
Agatha menyusul Aariz yang berteriak dan menghancurkan semua yang ada didepannya.
"Aariz ada apa? Tanyanya jujur saat ini Agatha juga takut melihat kemarahan Aariz yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Diamlah". Teriak Aariz frustasi mengusap kasar wajahnya.
Bentakan Aariz membuat Agatha terlonjak kaget. Dia mundur beberapa langkah dan memperhatikan bagaimana kemarahan Aariz yang kembali menghancurkan isi tokonya.
Setelah merasa tenang, Aariz yang tadinya membelakangi Agatha dengan tangan yang bertengger satu dipinggang, segera berbalik, dia sadar, sudah meninggikan suaranya tadi, dia yakin Agatha ketakutan.
Penampilan Aariz sangat kacau, rambutnya acak-acakan, lengan kemejanya yang satu turun, yang satunya masih tergulung, dan sebagian kain kemeja di pinggangnya pun ikut keluar separuh.
Ruangan itu sudah tidak berbentuk lagi, ada beberapa kursi dan meja kakinya patah, dan sebagian hancur, belum lagi etalase penyimpanan pie mereka, hancur karena hantaman dari Aariz.
Inilah Aariz Pria tampan yang manis, dengan senyum lebar yang menenangkan ternyata dia memiliki emosi yang tinggi, yang dia sendiri pun tidak bisa mengendalikannya. Sebelumnya hanya dia saja yang menyadari, sekarang ditambah Agatha. Melihat sekeliling nya hancur bisa dipastikan besok toko tutup untuk beberapa hari kedepan sampai semuanya normal.
"Agatha..."Dia melangkah kedepan, memegang bahu wanita itu yang masih terlihat pucat.
"Maafkan aku, ini salahku, harusnya tadi aku tida-"Ucap Agatha dengan suara bergetar, belum sampai ia melanjutkan Aariz sudah memeluknya mengelus punggungnya agar tenang.
"Bukan salahmu". Jawab Aariz teduh
"Ta-tapi, Za-" Agatha baru sadar tadi tidak mungkin Aariz akan semurka ini, jika tidak ada kaitannya dengan wanita tercinta Aariz.
"Sudahlah, ini bukan salahmu, tapi salahku, oke"
Aariz melerai pelukannya, menatap wajah Agatha yang sudah tidak terlihat pucat lagi, Aariz tersenyum. "Ayo ku antar kau pulang".
Agatha mengangguk dan mereka melaju ke arah apartemen Agatha.
"Apakah kau mencintainya?" tanya Agatha akhirnya, mereka masih didalam mobil tetapi sudah ditempat parkiran. Karena sejak memasuki mobil Aariz terlihat sangat dingin.
Aariz tersenyum tampa menoleh ke Agatha "Hum sangat, aku bahkan sangat takut membayangkan akan kehilangannya". Jawab Aariz
"Tapi dia aka-".
"Aku tahu, aku memang bodoh, pernikahannya sebentar lagi, dia beruntung mendapatkan lelaki seperti Zachry, CEO muda yang sangat tampan dan kaya raya itu". Aariz terkekeh mengejek dirinya yang tidak sebanding dengan pasangan itu.
__ADS_1
"Tetapi..itu tidak akan membuat cinta yang kupunya untuknya hilang". Aaris tersenyum. "Besarnya cintaku untuknya sama dengan besarnya luka saat dia tidak bisa bersamaku". Tapi aku tidak menyesalinya.
Melihat bagaimana besar cinta Aariz, dari sorot matanya saat menyebut nama Zara, Agatha percaya bahwa Aariz benar-benar mencintainya.
"Maafkan aku".
"Eh..? Untuk?" Agatha jelas bingung. Jika karena ciuman panas tadi yang Aariz maksud sungguh dia tidak masalah, karena dia juga mencintai Aariz.
"Kau tahu maksudku, lupakan cintamu, karena aku tidak akan pernah bisa membalasnya". Titah Aariz
"Seperti kau yang mempertahankan cintamu untuk wanita yang sebentar lagi akan menjadi orang, maka aku juga akan mempertahankan cintaku sampai kau terima kembali perasaanku".
"Jangan bertingkah bodoh".
"Sungguh Aariz, kalimat itu lebih cocok untukmu". Setelah mengatakan itu Agatha keluar dari mobil, tampa berpamitan dan menawarkan mampir Agatha memasuki loby dan bergerak naik ke apartemennya dengan lift. Agatha kesal sendiri sekarang.
