Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 45 | Dia hawatir


__ADS_3

Sehabis mandi memang rasanya lebih segar, Zachry melihat ke sisi kasur istrinya masih nyenyak, sudah jam sembilan pagi dan wanita itu belum juga bangun. Baru saja dia ingin menyusul bersama istrinya di kasur ponselnya berdering. Dengan malas dia meraihnya dan melihat siapa yang menelpon.


"Aku ingin libur sehari, kau bisa atur saja semuanya". Zachry memutuskan sepihak sambungan itu. Nanum baru saja dia akan meletakkan ponselnya kembali berdering


"Apa lagi Leon?" Geramnya.


"(.....)


"Tunda sampai besok, katakan saja aku lelah". Setelah itu Zachry kembaki mematikan ponselnya. Dia sangat mengantuk. Kepala baru saja menempel di bantal Zara terbangun.


"Waoaam". Dia mengeliat kekiri dan kekanan. Saat melihat kesampingnya dia melihat suaminya yang tertidur dengan pulasnya, Zara tersenyum. Kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah selesai dengan rutinitas bersih-bersihnya, dia merasa sangat lapar, matanya melirik ke atas nakas, nasi goreng yang sudah dingin menunggunya. Tampa membuang waktu Zara meraih dan duduk di sofa rasa lalarnya mengabaikan rasa yang sebenarnya.


Diaela-sela kunyahannya dia berfikir, kenapa akhir-akhir ini dia merasa sangat malas dan suka sekali makan. Dia juga menyadari bahwa dia semakin berisi. apakah karena dia telat datang bulan?


"Astaga..tanggal berapa sekarang?" Zara berdiri dan mencari ponselnya, saat membuka kalender dia membulatkan mata. Jadwalnya sudah lewat.


"Tidak, ini tidak mungkin". Katanya menggeleng saat memikirkan hal yang sudah sewajarnya "Mungkin karena aku kelelahan". Katanya memberi keyakinan pada dirinya sendiri. Namun dia kembali murung.


"Bagaimana jika benar aku hamil?" Lalu melihat kearah suaminya yang masih terlelap.


Zara mengusap perut ratanya, dia akan memastikannya sendiri.


Selesai dengan sarapannya, dia yang tadinya hanya menggunakan handuk sebatas dada kembali kekamar mandi, dia akan mandi lagi, entah rasanya sangat gerah setelah makan.


Beberapa menit berlalu kini Zara sudah rapi dia akan keluar, tetapi bagaimana jika Zachry mencarinya? Membangunkannya juga dia tidak tega. Sedangkan dia tidak bisa menunda ini.


Dan akhirnya dianmemutuskan meninggalkan catatatan di bawah ponsel suaminya, dia yakin ini tempat paling cepat disadari Zachry.


Disinilah dia sekarang, diruangan serba putih dengan berbagai poster tentang kehamilan dan menyusui. Dia akan memeriksakan diri.


"Jadi, saya benar-benar hamil dok?" katanya dengan nada lemah. Setelah dia melakukan usg tadi.


"Benar Nyonya, dan sudah memasuki delapan minggu".


Jelas sang dokter. "Apakah Nyonya memiliki keluhan di fase ini?"

__ADS_1


"Tidak ada, kecuali sering mengantuk dan mudah lapar" Terangnya mengingat apa saja yang terjadi pada dirinya.


"Ya, hal seperti itu memang biasa terjadi, bisa dikatakan Nyonya beruntung karena tidak merasa lemas dan mual".


Setelah mendapatkan arahan dan menerima resep obat, Zara keluar dari ruangan itu dengan wajah yang lesu, dia berjalan dengan lunglai, dia tidak menyangka akan secepat ini. Menghela nafas dalam kemudian dia mengarahkan tangan ke perut yang masih rata itu. Senyumnya mengembang. Dia tidak memungkiri bahwa dia bahagia, tetapi memilikinya secepat ini, sungguh membuatnya dilema.


Dan disinilah dia sekarang, ditoko yang baru saja dibelikan Zachry untuknya, semua perabot sudah lengkap, bahkan gudang bahan makannya juga sudah terisi sebagian. Entah kapan suaminya menyiapkan semuanya.


Melihat sekeliling yang sudah siap semua membuat Zara kembali bersemangat, dia hanya membutuhkan beberapa karyawan dan semua sudah bisa di operasikan. Jika sebelumnya di toko Aariz hanya tersedia berbagai macam modelan roti-rotian dan pie dengan berbagai macam model dan varian rasa.


