
"Ayo turun.."Zach membuka pintu mobil untuk Zara, terlihat gadis bersurai coklat itu bingung. Menatap Zachry dengan tatapan tidak suka.
"Apa maksudmu membawaku kemari? Tanya Zara sengit.
"Kau akan tahu setelah kita sampai didalam".
"Zachry jangam kekanakan". Desis Zara karena Zachry melak!ukan sesuatu sesukanya, Zara tidak bisa membuat Aariz melihatnya, bagaimanapun jangan sampai dia semakin terluka.
"Zara Florenzia..Kau ikut masuk atau aku akan menggendongmu?" Zach menyeringai licik.
Karena ancaman itu Zara mau tidak mau, harus ikut masuk, dia melangkah melewati Zachry dengan menghentakkan kakinya emosi "Dasar tukang paksa". Gumamnya masih didengar Zachry
Sedangkan Zachry yang melihat tingkah Zara yang diluar dari biasanya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Sayang kau disini?" Aariz datang ke meja dimana Zara duduk, membungkuk dan mengecup pipi Zara. terlihat dari penampilannya Aariz sepertinya akan keluar.
"Hm, Kau mau keluar?" tanya Zara dengan senyum manis, dia tidak perduli Zachry marah karena mengecup pipi Aariz juga.
"Iya, ada urusan sedikit, Ka-" Aariz tidak jadi melanjutkan perkataannya, saat melihat siapa yang datang menghampiri mereka, pemuda yang berhasil memiliki kekasihnya karena kekuasaan dan ketampanan. Aariz mengakui itu.
"Kau tidak ingin memperkenalkanku dengannya Zara? Zachry berdiri disamping Zara, yang ikut berdiri saat mendengar suara siapa yang menghampiri mereka. Suasana disekitar mereka seketika berubah mencekam. Tatapan Zachry tajam penuh amarah, tadi dia melihat tunangannya dan Pria didepannya ini saling cium pipi. "Ck, tunggu hadiahku". Gumamnya dalam hati untuk Aariz
Sedangkan tatapan Zara dan Aariz ke Zachry ialah tatapan malas.
"Aku Aariz..". Jawabnya dengan senyum tipis dibibirnya.
"Aku tahu, aku hanya mampir sebentar, aku ingin melihat secara langsung tempat dimana dulu tunanganku bekerja".
"Kalau begitu duduklah, kalian juga harus mencoba makanan disini bukan?" Aariz akan memanggil Agatha untuk membawakan menu terbaru mereka tetapi ditahan oleh Zara, wanita cantik bermata bulat itu menyentuh lengan Aariz untuk menghentikan Aariz bertindak.
__ADS_1
"Tidak usah, kami akan langsung pulang". Zara yang dari tadi sudah tidak tahan dengan Zachry harus segera membawa manusia menyebalkan ini pergi, sebelum semua semakin kacau.
"Ah, sepertinya tunanganku ini sudah tidak tahan untuk segera pe-".
"ZACHRY HENTIKAN !". Teriak Zara karena merasa tidak enak melihat raut wajah Aariz yang terlihat menahan kekesalannya.
Tampa banyak bicara, Zara keluar menabrak lengan Zachry yang masih menatap tajam pada Aariz. Kedua pria itu saling menyerahg dengan tatapan semhit mereka. Sebelum akhirnya Zach mengalah dan keluar, didepan pintu kaca toko dia menghentikan langkahnya tampa berbalik "Aku ingatkan, jangan pernah lagi mendekati Zara, kami akan menikah, dan aku tidak mau apa yang sudah menjadi milikku diminati orang lain". Zach terdiam menghela nafas pelan dan melanjutkan "Datanglah dipernikahan kami, anggap saja sebagai perpisah untuk kalian".
Setelah mengatakan itu Zach keluar, mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tahu Zara sudah pulang dengan taksi, lagi anak buahnya selalu menjaga kemanapun wanita cantiknya pergi. Sehingga hawatirnya tidak terlalu.
****
The Wedding
Setelah kejadian ditoko 'ZaCake waktu itu Zara dan Zachry tidak pernah lagi bertemu, bahkan Zachry yang sering berkunjung ke mansion keluarga Horrison juga tidak pernah lagi terlihat, sampai tiba di hari ini, hari pernikahan mereka.
Dia tahu Aariz akan menutup toko jam sepuluh malam, karena saat itu toko sepi dan dia bisa bekerja dengan tenang. Tetapi apa yang dilihatnya malam itu seperti tikaman buat Zara.
