang tuanya. Zoya seperti Zara yang susah sekali beradaptasi.
Zachry membawa anaknya ke meja dimana Zoya yang masih dipelukan David bahkan putri kecilnya memeluk David begitu eratnya membuat Zachry terlihat jelas kecewa tetapi berusaha tersenyum dan duduk, diantara mereka mengabaikan Nania yang terkejut.
“Zoya..” panggilnya dan anak manis itu hanya melihatnya tampa ekspersi.
“Sayang, Daddy boleh peluk Zoya sebentar?” kata David hati-hati karena jika dipaksa takutnya Zoya menangis dan mencari mamanya. Zoya mengangguk dan melihat kearah Zachry yang sejak tadi menatapnya rindu.
Aariz meraih Zein dan membiarkan Zoya bersama dengan Daddy nya. Sementara kedua ayah dan anak saling berpelukan, tepatnya Zachry yang memeluk
Nania datang ke meja mereka dengan bersidekap
“Oh mereka anak-anakmu David?” tanyanya dengan nada sindiran.
Mereka hanya diam malas meladeni wanita yang tidak mereka kira akan sejauh ini bertindak.
__ADS_1
“Diamlah Nania, kau terlalu berisik,” kata Aariz mulai jengah.
“Oh sayang, kau semakin tampan saja, kau lupa bahwa kita perah dalam misi yang sama?” ucapnya membuat kedua pria disana menatap Aariz heran, dan Nania tetap terlihat santai.
“David, david, aku bahkan lebih terkejut denganmu, ternyata lagi-lagi kaulah yang menghancurkan kehidupan Zachry.”
David sudah berdiri, namun Aariz menahan tanganya, kedua anak manis itu sekarang menatap bingung pada orang tua disekitarnya.
“Kembalilah Nania, tidak ada yang membutuhkanmu disini,” ucap Zachry semakin membuat Nania kesal bagaimana bisa ketiganya seolah bekerja sama menyingkirkannya.
“Baiklah sayang, aku akan kembali, ingat minggu depan pernikahan kita,” setelah mengatakan itu dan memberikan kecupan manis diwajahnya membuat wajah tampan itu memerah Nania pergi dengan menggunakan taksi.
Terlihat jelas kemarahan Zachry namun berusaha dia menahannya karena Zoya berada dipangkuannya. Aariz bisa melihat itu. Dan dia tidak tahu kenapa Zachry bisa bertahan dengan menuruti semua kemauan Nania yang seolah seenaknya.
Setelah beberapa menit mengontrol diri, akhirnya Zachry bisa bersikap biasa kembali, dia tersenyum manis pada Zoya dan memeluk sayang Zoya.
“Aku akan kembali lebih dulu,” David berdiri dan mengecup sayang Zoya dan Zein. “Aku titip mereka, dan tolong bantu aku menjelaskan pada mamanya, atau dia akan mengomel sepanjang hari,” ucapan David berhasil membuat Zachry cemburu karena perkataan dan sikapnya seperti pria-pria yang memang sangat mencintai istrinya.
“Tenang saja, kembalilah, diantara kalian berdua aku adalah orang yang paling disayangnya,” dengan bangga dan pede Aariz mengatakannya.
Kedua nya hanya mendesah. Terserah saja Aariz mau mengatakan apa, alam tidak akan membantunya, dia tetaplah kakak kandung Zara.
“Papa mau buat adik?” celetuk Zein, membuat Aariz hampir tersedak liur. Kemudian tertawa terbahak, sementara wajah Zachry dan David sudah berubah.
**
“Kau sudah kembali?” tanya Zara yang sudah duduk di balkon kamar.
David mendekati istrinya, memeluk lehernya dan mengecup pucuk kepalanya sayang.
“Dimana anak-anak?”
“Bersama Aariz mereka akan kembali setelah bosan,”
“Zoya sudah menerima Daddy nya?” tanyanya dia tahu kalau disana juga ada Zachry. David mengangguk. Lalu berjalan ke hadapan istrinya.
“Kau yakin tidak ingin kembali?” tanya nya menetap lembut mata bulat yang selalu membuatnya rindu
__ADS_1
“Kita sudah membahasnya berulang kali,”
“Dan kau melupakan salah satu point pentingnya Zara,” tegasnya