"Zara, aku membencimu". Gumamnya dalam hati.
Sementara di dalam mobil Aariz masih memaku memperhatikan punggung Agatha yang berlalu meninggalkannya.
Dan beberapa menit setelah itu, seseorang mengetuk pintu mobilnya, memaksanya keluar dan memberinya satu pukulan diperut.
"Itu karena kau mencium tunanganku"
Belum sempat Aariz melawan satu pukulan kembali mendarat di wajahnya
"Bug..
"Itu karena tadi kau membuatnya menagis". menghela nafas panjang dia melanjutkan "Tapi terima kasih setidaknya setelah ini kau tidak akan lagi berada di hatinya". Senyum Zachry bahagia.
"Jangan terlalu percaya diri Tuan muda". Aariz mencoba menahan sakit di perutnya karena pukulan Zachry tidak main-main dan belum lagi yang di wajahnya sudah terasa membengkak.
"Kami saling mencintai, dia tidak akan menyingkirkanku dari hatinya hanya karena kesalah fahaman".
Zachry berdecak kesal kemudian kembali mendaratkan pukulan diwajah Aariz sampai dia benar-benar merasa puas.
"Kau terlalu berisik".
__ADS_1
****
Wanita yang berbalut Gaun putih yang menyapu lantai berbentuk pita besar disebelah bagian dadanya dan tampa lengan itu kini masih duduk di pinggir tempat tidur, terlihat wajah bulat itu murung, Rambut panjangnya disanggul sehingga leher jenjangnya yang putih mulus itu terlihat.
"Ada apa?" Tanya Zachry akhirnya sejak tadi dia hanya diabaikan dikamar. Mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri pagi tadi, dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat mereka saja. Dan beberapa jam lagi acara reawpai mereka.
"Kau tidak perlu tahu". Ketus Zara.
"Kenapa? Kau istriku, aku harus tahu apa saja yang membuatmu merasa tidak nyaman".
Zachry mendekat, dan duduk disamping Zara, mencoba meraih tangan istrinya tetapi, belum sempat kulit mereka saling menyentuh Zara sudah berdiri dan berpindah tempat.
"Jaga batasanmu". Menatap tajam ke arah Zachry, yang terlihat sangat tampan dan gagah dengan dengan tuxedo berwana putih gading dengan dasi kupu-kupu berwarna senada.
"Hei, ada apa? Tadi pagi saat acara sakral sana saja kau senyum-senyum". Goda Zachry sambil memeluk pinggang istrinya.
"A-apa yang kau lakukan?" Pekik Zara melihat tangan kokoh melingkar diperutnya.
Zara masih memberontak, tetapi kekuatan Zachry tentu lebih besar darinya.
"Diamlah..". Zachry mengecup punggung terbuka Zara dengan lembut, menyalurkan rasa sayangnya pada wanitanya, mendapat kecupan itu tubuh Zara mematung.
"Kau terlihat lebih cantik kalau menurut seperti ini". Zara membolakkan mata, dia sadar dan segera menjauh saat dia merasa pelukan itu tidak seerat sebelumnya.
Zara mendekati pintu berniat ingin kekuar, tapi tubuhnya terhuyung kebelakang, menabrak dada bidang yang keras "Aww...". Zachry menarik tangan Zata dengan sekali sentakan.
"Kenapa kau terus saja menghindar, hm?".
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Zara terus memberontak, apalagi saat wajah tampan itu semakin dekat dengan wajahnya.
"Aku hanya ingin memeluk istriku apa itu salah?"
"Tapi aku tidak ingin kau sentuh". Zara kembali memberontak mencoba melepas pelukan Zachry dari tubuhnya.
Mendengar itu Zachry geram, emosinya naik, bagaimana bisa dia tidak boleh menyentuh miliknya, Zara miliknya, lalu apa yang salah?
"Kau tahu aku membencimu, tidakkah kau tahu itu?" Pekik Zara setelah lepas dari pelukan Zachry lagi. Dia melanjutkan "Kau pria pemaksa, kau mencuri ciuman pertamaku, kau memaksaku, Aku membencimu". Teriak Zara, sangat Frustasi. Dia bingung dan takut sekarang.
__ADS_1
Sejak kejadian malam itu di toko Aariz sama sekali tidak menjelaskan apapun padanya, dan sekarang harus menjadi istri dari pria lain yang baru saja dia kenal
"Oh Nasibku sangat sial".