Flashback
'ZaCake'
Zara turun dari mobil diantar oleh supir keluarganya, dia tersenyum karena dugaannya benar lampu toko masih menyala, artinya kekasihnya benar belum kembali, dia juga melihat mobil Aariz masih terparkir diluar.
Dengan langkah pasti Zara membuka pintu kaca bertulis Close, tetapi masih terbuka jika didorong. Dia tidak heran kenapa tidak terkunci karena Aariz memang jarang mengunci pintu luar saat dia masih didalam.
Lampu dapur sudah gelap dan terkunci. Dia jalan menuju ruang kerja kekasihnya, ruang kerja yang selalu dia tempati saat kelelahan membuat kue-kue baru.
Dari ujung dia melihat pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, Zara tersenyum dan hendak membuka melebarkan pintu ingin memberi kejutan, tetapi....
__ADS_1
Suara didalam sana membuatnya tertegun, jantungnya memompa lebih cepat, darahnya mendesir, tubuhnya terasa panas. Didorongnya perlahan pintu itu sampai dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi didalam.
"Aku mohon biarkan begini lebih lama lagi". Suaranya pelan dan agak serak. Seketika kakinya lemas, matanya membelalak tidak percaya, dia menutup mulut dengan kedua tangannya.
Didalam sana lelaki yang dia cintai, yang dia harapkan menjadi pendampingnya tengah memeluk seorang wanita yang sangat dia kenal. Walaupun mereka membelakangi pintu karena posisi Aariz dan wanitanya berada tepat didepan meja kerja Aariz.
"Ada apa?" tanya wanita itu masih berdiri menahan beban tubuh Aariz yang memeluknya erat.
"Tidak ada, diamlah, aku hanya ingin memelukmu sebentar". Jawab Aariz dengan mata tertutup diceruk leher wanitanya
"Apa karena kekasihmu yang membawa tunangannya kesini?" tanyanya selidik tampa berbalik. Dia nyaman seperti ini walau dia juga tidak tahu apa status mereka.
Tidak ada jawaban, hanya deru nafas saja yang terdengar, "Aariz ...." panggilnya lagi. Sedetik kemudian dia melapas lengan kekar yang dari tadi melingkar diperutnya. Berbalik dan menangkup wajah tampan didepannya, mereka saling tatap lama, entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka yang awalnya hanya menyatu berganti menjadi saling me*****, dan semakin menuntut, mereka seimbang karena ini bukan ciuman pertama bagi mereka. Ya dia Agatha, cinta pertama Aariz.
Setelah merasa cukup, tautan itu terputus, Aariz dengan lembut mengusap bibir basah itu karena ulahnya, wajahnya datar, entah apa yang difikirkannya. Agatha memberanikan diri memeluk erat tubuh kekar itu, menghirup aroma yang sangat dia sukai dari dulu, Aariz tidak pernah mengganti farfumnya.
"Aku mencintaimu, Dulu, hari ini dan sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu". Gumamnya pelan tetapi masih dapat didengar oleh seseorang dibalik pintu yang kakinya sudah seperti jely.
"Aku mohon, jangan pergi lagi, jangan menganngapku tak terlihat, dan jangan pernah ragukan diriku lagi". Setelah lama terdiam dan saling memberi kehangatan. Aariz berucap
"Sudah cukup, pulanglah dulu, aku akan memesankan taksi untukmu" Aaris melerai pelukan Agatha, mencoba untuk duduk, dia tidak ingin semakin jauh.
"Tidak, biarkan malam ini aku menemanimu". Pinta Agatha kembali memeluk Aariz dengan eratnya. Hingga mereka kembali melakukan ciuman panas. Dia mendorong pelan Aariz ke tempat tidur yang biasa Zara gunakan saat masih disana. pelan tapi pasti tampa melepas tautan bibir mereka, Aariz mengambil kendali dia mendorong Agatha ke tempat tidur, mengukungnya dan kembali meraup bibir yang selalu membuatnya candu.
"Aariz...." Suara Agatha serak menahan Nafsu, matanya terlihat sayu, jantungnya memompa cepat.
Baru saja Aariz akan membuka kancing kemeja Agata, tiba-tiba suara benda jatuh tepat depan pintu membuat mereka terkejut, Agatha membolakkan mata, menatap ke arah pintu yang terlihat gerbuka agak lebat, seingatnya tadi dia menutupnya. Aariz dengan cepat turun dari tempat tidur dan segera memeriksa. Entah mengapa dia takut sekarang.
"Aaaaggghh Sial". Umpatnya dan menedang pintu kaca tokonya, saat melihat siluet yang dikenali naik kedalam mobil dan setelahnya melaju cepat.
__ADS_1