Maka di tokonya dia tidak akan menyediakan roti-rotian, dia hanya akan menyediakan makanan manis saja, dia juga akan menambahkan berbagai macam minumam dingin sebagai pelengkap.


Lalu dia kembali menatap perutnya, menghela nafas pelan, dia tidak tahu kenapa dia merasa sangat aneh saat mengetahuinya


"Sayang, terima kasih sudah hadir, maafkan mama karena tidak menyadari kehadiranmu lebih awal". Serunya mengusap kembali perutnya.


Hari semakin panas, Zara masih di toko kosongnya, didepannya sudah banyak terseeia makanan dan minuman, dia lapar.


Setelah menghabiskan beberapa suap, sosok yang familiar membuka pintu kaca dengan aura mencekam menatapnya yang tengah mengunyah kembali makananya.


Zachry berdecak kesal, gadis didepannya selalu saja mmmbuatnya kualahan. untung saja dia membaca pesan kertas yang diselip dibawah ponselnya tadi.


"Makanlah, aku baru menyadari kau selalu saja marah-marah selama kita menikah, Ah tidak sebelum kita menikah juga kau pernah marah". Zara mengingat bagaimana Zachry dulu yang selalu marah.


"Ya, dan kau juga tidak pernah berubah, dari awal kau selalu saja melakukan sesuatu sesukamu"


"Memang apa yang aku lakukan?" tantang Zara


"Woah, istriku ini benar-benar membuatku gemas". Zara hanya tersenyum geli melihat bagaimana Zaxhry emnahan amarahnya yang sebenarnya sudah membesar.


"Ya sudah kau makan dulu".


"Aku tidak lapar, lagi aku merasa mual melihat makanan ini"


"Jangan menghina makanan". Zara mengeleng-gelengkan kepala. "Lagi masih banyak yang membutuhkan makanan diluaran sana.


"Baiklah, maafkan aku Nyonya Richads". Menyatukan tangan dan sesikit membungkuk sebagai tanda maafnya

__ADS_1


Zara hanya menatap suaminya malas, kemudian dia kembali teringat dengan kehamilannya, apakah dia akan memberintahunya? Zara kembali melamun.


Sudah malam, dan seperti biasa Nania dan Aariz kembaki bertemu di club. Sebenarnya mereka hanya kebetulan bertemu disana lagi.


"Jadi bagaimana? Sepertinya rencanamu tidak terlalu berpengaruh lama". Kata Aariz


"Aku masih punya rencana lain, tenang saja".


"Baiklah, tapi kali ini aku tidak akan ikut campur rencanamu, lakukan sesukamu tetapi jangan lukai fisik Zara". Nania mengangguk, bukan berarti dia setuju.


"Tenang saja, aku tidak membutuhkan gadis kecil itu, aku hanya membutuhkan kekasihku kembali".


"Ingat kalian belum menjadi kekasih" Aariz mengingatkan.


"Ya, tapi akan segera". Nania tertawa terbahak-bahak.


"Ohya kudengar dia sudah mendapatkan toko baru, mau ku beritahu tempatnya?"


"Tidak! Aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman denganku, Itu akan membuatnya semakin menjauhiku".


"Baiklah, tapi jika kau membutuhkan alamatnya kau bisa menghubungiku" Setelah mengatakan itu Nania bangkit dari duduknya. Dia akan bertemu David dia membutuhkan pria itu.


Dari jauh Aariz bisa melihat bagaimana intraksi Nania dengan pria yang dia lihat bersama Stella. Ya sekarang Aariz ingat pria itu bersama Stella. Lalu apa hubungan mereka? Dan bagaimana Nania berada di antara Stella dan pria tersebut?


Dan yang membuat Aariz bingung dimana Stella saat ini?


Dikamar lain, dengan warna yang mendominasi warna lilac, seorang wanita cantik tengah meringkuk di atas kasurnya.


"Aku tidak ingin meminum obat itu". Isaknya


"Ayolah, aku tidak mengerti kenapa sekarang kau kembali seperti ini?" Katanya masih membujuk adiknya, dia mulai frustasi.


"Aku ingin keluar, aku akan mencari David dan membunuh wanita yang pernah bersamanya".


Deg


Hati Alena tertampar, dia hawatir bagaimana jika Stella tahu bahwa gadis itu dirinya?

__ADS_1


__ADS_2